STRATEGI MELAWAN AS
Oleh: Husain
Matla
Betapa kokohnya Amerika Serikat? Sanggupkah kita keluar dari
dominasi
negara imperialis itu? Bukankah Colin Powell, Menlu AS dalam
periode
pertama pemerintahan George W. Bush, mengatakan bahwa belum
pernah
sebelumnya AS sekuat sekarang? Barangkali, begitulah suasana batin
kita,
umat Islam, menyikapi negara adikuasa yang selalu menerapkan standar
ganda
ini. Sampai saat ini negara itu masih memegang status sebagai
negara
adikuasa dan selalu mendikte umat Islam. Hanya saja, benarkah AS
demikian
kokoh, seakan kita kesulitan mencari sebiji pun
kelemahannya?
Ada baiknya kita memahami keadaan negara itu dari
"suara-suara" di dalam
negara itu sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang
justru mengungkapkan
kecemasan. Pertama: kalangan Partai Demokrat menganggap
kebijakan George
Bush selama ini membahayakan posisi AS di dunia. Mereka
lebih menyukai
posisi AS seperti pada masa pemerintahan Clinton yang terkesan
memimpin
"persekutuan para pemilik kekuatan" untuk sama-sama berkuasa di
dunia.
Saat itu, walaupun AS "tidak berkuasa sendirian", AS lebih diterima
oleh
dunia dan lebih aman dari serangan musuh. Kondisi AS pada
masa
pemerintahan Bush mengesankan sebaliknya. AS memang tampak "jagoan",
namun
justru lebih terisolasi secara politik. Pada masa Bush ini,
semakin
terkesan Eropa berani "memberontak" terhadap bekas pemimpinnya
itu.
Kebijakan Bush, "perang melawan teroris", juga malah membuat AS
semakin
tidak aman. AS seperti "ingin berkuasa sendirian", tetapi malah
menuai
kebencian.
Kedua: sebagian kalangan mengkhawatir-kan kondisi
dalam negeri AS. Noreena
Hertz menggambarkan bahwa pemerintahan AS sekarang
tidak seperti layaknya
pemerintahan, tetapi "kepanitiaan". Panitia, untuk
bisa bekerja, harus
mencari sponsor dulu. Begitu pula pemerintah AS; ia harus
mencari sponsor
dari perusahaan-perusahaan besar untuk merealisasikan
kebijakannya.
Kondisi ini terjadi karena bidang-bidang ekonomi sekarang tidak
di tangan
pemerintah, tetapi di tangan swasta. Ditegaskan, swasta bahkan
telah
merampok negara dari rakyat. Mengutip istilah Rutherford B.
Hayes,
eksistensi pemerintahan AS adalah "from companies, by companies, and
for
companies".
Joel Andreas, dalam buku kartunnya yang cukup populer,
menegaskan bahwa
kebijakan perang anti teroris sebenarnya hanyalah upaya
pemerintah AS
untuk merealisasikan kepentingan dari banyak perusahaan besar.
Ini karena
bisnis senjata merupakan bisnis yang sangat menggiurkan.
Sayangnya,
kebijakan ini harus dibayar mahal. Anggaran militer AS berjumlah
sebesar
51% sehingga memangkas anggaran lainnya (anggaran pendidikan hanya
7%).
Rakyat dikorbankan untuk ambisi segelintir orang yang memegang
modal.
Dalam pandangan sebagian rakyat AS, bukan Usamah yang kalah,
tetapi
mereka. Hanya untuk membunuh Usamah, pemerintah harus menembak
nyamuk
dengan bom. Sayang, rakyat yang harus membayar anggaran bom
itu.
Ketiga: AS semakin menemukan rival yang nyata. Samuel T.
Huntington
mengatakan bahwa rival peradaban Barat setelah jatuhnya Soviet
adalah
peradaban Konfusius dan peradaban Islam. Kemampuan kedua peradaban
itu
akan meningkat jika mereka mempunyai negara inti. Peradaban
Konfusius
telah mempunyai negara inti, Cina. Namun sayang, peradaban Islam
baru
mempunyai potensi membentuk negara inti.
Tidak adanya negara inti
pada peradaban Islam membuat AS masih bisa
mendikte kebijakan negara-negara
Muslim. Secara ekonomi, mereka masih
loyal untuk sekadar menjadi pemasok
bahan mentah dan buruh murah, serta
sebagai pasar bagi produk AS. Secara
militer, mereka bergantung pada
persenjataan AS. Secara politik, mereka butuh
terhadap pengakuan AS atas
kedaulatan wilayahnya. Selain itu, para politisi
mereka masih berlomba
meminta restu Washington untuk mendukung mereka.
Sayang, keadaan ini
sangat bergantung pada cengkeraman politik AS dan opini
rakyat di
negeri-negeri Muslim. Jika kedua hal itu berubah, semua kemudahan
yang
dirasakan AS sekarang bisa hilang dengan tiba-tiba. Kejadian di Iran
tahun
1979 memberikan gambaran betapa rentan posisi AS. Dalam waktu
sekejap,
segala keistimewaan AS di negeri itu hilang begitu Shah Iran
digulingkan
rakyat. Masalahnya, bagaimana jika kejadian di Iran itu terjadi
di
berbagai negara Muslim? Bagaimana pula jika mereka menuntut adanya
negara
inti? Inilah yang menjadi persoalan. Belum lagi sikap Eropa yang
semakin
"tak loyal".
Begitulah beberapa gambaran kecemasan yang
terjadi di AS sendiri. Memang,
itu hanya dari sebagian kalangan. Walau
begitu, pada kenyataannya, mereka
sanggup memberikan bukti-bukti ilmiah yang
kuat.
Faktanya, sebagai negara adikuasa dan pemimpin dunia, AS
tampak
terjerembab untuk mengulangi kekeliruan Kekhalifahan Utsmaniyah
dulu.
Mereka sibuk membentuk militer yang kuat, tetapi mengabaikan kondisi
dalam
negeri. Mereka juga lemah dalam membangun opini dunia. Dr.
Abdulmajid
Abdussalam al-Muhtashib mengungkapkan, saat itu sebagian pihak
telah
menyampaikan peringatan pada Khalifah. Sayang, peringatan itu
kurang
diperhatikan. Gerakan sekularisme di Eropa yang pada abad XVII M
baru
menjadi embrio segera tumbuh cepat dan menjadi ideologi berbagai
negara
Eropa. Kekhalifahan Utsmaniyah hancur pada tahun 1924 melalui
tangan
Musthafa Kemal Attaturk, seorang sekular antek
Inggris.
Tampaknya, AS sekarang memang bukan seperti AS pada awal
pemerintahan
Franklin D. Roosevelt. Pada masa itu memang AS belumlah menjadi
adikuasa
dunia. Namun, Roosevelt adalah presiden yang cerdas. Ia
sanggup
menciptakan kondisi dalam negeri yang stabil dan membangun opini
dunia pro
AS. Ia juga sanggup melarutkan rakyatnya dalam satu pemikiran
untuk
membangun idealisme Amerika. Saat itu, AS memang belumlah sekuat saat
ini,
tetapi merupakan negara yang berkembang paling pesat di dunia.
Ibarat
lemparan batu ke udara, ketinggiannya memang belum pada posisi
puncak,
tetapi sedang meluncur cepat menuju puncak. Sebaliknya, AS
sekarang
tampaknya bukan AS yang semacam itu lagi.
Melepaskan Diri
dari Cengkeraman AS
Lalu bagaimana kita, umat Islam, agar dapat lepas
dari cengkeraman negara
imperialis ini? Saat ini ada suasana pesimis pada
umat Islam untuk bebas
dari AS. Hal ini disebabkan oleh adanya pandangan yang
lebih melihat pada
"ketinggian" posisi AS daripada "kecepatan" gerak negara
itu. "Melawan AS?
Bukankah mereka adikuasa? Bukankah militernya kuat?
Bukankah
perusahaan-perusahaannya.? Bukankah.? Bukankah.?"
Faktanya,
ketinggian posisi bukanlah jaminan kokohnya negara. Siapa yang
bisa
membayangkan sekularisme saat ini bisa menjadi ideologi negara kalau
melihat
pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah dulu mereka baru menjadi embrio?
AS pada
masa Roosevelt juga terus mendaki dan mendaki, mereka masih
kalah
dibandingkan dengan Inggris. Siapa yang menyangka bahwa akhirnya
Inggris
justru akan menjadi "bawahan" AS? Dengan melihat kecepatan, kita tak
akan
larut dalam pesimisme, tetapi justru bisa memikirkan banyak
hal.
Titik tolak lemparan batu ke udara bagi umat Islam sebenarnya cukup
jelas.
Kata-kata Huntington seperti kata-kata pelatih sepak bola pada
pemainnya
yang terdengar pemain lawan. Ia seakan menekankan "Kalau mereka
sampai
melakukan hal ini, bahaya kita!" Ia juga menunjukkan maksud "hal
ini":
negara inti (yaitu negara utama yang menjadi kiblat bagi
negara-negara
lain dalam peradaban yang sama, seperti Cina dalam Peradaban
Konfusius
atau AS dalam Peradaban Barat). Dengan itulah umat Islam akan
kuat.
Percayakah kita begitu saja pada Huntington? Secara syar'i, Islam
ternyata
menegaskan perintah yang lebih tegas dari sekadar negara inti,
yaitu
Khilafah Islam (yaitu negara tunggal milik seluruh umat Islam).
Hukumnya
sangat jelas, yaitu dengan perintah baiat hanya pada seorang
Khalifah
(hadis) serta batas waktu 3 hari 2 malam untuk berbaiat (Ijmak
Sahabat).
Secara historis, ternyata memang umat Islam pernah mengalami
kejayaan
dengan Khilafah Islam. Pada masa Harun ar-Rasyid, umat Islam
memerintah
dua pertiga dunia dan mengalami kejayaan dalam ilmu pengetahuan.
Secara
empirik, Khilafah Islam teruji tahan selama 13 abad lebih (632 M-1924
M).
Kekuasaan AS di dunia sekarang disangga oleh kekuasaan politik
mereka. AS
seperti juragan rentenir di sebuah kampung yang mengandalkan para
centeng,
jeratan utang, dan pesimisme penduduk. Masalahnya, jika jejaring
kekuasaan
itu goyah dan penduduk berubah pikiran, misalnya membentuk
persatuan antar
mereka, tentunya kekuasaan itu akan goyah. Kita bisa melihat
basis
kekuatan politik semacam itu bisa dihancurkan. Kasus di Iran bisa
kita
jadikan pelajaran. Saat itu, AS harus angkat koper dari Teheran
karena
rakyat sudah tidak percaya pada Shah Iran yang hanya merupakan antek
AS;
tidak percaya pada perusahaan-perusahaan AS yang hanya membuat
rakyat
miskin serta tokoh-tokoh politik oportunis yang selalu berkiblat pada
AS.
Opini untuk menyingkirkan AS makin kuat seiring diketahuinya
berbagai
konspirasi AS menguasai Iran. Kita bisa melihat betapa
peristiwa semacam
itu berlangsung cepat selama rakyat sudah tidak percaya
lagi pada AS dan
segala jejaring kekuasaannya. Masalahnya, adakah pihak yang
mengerakkan
umat?
Harus kita akui bahwa kekuasaan AS juga bersandar
pada kekuasaan
pemikiran. Faktanya, juragan rentenir ini selalu membangun
opini bahwa
mereka menyelamatkan penduduk. Faktanya pula, masih banyak
penduduk di
kampung dunia ini yang percaya pada sang juragan itu. Selama ini
yang
terjadi, maka kekuasaan AS masih sulit untuk goyah, karena sang
juragan
dibela oleh penduduk kampung. Lain halnya, jika penduduk tidak
lagi
percaya. Kepercayaan ini akan luntur jika berbagai kebohongan AS
dan
kebobrokan sistemnya menjadi opini umat Islam. AS terbukti
melakukan
kebohongan seperti dalam alasan penyerangannya ke Irak. Tatanan
hidup
AS-sistem Kapitalisme-sekular-juga terbukti gagal di AS sendiri.
Penduduk
negeri itu justru menjadi korban kepentingan para lintah darat kelas
paus.
Masalahnya, adakah pembangunan opini yang terorganisasi untuk
membina
umat?
Karena itu, upaya membebaskan umat dari kekuasaan
politik maupun kekuasaan
pemikiran AS tentu harus dilakukan oleh gerakan yang
sangat terorganisasi.
Jika itu dilakukan, adanya opini bersama pada diri umat
untuk bersatu
secara politik dan pemikiran dalam bingkai Khilafah Islam tentu
bukanlah
khayalan. Umat merasa ada yang memimpin kemana mereka harus
melangkah dan
bagaimana yang harus mereka lakukan selama melangkah. Tidak
sedikit contoh
keberhasilan gerakan organisasi. Gerakan di Iran bisa solid
karena adanya
kepemimpinan Ayatullah Khomeini dengan gerakan Velayatul
Faqih-nya. Soviet
bisa membebaskan diri dari Jerman karena dipimpin oleh
Lenin dengan Partai
Komunisnya. Irlandia bisa bebas dari Inggris karena
digerakkan oleh IRA.
Bahkan AS sendiri bisa merdeka dari Inggris juga karena
gerakan
terorganisasi yang dipimpin orang-orang Virginia. Bagaimana mungkin
umat
bisa bergerak jika tidak terorganisasi, tidak ada pihak yang
memimpin?
Pemikiran yang mengikat umat hendaknya ideologi dan ideologi
itu tak ada
lain kecuali Islam itu sendiri. Sejarah membuktikan, tak ada
faktor
pemersatu yang lebih kuat kecuali ideologi. Sementara ideologi
kapitalis
dan komunis sudah terbukti kerusakannya, lalu mengapa Islam selama
ini
selalu ditolak? Tentang hal ini, George Sarton menggambarkan
kekuatan
umat Islam pada masa lalu, "Tidak ada manusia yang pernah
menjadikan
agamanya seserius seperti yang dilakukan orang Islam. Ini tidak
meragukan
lagi, sebab utama dan kekuatan mereka melawan musuh-musuh mereka
yang
telah terpecah belah dan kepercayaannya memang lemah dan dangkal."
Michael
Hart juga menyatakan bahwa perubahan dunia terbesar sepanjang
sejarang
adalah perubahan yang terjadi setelah lahirnya Muhammad saw. Dengan
Islam,
hanya dalam beberapa puluh tahun, umat Islam segera menjadi umat
yang
memimpin dunia.
Kesatuan politik dan ideologi juga terbukti
merupakan kesatuan yang teruji
walaupun hambatan yang datang luar biasa
hebat. AS segera menguasai
teknologi dan tumbuh menjadi negara kuat pada
tahun 1900 hanya 35 tahun
setelah Perang Sipil Pemerintahan Federal melawan
pemberontak Konfederasi
Amerika. Uni Soviet menjadi adikuasa tahun 1945 hanya
20-an tahun pasca
persengketaan antara Josep Stalin dan Leon Trotsky. Umat
Islam kembali
bersatu dan memimpin dunia pada tahun 50 H hanya sekitar 10
tahun setelah
mengalami guncangan hebat, Perang Siffin, antara Khalifah Ali
bin Abi
Thalib dan Muawiyah. Adakah kejadian serupa selain pada negara
ideologis?
Langkah-langkah Penting
Mengubah kondisi umat menuju
kesatuan politis dan ideologi tentu bukan hal
mudah. Berbagai hambatan banyak
dirasakan seperti lemahnya pemahaman umat,
sikap tidak suka perubahan, sikap
tak siap menghadapi risiko perubahan,
gaya hidup hedonis, pesimisme, dll.
Kerena itu, dibutuhkan langkah-langkah
strategi untuk menyikapi umat seperti:
(1) Pembinaan umat (menjelaskan
Islam sebagai ideologi, bahaya ide-ide
kapitalis, keniscayaan pertarungan
ideologi/pemikiran, mengenal musuh bersama
umat Islam dan merumuskan
agenda bersama untuk menghadapinya). (2) Membongkar
konspirasi asing
(mengungkap berbagai kejahatan negara-negara kapitalis Barat
khususnya AS,
dukungan nyata AS terhadap rezim otoriter dan represif di
negeri-negeri
Islam, intervensi AS terhadap berbagai kebijakan negara-negara
di Dunia
Islam, serta mengungkap jatidiri agen-agen Barat-AS dan
pengkhianatan para
penguasa Muslim). (3) Memperkuat ukhuwah islamiyah
(memahami
prinsip-prinsip ukhuwah, bahwa kaum Muslim adalah satu tubuh,
menyadari
musuh bersama, menjalin komunikasi yang produktif, merumuskan
agenda
perjuangan bersama ketimbang mengedepankan perbedaan yang
tidak
produktif). (4) Menjalin sinergi untuk menegakkan Khilafah. (5)
Memperkuat
opini umum tentang syariah dan Khilafah.
Dari
berbagai gambaran tadi, dengan melihat "kecepatan", bukan
"ketinggian",
terlihat bahwa AS bukanlah pihak yang masih terus menuju
puncak. Mengutip
Ibnu Khaldun tentang "usia peradaban", AS hanyalah
negara paruh baya
yang telah kepayahan. Umat Islam mempunyai potensi untuk
kembali ke puncak,
walaupun sekarang berada dalam ketinggian yang jauh
lebih rendah. Dengan
berpijak pada kecepatan maka banyak hal yang akan
bisa dilakukan oleh umat.
Umat bisa bergerak dengan sistematis dan
terencana. Titik tolak menuju
ketinggian juga sudah jelas, yaitu dengan
membentuk Khilafah Islam.
Masalahnya hanyalah, bagaimana gerak dari
organisasi yang memperjuangkannya?
Tampaknya, inilah awalan dari
mengangkat batu itu.
Penulis adalah
Direktur MATLA Institute Semarang
Daftar
Bacaan
1 Abdullah, Taufik, et.al., Ensiklopedi Tematis
Dunia Islam-Khilafah,
PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta,
2002.
2 ______________, Ensiklopedi Tematis Dunia
Islam-Pemikiran dan
Peradaban, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta,
2002.
3 Abdurrahman, Hafidz, Islam, Politik, dan
Spiritual, Lisan ul-Haq,
Singapore, 1998, hal
212-217.
4 Andreas, Joel, Nafsu Perang, Sejarah
Militerisme Amerika di Dunia,
Profetik, Jakarta,
2004.
5 Armando, Ade, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar,
PT. Ichtiar Baru van
Hoeve, Jakarta, 2001.
6 Bakri,
Umar S., Ekonomi Politik Internasional, LPPM universitas
Jayabaya, jakarta,
1997.
7 Chapra, Dr. M. Umer, The Future of Economics;
An Islamic Perspective,
SEBI, Jakarta, 2001 hal
184.
8 Hertz, Noreena, Perampok Negara; Kuasa
Kapitalisme Global dan
Kematian Demokrasi (The Silent take Over; Global
Capitalism and the Death
of Democrazy), Alenia, Jogjakarta,
2005.
9 Huntington, Samuel T. The Clash of
Civilization, 2004.
10 As-Suyuthi, Imam, Tarikh Khulafa,
Sejarah Para Penguasa Islam,
Pustaka Al-Kautsar, Jakarta,
2001.
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
