assalaamu’alaikum wr. wb.

Di ruang kelas itu,
kami tengah serius mendengarkan uraian demi uraian dosen.  Dalam mata
kuliah Kristologi itu, kami memang tak banyak bicara, dan lebih memilih
untuk mendengarkan saja penjelasan dari sang ustadz; seorang muallaf yang 
nyaris saja memperoleh gelar doktoral di sebuah sekolah teologi, sebelum 
akhirnya hidayah Allah menggapai hatinya.

Sudah
barang tentu, kebanyakan kami hanya bisa terperangah ketika dosen
menceritakan sebuah doktrin penting dalam teologi Kristen, yaitu bahwa
tuhan mengutus anaknya ke dunia (walaupun anaknya itu pun bagian dari
dirinya, sebagaimana yang dikehendaki oleh doktrin trinitas) untuk
mendamaikan manusia dengan tuhan.  Alkisah, tuhan menciptakan manusia,
kemudian menyesal.  Ternyata manusia banyak berbuat dosa dan merusak
kesucian dirinya.  Karena banyak dosa itulah manusia tidak bisa
mendekati tuhan.  Maka tuhan pun mengutus sang anak manusia (Yesus)
agar ia disalib dan menghapus dosa-dosa manusia, sehingga manusia bisa
kembali mendekati tuhan, atau dengan kata lain, tuhan bisa kembali
menerima manusia.

Kita takkan mengusik kepercayaan agama di luar
Islam, namun akan menggarisbawahi beberapa perbedaan penting, sebagai
bagian dari interaksi yang jujur dan sehat di antara pemeluk agama yang
berbeda.  Hanya dengan mengakui perbedaan-perbedaan inilah kita bisa
menghilangkan kemunafikan dan melangkah pada sikap saling menghormati
yang sebenarnya.  Islam, berbeda dengan agama Kristen, memahami
interaksi Tuhan dengan cara yang sangat berbeda.  Allah tidak perlu
perantara untuk mengampuni manusia, bahkan ampunan Allah adalah hal
yang paling mudah jika kita sungguh-sungguh ber-taubat selama masih ada
nyawa, dan selama matahari belum terbit dari Barat.  Islam juga tidak
mengenal representasi fisik Tuhan dalam bentuk apa pun, termasuk
jelmaan dalam sosok manusia yang kemudian disebut sebagai anak tuhan.

Surah
Al-A’raaf dalam Al-Qur’an menunjukkan sebuah episode penting dalam
dakwah Nabi Musa as. yang menunjukkan betapa manusia seringkali tertipu
dengan representasi fisik, dan dengan mudahnya pula melupakannya.  Ayat
103-122 menceritakan bagaimana awalnya Nabi Musa as. datang langsung ke
hadapan Fir’aun dan meminta agar ia membiarkan Bani Israil dibiarkan
pergi bersamanya.  Tentu saja seorang raja yang setengah dewa takkan
mau membiarkan para budak belian pergi begitu saja dari negerinya. 
Maka Nabi Musa as. melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi ular dan
mengeluarkan tangannya yang bercahaya.  Tanpa show of force semacam ini, 
mustahil Fir'aun dapat diyakinkan.

Setelah
itu pun Fir'aun belum menyerah.  Dipanggillah para ahli sihir untuk
melawan Nabi Musa as., karena ia pikir Nabi Musa as. pun seorang
penyihir.  Akan tetapi mereka pun akhirnya takluk dan tersungkur
bersujud seraya mengatakan, “Kami beriman kepada Rabb semesta alam, Rabb-nya 
Musa dan Harun”.

Menghadapi
bukti-bukti nyata yang sebenarnya telah dipintanya sendiri ini, Fir’aun
semakin menjadi-jadi.  Kemarahannya membabi-buta, sehingga Nabi Musa
as. dituduh hendak mengobarkan pemberontakan warga Mesir terhadapnya,
dan Fir’aun mengancam akan memotong tangan dan kakinya secara
bersilangan dan menyalib mereka semua (yaitu Nabi Musa as. dan para
pengikutnya, termasuk pengikut barunya, yaitu para mantan penyihir
Fir’aun).  Pada ayat 123-126, diperlihatkanlah bagaimana Fir’aun
mengancam para (mantan) penyihir itu, yang kemudian mereka jawab dengan
mantap: "Sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.”  Ancaman kematian 
dari Fir’aun tidaklah menakutkan, karena setelah mati, manusia hanya akan 
kembali kepada Rabb-nya, kembali ke kampung halaman tempat Nabi Adam as. 
berasal, ke sisi Allah yang tak pernah berbuat zalim.

Para
mantan penyihir itu tidak lagi tertipu dengan pancainderanya.  Mereka
tak pernah melihat Allah, dan tak pernah melihat surga.  Akan tetapi
keimanan dalam dadanya kini lebih kuat daripada keyakinan palsunya dulu
terhadap ilmu-ilmu sihir.

Para pembesar Mesir memprovokasi
Fir’aun, dan Fir’aun pun mengeluarkan kebijakan yang sangat kejam. 
Seluruh anak laki-laki yang lahir dari rahim Bani Israil dibunuh,
sedangkan anak-anak perempuannya dibiarkan hidup.  Seseorang dari
kaumnya berkata lirih kepada Nabi Musa as., "Kami telah ditindas
sebelum kamu datang, dan masih ditindas setelah kamu datang.”

Maka
keadaan pun berubah silih berganti di negeri Fir’aun.  Ketika
bergelimang kemakmuran, mereka lupa diri dan mengatakan bahwa
kemakmurannya adalah hasil usahanya sendiri.  Tuhan tidak pernah mereka
sebut-sebut.  Akan tetapi ketika ditimpa kesusahan, mereka katakan
bahwa kesialan itu datang karena Nabi Musa as. dan para pengikutnya.

Musibah
datang bertubi-tubi dalam wujud angin topan, belalang, kutu, katak dan
darah.  Luluhlah para pengikut Fir’aun, hingga akhirnya mereka memohon
kepada Nabi Musa as. agar berdoa kepada Allah untuk mengangkat adzab
dari mereka.  Mereka berjanji jika adzab
itu dilepaskan, mereka akan beriman kepadanya dan akan membiarkan Bani
Israil pergi bersamanya.  Orang beriman macam apakah gerangan yang
mengajukan syarat untuk keimanannya?  Orang berimankah ia, jika ia mau
saja membiarkan seorang Nabi pergi bersama orang lain dan meninggalkan
dirinya?  Setelah adzab
diangkat, nyatalah kedustaan mereka.  Maka Fir'aun dan kaumnya pun
ditenggelamkan di dasar laut, sementara Nabi Musa as. dan Bani Israil
berhasil lari ke negeri seberang.

Semoga Allah merahmati Nabi
Musa as. karena kesabarannya menghadapi kaumnya yang telah mewarisi
kerusakan berpikir bangsa penjajahnya dahulu.  Setelah menghadapi
Fir’aun yang tertipu dengan pancainderanya, kini Bani Israil pun
ikut-ikutan menjadi penganut paham materialisme.  Mereka tiba di suatu
negeri yang penduduknya menyembah berhala, dan mereka merasa rendah
diri kalau tak bisa menjawab ketika ditanya, "Mana Tuhan-mu?".  Dengan
segala kepandirannya mereka datang kepada Nabi Musa as. untuk meminta
dibuatkan berhala juga.  Nabi Musa as. pun menjawab dengan getir,
"Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui."

Allah
SWT berkehendak untuk menurunkan Taurat kepada Nabi Musa as.  Maka
dititipkannyalah kaumnya kepada Nabi Harun as., saudara yang senantiasa
menemaninya dalam perjuangan.  Pada waktu yang telah ditentukan, Nabi
Musa as. pun memohon kepada Allah agar menampakkan diri-Nya.  Niscaya
beliau tak termasuk orang yang tertipu dengan materialisme, yang tak
dapat beriman tanpa representasi fisik, karena sebelumnya pun beliau
tak pernah surut melaksanakan perintah Allah.  Memang suatu kewajaran
semata bila seorang hamba rindu ingin melihat wajah Tuhan-nya.  Maka
Allah SWT pun memerintahkan Nabi Musa as. untuk melihat ke arah sebuah
gunung.  Seketika gunung itu pun hancur, dan Nabi Musa as. jatuh
pingsan.  Ketika siuman, berkatalah beliau, “Subhaanaka tubtu ilaika, wa ana 
awwalul-mu'miniin" (Maha Suci Engkau, aku ber-taubat kepada-Mu, dan aku adalah 
yang pertama-tama beriman).

Niscaya
manusia takkan pernah memahami agama ini selagi akal mereka masih
ditutupi kabut materialisme.  Mereka tak mau percaya pada Tuhan hanya
karena mata tak bisa menggapainya.  Mereka tak bisa mengimani surga
hanya karena belum pernah mengunjunginya.  Mereka tak mengenal cinta
pada sesuatu yang belum pernah ditemuinya.

Betapa besar perasaan
dengki kaum materialis ini kepada umat Islam.  Umat Rasulullah saw.,
pewaris sejati ajaran Nabi Musa as., mampu memelihara keimanan yang
kuat di dalam dadanya kepada hal-hal yang tak pernah dijumpainya.  Tak
pernah melihat wajah Allah, namun begitu merindukan-Nya.  Umat
Rasulullah saw. di akhir jaman tak pernah bertemu dengan beliau, namun
tubuhnya menggigil gemetar dan air matanya menetes karena mengenang
beliau.  Tak ada foto, video, atau gambar rekaan yang mampu
merepresentasikan perasaan rindu itu.

Begitu besar kedengkian
pada umat Islam, sehingga ada yang merasa perlu untuk membuat sketsa
wajah Rasulullah saw., meskipun umat Islam sendiri tak diperbolehkan
untuk melakukannya.  Tapi usaha ini hanya olok-olok belaka, karena
mereka tak pernah menggambar berdasarkan keterangan yang shahih seperti
ahli gambar di kepolisian membuat sketsa wajah seorang buronan.  Mereka
hanya menyematkan identitas khas Arab - bersorban, berjanggut, dan
seterusnya - kemudian memberikan berbagai stereotip menyesatkan pada
gambar itu.  Maka jadilah ia lomba karikatur biasa yang tak pernah ada
kaitannya dengan kebenaran.

Sebagian di antara mereka
membuat-buat alasan.  Mereka mengaku tak membenci Islam, namun hendak
mendekonstruksi kesucian Nabi Muhammad saw.  Para kartunis Barat yang
agama resminya adalah Kristen telah seringkali memparodikan sosok
Yesus.  Jika Yesus pun bisa dikritisi (baca: diolok-olok), maka Sang
Nabi Terakhir umat Islam pun tak boleh bebas dari kritik.  Dan karena
umat Muslim tak mau melakukannya, maka umat lainlah yang harus
mengambil tugas ini.

Duhai, betapa malangnya orang-orang yang
tertipu dengan materialisme.  Imajinasi mereka terhambat oleh
pancainderanya sendiri.  Melihat dunia sudah merasa mengenal surga. 
Mereka tak mampu membayangkan ada sesuatu yang melampaui jangkauan
tangannya sendiri.  Mereka tak mengenal cinta yang tumbuh di antara
hati orang-orang yang beriman, meski mereka tak saling mengenal.  Isyhaduu bi 
annaa muslimuun...

wassalaamu’alaikum wr. wb.
http://akmal.multiply.com/journal/item/789/Wajah_Rasul?replies_read=13


Dari Atas Satu Tanah Tempat Kita Berpijak: Teruslah Bergerak dan Jemput 
Kemenangan Yang Allah T'lah Janjikan di Ujung Kegelapan Apapun yang Kita Terima 
!! 

www.telagaalkautsar.wordpress.com 
Mahasiswa Akuntansi Syariah, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia 


Kirim email ke