Terharu dengan kisah muallaf, semoga Sang Muallaf bisa hidup mandiri, memenuhi kebutuhan POKOK dengan bisnis di internet, bisa terhindar dari praktek MONEY GAME.
Regards, Ahmad Ifham Sholihin ________________________________ From: risnandar <[email protected]> Sent: Mon, June 21, 2010 4:50:35 PM Subject: [ekonomi-syariah] Trs: OOT: Setelah dua tahun menjadi mualaf. --- Pada Kam, 17/6/10, Rahmat Subhagyo <subhagyo.tda@ gmail.com> menulis: > > > >Assalamualaikum rekan semua, > >Alhamdulillah saat ini saya sudah bisa beraktivitas lagi di internet, serta >bisa berdiskusi dan curhat lagi di milis ini. > >Menjadi seorang mualaf bisa menjadi rahmat yang membahagiakan bagi sebagian >orang dan bisa menjadi rahmat yang penuh tantangan dan ujian bagi sebagian >orang termasuk saya. > >Sebagian tantangan telah berhasil saya lalui, kini saya sudah bisa diterima >dan selalu diundang bila ada acara kumpul-kumpul keluarga besar saya. >Sebelumnya bahkan ketika paman saya sakit keras tidak ada yang memberitahu >saya, ketika beliau meninggal pun saya tidak diberitahu. Yang paling mengiris >hati saya adalah ketika adik saya menikah saya tidak diberitahu atau diundang. >Sekarang tidak hanya saya tapi juga istri saya bisa bergaul saudara-saudara >saya. Yang paling membahagiakan adalah ibu saya tidak hanya bisa menerima tapi >juga menjadikan istri saya salah satu mantu kesayangan, yang selalu ditelpon >pertama kali jika ibu saya bikin kue atau mencoba resep baru. > >Tantangan lainnya adalah ditempat kerja saya. Yang sebelumnya saya selalu >menjadi "anak emas" pemilik perusahaan karena dedikasi dan loyalitas saya >sejak perusahaan tersebut masih berkantor digarasi sampai kini bisa berkantor >di ruko megah dikawasan bisnis elit, kini saya menjadi "anak haram" di >perusahaan tersebut. Memang saya tidak dikeluarkan, tapi tugas dan wewenang >saya sedikit demi sedikit dipreteli. Lucunya diperusahaan tersebut punya >banyak pegawai yang muslim, mereka diperlakukan secara baik dan >kesejahteraannya pun diperhatikan. Kenapa saya yang ketika itu menjadi mualaf >justru malah tidak disukai ? Bahkan beberapa rekan sesama muslimpun akhirnya >ikut-ikutan menjauhi saya. Mungkin mereka takut ikut dikucilkan jika >berhubungan dekat dengan saya. Akhirnya karena situasi yang sudah tidak >kondusif saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. > >Setahun lamanya saya lontang-lantung tidak karuan, bahkan laptop kesayangan yg >biasa saya gunakan untuk berinternet- riapun terpaksa dilego. > >Alhamdulillah meskipun masih amat jauh dibanding sebelumnya, kini saya sudah >punya penghasilan sendiri dan bisa internetan lagi. Dari internet inilah >pelan-pelan penghasilan saya mulai meningkat. Jangan dibayangkan jutaan, >ratusan ribu pun tidak. Namun bagaimanapun meski hanya puluhan kadang belasan >ribu perhari namun nikmat yg saya rasakan ketika menyantap hidangan hasil >jerih payah amat sangat luar biasa. Nikmat yang didapat sambil menahan cemooh >tetangga kiri-kanan karena saya pengangguran yg kerjanya tiap hari cuma main >internet. Bahkan rumah saya pernah didatangi rt dan aparat karena tetangga >mencurigai saya seorang anggota teroris. > >Mengakhiri sharing pengalaman hidup saya,sebelumnya saya mohon maaf pada >rekan-rekan dan terutama pada moderator karena selain bercerita tentang >pengalaman saya sebagai mualaf saya juga sekaligus promosi, karena memang >merupakan dari bagian dari kenyataan pengalaman hidup saya. > >............ > >Wassalamualaikum W.W > >Rahmat S. > > > >

