Assalamu’aliakum wr.wb

Bismillah,
dengan-Mu aku memulai kalimat ini. 

Semoga note kali ini menyapa shahabat
penuh dengan cinta damai. Mudahan-mudahan kenyataan yang sedang terlaksanakan
sekarang, Allah anugerahkan kepada kita kemampuan untuk menyelaraskan antara
harapan dengan Takdirnya, dengan penyikapan sebaik-baik sikap dan pemahaman.

 

Pernah pada bulan April yang lalu,
saya memutuskan untuk berpuasa (menahan diri) dengan aktivitas Facebook. Karena 
saya merasa telah terikat
dengan FB. Saya tanpa sadar telah menambatkan
emosi kepada nya. Seolah tidak berFB, ada sesuatu yang hilang. Sampai membuat 
profil coming back
30 April. Keinginan saya ini, kemudian saya
sampaikan kepada Guru saya, Pak Noeryanto A Dhipuro. Dengan
senyum dan behaviornya menyikapi kata pertama bagus. 

 

”Ya
baguslah, bila kamu sadar akan hal itu. Cuma, bila kamu berpuasa (menahan) dari
FB, karena bukan atas kesadaran harmoni,
ya setelah kamu balik berFB, keterikatan emosimu akan lebih besar. Sama hal nya
air bendungan, yang pintunya ditutup. Kamu tau apa yang terjadi setelah
pintunya dibuka? Airnya akan tumpah, bahkan dengan volume dan kekuatan yang
lebih besar. Demikian pula dengan emosimu”.

 

Berhenti
menulis karena takut Riya

Demikianpula dalam hal tulis menulis. Hampir
saja membuat sebuah keterikatan dalam diri. Saya yakin sebagai manusia sadar,
kita tentu tidak mau melakukan riya. Karena sebagaimana kita tau bersama 
”Perbuatan riya itu bagaikan api membakar
kayu menjadi debu”. Dan Imam Ghazali hujjatul islam membahasnya dalam kitab
beliau yang diterjemahkan berjudul ”Penyakit
Hati”.

 

Saya jadi teringat kembali dengan
nasehat ”Kesadaran Harmoni”. Bila
saya berhenti karena takut Riya. Maka pada saat memulainya lagi, sebagaimana
disampaikan diatas, bisa jadi berdampak lebih besar lagi. Lantas apa yang
sebijaknya disikapi? Harmoni, selaras
dan menyatu dengan riya.

 

Sementara itu, saat kita membahas
materi atau keilmuan tertentu tentang ”mastery”,
disana sungguh mengandung unsur penyatuan diri. Demikian pula dengan rasa takut
riya ini, hanya dengan menyatulah, riya bisa dikontrol dan diselaraskan sesuai
keinginan kita.

 

Pernah dilain waktu, saya merenung apa
yang membuat ilmu NLP dan Hypnosis bahkan ilmu-ilmu yang lain, belum semua
menyatu dengan diri saya. Sekali lagi saya diingatkan. 

 

”Yang
membuat NLP dan Hypnosis serta ilmu lainnya belum menyatu denganmu, karena kamu
menganggap itu TEHNIK. Sadarlah
kembali, NLP is behavior. NLP is
Richard bandler’s experiences. Tatkala NLP telah menjadi behaviormu, maka
disitulah kamu menyatu dengannya. Begitu pula ilmu yang lain, pada esensinya 
sama. Masih ingat dengan
Mushashi ”Senjata (seperti pedang Katana) bukanlah pedang, melainkan 
perpanjangan tangan saya” Pesan Yip Man
kepada muridnya? Juga,
apa yang Jakie Chan sampaikan dalam film Karate Kid? Dalam hal bela diri kung
fu sama ”Setiap gerakan dalam kehidupan
adalah Kung Fu”.

 

Kembali dengan kesadaran harmoni. Pesan tadi mengingatkan saya akan penggalan
manfaat pada iklan training Master Trainer di NLP University ”Harmoni mind,body 
and soul”. Mengharmonikan fikiran dan perasaan, harmoni behavior, skill, 
belief, value, idendity dan spiritual. Sehingga NLP is you benar-benar
terintegrasi dan menyatu.

 

Saya
adalah ilmu itu sendiri. Mungkin
pemahaman ini menjadikan para guru berstatemen. “Belajar NLP itu make people to 
be
people” Krishnamurti Mindset Motivator. “Sekolah
manusia adalah sekolah yang memanusiakan manusia” Munif Khatip, pakar
Multiple Intelligences. Bahkan sering saya mengulang dan membaca penggalan
nasehat bijak “Sanjungan tidak lagi membahagiakan, demikian pula hinaan tidak 
lagi
menyakitkan, semuanya adalah baik”. Gede prama.

 

Pernah
analisis berputar-putar dalam fikiran, sampai mengajukan pertanyaan ”Bagaimana
mungkin terlepas dari dualitas, sementara dialam dunia ini selalu ada
kebersebrangan (dualitas)? Siang-malam, tinggi-rendah, manis-pahit,
sukses-gagal, cinta-benci dsb. Bukankah ini salah satu dari universal law,
hukum keseimbangan ?”

 

Terbaring sejenak penuh diam,
mendengarkan nasehat-nasehat dan jawaban dari dalam. Sungguh sangat mempesona,
tatkala bisikan itu sayup-sayup terdengar didalam sini ”Bagaimana bisa engkau 
mengatakan
itu hukum alam, sementara dirimu adalah bagian dari alam itu sendiri, Engkaulah
Alam itu.”. Harmoni.  Ya, mungkin inilah pemahaman para guru.
Tidak ada lagi baik atau buruk, Negatif atau positif, tetapi yang ada hanyalah 
SYUKUR.

 

Begitupula dengan berhenti menulis
karena takut riya diatas. Saat kita telah menyatu dengan riya itu, maka kita
bisa mengatakan akulah riya. Karena dengan demikian, kita mampu dan bisa 
mengelola,
mengatur dan mengontrolnya. Sehingga bukan
riya lagi yang mengontrol kita, tetapi kitalah yang mengontrolnya.

Wallahu’alam.

 

Jakarta 21 juli 2010.

 

 



 



RAHMADSYAH
Motivator&Mind-Therapist I 081511448147 I Master Practitioner NLP  
Hypnotherapist I YM ; rahmad_aceh I www.facebook.com/rahmadsyah
www.rahmadsyahnlp.blogspot.com



Kirim email ke