Rapuhnya MaterialismeEditorial12/1/2010 | 25 Muharram 1431 H |Kemarin sore aku
sedang menyampaikan kuliah tafsir di Sekolah Tinggi Al-Hikmah Banka, Jakarta.
Judulnya Surah Al-Fiil (Gajah). Surah ini secara khusus menceritakan pasukan
gajah di bawah pimpinan Abrahah yang berangkat menuju lembah kota Mekah untuk
menghancurkan Ka’bah. Sebelum masuk kepada penjelasan tafsirnya aku
–sebagaimana biasa- menjelaskan
korelasi antara surah Al-Fiil dengan surah sebelumnya:
Al-Humazah.Subhanallah, sungguh luar biasa aku mendapatkan makna yang sangat
penting untuk kita renungkan dari rahasia urutan kedua surah tersebut. Dalam
surah sebelumnya Allah swt. menggambarkan
manusia-manusia humazah dan lumazah(pencela dan pengumpat). Di situ dijelaskan
bahwa mereka adalah manusia yang mengagung-agungkan harta. Menganggap harta
adalah segalanya. Meyakini bahwa dengan hartanya akan hidup kekal tanpa batas.
Lalu seketika dalam surah Al Fiil Allah mencontohkan seorang manusia yang
dihancurkan justru di saat-saat ia diselimuti tumpukan harta. Dimusnahkan
justru di saat pasukannya berkumpul untuk membelanya. Dicelakakan justru oleh
segerombolan
burun-burung kecil yang tidak berdaya.Para ulama tafsir menyebutkan bahwa
jumlah gajah yang digiring Abrahah lebih dari seribu. Tujuan pokoknya adalah
untuk menaklukkan kota Mekah tanpa perlawanan, sehingga ia dengan mudah bisa
menghancurkan Ka’bah. Sebagai manusia materialistik Abrahah tidak pernah
membayangkan bahwa di atas segalanya ada kekuatan immateri (ghaib). Demikianlah
Abrahah dan pasukannya melenggang dengan penuh keyakinan bahwa ia pasti bisa
menghancurkan Ka’bah. Di tengah jalan menuju Mekah, mereka merampas unta-unta
penduduk yang sedang di gembala. Di antaranya seratus unta milik Abdul Muthalib
(kakek Rasulullah saw). Karena itu Abdul Muthalib segera menemui Abrahah untuk
menuntut untanya. Di sini terjadi dialog antara Abrahah dengan Abdul
Mutahlib:Abdul Muthalib berkata: ”Wahai Abrahah, kembalikan
unta-untaku.”Abrahah: ”Hanya urusan unta kau datang menghadapku. (Tadinya
Abrahah mengira Abdul Muthalib datang untuk menyerahkan kota Mekah. Sebab dari
raut mukanya yang penuh wibawa Abdul Muthalib terbaca di benak Abrahah sebagai
pemuka Quraisy).”Abdul Muthalib: ”Aku adalah pemilik unta,
maka tugasku adalah menuntut unta-untaku dikembalikan. Adapun Ka’bah yang akan
kau hancurkan itu, ia ada pemiliknya. Silahkan kau berhadapan langsung dengan
Sang Pemiliknya.”Mendengar itu Abrahah semakin yakin, bahwa keinginannya untuk
menghancurkan Ka’bah akan segera tercapai. Lalu Abrahah minta agar tidak ada
satupun dari penduduk Mekah yang menghalangi. Seketika Abdul Muthalib
mengumumkan hal tersebut, dan mereka patuh, lalu semuanya menyingkir ke balik
pegunungan sambil melihat apa yang akan terjadi. Dalam diri mereka tersimpan
keyakinan bahwa Ka’bah ada yang punya. Karenanya mereka menunggu apa yang akan
dibalaskan oleh Sang Pemilik Ka’bah.Tak lama setelah itu, tiba-tiba datang
barisan berwarna hitam dari arah Yaman. Secara perlahan barisan tersebut
semakin banyak dan menutup langit. Abrahan dan pasukannya menyangka bahwa itu
gumpalan awan pertanda akan turun hujan. Namun ternyata setelah kian mendekat,
nampaklah bahwa itu barisan burung
Ababil yang sangat rapi, mirip dengan barisan shaf shalat umat Islam di
Masjidil haram. Masing-masing burung tersebut membawa tiga kerikil: satu di
paruhnya dan dua di kakinya. Semua kerikil yang dilemparkan mengena langsung
kepada sasaran. Dan begitu mereka terkena, seketika tubuh mereka menjadi rapuh,
organ-organ dan persendian segera berjatuhan satu persatu. Lalu menumpuk
seperti dedaunan yang di makan ulat. Allah menggambarkan kejadian ini dengan
sangat jelas dalam surah Al-Fiil. Mari kita
simak secara seksama kandungan surah ini:“Apakah kamu tidak memperhatikan
bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?Bukankah Dia telah
menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia?,Dan Dia
mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka
dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,lalu Dia menjadikan mereka
seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”Perhatikan, apa lagi yang akan manusia
banggakan dengan hartanya. Masihkan akan terlena dengan benda-benda yang tidak
berdaya?.Masihkah akan menjadikan dirinya sebagai hamba materi?.Masihkan akan
mewakafkan seluruh hidupnya untuk kesibukan mengurus benda-benda?.Masihkah akan
menganggap Allah sebagai sampingan?.Masihkah akan melihat bahwa Allah bukan
tujuan?.Masihkan akan merendahkan Allah dan meninggikan
dunia?.Masihkah akan mengutamakan kebutukan fisiknya di atas kebutuhan
ruhaninya?.Sungguh bila sejenak manusia mau menggunakan akal sehatnya, ia akan
segera tahu bahwa dirinya berada dalam posisi yang sangat rentan. Terjepit
sedikit saja syaraf matanya, ia langsung tiba-tiba buta. Terjepit sedikit saja
urat syaraf punggungnya ia tiba-tiba tidak bisa duduk dan tidak berbaring.
Dicabut saja kepercayaan istrinya, ia segera kalang kabut dan bingung. Apalagi
yang dicabut kepercayaan banyak orang, mau ke mana ia harus mempertahankan
kedudukannya. Sungguh segala yang dimiliki sebenarnya
hanyalah kesemuan. Tidak ada yang abadi. Pun tidak ada yang bisa membela
dirinya. Benar, Allah menjelaskan bahwa dunia hanyalah tipu daya. Wallahu a’lam
bishshawab.
Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya? Temukan jawabannya di Yahoo!
Answers! http://id.answers.yahoo.com