PROF DR KH DIDIN HAFIDHUDDIN, Cinta Ilmu, Cinta Guru
Oleh: Ir. Budi Handrianto MPdI (Peneliti INSISTS)

Siang itu, Sabtu 23 Juni 2007, sekitar 1000-an orang yang hadir di  Graha 
Wisuda 
Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga terhening sejenak.  Sang pembicara di 
atas podium tengah berusaha menahan haru sembari mengu  sap air matanya. Ya, 
berdiri di atas podium itu adalah Didin  Hafidhuddin, yang tengah membacakan 
ucapan terima kasih kepada  guru-gurunya pada saat acara orasi ilmiah dalam 
rangka pengukuhannya  sebagai guru besar di IPB. Satu persatu guru yang sangat 
berjasa mulai  dari guru TK, SD/SR-nya, SMP sampai perguruan tinggi, guru di 
pesan  trennya hingga seniornya para tokoh/ulama terkenal seperti M. Natsir, KH 
 
Sholeh Iskandar, KH Abdullah bin Nuh, KH. Abdullah Syafii, KH. Noer  Ali, Dr. 
Anwar Haryono, KH. Hussein Umar, KH. Rahmat Abdullah, dan  lain-lain. Bahkan 
supir pribadinya pun tak ketinggalan disebutkan.

Siapa tak kenal Ustadz Didin? Pang gil an akrab Prof. Dr. KH. Didin  Hafidhud 
din, MS. Di pesantren yang diasuhnya, Ulil Albaab, ia akrab  disapa dengan “Pak 
Kyai”. Ulama yang santun namun aktif bergerak ini  menuturkan pengalaman yang 
menyebabkan dirinya menjadi seperti saat ini.
“Saya bersyukur kepada Allah bahwa saya lahir dari keluarga yang  cinta kepada 
ilmu,” tuturnya. Ayahnya, KH Mamad Ma’turidy, seorang kyai  atau dalam bahasa 
Sunda disebut ajengan merupakan dzuriyyah atau  keturunan yang juga kyai. Uwak 
(paman)-uwaknya juga kyai, di antaranya  cukup terkenal yaitu KH. Anwar Sanusi 
dan KH. Dadun Abdul Kohhar.
Apa yang menjadi rahasia sukses kakek dari ustadz Didin sehingga  keturunannya 
bisa menjadi kyai semua. Ternyata, rahasianya cukup  sederhana yaitu cinta 
kepada ilmu dan cinta kepada guru. “Jadi siapa  saja orang yang memberikan ilmu 
kepada anak-anaknya, banyak atau sedikit  ia hormati,” begitu kenang Ustadz 
Didin. Sang kakek juga dikenal, kalau  mengirim biaya untuk anaknya belajar, ia 
juga mengirim biaya untuk  gurunya. Dan nilainya sama persis. Jadi kalau 
putranya (maksudnya ayah  Ustadz Didin) belajar pada seorang guru dikirim biaya 
-misal kan  sekarang Rp 500.000/bulan, ia juga mengirim sejumlah itu pada 
gurunya.  Hal itu yang diterapkan pula oleh ayah Ustadz Didin kepadanya ketika  
nyantri di pesantren Cibadak. Jadi dalam proses belajar mengajar ada  hubb atau 
kecintaan terhadap guru karena kecintaannya terhadap ilmu. Itu  yang sekarang 
ini kurang terlihat di pendidikan umum. “Orang berpikir,  mengirim anak untuk 
belajar ya sudah selesai dengan membayar  sekian-sekian. Sampai di situ saja. 
Tidak ada hubungan batin antara  orang tua, anak dan guru,” kata Ustadz 
kelahiran 21 Oktober 1951 ini.

Ustadz Didin belajar agama mula pertama dari orang tuanya. Dan ia  mulai 
belajar 
dari tafsir, bukan dari ilmu alat. Dari tafsir tersebut ia  diperkenalkan 
dengan 
Al Quran sebagai pedoman hidupnya. iapun disuruh  menghafal ayat-ayat penting 
beserta tafsirnya. Hadits pun diajarkan  bahkan kitab hadits arbain ia harus 
hafalkan. Metode ini sangat ber pe  ngaruh terhadap pembentukan karakternya. 
Dari sinilah ia berpendapat  bahwa Al Quran dan Sunnah harus diperkenalkan 
secara intensif kepada  anak sedini mungkin. Kemudian apa bila mau belajar apa 
pun setelah itu  ilmu lain silahkan saja. Kalau landasannya su dah kuat yaitu 
dari Al  Quran dan Sunnah sampai kapanpun tidak akan tersesat. Selain itu,  
menurutnya, anak akan memiliki pe mikiran yang komprehensif. Sebab al  Qur an 
itu bukan hanya ilmu pengetahuan semata tapi juga ada semangat di  situ, ada 
ruh 
atau spirit di dalamnya. Berbeda dengan kitab-kitab yang  lain. Ruh atau 
spiritnya nggak ada. hanya sekedar ilmu pengetahuan saja.

Yang menarik dari pendidikan orang tuanya waktu kecil, selain  mengajar ilmu 
kepadanya, sang ayah juga mengajaknya untuk hadir di  pengajian-pengajian yang 
diasuhnya. Walaupun kadang Ustadz Didin kecil  hanya tidur saja di sana. Tapi 
di 
situ ada pendidikan rihlah da’wiyah  yaitu pengenalan terhadap perjalanan 
dakwah 
secara tidak langsung. Dari  situ akan timbul kecintaan terhadap umat dan 
masyarakat serta berbagai  pengenalan problematika dakwah yang dihadapi.
“Saya sering diajak dakwah dengan berjalan berkilo-kilo untuk  menghadiri 
pengajian. Pengajian mualimin namanya,”aku lelaki lima anak  ini. Bahkan 
seringkali ketika sudah agak besar ia sering disuruh membaca  kitab tanpa ada 
pemberitahuan terlebih dahulu. Kitab yang dibaca adalah  kitab yang diajarkan 
sang ayah kepada kyai-kyai yang belajar kepadanya.  Rupanya itu adalah proses 
kaderisasi yang dilakukan sang ayah kepadanya  secara tidak langsung. Tujuannya 
adalah untuk menanamkan kepercayaan  kepada jamaahnya bahwa anaknya itu bisa 
diandalkan, bisa dipercaya. Dan  hal itu menurut Ustadz Didin sistem kaderisasi 
yang luar biasa efektif.  Sekarang ini banyak anak kyai baru tampil setelah 
ayahnya meninggal.

Ustadz Didin sekolah di sekolah umum (SMP dan SMA). Di sana ia aktif  di 
pengajian. Berbagai macam aktivitas diikutinya, terutama kegiatan  yang 
mendukung aktivitas dakwah. Ia pun pernah menjuarai pidato tingkat  sekolah 
waku 
di SMP. “Hanya saja waktu itu belum ada pildacil, jadi  belum terkenal…..” 
katanya sambil tertawa. ia juga pernah satu panggung  untuk berpidato bersama 
dengan Prof. Dr. Hazairin, profesor yang  terkenal waktu itu. Kebetulan 
profesor 
tersebut diundang dalam sebuah  acara di pesan tren uwaknya KH Dadun (waktu 
SMP, 
Ustadz Didin dititipkan  kepada uwaknya ini. Waktu itu ada acara kuliyatul 
mualimin, suatu acara  besar di mana Ustadz Didin muda tampil bersama sang 
profesor.

Selain di lingkungan pengajian, pengkaderan di sekolah pun dilakukan.  Ustadz 
Didin sewaktu SMP dan SMA berada di sekolah umum sehingga  tantangan dakwahnya 
lebih banyak. Dengan demikian ia lebih banyak  berinteraksi dan berpolemik 
dengan kelompok di luar Islam seperti  sosialis dan nasionalis. Pada waktu SMA, 
Ustadz Didin juga pernah  menjabat sebagai ketua PII (Pelajar Islam Indonesia).

Memasuki bangku kuliah Ustadz Didin makin bertambah aktivitasnya.  Waktu itu ia 
sudah dakwah di mana-mana. Memang lulus SMA ia tidak  langsung kuliah karena 
nyantri dulu di sebuah pesantren di Sukabumi,  yang letaknya cukup jauh dari 
rumahnya sehingga ia harus berjalan kaki  jauh. Di situ ia khusus mendalami 
ilmu-ilmu agama seperti tafsir al  Quran, hadits, fiqh, ushul fiqh dll. Baru 
kemudian ia meneruskan  perguruan tinggi di IAIN Jakarta.

Di masa-masa akhir perkuliahan ia mulai diajak oleh KH Sholeh  Iskandar, ulama 
terpandang di Bogor waktu itu. Kyai Sholeh adalah Ketua  BKSPP (Badan Kerjasama 
Pondok Pesantren). Ustadz Didin sering diajak  ngaji, diajak organisasi (sempat 
menjadi sekretaris BKSPP Jawa Barat)  dan diajak berkenalan de ngan ulama 
maupun 
tokoh nasional. Di sini  Ustadz Didin merasa sedang dikader oleh Kyai Sholeh 
untuk mengenal  perjuangan dakwah lebih dalam lagi. Di si tulah pula ia 
diperkenalkan  dengan Pak Natsir.

Perkenalan pertamanya waku itu dengan Pak Natsir di PP Darul Falah.  Ketika itu 
sedang disusun pendidikan Islam di mana masjid, pesantren dan  kampus 
terintegrasi menjadi satu. Ketika itu Ustadz Didin merasakan  sosok luar biasa 
dari seorang Muhammad Natsir. Ia waktu itu masih muda  sekali. Belum dikenal 
siapa-siapa. Tapi Pak Natsir yang pada waktu itu  sedang pada puncak-puncaknya, 
memberi perhatian luar biasa terhadapnya.  Pemikiran yang dilontarkan Ustadz 
Didin sering diterimanya. Dari  pertemuan-pertemuan itu jadilah Pesantren Ulil 
Albab yang menyatu dengan  Kampus Universitas Ibn Khaldun dengan Masjid Al 
Hijri 
di dalamnya.  Konsep ini lahir untuk mem-back up mahasiswa yang mempunyai ilmu  
kealaman yang tinggi tetapi hatinya dekat dengan Allah dan dekat dengan  
pesantren.

Saat ini, suami Nining Suningsih ini, dikenal sebagai ulama yang  aktif 
menyerukan zakat, ekonomi syariah maupun perbankan syariah.  Keterlibatan di 
dunia itu bukan sesuatu yang disengaja. Kala itu ia  diminta mengisi rubrik 
zakat di harian Republika oleh Pemimpin Redaksi  Harian itu, Zaim Ukhrawi 
sekaligus menjadi pembina Dompet Dhuafa  Republika. Mulailah Ustadz Didin 
dikenal sebagai “Ustadz Zakat”. Karena  zakat merupakan bagian dari ekonomi 
syariah mulailah ia mengembangkan  diri mempelajari ekonomi syariah.

Dari ekonomi syariah ini ia mendapat pelajaran bahwa ilmu itu tidak  boleh 
bebas 
nilai. Memang sebetulnya tidak ada ilmu yang bebas nilai.  Mengapa ekonomi 
sekarang menciptakan jurang yang lebar antara di kaya  dan si miskin? Karena 
sistem perekonomian yang dianut seka rang adalah  sistem ekonomi kapitalisme 
dan 
liberalisme. Suatu sistem ekonomi yang  hanya melihat keuntungan semata. Segala 
sesuatu diuangkan dengan  paradigma modal yang sekecil-kecilnya harus 
mendapatkan keuntungan yang  sebesar-besarnya. Itulah akibat kalau ilmu 
dianggap 
bebas nilai.  Sebetulnya bukan bebas nilai, tapi bebas nilai-nilai ketuhanan 
dan 
sarat  dengan nilai kapitalisme.

Menurutnya, ilmu modern -termasuk ilmu ekonomi yang dipandang bebas  nilai 
telah 
melahirkan egoisme dan kesombongan. Dengan pandangan bebas  nilainya mereka 
beranggapan bahwa semua persoalan bisa diselesaikan  dengan ilmunya. Ahli 
ekonomi merasa bisa menyelesaikan persoalan  masyarakat dengan ilmu ekonominya. 
Padahal jangankan menyelesaikan  problema masyarakat, menyelesaikan problem 
ekonomi saja tidak mampu.  Oleh karena itu ke depan, menurut Ustadz Didin 
apabila ingin membangun  peradaban Islam, ilmu-ilmu itu harus diislamisasi, 
tidak boleh dipandang  netral.

Nabi saw bersabda bahwa pedagang yang jujur/terpercaya itu bersama  para 
syuhada. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, ilmu ekonomi tidak  sekedar masalah 
duit, tapi juga masalah nilai-nilai agama, ideologi dan  juga pandangan hidup.
Oleh karena itu ilmu ekonomi syariah ini harus dikembangkan juga di 
perguruanperguruan tinggi umum.
Ustadz Didin kini memegang banyak amanah. Di bidang sosial, ekonomi  dan 
kemasyarakatan ia memegang 24 jabatan. Kurang lebih 25 bukunya telah  
diterbitkan. Prestasinya di bidang akademispun tidak main-main. Ia  pernah 
menjadi sarjana muda terbaik IAIN Jakarta (1976), sarjana terbaik  IAIN Jakarta 
(1980), Magister Sains terbaik IPB (1987) dan Doktor  terbaik UIN Syarif 
Hidayatullah (2001). Namun ia tetap tawadhu’ dan  rendah hati.

SUMBER:
http://irfansb.blogdetik.com/2009/06/

Kirim email ke