Jadwal Shalat untuk DKI Jakarta : : Ashar: 15:22 WIB 
Jadwal Shalat untuk DKI Jakarta : : Maghrib: 17:54 WIB 
Jadwal Shalat untuk DKI Jakarta : : Isya': 19:07   WIB 
Jadwal Shalat untuk DKI Jakarta : : Selengkapnya  klik di sini.       
Kekuatan Finansial (Quwwatul Maal), Bagian  ke-6 
Fiqih Dakwah
Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah 
________________________________
   
Profil Hartawan Muslim  Generasi Islam Pertama
dakwatuna.com – Generasi Islam pertama yang dibina  Rasulullah SAW adalah 
sebaik-baik generasi Islam yang seluruh  kehidupannya merupakan teladan kaum 
muslimin sepanjang masa. Mereka  adalah generasi yang diturunkan Allah kepada 
umat manusia, hidup di  bawah bimbingan wahyu Allah dan pendidikan Rasulullah 
sehingga mereka  dijuluki sebagai umat terbaik yang diturunkan Allah ke muka 
bumi. Mereka  adalah generasi-generasi agung, yang keagungannya menjadi 
mercusuar  sepanjang zaman.
Demikian pula, mereka adalah pejuang-pejuang agung yang rela  mengorbankan jiwa 
raga dan hartanya untuk menegakkan keadilan dan  kedamaian di muka bumi. Mereka 
adalah sebaik-baik teladan dalam  perjuangan di jalan Allah. Karenanya, 
tidaklah 
sempurna pembahasan  mengenai jihad dengan harta jika perjuangan mereka dalam 
mengorbankan  hartanya di jalan Allah tidak dikemukakan. Pada bagian ini akan  
dikemukakan profil para pejuang di jalan Allah yang telah mengeluarkan  
hartanya 
untuk perjuangan Islam.
1. Khadijah RA., Ummahatul  Mu’minin Pertama
Dalam tarikhnya, Ibnu Atsir menulis, “Siti Khadijah adalah seorang  niagawati 
yang mempunyai kedudukan terhormat dan memiliki harta kekayaan  besar. Dalam 
mengelola perniagaannya, ia mempekerjakan kaum pria untuk  menjualkan 
barang-barang dagangannya dengan menerima sebagian dari  keuntungan yang 
didapatnya. (”3) (Lihat Muhammad al-Ghazali, Fiqhus  Sunnah, hlm. 132)
Niagawati kaya raya ini lalu menikah dengan seorang pemuda calon  pemimpin 
besar 
umat manusia, Muhammad al-amin. Allah telah memilih  pendamping yang sangat 
tepat bagi misi-misi besar yang diembannya kelak,  seorang wanita terhormat, 
kaya raya, cerdas, tegas, bijaksana, dan rela  mengorbankan hartanya untuk 
mendukung perjuangan suaminya tercinta.  Khadijah RA adalah profil hartawan 
muslimah agung yang pengorbanannya  sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Ketika suami tercintanya menjauhi dunia untuk ber-tahannuts, mencari kebenaran 
hakiki di kesunyian Gua Hira, dengan penuh  pengorbanan, disiapkannya seluruh 
kemampuan yang dimilikinya. Seluruh  harta benda miliknya dikorbankan kepada 
perjuangan suci suaminya untuk  membebaskan umat manusia dari kesesatan dan 
kejahiliyahan. la tidak  pernah mengeluh dan menghitung-hitung berapa besar 
yang 
dikeluarkannya  untuk perjuangan suaminya ketika wahyu telah turun.
Khadijah RA, bangsawan kaya raya yang telah mengorbankan seluruh  miliknya 
untuk 
perjuangan menegakkan risalah Islam yang diemban suaminya  tercinta, Muhammad 
Rasulullah. Dengan pengorbanannya, ia rela hidup  menderita, senantiasa 
kekurangan, meninggalkan kemewahan duniawi,  menjadi miskin demi menegakkan 
keyakinannya; sampai ia wafat di  tengah-tengah kemiskinan dan kekurangan suami 
dan para pengikut  setianya. Sesungguhnya, pantaslah Rasulullah mencintai orang 
yang telah  mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan Islam seperti Khadijah,  
istrinya tercinta.
Tiada kata-kata yang lebih indah untuk melukiskan pengorbanan sucinya  kecuali 
kata-kata sang kekasihnya, Muhammad Rasulullah, orang yang  langsung 
merasakannya, “Demi Allah, tiada ganti yang lebih baik darinya,  yang beriman 
kepadaku di saat semua orang ingkar, yang membenarkanku  ketika semua 
mendustakanku, yang mengorbankan hartanya di saat semua  berusaha menahannya, 
dan… darinyalah aku mendapatkan keturunan….”
Berbahagialah Khadijah RA., seorang hartawan muslimah yang telah  hidup bersama 
Islam dan menghidupkan Islam dengan apa yang dimilikinya  dan rela meninggal di 
tengah-tengah keislamannya dalam mendukung  perjuangan suci suaminya. Pantaslah 
ia mendapatkan kedudukan terhormat  di mata Rasul-Nya dengan pengorbanan yang 
telah diberikannya sehingga  menimbulkan kecemburuan istri-istrinya yang lain, 
walaupun Khadijah  telah wafat.
2. Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar ibnul-Khaththab
Abu Bakar ash-Shiddiq adalah salah seorang bangsawan dan hartawan  Quraisy yang 
mengikuti Rasulullah di awal dakwah Islam. Dengan kekayaan  yang dimilikinya, 
Abu Bakar telah banyak berbuat untuk menjayakan  perjuangan Islam, membantu 
saudara-saudara seimannya yang lemah,  membebaskan mereka dari perbudakan dan 
kesulitan-kesulitan ekonomi  lainnya. Kedermawanan Abu Bakar tidak dapat 
ditandingi oleh para sahabat  lainnya karena ia telah mengorbankan seluruh 
harta 
bendanya untuk  perjuangan Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan sebagai 
berikut.
Umar ibnul-Khaththab RA., berkata, “Rasulullah  menyuruh kami supaya 
bersedekah. 
Kebetulan ketika itu, aku mempunyai  harta. maka kataku dalam hati, ‘Sekarang, 
aku dapat mengungguli Abu  Bakar sekalipun aku tidak pernah mengunggulinya.’ 
Aku 
pun datang membawa  separo hartaku. Rasulullah bertanya, ‘Berapa engkau 
tinggalkan untuk  keluargamu?’ ‘Sebanyak itu pula,’ jawabku. Datanglah Abu 
Bakar 
membawa  seluruh hartanya dan Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Berapa engkau  
tinggalkan untuk keluargamu?’Jawabnya, ‘Aku tinggalkan buat mereka Allah  dan 
Rasul-Nya.’ Aku (Umar) berkata, ‘Aku tidak akan dapat mengungguli  Anda buat 
selama-lamanya.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kedermawanan mereka berdua, Abu Bakar dan Umar, tidak perlu  dikomentari 
panjang 
lebar lagi. Riwayat tersebut telah menggambarkannya  dengan indah dan tuntas. 
Mereka tidak pernah menahan harta bendanya  jika; hal itu untuk kepentingan 
Islam dan perjuangannya; mereka selalu  berlomba- lomba untuk mengeluarkannya.
3. Utsman bin Affan
Ketika Perang Tabuk (perang terbesar ketika itu antara kaum muslimin  dan 
tentara Romawi pada bulan Rajab tahun 9 H) diperintahkan oleh  Rasulullah pada 
musim panas yang terik, perjalanan yang ditempuh amat  jauh dan jumlah musuh 
sangat besar. Demikian pula perlengkapan yang  dipersiapkan harus memadai. 
Rasulullah lalu menganjurkan kepada para  sahabat untuk mengeluarkan sumbangan 
menurut kemampuan masing-masing.
Para sahabat berlomba-lomba mengeluarkan infak, demikian juga kaum  wanita 
berlomba mengeluarkan barang perhiasannya dan menyerahkannya  kepada Rasulullah 
guna membantu persiapan angkatan perang, namun  sumbangan itu tidak seberapa 
banyak dan belum mencukupi persiapan guna  menghadapi tentara Romawi yang 
demikian besar dan tangguh.
Ketika Rasulullah memandang pasukan yang besar dan panjang dari para  sahabat, 
beliau bersabda, “Barangsiapa yang dapat membiayai mereka.  Allah akan 
mengampuninya.” Mendengar jaminan ampunan Allah itu,  tampillah Utsman dari 
arah 
yang tidak diduga dari dalam barisan panjang  itu, menyanggupkan diri untuk 
membiayai seluruh keperluan pasukan perang  yang terkenal dengan nama Jaisul 
Usrah ‘pasukan di waktu  susah’.
Berkata Ibnu Syihab az-Zuhri sehubungan dengan infak Utsman bin Affan  itu, 
“Utsman telah menyerahkan kepada Jaisul Usrah dalam  Perang Tabuk sejumlah 940 
ekor unta ditambah dengan 60 ekor kuda untuk  membulatkan jumlah menjadi seribu 
ekor.”
Berkata Hudzaifah al-Yamani, “Utsman datang kepada Rasulullah saw.  dengan 
membawa uang untuk Jaisul Usrah dengan dicurahkan di  atas telapak tangannya. 
Rasulullah pun membolak-balikkan uang itu dengan  tangannya seraya bersabda, 
‘Allah telah mengampuni dosa-dosamu,  yang kamu wahai Utsman, baik yang kamu 
sembunyikan maupun nyatakan,  begitupun apa yang akan terjadi nanti sampai 
kiamat”
Ketika Rasulullah dan para sahabatnya baru berhijrah ke Madinah,  mereka 
langsung mendapat ujian dari Allah dengan menghadapi kesulitan  air, sehingga 
ada di antara para sahabat yang berkata, “Kami tidak tahan  tinggal di tempat 
ini,” sambil menunjuk tempat yang banyak airnya milik  orang Yahudi, sebuah 
mata 
air tawar yang suka dijualya dengan satu  gantang gandum untuk setimba air.
Rasulullah sangat mengharapkan kiranya di antara sahabat ada yang  bersedia 
membeli telaga itu sehingga air dapat dialirkan kepada kaum  muslimin tanpa 
memungut bayaran. Tampillah sekali lagi Utsman bin Affan  untuk memenuhi 
harapan 
Rasulullah itu dan membeli separo dari telaga itu  dengan harga 12.000 dirham. 
Cara pemanfaatannya dengan bergiliran, satu  hari Yahudi dan satu hari untuk 
kaum muslimin. Karena orang Yahudi itu  mengharapkan pendapatan yang lebih 
banyak, ia menawarkan kepada Utsman  bin Affan untuk membeli yang sebagian 
lagi, 
lalu dibelilah seluruhnya,  sehingga melimpahruahlah air itu untuk kaum 
muslimin.
4. Abdurrahman bin Auf
Diriwayatkan dari Anas RA. bahwa ketika Aisyah di rumahnya tiba-tiba  terdengar 
suara getaran dan hiruk pikuk di luar rumah. Aisyah bertanya,  “Suara apakah 
itu?’ Dijawab oleh seseorang, “Itu suara kafilah  Abdurrahman bin Auf yang baru 
tiba dari Syam membawa barang dagangannya  kira-kira tujuh ratus unta, yang 
menimbulkan suara demikian.” Aisyah  berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah 
bersabda, ‘Saya telah melihat  Abdurrahman bin Auf masuk ke dalam surga dengan 
merangkak.”’ Keterangan  ini sampai kepada Abdurrahman bin Auf, lalu ia 
berkata, 
“Jika dapat, aku  akan usahakan untuk masuk sambil berdiri.” Semua unta dengan 
muatannya  lalu diinfakkan di jalan Allah.
5. Ummahatul Mukminin Aisyah RA.
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, Abdullah bin Zubair mengirim uang  sebanyak 
180.000 dirham kepada Aisyah RA., sedangkan ketika itu ia  tengah berpuasa. 
Uang 
itu lalu dibagi-bagikan hingga petang dan tidak  tersisa. Ketika sudah petang, 
Aisyah berkata kepada hambanya, “Sediakan  untuk berbuka puasa.” Disediakanlah 
roti dan minyak zaitun oleh hambanya  sambil berkata, “Apakah engkau tidak 
dapat 
membeli daging dari uang  yang dibagi-bagikan itu walau hanya sedirham?” Aisyah 
RA. menjawab,  “Sudahlah, jangan marah padaku. Sekiranya engkau mengingatkan, 
tentu aku  dapat mengerjakan itu.”
6. Sa’ad Ibn Ar-Rabi
Al-Bukhari meriwayatkan sebagai berikut. Setibanya kaum Muhajirin di  Madinah, 
Rasulullah saw. segera mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf  dengan Sa’ad 
ibnur-Rabi.’ Ketika itu, kepada Abdurrahman, Sa’ad berkata,  “Aku termasuk 
orang 
Anshar yang mempunyai banyak harta kekayaan dan  kekayaan itu akan kubagi dua, 
separo untuk Anda dan separo untukku. Aku  juga mempunyai dua istri. Lihatlah 
mana yang Anda pandang baik bagi Anda  sebutkan namanya, ia akan segera kucerai 
dan sehabis masa iddahnya,  Anda kupersilakan menikahinya.”
Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan kekayaan  Anda. 
Tunjukkanlah kepadaku di manakah pasar kota kalian.”
Demikianlah sedikit dari beberapa contoh agung para pejuang di jalan  Allah 
yang 
telah mengorbankan harta bendanya untuk menegakkan Islam di  muka bumi. Seluruh 
generasi Islam pertama adalah para pejuang sejati  yang telah mengorbankan jiwa 
dan hartanya untuk perjuangan di jalan  Allah. Dada mereka yang telah dipenuhi 
oleh keimanan dan keislaman,  tidak akan ragu mengorbankan apa saja untuk 
kepentingan agamanya.
Perjuangan agung mereka tidak mungkin dapat diuraikan satu per satu,  namun 
perjuangan mereka pada hakikatnya adalah perjuangan suci yang  dilandasi 
keimanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka sangat  yakin bahwa semua 
pengorbanan yang diberikan akan dibalas dengan surga  dan segala kenikmatannya. 
Untuk mendapat kenikmatan akhirat inilah,  mereka berlomba-lomba mengeluarkan 
hartanya di jalan Allah. Pengorbanan  mereka yang agung dan mulia telah 
menjadikan Islam sebagai agama yang  menyelamatkan dunia.
Mereka yang memiliki harta benda dan mengaku sebagai orang yang  beriman, tidak 
akan menumpuk harta bendanya secara berlebih-lebihan  sebagaimana yang telah 
dicontohkan generasi Islam pertama, karena mereka  mengetahui bahwa dunia ini 
adalah ladang untuk menanam amal saleh agar  dapat dipanen kelak di akhirat. 
Mereka yang telah diberi kelebihan harta  oleh Allah, namun dipergunakan untuk 
kepuasan duniawi dan tidak  dibelanjakan di jalan Allah, bukanlah termasuk 
orang-orang yang  dirahmati Allah kelak.
Apalagi seperti saat ini, di mana musuh-musuh Islam telah menggalang  dana 
besar 
untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin, sedangkan para  pejuang di jalan 
Allah sangat kesusahan mendapatkan dana perjuangan  mereka. Pada saat seperti 
ini, pengorbanan mengeluarkan harta di jalan  Allah akan mendapatkan ganjaran 
yang sangat besar dan orang-orang yang  tidak mengeluarkannya akan mendapat 
kemurkaan dan bencana besar. []
– Tamat

Kirim email ke