Assalamu'aliakum
Akh Ahmad dan Fajar. Syukran kasiran ya, sudah meluruskan. Afwan, ana belum 
ngerti bahasa Arab, Apalagi Al-Quran...

RAHMADSYAH
Motivator&Mind-Therapist I 081511448147 I Master Practitioner NLP  
Hypnotherapist I YM ; rahmad_aceh I www.facebook.com/rahmadsyah
www.rahmadsyahnlp.blogspot.com



--- On Mon, 14/6/10, Ahmad Ifham <[email protected]> wrote:

From: Ahmad Ifham <[email protected]>
Subject: [Tauziyah] Re: {FoSSEI} Wallahu Sami'ul Bashir
To: [email protected], [email protected]
Date: Monday, 14 June, 2010, 5:40 PM















 
 



  


    
      
      
      Ya. Dalam konteks ini: jika "wallahu sami'ul bashir", maka 
susunannya adalah mudhaf + mudhaf ilayh, sehingga maknanya ada "Zat Yang Maha 
...(nya) Zat Yang Maha ...", sehingga bahasa lainnya (terjemahan bebas) = Tuhan 
mempunyai Tuhan.
 

Namun, esensi maksud dari penulisnya sudah benar sesuai dengan yang dijelaskan 
olehnya.
 
Koreksi bagi kita bersama agar lebih berhati-hati, karena saya dan Anda semua 
adalah "mahallul khotho' wan nis-yaan" alias tempatnya salah dan lupa.
 
Apa yang saya sampaikan pun bisa jadi salah.
 
Regards,
Ahmad Ifham Sholihin

 




From: Fajar C. Qoharuddien <efche...@yahoo. com>
To: fos...@yahoogroups. com; tauzi...@yahoogroup s.com
Sent: Mon, June 14, 2010 3:39:28 PM
Subject: Re: {FoSSEI} Wallahu Sami'ul Bashir

  



hmmmm....... ......... ...,
memang benar. di al-Qur'an tidak ada kalimat "wallahu sami'ul bashir"


mungkin yang dimaksud penulisnya adalah "wallahu sami'un bashir(un)" ---> un 
dalam kurung adlh tanwin yg hlang krn waqaf. kalo disesuaikan tajwid jadi 
sami'um bashir (bacaan iqlab, nun jadi mim)




coba kita perhatikan beda keduanya :
- sami'un bashirun
keduanya adalah khabar untuk kata "ALLAHU". makna keduanya dalam kalimat ini 
menerangkan kondisi ALLAH. masing-masing sami'un artinya maha mendengar, 
bashirun artinya maha melihat. kalo tidak salah (sudah lama banget gak belajar 
bahasa arab, jadi lupa), ini namanya na't dan man'ut.


-sami'ul bashir 
kemungkinan, kalo dibaca lengkap kayaknya jadi "sami'ul bashiri". ini kalo 
tidak salah jadi mudhaf-mudhaf ilaihi (di bahasa indonesia mungkin jadi ini 
disebut frase). strukturnya sama dengan "rabbul 'alamin" yang artinya (bahasa 
bebas kita) tuhannya semesta alam, "abdur rahmaan" yang artinya hambanya yang 
maha rahman (pengasih).
jadi sami'ul bashir mungkin artinya (bebas, bukan dalam bahasa baku) yang maha 
mendengarnya yang maha melihat. ato gimana ya yang lebih tepat terjemahanya. 
....


kesimpulannya, ni mungkin kesalahan ketik saja. memang kalo ditelisik maknanya 
jadi salah. tapi sepertinya penulisnya tidak bermaksud untuk itu.....


wallahu a'lamu bis shawab......






Fajar C. Qoharuddien
Alumnus Fak. Syariah UIN Sunan Kalijaga
Eks Presiden ForSEI UIN Su-Ka 2006-2007







From: Ahmad Ifham <ahmadif...@yahoo. com>
To: fos...@yahoogroups. com; tauzi...@yahoogroup s.com
Sent: Monday, June 14, 2010 0:24:32
Subject: Re: {FoSSEI} Wallahu Sami'ul Bashir

  




Salam,
Seingat saya tidak ada kalimat dalam Al Quran berbunyi: "wallahu sami'ul 
bashir". Bahasa Al Quran (Bahasa Arab) itu apabila beda kata dan/atau beda 
huruf, makhraj, panjang pendek, sudah pasti akan beda makna.

Mohon koreksi jika salah karena saya gak hafal Al Quran dan belum cek.
Makasih.

Regards,
Ahmad Ifham Sholihin





From: Rahmadsyah Mind-Therapist <rahmad.aceh@ yahoo.com. sg>
To: Ruhul_islam@ yahoogroups. com
Sent: Fri, June 11, 2010 4:05:41 PM
Subject: {FoSSEI} Wallahu Sami'ul Bashir

  






Wallahu sami’ul Bashir.
By ; Rahmadsyah Mind-Therapist
 
Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabat saya yang di Cintai oleh Allah. Dimana Setiap doa yang dipanjatkan 
untuk kebaikan-kebaikan dirinya demi kebahagiaan diri serta membawa kebaikan 
buat  manusia. Selalu Allah kabulkan. Amin.
 
Kemarin tatkala saya melakukan aktivitas dipagi hari sebelum berangkat ketempat 
saya berusaha dan mengembangkan kualitas prima dalam diri saya. Terbesit dalam 
diri saya kalimat kalam ilahi ”Wallahu sami’ul bashir” (Sungguh Allah Maha 
Mendengar dan Melihat).
 
Mungkin bagi Anda yang pernah membaca Al-Quran atau bahkan mendengar 
lantunannya. Tidak asing kalimat itu berulang-ulang dan biasa saja. Persis 
seperti saya dulu. Bagi saya kalimah itu sudah saya dengar semenjak saya kecil 
dan membaca nya. 
 
Kemarin pagi, kalimah itu kembali terdengar, tetapi dengan makna yang berbeda. 
Perbedaan itu akibat dari perbandingan pemahaman makna dulu dengan sekarang. 
Kalau dulu, saya memahami Maha mendengar dan Maha melihat itu adalah kemilikan 
Allah semata. Maksudnya, apapun yang kita katakan dan kita perbuat, Allah 
mengetahui dan mendengar, sampai terbesit dalam hati dan fikiran kitapun, Allah 
sungguh mendengar dan melihatnya. Sehingga makna itu biasa saja (lumrah bagi 
Allah / tidak ada keraguan bagi Nya) serta saya Yakini.
 
Perbedaan saat ini, kalimat itu (mendengar dan melihat), saya asosiasikan 
kepada diri saya (Bukanlah saya bisa melihat atau mendengar segala nya). 
Tetapi, selama ini ternyata ada maksud dan pembelajaran yang terlewati. Apa 
rahasia dibalik peletakan kata ”Sami’” (Mendengar) terlebih dahulu, baru 
kemudian ”Bashir” (melihat) dalam Al-Quran.
 
Sementara kalau kita amati secara anatomi. Telinga Allah ciptakan pada posisi 
kiri dan kanan. Sehingga, suara-suara (informasi) baik depan-belakang, 
atas-bawah mampu tercapai dengan baik. Bayangkan kalau telinga berada pada 
posisi mata?
 
Kemudian, Sebagaimana kita tau bersama, bila seseorang bermasalah dengan 
pendengarannya, pasti keseimbangan tubuhnya terganggu. Setelah itu, dalam hal 
komunikasi (dalam konteks apapun), kejelasan statemen (pendapat) baru kita 
peroleh informasi yang lengkap, setelah adanya kelengkapan informasi melalui 
auditory. (Menyimak dan mendengar dengan seksama).
 
Setelah rasa penasaran muncul terhadap ayat ini, ada pengalaman menarik yang 
saya alami. Satu persatu Allah kuatkan keSADARan saya dengan bukti-bukti 
kauniah. Saya meyakini ini bukan sebagai kebetulan, melainkan karena fokus 
kesadaran yang terpusatkan pada lingkungan sekitar. 
 
Adalah salah satu milist yang saya ikuti. Seorang member Pak Harry Uncomon 
namanya, beliau sharing pengalamannya (tentang power of liestening, merupakan 
komentar dan tambahan dari artikel Pak Yasir) dengan sales kartu kredit sebuah 
bank swasta. Inti sharing pak Harry adalah sales tersebut tidak mendengarkan 
kemauan dan apa yang telah pak Harry sampaikan sebelumnya, melainkan asyik 
dengan penjelasannya. Apalagi, maunya sales itu, orang yang dia telf (Pak 
Harry) mendengarkannya. Hasilnya apa? Ya, sales itu berhasil melakukan closing 
tanpa ada tranksaksi, kecuali ucapan terima kasih atas penawarannya.
 
Kemudian saya baca buku ”Mengikat Makna” karya pak Hernowo. Dibuku itu pak 
Hernowo sharing akan kekuatan mendengar, dan hubungannya dengan menulis. Beliau 
cerita, dulu pernah ikut latihan menyanyi syair-syair para sufi. Menurut 
beliau, latihannya lumayan menyulitkan (karena belum tau caranya). Kemudian 
mentor pak Hernowo menyampaikan ”Dengarkanlah lagu itu dengan penuh ketenangan, 
hingga suara itu masuk kedalam batinmu. Setelah itu, dengarkan suara-suara yang 
ada dalam dirimu, dan keluarkanlah suara itu melalui lantunan suara indahmu”. 
Pak Her pun melakukannya. Hasilnya sangat memuaskan, Pak Hernowo menganggap, 
itulah pertama kalinya, nyanyian beliau menyatu dengan suara penyanyi sufi.
 
Beliau melanjutkan, dalam menulis juga demikian. Dengarkan setiap suara-suara 
pada sekeliling kita. Apapun yang terdengar. Kemudian, masukan ia kedalam jiwa 
kita. Setelah itu, dengarkan kembali suara-suara didalam diri. Langkah 
selengkapnya adalah tuangkan ia dalam tulisan. (kiat mudah menulis). (Mungkin 
suara-suara dalam diri, banyak kita abaikan selama ini ya? Padahal setiap hari, 
ada 60.000 kata-kata melintas dikepala kita. Dan kalau kita tuangkan kedalam 
tulisan, sudah jadi berapa halaman perhari ?)
 
Bahkan, saat anda membaca note ini, anda mendengar suara bacaan suara anda 
sendirikan? Dalam proses belajar memahami diri sendiri, intrspeksi, kontemplasi 
atau renungan (Self Awarness) pun juga demikian. Mendengar akan lebih 
mengetarkan rasa. Sehingga kepekaan terhadap titik atau point yang kita 
fokuskanpun, semakin terasa dan terSADARi. Bukankah saat konflik batin, 
sebenarnya kita sedang mendengar kata-kata mana yang mau kita ikuti? 
Jadi, sekarang apa yang sedang kita dengar?
 
Jakarta 7 juni 2010
 



RAHMADSYAH
Motivator&Mind-Therapist I 081511448147 I Master Practitioner NLP 
Hypnotherapist I YM ; rahmad_aceh I www.facebook. com/rahmadsyah


www.rahmadsyahnlp. blogspot. com










      

    
     

    
    


 



  










Kirim email ke