Republika, Kamis, 10 Agustus 2006  10:09:00
Tim Bantuan Kemanusiaan RI Bertolak ke Lebanon-Palestina Senin

Jakarta-RoL-- Sebuah tim relawan beranggotakan 10 orang, termasuk empat anggota DPR-RI, akan meninggalkan Jakarta menuju Suriah, Senin dini hari (14/8) untuk menyampaikan bantuan kemanusiaan rakyat Indonesia bagi para korban kebiadaban Israel di Palestina dan Lebanon.

"Insya Allah kami berangkat Senin dinihari waktu Jakarta menuju Suriah. Dari sana, kami memasuki jalur tertentu (untuk mencapai Palestina dan Lebanon-red.)," kata Ketua Komite Kemanusiaan Indonesia dan Ketua Nasional untuk Rakyat Palestina, Suripto, seperti diberitakan Antara di Jakarta, Kamis pagi.

Selain tiga anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera dan seorang anggota DPR-RI dari Fraksi Golkar, tim misi kemanusiaan ini terdiri dari lembaga swadaya masyarakat dan petugas medis dari Bulan Sabit Merah Indonesia, katanya.

Sehubungan dengan misi ini, ia mengatakan, pihaknya diterima Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda di kantornya, Kamis pagi, guna membicarakan perihal rencana keberangkatan dan tujuan misi kemanusiaan tersebut. "Selain menyerahkan bantuan kemanusiaan, tim ini juga akan melakukan survei lapangan untuk mengetahui bentuk dan jenis bantuan apa yang sesungguhnya diperlukan rakyat Palestina dan Lebanon," kata anggota Komisi I DPR-RI itu.

Ia selanjutnya mengatakan, dirinya bersama ketiga anggota DPR lainnya akan menjalankan misi ini hingga 20 Agustus, sedangkan anggota tim lainnya, khususnya dokter dan para medis akan lebih lama. "Insya Allah, saya dan teman-teman DPR paling lama sampai 20 Agustus, sedangkan tim medis akan lebih lama dan bergiliran," katanya.

Solidaritas dan simpati bangsa Indonesia terhadap nasib dan perjuangan rakyat Palestina dan Lebanon menentang agresi dan penjajahan Israel atas kedua negara itu terus bergulir dalam beberapa pekan terakhir.

Berbagai aksi demonstrasi dan pengumpulan bantuan kemanusiaan dilakukan oleh elemen masyarakat dari berbagai latar belakang agama di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. Bahkan, banyak di antara mereka mendaftarkan diri di beberapa organisasi kemasyarakatan untuk berjihad di Palestina dan Lebanon.

Untuk itu, Pemerintah Indonesia telah mengimbau setiap Warga Negara Indonesia (WNI) yang berniat untuk mengirimkan misi kemanusiaan ke sana untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan Departemen Luar Negeri (Deplu). "Jika ada kelompok-kelompok dari Indonesia yang ingin membantu dengan cara mengirimkan misi kemanusiaan maka tolong dikonsultasi dengan kami," kata Menlu Hassan Wirajuda.

Menurut Menlu, Pemerintah Indonesia memiliki sejumlah perwakilan di luar negeri termasuk di Lebanon yang aktif mencermati perkembangan terakhir di lapangan.
"Perwakilan kita dapat dengan cepat memberikan informasi mengenai daerah-daerah yang aman dan tidak aman, daerah yang masih diblokade ataupun tempat-tempat yang menjadi konsentrasi pengungsi yang masih sangat membutuhkan bantuan medis atau makanan," katanya.

Namun, lanjut dia, hingga kini belum ada kelompok-kelompok tertentu yang mengumumkan akan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Lebanon yang melakukan konsultasi dengan pihak Deplu. Menlu menyebutkan, situasi di lapangan tidak mudah bahkan organisasi-organisasi internasional yang sudah sangat berpengalaman untuk menyalurkan bantuanpun mengalami kesulitan untuk memasuki daerah-daerah yang diduduki Israel atau menjadi sasaran pengeboman.

Zionis Israel telah menggempur berbagai kota dan desa di selatan Lebanon untuk melemahkan Hizbullah sejak 12 Juli lalu. Sedikitnya seribu warga Lebanon tewas dalam berbagai serangan militer Israel yang didukung Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Sebagian besar korban itu adalah warga sipil.
Konflik yang dipicu oleh penahanan dua tentara Israel oleh para pejuang Hizbullah itu mengundang kecaman masyarakat internasional setelah PBB tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan agresi itu.

Sebelum melancarkan agresinya ke Lebanon, Israel terlebih dahulu menyerang Palestina, menangkapi para pejabat pemerintahan negara itu, membunuhi warga sipil dan menghancurkan berbagai infrastruktur negara yang tanahnya diduduki Zionis dukungan AS dan Inggris tersebut selama berpuluh-puluh tahun. ant/fif

 

RI-Malaysia-Brunei Sepakat Kirim Pasukan ke Lebanon


Laporan Wartawan Kompas Angelina Maria Donna
Kamis, 10 Agustus 2006 - 12:00 wib

JAKARTA, KCM--Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam sepakat untuk bekerja sama mengirimkan pasukan perdamaian ke Lebanon jika mendapatkan mandat dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Indonesia menyiapkan 850 personel, Malaysia 850-1000 personel, dan Brunei 200 personel.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, Panglima Angkatan Tentara Malaysia Laksamana Tan Sri Dato' Sri Muhammad Anwar, dan Panglima Angkatan Bersenjata Diraja Brunei Darussalam Jenderal Dato' Paduka Sri Haji Halbi bin Haji Muhammad Yusuf di Jakarta, Kamis (10/8). "Kesepakatan ini merupakan implementasi dari kebijakan ketiga Kepala Negara dalam konferensi OKI (Organisasi Konferensi Islam) di Kuala Lumpur beberapa waktu yang lalu," ungkap Djoko Suyanto.

Dia menjelaskan, ketiga negara telah memiliki kerja sama panjang dalam militer yang selama ini ada dalam lingkup bilateral dan regional. "Jadi ketiga negara sudah memiliki landasan kuat bekerja sama dan alangkah baiknya bila hal itu bisa diimplementasikan untuk penugasan pasukan penjaga perdamaian di Timur Tengah," tambah Panglima TNI.

Meski belum ada mandat dari PBB, tetapi ketiga negara akan menyiapkan strategi jika nanti diberi tugas mengirimkan pasukan. Hal-hal yang dibicarakan dalam pertemuan pertama hari ini antara lain pembagian logistik, informasi, dan menyiapkan komunikasi bersama, tim advance bersama untuk memformulasikan tugas di Lebanon nanti. Ketiga negara akan membentuk joint planning team dan joint secretary team untuk menindaklanjuti strategi yang telah dibahas di tingkat pimpinan pimpinan angkatan bersenjata.

Panglima Angkatan Tentara Malaysia Laksamana Tan Sri Dato' Sri Muhammad Anwar menambahkan, kerja sama ini merupakan peningkatan dari latihan bersama baik bilateral maupun regional dari ketiga negara. Sementara, Panglima Angkatan Bersenjata Diraja Brunei Darussalam Jenderal Dato' Paduka Sri Haji Halbi bin Haji Muhammad Yusuf mengemukakan misi kali ini adalah misi paling bermakna karena tujuannya menjaga perdamaian. "Kami yakin misi ini bisa dilaksanakan dengan baik," katanya.

Ketika ditanya apakah Indonesia, Malaysia, dan Brunei akan terlibat dalam peace keeping force atau multinational force, Djoko Suyanto mengatakan, semuanya tergantung keputusan politik pemerintah masing-masing negara. "Tetapi TNI telah siap untuk kedua jenis pasukan itu," katanya.

Mengenai netralitas pasukan, Djoko mengatakan, dari awal ketiga negara sepakat untuk tidak melihat ras, agama, kelompok, dan golongan, tetapi melihat adanya penderitaan yang besar di Lebanon. "Kita tidak melihat apakah mereka Muslim dan melawan Israel tetapi bagaimana perdamaian bisa diwujudkan sehingga tidak ada lagi korban sipil yang sia-sia, jadi kami tidak dalam konteks siapa melawan siapa, tapi menjaga perdamaian," demikian Djoko Suyanto.


Penulis: Nik


 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke