Ridwansyah Yusuf Achmad - suaraPembaca

Jakarta - Perjanjian perdagangan bebas ASEAN - China cepat atau lambat akan 
menhancurkan sendi-sendi industri di dalam negeri. Perjanjian Zona Perdagangan 
Bebas ASEAN - China (ACFTA) itu sudah dimulai sejak terhitung 1 Januari 2010.

Ini merupakan perjanjian perdagangan bebas kedua yang dijalankan oleh Indonesia 
setelah ASEAN Free Trade Zone (AFTA) di awal tahun 2000-an. Sejak diberlakukan 
area perdagangan bebas ini bisa dikatakan Indonesia belum cukup stabil dalam 
manghadapi area perdagangan bebas. Dalam beberapa hal justru perjanjian ini 
merugikan Indonesia yang belum siap secara kapasitas sumber daya manusia dan 
kualitas infrastruktur pendukung.

Diberlakukannnya ACFTA di tahun 2010 ini memang belum begitu terasa dampaknya. 
Karena pada dasarnya infiltrasi dari produk China belum begitu signifikan 
secara jumlah. Akan tetapi hanya tinggal menunggu waktu hingga ekonomi kita di 
Indonesia semakin tergerus oleh pengaruh ekonomi China.

Contoh nyata sudah mulai terlihat. Jika berkunjung ke pasar swalayan. Maka, 
akan terlihat bahwa harga buah-buahan "mandarin" atau "made in China" lebih 
murah ketimbang buah-buahan lokal seperti mangga manalagi atau apel malang. 
Tentu hal ini sudah menjadi ancaman tersendiri bagi produk lokal kita yang 
gagal bersaing dengan produk asing khususnya China.

Beberapa sektor yang akan terkena dampak langsung berpotensi terhadang pasca 
ACFTA antara lain:
1. Industri Permesinan.
2. Sektor Perkebunan dan Pertanian.
3. Industri Makanan dan Minuman.
4. Industri Petrokimia.
5. Industri Plastik.
6. Industri Tekstil dan Produk Tekstil.
7. Industri Alas Kaki.
8. Industri Elektronik dan Peralatan Listrik.
9. Industri Besi Baja.
10. Jasa Permesinan.

Dari sektor yang terancam di atas semuanya sangat berkaitan dengan sains dan 
teknologi yang tentu sangat juga berkaitan dengan ITB sebagai Institut 
pendidikan yang berkaitan dengan Teknologi dan Sains. Prof Zuhal –-Rektor Al 
Azhar Indonesia, berpendapat bahwa ekonomi Indonesia ditopang oleh semangat 
konsumtifme yang merajalela.

Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya mal atau shopping plaza secara 
besar-besaran dalam satu dekade terakhir. Hal ini sangat bertentangan -–lanjut 
Prof Zuhal, dengan penduduk Taiwan yang menolak pembangunan sebuah shopping 
plaza dan lebih memilih untuk dibangun sebuah pabrik agar terbuka lapangan 
kerja baru.

Perbedaan paradigma pun terjadi antara alumni muda di Indonesia dan luar 
Indonesia. Dalam sebuah diskusi di dunia maya yang pernah saya lakukan dengan 
seorang alumnus muda Universitas Teknologi Malaysia, beliau justru memiliki 
pandangan tersendiri yang positif tentang ACFTA ini.

Beliau menilai bahwa adanya perdagangan bebas ini memberikan kesempatan besar 
untuk jaringan pengusaha maupun akses beasiswa untuk perkuliahan pasca sarjana. 
Ini merupakan masalah tersendiri. Ketika di Malaysia ada seorang alumnus muda 
yang berpikir bahwa perdagangan bebas adalah sesuatu yang positif pengusaha 
kita di Indonesia justru khawatir bahwa mereka akan mengalihkan. Mereka bukan 
lagi sebagai pengusaha tetapi sebagai pedagang.

Sebagai seorang mahasiswa ITB tentu kita tidak boleh hanya diam. Sebagai bagian 
dari lima juta mahasiswa yang ada di Indonesia kita dituntut untuk mampu 
berbuat banyak. Walau memang berkaitan dengan ekonomi makro mahasiswa belum 
bisa berbuat banyak.

Karena memang porsi mahasiswa dalam hal ini adalah sebagai obyek dari dampak 
perdagangan bebas ini. Akan tetapi sekecil apa pun peran kita harus bisa 
bergerak dan berbagi inspirasi untuk Indonesia.

Hal sederhana yang bisa dilakukan oleh mahasiswa tentu adalah memulai dengan 
memperbanyak diskusi dan kajian tentang perdagangan bebas. Sehingga, wacana 
tentang dampak perdagangan bebas ini bisa terinternalisasi dengan baik. Dengan 
banyaknya diskusi ini mahasiswa akan semakin memiliki pandangan yang luas dan 
lebih sadar akan ancaman krisis yang mendatangi Indonesia.

Mengubah kebiasaan hidup dengan membeli produk asli Indonesia saat krisis 1998 
teringat ada propaganda kami cinta produk Indonesia. Kita bisa memulai dengan 
terbiasa untuk membeli produk dalam negeri agar para pengusaha dalam negeri 
kita juga terbantu dengan apa yang kita lakukan.

Pada langkah lebih lanjut mahasiswa diharapkan mampu menyiapkan diri untuk 
pasca kampus dengan mempersiapkan segala hal. Sehingga, saat sudah lulus 
mahasiswa ITB tidak berpikir saya akan kerja di mana. Tetapi, ia berpikir saya 
akan membuat lapangan kerja di mana.

Mahasiswa dengan kecerdasan intelektualitas memiliki tanggung jawab untuk 
memberi ketenangan bagi masyarakat umum dalam membangun Indonesia dalam 
menghadapi tantangan ini. Jangan sampai justru mahasiswa menjadi beban bagi 
negara. Ini satu momen penting dalam pembangunan Indonesia.

Jika kita bisa mampu melewati masa ini dengan baik maka Indonesia ke depannya 
akan mampu menjadi satu kekuatan ekonomi tersendiri di dunia. Teringat saat 
krisis dunia 2008 lalu Indonesia bisa menjadi salah satu negara yang bisa 
bertahan menghadapi badai krisis tersebut. Itu artinya Indonesia memiliki dasar 
kekuatan daya saing yang mampu berkompetisi dengan dunia.

Ridwansyah Yusuf Achmad
Presiden Keluarga Mahasiswa ITB



(Editoral By Zanikhan)

Kirim email ke