Good email bro, Logika Bumi + Logika Langit 

memang boleh jadi kemampuan kita baru pada di tahap 2 % karena Allah melihat 
kepantasan kita baru sampai di tahap itu. Saatnya kita membangun kepantasan 
diri sambil menyongsong target yang lebih baik.

Wallahu'alam bishowab 




________________________________
Dari: risnandar <[email protected]>
Terkirim: Kam, 7 Januari, 2010 17:48:31
Judul: {FoSSEI} For the Greater Good: Don’t let Our Ego Land!

  
Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.
 
 
For the greater good: Don’t let your ego land!
 
Seorang filsuf “kuno”, Plato, berjargon “For the greater good” suatu ungkapan 
yang  berharga─kita akan mengetahuinya kenapa ungkapan tersebut begitu 
berharga. Hal itu tergambar jelas dalam sejarah Islam tidak dalam bentuk 
jargon, namun lebih baik, dalam suatu catatan atau perilaku yang bersejarah.

For the Greater Good 1: Raja, Penasehat dan Pedagang
Dikisahkan dahulu kala saat seorang raja ingin menyerang, menjatuhkan suatu 
Pemerintahan Islam di Eropa, Raja tersebut berkonsultasi terlebih dahulu 
sebelum menyerang dengan penasehat intelijennya.

Raja: Saya hendak menyerang kekhalifahan Islam, bagaimana pendapatmu…?

Penasehat: Tunggu dulu sang Raja, kita tahu bahwa kaum Muslim unggul berperang  
(menang) bukan karena kekuatannya, tapi karena mereka di bantu oleh Tuhan (4WI 
SWT) mereka. Jangan kita gegabah menyerang terburu-buru.

Raja: Lantas bagaimana saranmu…?

Penasehat: Saya akan mengirim memata-matai kondisis keimanan mereka, saya akan 
menginformasikan kepada Baginda Raja secepatnya…?

Kemudian Sang Penasehat menyamar menjadi seorang pembeli (mata-mata) untuk 
melihat kondisi masyarakat di kekhalifahan Islam tersebut. Yang menarik, tempat 
yang dianggap representatif sebagai suatu objek yang menggambarka kondisi 
masyarakat pada saat itu adalah pasar. Ya, Sang Intel tersebut mengunjungi 
pasar untuk melihat kondisi masyarakat muslim pada saat itu, Sang Intel 
mengunjungi suatu toko dan bertanya kepada Sang Pedagang di sana.

Mata-mata: Pak barang ini bagus..? Berapa harganya….?

Pedagang: Betul Pak barang ini bagus, kualitas nomor satu. Tapi Pak, jika Bapak 
berniat untuk membeli barang ini, Bapak bisa membelinya di toko sebelah. 
Kasihan dia, dari kemarin belum ada yang membeli di sana.

Mata-mata: (Mengangguk sambil tersenyum dan berlalu)
 
Melihat keadaan tersebut Sang Mata-mata/Penasehat melapor kembali ke Raja.

Raja: Jadi bagaimana?

Penasehat: Jangan Raja. Jangan kita serang sekarang, kita akan kalah, karena 
mereka akan dibantu Tuhan mereka. Kita tunggu satu tahun lagi dan akan saya 
laporkan kemudian.
 
Sang Raja menyetujui dan mereka menunggu selama setahun.
 
Satu tahun berlalu.
 
Selang setahun, sang Penasehat kembali melihat menyamar menjadi mata-mata dan 
mendatangi toko yang sama, terjadi percakapan sebagai berikut:

Mata-mata: Pak barang ini bagaimana…?

Pedagang: Barang ini bagus Pak kualitas nomor satu, harga terbaik. Lebih baik 
dari toko sebelah. Bapak beli di sini saja jangan di sana Pak, di sana tidak 
bagus.

Mata-mata: (tersenyum)
 
Segera Sang Mata-mata tersebut kembali dan melapor kepada Raja bahwa inilah 
saat yang tepat untuk menyerang.

Dengan penyerangan tersebut, hancurlah peradaban Islam di Eropa pada saat itu.
 
Cerita ini berikutnya lebih menarik lagi.

For the Greater Good 2: Khalid ra. dan Umar ibn Khattab ra.
Kisah ini sangat menarik. Perang-perang demi menangkan oleh kaum muslimin yang 
dipimpin oleh Khalid bin Walid ra. sehingga  dari sudut ketauhidan, umat Islam 
sudah mulai bergeser dalam memandang kemenangan perang tersebut dan juga dalam 
memandang Khalid bin Walid. Singkatnya, jika berperang bersama Khalid okelah, 
ghanimah deh pokoknya…


Hal ini disadari oleh Umar ra., dan bukan Umar ra. jika diam saja melihat hal 
tersebut. Ketika Umar ra.diangkat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar ra., 
Umar ra. mengganti Khalid bin Walid sebagai Panglima Perang dengan Abu Ubaidah 
ra. Hal ini dilakukan Khalid bin Walid sedang melaksanakan tugas di medan 
perang Yarmuk melawan pasukan Romawi.
Dalam teori politik (sekuler), belum pernah ada teori yang bisa menjelaskan 
keputusan “gila” ini. Suatu keputusan yang dilandasi oleh tauhid bukan 
berdasarka iri dan dengki seperti berita yang dipelintir dan beredar selama 
ini. Coba Anda bayangkan jika saat ini Presiden mencopot Panglima TNI saat ini 
dengan alas an tauhid.. bisa runyam, contoh kasus sederhana saat Jenderal X 
yang sakit hati saat dicopot oleh Presiden RI saat itu dan bermaksud mengadakan 
kudeta. Kondisi pada saat Khalid ra dicopot bahkan lebih berisiko. Seorang 
Panglima Perang dicopot pada saat berperang, opsi skenario terburuk yang 
mungkin terjadi merupakan petaka. Bisa saja Khalid ra. berkhianat bersatu 
dengan Romawi dan berbalik menyerang kaum muslim. Abu Ubaidah yang menerima 
surat pergantian Khalid ra dari Umar ra bahkan sempat ragu untuk menyampaikan 
surat tersebut kepada Khalid ra. dan memutuskan menyampaikannya pada saat 
pertempuran mereda.

Pada saat surat pergantian Panglima Perang disampaikan kepada Khalid ra Walid, 
Khalid ra berkata kepada Abu Ubaidah,

“Semoga Allah memberikan rahmat kepada Anda, mengapa Anda tidak menyampaikannya 
kepada saya waktu berita itu Anda terima? ”

Abu Ubaidah berkata,  “Saya tidak ingin mengganggu Anda yang sedang berperang .”

Khalid: “Saya tidak mengharapkan kekuasaan, dan saya bukan bekerja untuk dunia, 
saya tidak melihat ada yang akan hilang atau putus dengan pergantian jabatan 
ini. ”

Subhanallah, sungguh suatu respon yang bagus, jauh dari ego dunia. Kata-kata 
bijak dari seseorang yang kemarin hari menjadi Jenderal dan pada saat itu 
dicopot menjadi seorang prajurit biasa.


Dan yang lebih indah lagi, pada saat Khalid ra. kembali bertemu dengan Umar. 
Umar mengatakan hal yang sejujurnya bahwa ia mencintai Khalid ra. sebagai 
seorang muslim dan tidak ingin Khalid ra. terpedaya dengan kemegahan dunia, 
“Demi Allah, wahai Khalid, sesungguhnya engkau sangat kumuliakan dan kucintai 
”. 

Khalid ra. pun menjawab bahwa bukan untuk dunia ia berperang tapi untuk 4WI 
SWT. Kedua shahabat tersebut pun berpelukan. A brotherhood of men kata orang 
Barat, moslem brotherhood, mungkin, dalam kacamata muslim.

Banyak sekali nilai dan pelajaran yang bisa diambil dari hal kedua cerita di 
atas.
Mulai dari Sang Pedagang di pasar (sewaktu masih peduli) sampai Khalid ra, 
Ubaidah ra dan Umar ra, semuanya memberikan nilai dan pelajaran yang berharga, 
namun satu pelajaran yang saya petik di sini semua karakter tersebutl, yaitu 
tidak menempatkan ego pribadi di atas kepetingan atau tujuan akhir bersama. 
 
Pangsa Pasar 5% dan Persaingan Bank Syariah

Mengaitkan dua kisah di atas dalam konteks persaingan antara bank-bank syariah 
di Indonesia saat ini─dan juga perdebatan di milis ini─menarik jika muncul 
pertanyaan, mengapa  pangsa pasar ekonomi syariah (yang dilambangkan dalam 
perbankan syariah) masih tetap sulit mengejar angka 5%? Apakah sulit bagi 4WI 
SWT agar umat Islam mencapai angka tersebut?  
 
Muncul pertanyaan lanjutan. Apakah dengan representasi angka 5%, 50% atau 
bahkan 99.% asset perbankan syariah dalam perbankan Indonesia akan menjadi 
jaminan bahwa Islam akan menjadi suatu solusi bagi masalah umat? Umat Muslim 
yang berjaya….? Jangan-jangan kita lebih mencintai ekonomi syariah itu sendiri 
daripada Islam, sehingga kita lebih terusik pada saat seseorang mengkritik 
ekonomi Islam lebih daripada kita melihat saudara-saudara kita yang mengemis 
kelaparan? Semoga tidak insha4WI. Ekonomi syariah adalah suatu means bukan end, 
namun hal tersebut merupakan suatu kesatuan dalam Islam. 

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan 
yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi 
congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi 
manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, 
kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.(QS 9:25)
 
Seperti analogi Perang Hunain, kita lebih fokus pada angka 5% sehingga 
melupakan esensi dari kesyariahan itu sendiri. Sungguh kecil sekali angka itu 
di sisi 4WI SWT dan bukan merupakan jaminan kemenangan akan ekonomi syariah 
secara keseluruhan seperti jumlah prajurit, dan canggihnya peralatan dalam 
peperangan, namun faktor 4WI SWT-lah yang menentukan, dan doa dan ikhtiar 
adalah senjata yang paling ampuh untuk mencapai hal tersebut. Don’t let that 
ego land.
 
Wallahualam 

________________________________
Berselancar lebih cepat. 
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) 



      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke