Institusi Nirlaba Internasional Minta Komitmen Lingkungan G-20 Antara - Selasa, 22 Juni KirimKirim via YMCetak Denpasar (ANTARA) - Berbagai institusi nirlaba internasional yang tergabung dalam Koalisi Ekonomi Hijau meminta komitmen para pemimpin negara-negara G-20 untuk lebih berani memperjuangkan kelestarian sumber daya hayati dengan berbagai dampak dan kepentingan ikutannya. Permintaan komitmen dari Koalisisi Ekonomi Hijau itu dituangkan dalam surat terbuka kepada para pemimpin G-20, sebagaimana diterima ANTARA, di Denpasar, Selasa. Para pemimpin negara-negara G-20 akan bersidang untuk keempat kalinya di Toronto, Kanada, pada pekan ini. Surat terbuka Koalisi Ekonomi Hijau itu ditandatangani para pemimpin institusi Pembanginan Berkelanjutan (SD, ditandatangani Ola Engelmark), Institut Internasional Pembangunan Berkelanjutan Eropa (IISD Europe/Mark Halle), dan Institut Ekologi (EI/Andreas Kramer). Juga oleh WWF Internasional (James P Leape), Inisiatif Pelaporan Global (GRI/Ersnt Ligteringen), Internasional Konsumen (CI/Joost Martens), Uni Internasional untuk Pelestarian Alam (IUCN/Julia Marton-Lefevre), Pusat Ekologi bagi Kemanusiaan (CHE/Alistair McIntosh), Institut Internasional Bagi Pembangunan dan Lingkungan (IIED/Camilla Toulmin), dan Yayasan Penggagas bagi Bisnis dan Masyarakat (IFBS/Jan-Olaf Willums). Tema yang diangkat dalam sidang keempat G-20 ini adalah "Pemulihan dan Awal Yang Baru", dengan fokus pada pemulihan dunia dari krisis ekonomi dan finansial beberapa tahun lalu. G-20 terdiri dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brazil, China, India, Indonesia, Inggris Raya, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Prancis, Russia, dan Turki. Dalam konteks tema pokok sidang G-20 kali ini, Koalisi Ekonomi Hijau mengingatkan para pemimpin kaukus dunia itu untuk mewujudkan segera masa peralihan menuju ekonomi dunia yang inklusif dan berpihak pada lingkungan. Argumen utama hal ini adalah menciptakan landasan bagi pembangunan dunia yang berimbang dan berkelanjutan. Apalagi diketahui bahwa kerugian dari kerusakan dan penurunan kualitas hutan dalam setahun mencapai angka 4,5 triliun dolar Amerika Serikat. Hal ini berimbas tidak cuma pada aspek pendapatan negara-negara pemilik hutan semata, melainkan hingga pada multi aspek yang membawa kerugian besar bagi kehidupan manusia. Koalisi Ekonomi Hijau menuntut para pemimpin G-20 untuk memasukkan secara integral penentuan nilai keragaman hayati ke dalam penyusunan program pembangunan masing-masing negara, mulai dari sisi pembiayaan, ekonomi, perdagangan, bisnis, dan penciptaan lapangan kerja. Semua hal itu berujung pada jalinan jaringan antara keragaman hayati, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan masyarakat. Investasi dalam pelestarian keragaman hayati merupakan satu keharusan bagi masing-masing negara. Keragaman hayati adalah kepentingan ekonomi global dewasa ini dan ke depan. Hal ini menjadi modal utama dunia dan dasar utama umat manusia dalam beraktivitas, sehingga keragaman hayati tidak bisa dipandang secara faktor tunggal semata. Menentukan penilaian kepentingan dan pelestarian keragaman hayati menuntut perubahan radikal dari berbagai pemerintahan dunia dalam mengelola ekonomi, baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama.

