"Perlahan tidak apa-apa, asal jangan berhenti!"-Pepatah Jepang-
Pembukaan Jepang
Sebelum Restorasi Meiji, Jepang merupakan suatu negara yang tertutup dan bangga
(berlebihan, over-pede, lebay, you name it lah) dengan budayanya─termasuk di
dalamnya teknologi dan pendidikan). Posisi Jepang sangat vital dalam jalur
pelayaran Amerika Serikat (AS)-Republik Rakyat Tionghoa (RRT),
posisi Jepang bisa dimanfaatkan sebagai persinggahan sehingga kapal-kapal yang
berlayar bisa
beristirahat dan mengisi perbekalan, dan juga untuk hal-hal lainnya (termasuk
ekonomi dan politik).
Hal di atas membuat AS untuk memaksa Jepang membuka dirinya terhadap dunia
luar, dengan mengirimkan suatu ekspedisi yang dipimpin oleh Komodor Matthew C.
Perry yang dengan meriam kapalnya memaksa Jepang untuk membuka dirinya (1853).
"Buka atau perang!' Kurang lebih begitu.
Jepang sangat kaget, mereka "terkesima".
Meriam tersebut sangat mengejutkan Jepang, mereka tidak menyangka bahwa
terdapat teknologi yang lebih maju dari mereka.
Mereka membuat pilihan yang sangat menentukan arah nasib bangsa dan negara
mereka ke depan:
KITA HARUS BERUBAH!!!!! WE WILL BE DOOMED IF WE DON'T!!!
So terbukalah Jepang dan lahir restorasi
itu.
Mungkin cerita di atas agak "usang" bagi sebagian orang, namun apa yang dicoba
di share di sini adalah apa yang dilakukan Jepang kemudian!
Rumus
Dengan rumus (mohon koreksi dan tambahkan):
I . Budaya Jepang (Kerja Keras) + Restorasi (Kesadaran) + Tahu Malu +
Kecerdasan Visi ke Depan + 99% Ketentuan 4WI = Kebangkitan Jepang atas "Eropa".
II. Budaya Jepang (Kerja Keras) + Restorasi (Kesadaran) + Kalah Perang
(Pelajaran Berharga) + Tahu Malu + Kecerdasan Visi ke Depan + 99% Ketentuan 4WI
= Negara dengan Perekonomian Terbesar Kedua di Dunia.
Cukup dengan mengelaborasi "Satu langkah apa yang dilakukan Jepang setelah
membuka diri?", mungkin kita bisa
mengambil sesuatu dari sejarah
tersebut.
Setelah terkesima, Jepang segera membuka diri, hal pertama yang dilakukan
sebelum merancang dan mengelompokkan zaibatsu (kelompok bisnis besar yang
menggerakkan perekonomian Jepang saat itu), adalah mengirim para sarjana nya ke
Eropa dan AS untuk belajar, kemudian membawa buku sebanyak-banyaknya (sumber
ilmu) dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang!
Esensi atau ilmu dari buku tersebut diaplikasikan dengan dukungan dana dari
para zaibatsu, dan dengan cepat Jepang menjadi suatu negara yang disegani dan
mampu memenangkan perang Jepang-Rusia (1904-1905), yang tercatat sebagai
kebangkitan Asia dan menjadi kemenangan pertama Asia atas Eropa.
Kita lihat kurang lebih 50 tahun, 50 tahun waktu yang diperlukan suatu negara
untuk bangkit dengan rumus I di atas. Sayangnya Jepang, agak berlebihan dan
takdir 4WI SWT pun berlaku. Dan kita lihat seperti apa
Jepang 50 tahun berikutnya sehabis kalah dalam Perang Dunia II? Siapa sangka
pada saat itu, negara yang hancur total dan kalah perang bisa menjadi seperti
sekarang ini..? Dan itu tidak lepas dari proses-proses sebelumnya.
"Pencurian"
Ya, "pencurian" ilmu atau sunnatullah. Saat ini penulis secara pribadi, melihat
banyak siswa/mahasiswa Indonesia yang belum menguasai bahasa Arab, Inggris,
atau Jepang, minimal untuk menyerap esensi dari suatu literatur. Mempelajari
suatu bahasa baru, misal Arab atau inggris, terlebih dalam suatu tugas, masih
menjadi momok bagi mereka. Padahal hal tersebut harus dipaksakan atau mereka
harus "menceburkan" diri ke dalam hal-hal tersebut (sayang, sudah sekolah dan
ada wahananya tapi tak dioptimalkan).
Menyalahkan "kebuntuan" mereka atas hal tersebut juga bukan jawaban, dan memang
biaya, waktu dan tenaga yang
dibutuhkan juga besar untuk membuat
semua siswa atau mahasiswa cakap menguasai bahasa asing. Coba Anda datang ke
suatu, lembaga bahasa, misal EF, untuk mendapatkan suatu jasa pendidikan (yang
baik) seperti ini, lihat berapa jumlah angka nol dalam jumlah biaya yang harus
Anda bayarkan.
Saat ini banyak orang (sangat) berbangga─boleh jadi kita juga termasuk di
dalamnya, semoga tidak atau kita (bisa) berubah─dengan keahliannya untuk
mengerti dan menguasai literatur asing. Namun, jika kita lihat, banyak juga
yang menjadikan hal tersebut suatu kemanjaan dan "kemalasan" berbagi dengan
mereka yang tidak menguasai. Bisa
jadi dengan alasan agar dirinya aman, sebab dengan semakin sedikit yang
menguasai, dirinya menjadi semakin "aman". Semoga kita tidak termasuk di
dalamnya.
So, jika ada yang mempunyai waktu luang, mari kita "curi" buku-buku/kitab-kitab
penting yang bermanfaat dan kita terjemahkan─sebagian, jika tidak seluruhnya─ke
dalam bahasa Indonesia sehingga banyak saudara siswa/mahasiswa kita yang lain
juga mengerti. Keuntungan dan kemudahan bagi mereka juga keuntungan dan
kemudahan bagi kita
semua.
Wallahualam
Akses email lebih cepat.
Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang
dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)
Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah.
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/