http://mimbarjumat.com/archives/1119



Kaya
untuk Miskin 

  

SENIN KLIWON, 1 FEBRUARI 2010 

  

‘’Jika kau ingin menemuiku, carilah aku di
tengah-tengah orang miskin,’’ kata Nabi Muhammad SAW. Dan beliau wafat dengan
meninggalkan utang gadai baju besi kepada seorang Yahudi. Wasiat Rasulullah
itulah yang membuat Sholahuddin Al Ayyubi memilih miskin hingga akhir hayat.
Pada 1193, Sang Penakluk Aqsha (1192), meninggal dunia. 

 

Ketika peti harta warisan Sholahuddin dibuka,
isinya nyaris kosong. Bahkan sekadar untuk biaya pemakamannya pun tak cukup.
Gaji, bagian ghanimah maupun fa’i yang diterima Jendral Sholahuddin semasa 
hidupnya, habis dibagikan
kepada kaum dhuafa. 

Demikianlah, Sholahuddin Al Ayyubi adalah Orang Kaya yang
Kaya. Seperti dikatakan
Rasulullah: Laisal-ghinaa' ankatsratil-'aradli, innamal-ghinaa, 
ghinan-nafsi. Bukanlah orang kaya itu yang banyak harta-benda,
tapi sejatinya orang kaya adalah yang kaya jiwanya (HR Al-Bukhari dan Muslim
dari Abi Hurairah). 

Orang kaya macam Sholahuddin Al Ayyubi ‘’tidak
punya waktu’’ untuk menikmati kekayaan harta-bendanya sendiri. Dia kaya untuk
miskin. Kaum dhuafa lah yang menikmati kekayaan beliau. Sesuai kata Nabi
Muhammad SAW, sebaik-baik kekayaan adalah di tangan Muslim yang dermawan.
Yakni, kata Abu Ishaq as Sabi'i dalam Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, yang 
memandang keluasan harta benda sebagai
penolong agama. 

Orang berjiwa kaya seperti Sholahuddin Al
Ayyubi, bahkan disebut Sahmullah Rivqi sebagai ‘’egois’’ bila tidak berusaha
mencari harta sebanyak-banyaknya. Kok? Presdir Greenleaf School of Entrepreneur 
itu
menuturkan, ‘’Seandainya kita mau memikirkan kepentingan keluarga lainnya, baik
keluarga sedarah maupun keluarga seiman yang dhuafa dan membutuhkan bantuan
finansial, maka kita tidak akan pernah merasa cukup meskipun penghasilan kita
Rp 1 Milyar perbulan!’’ 

Rivqi mengingatkan, penghasilan Rp 5 juta atau
10 juta perbulan, mungkin cukup untuk makan kita dan keluarga, pendidikan anak,
cicilan rumah, mobil, zakat/infaq dan sedikit tabungan. ‘’Ya, cukup memang jika
kita hanya memikirkan diri dan keluarga kita saja. Tapi kita harus berusaha
mendapatkan lebih banyak lagi, karena terlalu banyak umat Islam yang harus
dibantu secara finansial. Maka, sebanyak-banyaknya uang harus kita hasilkan,
dan sebanyak-banyaknya orang harus menikmati manfaat dari yang kita hasilkan,’’
katanya. 

Tapi hati-hati, jangan sebaliknya malah menjadi
Orang Kaya yang Miskin. Yang sudah diberi kelebihan materi, namun tidak pernah
merasa cukup dan selalu merasa kurang. Bagaikan meminum air laut. Itulah yang
menyebabkannya miskin. Memang, setiap manusia berpotensi untuk kemaruk harta. 
“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan
yang berlebihan”(QS Al-Fajr: 20).
Rasulullah SAW pun telah memperingatkan: “Seandainya anak Adam memiliki dua
lembah yang dipenuhi harta kekayaan, dia pasti menginginkan lembah yang 
ketiga” (HR Tirmidzi dari Ibnu Abbas). 

Selanjutnya, kerakusan biasanya
berjalin-kelindan dengan kebakhilan. “Dan sungguh dia sangat bakhil karena
cintanya kepada harta” (QS Al-‘Adiyat: 8). Dia sewa sepasukan bodyguard untuk
melindunginya dari sentuhan kaum dhuafa. Belum cukup setengah lusin satpam yang
bertugas 2 shift siang-malam menjaga rumahnya, dia bangun pagar rumah senilai
milyaran rupiah. 

Kerakusan secara manusiawi bahkan mengikuti laju
usianya. Seperti diingatkan Nabi, “Hati orang tua yang telah lanjut usia
cenderung pada dua hal, yaitu umur panjang dan banyak harta”(HR Tirmidzi dari 
Abu Hurairah). Orang yang
kaya-rakus-bakhil, sejatinya dia orang miskin. Dia dengan segenap kekayaannya
tidaklah menakutkan, tapi menyedihkan. Karena sejatinya dia tidak lebih mulia
ketimbang binatang. Bahkan lebih nista lagi. 

Firman Allah SWT: ‘’Terangkanlah kepadaku
tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu
dapat menjadikan pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan
mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tak lain hanyalah seperti
binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya (dari binatang)’’ (QS Al Furqan: 
43-44). 

Orang Kaya yang Miskin, tidak menyadari bahwa
dia diciptakan lebih mulia dari setan. Dia justru takluk pada setan yang ‘’…
menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan’’ (QS Al- Baqarah: 268). Naudzubillahi
mindzalik! (aya hasna) 

  

       Lebih aman saat online. 
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!

Kirim email ke