Mohon maaf
jika ada yang tidak berkenan.
For the greater good: Don’t let your
ego land!
Seorang filsuf “kuno”, Plato, berjargon “For the greater good”
suatu ungkapan yang berharga─kita akan mengetahuinya kenapa ungkapan tersebut
begitu berharga. Hal itu tergambar jelas dalam sejarah Islam tidak dalam bentuk
jargon, namun lebih baik, dalam suatu catatan atau perilaku yang bersejarah.
For the Greater Good
1: Raja, Penasehat dan Pedagang
Dikisahkan dahulu kala saat seorang raja ingin menyerang,
menjatuhkan suatu Pemerintahan Islam di Eropa, Raja tersebut berkonsultasi
terlebih dahulu sebelum menyerang dengan penasehat intelijennya.
Raja: Saya hendak
menyerang kekhalifahan Islam, bagaimana pendapatmu…?
Penasehat: Tunggu
dulu sang Raja, kita tahu bahwa kaum Muslim unggul berperang (menang) bukan
karena kekuatannya, tapi
karena mereka di bantu oleh Tuhan (4WI SWT) mereka. Jangan kita gegabah
menyerang terburu-buru.
Raja: Lantas
bagaimana saranmu…?
Penasehat: Saya
akan mengirim memata-matai kondisis keimanan mereka, saya akan menginformasikan
kepada Baginda Raja secepatnya…?
Kemudian Sang Penasehat menyamar menjadi seorang pembeli (mata-mata)
untuk melihat kondisi masyarakat di kekhalifahan Islam tersebut. Yang menarik,
tempat yang dianggap representatif sebagai suatu objek yang menggambarka
kondisi masyarakat pada saat itu adalah pasar. Ya, Sang Intel tersebut
mengunjungi pasar untuk melihat kondisi masyarakat muslim pada saat itu, Sang
Intel mengunjungi suatu toko dan bertanya kepada Sang Pedagang di sana.
Mata-mata: Pak
barang ini bagus..? Berapa harganya….?
Pedagang: Betul
Pak barang ini bagus, kualitas nomor satu. Tapi Pak, jika Bapak berniat untuk
membeli barang ini, Bapak bisa membelinya di toko sebelah. Kasihan dia, dari
kemarin belum ada yang membeli di sana.
Mata-mata:
(Mengangguk sambil tersenyum dan berlalu)
Melihat keadaan tersebut Sang Mata-mata/Penasehat melapor
kembali ke Raja.
Raja: Jadi
bagaimana?
Penasehat: Jangan
Raja. Jangan kita serang sekarang, kita akan kalah, karena mereka akan dibantu
Tuhan mereka. Kita tunggu satu tahun lagi dan akan saya laporkan kemudian.
Sang Raja menyetujui dan mereka menunggu selama setahun.
Satu tahun berlalu.
Selang setahun, sang Penasehat kembali melihat menyamar
menjadi mata-mata dan mendatangi toko yang sama, terjadi percakapan sebagai
berikut:
Mata-mata: Pak
barang ini bagaimana…?
Pedagang: Barang
ini bagus Pak kualitas nomor satu, harga terbaik. Lebih baik dari toko sebelah.
Bapak beli di sini saja jangan di sana Pak, di sana tidak bagus.
Mata-mata:
(tersenyum)
Segera Sang Mata-mata tersebut kembali dan melapor kepada
Raja bahwa inilah saat yang tepat untuk menyerang.
Dengan penyerangan tersebut, hancurlah peradaban Islam di
Eropa pada saat itu.
Cerita ini berikutnya lebih menarik lagi.
For the Greater Good
2: Khalid ra. dan Umar ibn Khattab ra.
Kisah ini sangat menarik. Perang-perang demi menangkan oleh
kaum muslimin yang dipimpin oleh Khalid bin Walid ra. sehingga dari sudut
ketauhidan, umat Islam sudah mulai
bergeser dalam memandang kemenangan perang tersebut dan juga dalam memandang
Khalid
bin Walid. Singkatnya, jika berperang bersama Khalid okelah, ghanimah deh
pokoknya…
Hal ini disadari oleh Umar ra., dan bukan Umar ra. jika diam
saja melihat hal tersebut. Ketika Umar ra.diangkat
menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar ra., Umar ra. mengganti Khalid bin
Walid sebagai Panglima Perang dengan Abu Ubaidah ra. Hal ini dilakukan Khalid
bin Walid sedang melaksanakan tugas di medan perang Yarmuk melawan pasukan
Romawi.
Dalam teori politik (sekuler),
belum pernah ada teori yang bisa menjelaskan keputusan “gila” ini. Suatu
keputusan yang dilandasi oleh tauhid bukan berdasarka iri dan dengki seperti
berita
yang dipelintir dan beredar selama ini. Coba Anda bayangkan jika saat ini
Presiden mencopot Panglima TNI saat ini dengan alas an tauhid.. bisa runyam,
contoh kasus sederhana saat Jenderal X yang sakit hati saat dicopot oleh
Presiden RI saat itu dan bermaksud mengadakan kudeta. Kondisi pada saat Khalid
ra dicopot bahkan lebih berisiko. Seorang Panglima Perang dicopot pada saat
berperang, opsi skenario terburuk yang mungkin terjadi merupakan petaka. Bisa
saja Khalid ra. berkhianat bersatu dengan Romawi dan berbalik menyerang kaum
muslim. Abu Ubaidah yang menerima surat pergantian Khalid ra dari Umar ra
bahkan sempat ragu untuk menyampaikan surat tersebut kepada Khalid ra. dan
memutuskan menyampaikannya pada saat pertempuran mereda.
Pada saat surat pergantian
Panglima Perang disampaikan kepada Khalid ra Walid, Khalid ra berkata kepada
Abu Ubaidah,
“Semoga Allah memberikan rahmat kepada Anda,
mengapa Anda tidak menyampaikannya kepada saya waktu berita itu Anda terima? ”
Abu Ubaidah berkata, “Saya tidak ingin mengganggu Anda yang sedang
berperang .”
Khalid: “Saya tidak
mengharapkan kekuasaan, dan saya bukan bekerja untuk dunia, saya tidak melihat
ada yang akan hilang atau putus dengan pergantian jabatan ini. ”
Subhanallah, sungguh suatu
respon yang bagus, jauh dari ego dunia. Kata-kata bijak dari seseorang yang
kemarin hari menjadi Jenderal dan pada saat itu dicopot menjadi seorang
prajurit biasa.
Dan yang lebih indah lagi, pada saat Khalid ra. kembali
bertemu dengan Umar. Umar mengatakan hal yang sejujurnya bahwa ia mencintai
Khalid ra. sebagai seorang muslim dan tidak ingin Khalid ra. terpedaya dengan
kemegahan dunia, “Demi Allah, wahai Khalid,
sesungguhnya engkau sangat kumuliakan dan kucintai ”.
Khalid ra. pun
menjawab bahwa bukan untuk dunia ia berperang tapi untuk 4WI SWT. Kedua
shahabat tersebut pun berpelukan. A
brotherhood of men kata orang Barat, moslem brotherhood, mungkin, dalam
kacamata muslim.
Banyak sekali nilai dan pelajaran yang bisa diambil dari hal
kedua cerita di atas.
Mulai dari Sang Pedagang di pasar (sewaktu masih peduli)
sampai Khalid ra, Ubaidah ra dan Umar ra, semuanya memberikan nilai dan
pelajaran yang berharga, namun satu pelajaran yang saya petik di sini semua
karakter tersebutl, yaitu tidak menempatkan ego pribadi di atas kepetingan atau
tujuan akhir bersama.
Pangsa Pasar 5% dan Persaingan
Bank Syariah
Mengaitkan dua kisah di atas dalam konteks persaingan antara bank-bank syariah
di
Indonesia saat ini─dan juga perdebatan di milis ini─menarik jika muncul
pertanyaan, mengapa pangsa pasar ekonomi syariah (yang
dilambangkan dalam perbankan syariah) masih tetap sulit mengejar angka 5%?
Apakah sulit bagi 4WI SWT agar umat Islam mencapai angka tersebut?
Muncul pertanyaan lanjutan. Apakah dengan representasi angka
5%, 50% atau bahkan 99.% asset perbankan syariah dalam perbankan Indonesia akan
menjadi jaminan bahwa Islam akan menjadi suatu solusi bagi masalah umat? Umat
Muslim yang berjaya….?
Jangan-jangan kita lebih mencintai ekonomi syariah itu sendiri daripada Islam,
sehingga
kita lebih terusik pada saat seseorang mengkritik ekonomi Islam lebih daripada
kita melihat saudara-saudara kita yang mengemis kelaparan? Semoga tidak
insha4WI. Ekonomi syariah adalah suatu means
bukan end, namun hal tersebut
merupakan suatu kesatuan dalam Islam.
Sesungguhnya
Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak,
dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena
banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat
kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu,
kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.(QS 9:25)
Seperti analogi Perang Hunain, kita lebih fokus pada angka
5% sehingga melupakan esensi dari kesyariahan itu sendiri. Sungguh kecil sekali
angka itu di sisi 4WI SWT dan bukan merupakan jaminan kemenangan akan ekonomi
syariah secara keseluruhan seperti jumlah prajurit, dan canggihnya peralatan
dalam peperangan, namun faktor 4WI SWT-lah yang menentukan, dan doa dan ikhtiar
adalah senjata yang paling ampuh untuk mencapai hal tersebut. Don’t let that
ego land.
Wallahualam
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/