|
Bismillahirohmanirrohim.
Anna harap Pak Rudy tidak asal
bicara.
Tanah Suci di Saudi Arabia yang termasuk tanah suci di
seluruh dunia adalah hanya di Makkah Al Mukarromah dan Manidah Al
Munawwaroh.
Pangkalan Militer USA tidak mungkin terletak pada kedua
tempat tersebut.
Dalam berita kompas dulu rencana pangkalan yang
digunakan saat issu "Weapon Mass Destruction" yang katanya benar ada di Irak
yang dapat membahayakan negara lain, USA akan menempatkan pangkalannya di Riyadh
KSA. Tapi selanjutnya anna tidak tahu.
Sedangkan Hukum di KSA jelas tertulis barang siapa yang
kafir lalu masuk ke tanah suci maka hukumannya adalah di penggal
kepalanya.
Jadi jelas pemerintah Saudi Arabia yang UUnya adalah Al
Quran dan Al Hadits bertindak seperti yang dikatakan Pak
Rudy.
Lalu siapakah yang membunuhi saudaranya se
Islam? Beranikah kita mengatakan yang membunuh adalah KSA?
Padahal jelas yang membunuh adalah USA, UK dan
Israel.
Kita tidak tahu dengan jelas bagaimana sikap politik
Raja Saudi Arabia dan maksud di balik itu.
Sebaiknya kita jauhkan diri kita dari memfitnah orang
lain tanpa bukti dan SAKSI yang nyata.
Tidakkah kita mengingat jasa KSA ketika datang bantuan
paling besar dari Saudi Arabia atas bencana2 yang menimpa Indonesia seperti
Tsunami di Aceh, Gempa di Jogja, dll.
Apakah senang diri kita mengutuk KSA yang bersikap diam
saja terhadap kekejaman Israel dan USA?
Ataukah kita lebih senang menyesali diri kita karena
tidak bisa berbuat apa-apa terhadap apa yang dilakukan Israel dan
USA?
Wassalaamu'alaikum.
H. Sudi S.
Dari dulu
pemerintah Saudi memang begitu..
saat perang
Iraq-1 tanahnya yang Suci harusnya haram untuk orang Kafir
tapi di
persembah untuk pangkalan militer tuannya (USA) untuk
membunuhi
saudaranya seIslam.. dan banyak lagi yang selalu pro USA..
Apakah ini
balas jasa kepada tuannya agar tahta kerajaannya tetep langgeng
??
Wallahua'lam bishowab..
Wassalam..
Rudy.S
Iki piye Saudi kok koyok ngene
? ...hiks..
*Israel Sambut Sikap Saudi Kritik
Hizbullah* Minggu, 16 Jul 06 19:09 WIB
Sejumlah
sumber Israel mengeluarkan penghargaan atas sikap kerajaan Saudi Arabia yang
mengkritik Hizbullah Libanon. Media massa Israel bahkan meletakkan berita
itu sebagai headline dan fokus pemberitaan mereka di hari Ahad
(16/7).
Seluruhnya menuangkan sambutan petinggi Israel terhadap
pernyataan sikap yang dikeluarkan Kantor Berita Kerajaan Saudi Arabia, dan
berharap agar hal ini dapat membelah opini antara peperangan legal dengan
peperangan 'tindakan yang tidak logis' yang dilakukan Hizbullah
Libanon.
Harian Maaref berbahasa Ibrani misalnya memuat headline
dengan tulisan "Saudi Lawan Hizbullah". Di sana, disebutkan bahwa sikap
Saudi akan memicu perselisihan hebat dengan Hizbullah Libanon, lantaran
kritik Saudi terhadap aksi militer Libanon terhadap Israel. Di sisi lain,
kritik itu juga akan semakin mengobarkan serangan Israel terhadap Libanon.
Seorang narasumber dari jajaran Israel yang menolak disebutkan identitasnya,
dalam artikel Maaref mengatakan, "Dengan begini, Saudi berarti menolak
tindakan yang dilakukan Hizbullah Libanon terhadap Israel."
Sejumlah
pengamat heran dengan sikap Saudi yang berbeda terhadap masalah yang dialami
Libanon. Sebab selama ini, Saudi jelas menentang pendudukan Israel di
Libanon. Publik Saudi pun selama ini menentang pendudukan Israel di Libanon
dan Palestina. Dengan judul "Saudi Serang Militer Hizbullah karena Culik Dua
Serdadu Israel", harian Haaretz Israel juga mendukung pernyataan Saudi.
Sementara harian Yodiot Aharonot menuliskan, "Apa yang kami dengar dari
Saudi, khususnya serangan Hizbullah terhadap Israel dan penawanan dua
serdadu Israel, merupakan suara yang berbeda sama sekali dari apa yang kami
dengar dari sejumlah negara Arab pada saat ini."
Sikap Saudi memang
melontarkan kecaman terhadap pihak yang berada di balik kekacauan keamanan
dengan Israel. Secara tidak lazim, Saudi juga melontarkan kritik sangat
jelas kepada Hizbullah dan kelompok pendukungnya di Teheran. Pernyataan
Saudi juga menyebut bahwa kelompok itulah yang harus bertanggung jawab
secara penuh atas berbagai tindakan yang dilakukan.
(na-str/iol)
source : http://www.eramuslim.com/news/int/44ba098f.htm
|