Kamis, 15 April 2010,

JAKARTA-–Indonesia tak terlalu terkena dampak terhadap krisis global beberapa 
waktu lalu. Saat krisis tersebut pun banyak pihak melirik keuangan syariah, 
termasuk instrumen sukuk.

Head of Debt Capital Market CIMB-GK Securities, A Siwiwardhani, mengatakan, 
setelah krisis global usai, hal tersebut memberi kesempatan bagi keuangan 
syariah untuk berkembang karena melihat keuangan syariah sebagai salah satu 
alternatif. Ia menambahkan, saat krisis melanda sekitar pertengahan 2007 hanya 
terdapat sekitar dua sukuk korporasi yang diterbitkan.

"Di 2008 jumlah penerbitan sukuk berlipatganda dan dengan kondisi yang stabil 
setelah krisis ini kita melihat banyak penerbitan dengan porsi besar dibanding 
sebelumnya," kata Siwiwardhani dalam Islamic Finance Roadshow di Grand Hyatt, 
Kamis (15/4). Ia melanjutkan, di 2009 pun terlihat adanya perkembangan di pasar 
sukuk dengan hadirnya sukuk ritel dan penerbitan sukuk melalui metode lelang. 
Dengan perkembangan pasar sukuk Indonesia tersebut pun cukup banyak issuer yang 
ingin masuk ke pasar sukuk.

Chief Executive Officer RAM Ratings, Liza Mohd Noor, mengatakan, Indonesia 
memiliki potensi besar untuk menjadi penerbit sukuk terbesar. "Dengan mayoritas 
penduduk muslim dan banyaknya proyek infrastruktur, Indonesia berpeluang besar 
menjadi penerbit terbesar sukuk global," kata Liza. Saat ini penerbitan sukuk 
global masih didominasi Malaysia dengan kisaran 60 persen.
Red: Krisman Purwoko
Rep: gie


Kirim email ke