Rekontruksi adalah serangkaian Proses. Ia memerlukan usaha multi sikap dari para intelektual yang
memiliki latar belakang pendidikan dan sisplin yang berbeda . Seluruh
konsentrasinya dan fokusnya adalah dalam rangka segala usaha lintas
disiplin ilmu untuk merekonstruksi peradaban kaum muslimin kembali (Ziauddin Sardar, Islamic Future: The Shape of Ideas to Come)
Membaca buku yang ditulis oleh akh Arya Sandiyudha “Renovasi Da’wah kampus”
semakin menguatkan tema wacana ini menuju alam yang nyata. Kalau selama
ini telah dipandang umm dan wajar geliat dan restrukturisasi bangunan
da’wah kampus yang notabene menda[patkan tempatnya di kampus-kampus
“Konvensional” maka wajar jugakah keberadaan pergerakan dakwah kampus
di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam ?
Untuk
sementara dalam pandangan yang kasat mata, kita mengasumsikannya
sebagai comfort zone. Tetapi dihubungkan dengan keberadaan dakwah
kampus maka ia bermakna menjaga dan menumbuh kembangkan lingkaran core competence ke alam pandangan hidup (Worldview) holistik atau dalam bahasanya Arya Sandiyudha, Epistomologinya juga hayawi dan memiliki paradigma yang madani dalam satu bangunan yang solid,alit dan elit.
Permasalahan yang kerap muncul sebagai motif mengapa keberadaan da’wah kampus perlu direvitalisasi adalah sebagai realitas. Comfort zone telah
menjebakdua pihak yang seharusnya satu sama lain tersinergikan menjadi
upaya rekontruksi yang ideal dari yang dicita-citakan.
Kampus Sekolah Tingi Ekonomi Islam Tazkia ini adalah bagian dari upaya menerjemahkan pandangan hidup Islam dalam kerangka core competence Ekonomi
Islam di lingkup pendidikan dan outputnya adalah SDM-SDM yang
dipersiapkan mengisi kekosongan dan kehampaan ruangan belantara ekonomi
Syariah du ruang publik yang lama menunggu.
Hal
itu terjadi dikarenakan ketika praktik perbankan syariah telah lama
tumbuh jauh sebelum kerangka teoritis pendidikan Ekonomi Islam selesai
dibangun. Maka efeknya Ekonomi islam telah terdistorsi sama dengan
entitas Lembaga Keuangan Syariah. Tergerusnya asset dan menurunnya laba
bersih Lembaga Keuangan Syariah sama dengan meredupnya euforia Ekonomi
Syariah itu sendiri. Kemudian effek bergandanya adalah idea-idea
ekonomi islam hanya diidentikkan dengan permintaan pasar yang ingin safety dari Krisis Ekonomi Global !
Jangan
ada lagi Formalitas Syariah tanpa Jiwa, begitu yang diingatkan oleh pak
Adiwarman Karim dalam kolom analisisnya di harian Republika(13/09).
Maka sudah seharusnya pendidikan ekonomi Islam dan kajian-kajian atau
bahkan kuliah informal Ekonomi Islam jangan sampai menjauhkan dari ruh
Islam itu sendiri atau sebatas kajian formal; ilmu tererap namun tanpa
penek
anan ideologis dari epistomologi Islam yang vital itu sendiri.
Dengan kata lain, kajian-kajian hingga kuliah informal Ekonomi Islam
tak semakin membuat pelaku dan ruangan aktifitasnya semakin dekat
dengan Allah SWT. Maka tepatlah kekata Imam Syafii : barangsiapa yang
belajar Fiqh tanpa akhlak maka ia akan rusak sebaliknya yang hanya
tenggelam pada tasauf akan juga fasid maka, kata
Imam Syafii, yang baik dan benar adalah mempelajari kduanya antara fiqh
dan akhlak juga aqidah. Dari sinilah peran da’wah kamus membangun
paradigma dan gerak warga kampus dalam bingkainya yang holistik dan
integratif.
Karena untuk membangun
kekosongan sistem dibutuhkan sinergitas yang tulus dari para
penghuninya. Singkatnya, kerja besar dan proyek peradaban yang bernama
dakwah kampus itu adalah menyiapkan dan mencetak kembali akal-akal
raksasa yang
kompatible dan pas dengan deru globalisasi zamannnya.
Disebabkan Dakwah kampus ini bukan bagaimana sekedar mensupply SDM-SDM
yang fresh graduate kerja di pelbagai Lembaga Keuangan Syariah
tetapi mengisi pola pikir atau mind set SDM-SDM itu untuk bergerak
lebih unversal dan dinamis. Kalau sekedar menjadi Supplier niscaya
founding fathers STEI Tazkia, Syafii Antonio, takkan pernah repot-repot
hingga kini membangun kampus di Sentul. Tetapi ada tujuan yang sifatnya
lebih mengekal dan
berkesinambungan hingga mencapai entry point yang
salah satunya dicita-citakan: menciptakan para Intelektual yang Hybrid;
fasih akan Tafsir, Hadits, Fiqh Muamalah, Ushul Fiqh namun di saat yang
sama juga kepakaran dalam hal Akuntansi Biaya, Akuntansi Manajemen,
Regresi dan korelasi, Sistem Informasi Akuntansi dll.
Hal
lainnya, menurut Arya Sandiyudha, adalah bagaimana da’wah kampus telah
menata dalam jiwa-jiwa para alumnus Universitas memiliki afiliasi pada
islam minimalnmya, menyepadankan antara nilai-nlai Islam yang telah dia
dapatkan selama dalam lingkaran dakwah kampus dengan core competence yang
ia miliki dan kemudian menumbuhkembangkanya. Maka, untuk di Sekolah
Tinggi Ekonomi Islam ini atau di KSEI-KSEI yang memiliki hubungan erat
dengan LDK di masing-masing kampusnya lebih pada misi The Islamization
of Knowledgenya dari subject Ekonomi itu sendiri.
Ala
Kulli Hal, seperti yang menajdi judul tulisan ini dan juga pandangan
dari Ziaudin Sardar mengenai upaya rekonstruksi peradaban. Dakwah
kampus di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam maupun di
Universitas-Universitas yang telah telah membuka KSEI dan prodi Ekonomi
Islam akhirnya menjadi satu keharusan juga keniscayaan. Oleh karena
itu, kata Sardar, Ia memerlukan usaha multi sikap dari para
intelektual. Dalam hal ini mahasiswa sebagai intelektual kampus, untuk
mengembalikan The Golden Glory yang
pernah raib dan tengelam dari genggaman dunia Islam. Anggaplah jalan
ini bukan saja kontribusi dari satu subject untuk terekonstruksinya peradaban
yang kita idamkan kembali. Tetapi juga melanjutkan pekerjaan rumah yang
selama ini terbengkalai di ranah keilmuan dan implementasi rancang
bangun ekonomi Syariah yang sudah Sembilan Belas tahun berjalan di
Indonesia .
Dari Atas Satu Tanah Tempat Kita Berpijak: Teruslah Bergerak dan Jemput Kemenangan Yang Allah T'lah Janjikan di Ujung Kegelapan Apapun yang Kita Terima !!
www.telagaalkautsar.wordpress.com
Mahasiswa Akuntansi Syariah, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia