―never spend your money before you have it― Sebentar lagi suatu perhelatan global akan dimulai, Piala Dunia 2010, sebuah perhelatan yang akan membawa suatu dampak signifikan bagi perekonomian negara Tuan Rumah (Afrika Selatan). Memang menyenangkan melihat pertandingan olahraga, khususnya sepakbola. Saya sendiri suka dengan olahraga ini (walau tidak bisa bermainnya), just sport, ditambah sedikit embel-embel menjagokan, tanpa judi dan tanpa fanatisme berlebihan. Namun, ada satu sisi dimana para penggemar sepakbola harus mengetahui mengenai salah satu sisi olahraga ini, sebuah bagian dari “ekonomi (klub) sepakbola”. Berikut ceritanya…. Pertama.. pernahkan Anda mendengar mengenai efek Lemmings, atau sebagai suatu awal, tahukah Anda menganai hewan Lemming? Lemming adalah suatu hewan seperti marmut yang jika bermigrasi (dikarenakan habitatnya yang padat) dan jika dalam perjalanan migrasinya melewati jurang, jika leming terdepan jatuh ke dalam jurang tersebut, entah mengapa, lemming-lemming di belakangnya ikut terburu-buru dan jatuh ke jurang, mengikuti lemming yang pertama, tidak justru berhenti. Hal tersebut di atas di buat ke dalam suatu metafora, yaitu efek Lemming, yaitu orang-orang yang mengikuti begitu saja, tanpa mempertanyakan, suatu pendapat popular yang beredar dimana pendapat tersebut berpotensi menjerumuskan orang banyak ke dalam suatu kebinasaan. Suatu analogi yang mudah untuk hal ini adalah, percayanya sebagian besar warga Amerika Serikat (AS) bahwa Islam itu merupakan agama yang jahat, hanya dikarenakan isu populer bahwa Islam adalah agama teror. Selanjutnya, mungkin Anda masih berfikir apa hubungan efek lemming dengan “ekonomi (klub) sepakbola”? Suatu survey mengatakan bahwa naiknya gaji-gaji pemain bola mengancam dunia persepakbolaan di Eropa. Sebagai contoh di Inggris, total gaji pemain-pemain di Liga Inggris naik 12% menjadi 2,6 milyar (sekitar 23 triliun rupiah) USD, dimana 1,9 milyar USD berasal dari gaji pemain-pemain liga utama saja. Pertumbuhan gaji-gaji tersebut sulit untuk turun lajunya, mengingat gaji pemain bola berdasarkan sistem kontrak dengan durasi kontrak umumnya 3-4 tahun. Pertumbuhan gaji melebihi pertumbuhan penerimaan pendapatan klub sepakbola dengan rasio pendapatan klub-klub per total kenaikan gaji sebesar 67%. Yang “lucu” adalah, klub-klub sepakbola yang ada, baik yang kecil dan yan besar, tetap berburu pemain-pemain mahal, dengan gaji selangit tentunya, untuk mendapatkan gelar juara atau untuk lolos dari degradasi, dimana tak jarang hutang menjadi jalan keluar dalam pembiayaan (pembelian pemain-pemain) tersebut. Di liga utama Inggris, total hutang bersih dari klub-klub (termasuk Arsenal, Chelsea, dll) naik menjadi 4,8 milyar USD (43 triliun IDR) pada akhir musim 2008-2009. Dikabarkan bahwa liga-liga lainnya di Eropa mengalami kondisi serupa, dan seperti kita ketahui saat ini Eropa sedang mengalami krisis finansial!! Piala Dunia 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan dalam waktu dekat ini bagaikan etalase pemain-pemain bintang untuk menunjukkan kebolehannya di depan scouter (pencari pemain) klub-klub terkenal. Klub-klub sibuk berburu pemain terkenal dan berbakat, (hampir) tak peduli bayarannya berapa. Sebagai penggemar, hanya bisa berkomentar, “Seharusnya klub A beli si B biar mantep.” Atau “Si C gabung saja dengan Klub D, biar bersinar.” Semua larut dengan hiruk-pikuk, hingar-bingar kemegahan sepakbola, meninggalkan Sang Pengurus Keuangan Klub berkata “Uang (pembiayaan) darimana untuk beli dan ngegajinya…..???!!!” Sama mirip dengan bombastisnya megaproyek di Indonesia yang meninggalkan pertanyaan serupa. Kemegahan Piala Dunia memilki keterkaitan yang erat dengan performa klub-lub sepakbola. Dimana meredupnya klub sepakbola juga akan memberikan pengaruh terhadap kemegahan Piala Dunia. Bagaikan lemming, klub-klub sepakbola Eropa sebaiknya mengurangi kecanduannya atas pemain-pemain bola dengan gaji tinggi. Tidak terbawa arus populer persaingan kompetisi yang melewati batas irasional dengan menggaji pemain secara membabi-buta. Absurd-nya permintaan terhadap pemain sepakbola berbuah kepada absurd-nya gaji pemain. Harus ada yang mengerem hal tersebut. klub-klub harus memulai memisahkan batas antara rasionalitas dan irasionalitas secara jelas. Jika tidak, bersiaplah Anda sebagai penggemar sepakbola melihat klub-klub sepakbola tersebut jatuh ke jurang (hutang), satu-persatu seperti lemming.

