Wallahu sami’ul Bashir.

By ; Rahmadsyah Mind-Therapist

 

Assalamu’alaikum wr.wb

Shahabat saya yang di Cintai oleh Allah. Dimana
Setiap doa yang dipanjatkan untuk kebaikan-kebaikan dirinya demi kebahagiaan 
diri
serta membawa kebaikan buat  manusia.
Selalu Allah kabulkan. Amin.

 

Kemarin tatkala
saya melakukan aktivitas dipagi hari sebelum berangkat ketempat saya berusaha
dan mengembangkan kualitas prima dalam diri saya. Terbesit dalam diri saya
kalimat kalam ilahi ”Wallahu sami’ul
bashir” (Sungguh Allah Maha Mendengar
dan Melihat).

 

Mungkin bagi Anda yang
pernah membaca Al-Quran atau bahkan mendengar lantunannya. Tidak asing kalimat
itu berulang-ulang dan biasa saja. Persis seperti saya dulu. Bagi saya kalimah
itu sudah saya dengar semenjak saya kecil dan membaca nya. 

 

Kemarin pagi,
kalimah itu kembali terdengar, tetapi dengan makna yang berbeda. Perbedaan itu
akibat dari perbandingan pemahaman makna dulu dengan sekarang. Kalau dulu, saya
memahami Maha mendengar dan Maha melihat itu adalah kemilikan Allah semata.
Maksudnya, apapun yang kita katakan dan kita perbuat, Allah mengetahui dan
mendengar, sampai terbesit dalam hati dan fikiran kitapun, Allah sungguh
mendengar dan melihatnya. Sehingga makna itu biasa saja (lumrah bagi Allah /
tidak ada keraguan bagi Nya) serta saya Yakini.

 

Perbedaan saat ini,
kalimat itu (mendengar dan melihat), saya asosiasikan kepada diri saya (Bukanlah
saya bisa melihat atau mendengar segala nya). Tetapi, selama ini ternyata ada
maksud dan pembelajaran yang terlewati. Apa rahasia dibalik peletakan kata 
”Sami’”
(Mendengar) terlebih dahulu, baru kemudian ”Bashir” (melihat) dalam
Al-Quran.

 

Sementara kalau kita
amati secara anatomi. Telinga Allah ciptakan pada posisi kiri dan kanan. 
Sehingga,
suara-suara (informasi) baik depan-belakang, atas-bawah mampu tercapai dengan
baik. Bayangkan kalau telinga berada pada posisi mata?

 

Kemudian,
Sebagaimana kita tau bersama, bila seseorang bermasalah dengan pendengarannya,
pasti keseimbangan tubuhnya terganggu. Setelah itu, dalam hal komunikasi (dalam
konteks apapun), kejelasan statemen (pendapat) baru kita peroleh informasi yang
lengkap, setelah adanya kelengkapan informasi melalui auditory. (Menyimak dan
mendengar dengan seksama).

 

Setelah rasa penasaran
muncul terhadap ayat ini, ada pengalaman menarik yang saya alami. Satu persatu
Allah kuatkan keSADARan saya dengan bukti-bukti kauniah. Saya meyakini ini
bukan sebagai kebetulan, melainkan karena fokus kesadaran yang terpusatkan pada
lingkungan sekitar. 

 

Adalah salah satu
milist yang saya ikuti. Seorang member Pak Harry Uncomon namanya, beliau sharing
pengalamannya (tentang power of liestening, merupakan komentar dan tambahan
dari artikel Pak Yasir) dengan sales kartu kredit sebuah bank swasta. Inti 
sharing
pak Harry adalah sales tersebut tidak
mendengarkan kemauan dan apa yang telah pak Harry sampaikan sebelumnya,
melainkan asyik dengan penjelasannya. Apalagi, maunya sales itu, orang yang dia
telf (Pak Harry) mendengarkannya. Hasilnya apa? Ya, sales itu berhasil
melakukan closing tanpa ada tranksaksi, kecuali ucapan terima kasih atas
penawarannya.

 

Kemudian saya baca
buku ”Mengikat Makna” karya pak Hernowo. Dibuku itu pak Hernowo
sharing akan kekuatan mendengar, dan
hubungannya dengan menulis. Beliau cerita, dulu pernah ikut latihan menyanyi
syair-syair para sufi. Menurut beliau, latihannya lumayan menyulitkan (karena
belum tau caranya). Kemudian mentor pak Hernowo menyampaikan ”Dengarkanlah lagu 
itu dengan penuh
ketenangan, hingga suara itu masuk kedalam batinmu. Setelah itu, dengarkan
suara-suara yang ada dalam dirimu, dan keluarkanlah suara itu melalui lantunan 
suara
indahmu”. Pak Her pun melakukannya. Hasilnya sangat memuaskan, Pak Hernowo
menganggap, itulah pertama kalinya, nyanyian beliau menyatu dengan suara
penyanyi sufi.

 

Beliau melanjutkan,
dalam menulis juga demikian. Dengarkan setiap suara-suara pada sekeliling kita.
Apapun yang terdengar. Kemudian, masukan ia kedalam jiwa kita. Setelah itu,
dengarkan kembali suara-suara didalam diri. Langkah selengkapnya adalah
tuangkan ia dalam tulisan. (kiat mudah
menulis). (Mungkin suara-suara dalam diri, banyak kita abaikan selama ini
ya? Padahal setiap hari, ada 60.000 kata-kata melintas dikepala kita. Dan kalau
kita tuangkan kedalam tulisan, sudah jadi berapa halaman perhari ?)

 

Bahkan, saat anda
membaca note ini, anda mendengar suara bacaan suara anda sendirikan? Dalam 
proses
belajar memahami diri sendiri, intrspeksi, kontemplasi atau renungan (Self 
Awarness) pun juga demikian. Mendengar
akan lebih mengetarkan rasa. Sehingga kepekaan terhadap titik atau point yang
kita fokuskanpun, semakin terasa dan terSADARi. Bukankah saat konflik batin,
sebenarnya kita sedang mendengar kata-kata mana yang mau kita ikuti? 

Jadi, sekarang apa
yang sedang kita dengar?

 

Jakarta 7 juni 2010

 



RAHMADSYAH
Motivator&Mind-Therapist I 081511448147 I Master Practitioner NLP  
Hypnotherapist I YM ; rahmad_aceh I www.facebook.com/rahmadsyah
www.rahmadsyahnlp.blogspot.com



Kirim email ke