tulisan yang sangat bagus. sumbernya dari mana pa?
----- Original Message -----
Sent: Thursday, September 07, 2006 10:02 AM
Subject: [ FUPM-EJIP ] STRATEGI MELAWAN AS



STRATEGI MELAWAN AS

Oleh: Husain Matla

Betapa kokohnya Amerika Serikat? Sanggupkah kita keluar dari dominasi
negara imperialis itu? Bukankah Colin Powell, Menlu AS dalam periode
pertama pemerintahan George W. Bush, mengatakan bahwa belum pernah
sebelumnya AS sekuat sekarang? Barangkali, begitulah suasana batin kita,
umat Islam, menyikapi negara adikuasa yang selalu menerapkan standar ganda
ini. Sampai saat ini negara itu masih memegang status sebagai negara
adikuasa dan selalu mendikte umat Islam. Hanya saja, benarkah AS demikian
kokoh, seakan kita kesulitan mencari sebiji pun kelemahannya?

Ada baiknya kita memahami keadaan negara itu dari "suara-suara" di dalam
negara itu sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang justru mengungkapkan
kecemasan. Pertama: kalangan Partai Demokrat menganggap kebijakan George
Bush selama ini membahayakan posisi AS di dunia. Mereka lebih menyukai
posisi AS seperti pada masa pemerintahan Clinton yang terkesan memimpin
"persekutuan para pemilik kekuatan" untuk sama-sama berkuasa di dunia.
Saat itu, walaupun AS "tidak berkuasa sendirian", AS lebih diterima oleh
dunia dan lebih aman dari serangan musuh. Kondisi AS pada masa
pemerintahan Bush mengesankan sebaliknya. AS memang tampak "jagoan", namun
justru lebih terisolasi secara politik. Pada masa Bush ini, semakin
terkesan Eropa berani "memberontak" terhadap bekas pemimpinnya itu.
Kebijakan Bush, "perang melawan teroris", juga malah membuat AS semakin
tidak aman. AS seperti "ingin berkuasa sendirian", tetapi malah menuai
kebencian.

Kedua: sebagian kalangan mengkhawatir-kan kondisi dalam negeri AS. Noreena
Hertz menggambarkan bahwa pemerintahan AS sekarang tidak seperti layaknya
pemerintahan, tetapi "kepanitiaan". Panitia, untuk bisa bekerja, harus
mencari sponsor dulu. Begitu pula pemerintah AS; ia harus mencari sponsor
dari perusahaan-perusahaan besar untuk merealisasikan kebijakannya.
Kondisi ini terjadi karena bidang-bidang ekonomi sekarang tidak di tangan
pemerintah, tetapi di tangan swasta. Ditegaskan, swasta bahkan telah
merampok negara dari rakyat. Mengutip istilah Rutherford B. Hayes,
eksistensi pemerintahan AS adalah "from companies, by companies, and for
companies".

Joel Andreas, dalam buku kartunnya yang cukup populer, menegaskan bahwa
kebijakan perang anti teroris sebenarnya hanyalah upaya pemerintah AS
untuk merealisasikan kepentingan dari banyak perusahaan besar. Ini karena
bisnis senjata merupakan bisnis yang sangat menggiurkan. Sayangnya,
kebijakan ini harus dibayar mahal. Anggaran militer AS berjumlah sebesar
51% sehingga memangkas anggaran lainnya (anggaran pendidikan hanya 7%).
Rakyat dikorbankan untuk ambisi segelintir orang yang memegang modal.
Dalam pandangan sebagian rakyat AS, bukan Usamah yang kalah, tetapi
mereka. Hanya untuk membunuh Usamah, pemerintah harus menembak nyamuk
dengan bom. Sayang, rakyat yang harus membayar anggaran bom itu.

Ketiga: AS semakin menemukan rival yang nyata. Samuel T. Huntington
mengatakan bahwa rival peradaban Barat setelah jatuhnya Soviet adalah
peradaban Konfusius dan peradaban Islam. Kemampuan kedua peradaban itu
akan meningkat jika mereka mempunyai negara inti. Peradaban Konfusius
telah mempunyai negara inti, Cina. Namun sayang, peradaban Islam baru
mempunyai potensi membentuk negara inti.

Tidak adanya negara inti pada peradaban Islam membuat AS masih bisa
mendikte kebijakan negara-negara Muslim. Secara ekonomi, mereka masih
loyal untuk sekadar menjadi pemasok bahan mentah dan buruh murah, serta
sebagai pasar bagi produk AS. Secara militer, mereka bergantung pada
persenjataan AS. Secara politik, mereka butuh terhadap pengakuan AS atas
kedaulatan wilayahnya. Selain itu, para politisi mereka masih berlomba
meminta restu Washington untuk mendukung mereka. Sayang, keadaan ini
sangat bergantung pada cengkeraman politik AS dan opini rakyat di
negeri-negeri Muslim. Jika kedua hal itu berubah, semua kemudahan yang
dirasakan AS sekarang bisa hilang dengan tiba-tiba. Kejadian di Iran tahun
1979 memberikan gambaran betapa rentan posisi AS. Dalam waktu sekejap,
segala keistimewaan AS di negeri itu hilang begitu Shah Iran digulingkan
rakyat. Masalahnya, bagaimana jika kejadian di Iran itu terjadi di
berbagai negara Muslim? Bagaimana pula jika mereka menuntut adanya negara
inti? Inilah yang menjadi persoalan. Belum lagi sikap Eropa yang semakin
"tak loyal".

Begitulah beberapa gambaran kecemasan yang terjadi di AS sendiri. Memang,
itu hanya dari sebagian kalangan. Walau begitu, pada kenyataannya, mereka
sanggup memberikan bukti-bukti ilmiah yang kuat.

Faktanya, sebagai negara adikuasa dan pemimpin dunia, AS tampak
terjerembab untuk mengulangi kekeliruan Kekhalifahan Utsmaniyah dulu.
Mereka sibuk membentuk militer yang kuat, tetapi mengabaikan kondisi dalam
negeri. Mereka juga lemah dalam membangun opini dunia. Dr. Abdulmajid
Abdussalam al-Muhtashib mengungkapkan, saat itu sebagian pihak telah
menyampaikan peringatan pada Khalifah. Sayang,  peringatan itu kurang
diperhatikan. Gerakan sekularisme di Eropa yang pada abad XVII M baru
menjadi embrio segera tumbuh cepat dan menjadi ideologi berbagai negara
Eropa. Kekhalifahan Utsmaniyah hancur pada tahun 1924 melalui tangan
Musthafa Kemal Attaturk, seorang sekular antek Inggris.

Tampaknya, AS sekarang memang bukan seperti AS pada awal pemerintahan
Franklin D. Roosevelt. Pada masa itu memang AS belumlah menjadi adikuasa
dunia. Namun, Roosevelt adalah presiden yang cerdas. Ia sanggup
menciptakan kondisi dalam negeri yang stabil dan membangun opini dunia pro
AS. Ia juga sanggup melarutkan rakyatnya dalam satu pemikiran untuk
membangun idealisme Amerika. Saat itu, AS memang belumlah sekuat saat ini,
tetapi merupakan negara yang berkembang paling pesat di dunia. Ibarat
lemparan batu ke udara, ketinggiannya memang belum pada posisi puncak,
tetapi sedang meluncur cepat menuju puncak. Sebaliknya, AS sekarang
tampaknya bukan AS yang semacam itu lagi.

Melepaskan Diri dari Cengkeraman AS

Lalu bagaimana kita, umat Islam, agar dapat lepas dari cengkeraman negara
imperialis ini? Saat ini ada suasana pesimis pada umat Islam untuk bebas
dari AS. Hal ini disebabkan oleh adanya pandangan yang lebih melihat pada
"ketinggian" posisi AS daripada "kecepatan" gerak negara itu. "Melawan AS?
Bukankah mereka adikuasa? Bukankah militernya kuat? Bukankah
perusahaan-perusahaannya.? Bukankah.? Bukankah.?"

Faktanya, ketinggian posisi bukanlah jaminan kokohnya negara. Siapa yang
bisa membayangkan sekularisme saat ini bisa menjadi ideologi negara kalau
melihat pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah dulu mereka baru menjadi embrio?
AS pada masa Roosevelt juga terus mendaki dan mendaki, mereka masih kalah
dibandingkan dengan Inggris. Siapa yang menyangka bahwa akhirnya Inggris
justru akan menjadi "bawahan" AS? Dengan melihat kecepatan, kita tak akan
larut dalam pesimisme, tetapi justru bisa memikirkan banyak hal.

Titik tolak lemparan batu ke udara bagi umat Islam sebenarnya cukup jelas.
Kata-kata Huntington seperti kata-kata pelatih sepak bola pada pemainnya
yang terdengar pemain lawan. Ia seakan menekankan "Kalau mereka sampai
melakukan hal ini, bahaya kita!" Ia juga menunjukkan maksud "hal ini":
negara inti (yaitu negara utama yang menjadi kiblat bagi negara-negara
lain dalam peradaban yang sama, seperti Cina dalam Peradaban Konfusius
atau AS dalam Peradaban Barat). Dengan itulah umat Islam akan kuat.
Percayakah kita begitu saja pada Huntington? Secara syar'i, Islam ternyata
menegaskan perintah yang lebih tegas dari sekadar negara inti, yaitu
Khilafah Islam (yaitu negara tunggal milik seluruh umat Islam). Hukumnya
sangat jelas, yaitu dengan perintah baiat hanya pada seorang Khalifah
(hadis) serta batas waktu 3 hari 2 malam untuk berbaiat (Ijmak Sahabat).
Secara historis, ternyata memang umat Islam pernah mengalami kejayaan
dengan Khilafah Islam. Pada masa Harun ar-Rasyid, umat Islam memerintah
dua pertiga dunia dan mengalami kejayaan dalam ilmu pengetahuan. Secara
empirik, Khilafah Islam teruji tahan selama 13 abad lebih (632 M-1924 M).

Kekuasaan AS di dunia sekarang disangga oleh kekuasaan politik mereka. AS
seperti juragan rentenir di sebuah kampung yang mengandalkan para centeng,
jeratan utang, dan pesimisme penduduk. Masalahnya, jika jejaring kekuasaan
itu goyah dan penduduk berubah pikiran, misalnya membentuk persatuan antar
mereka, tentunya kekuasaan itu akan goyah. Kita bisa melihat basis
kekuatan politik semacam itu bisa dihancurkan. Kasus di Iran bisa kita
jadikan pelajaran. Saat itu, AS harus angkat koper dari Teheran karena
rakyat sudah tidak percaya pada Shah Iran yang hanya merupakan antek AS;
tidak percaya pada perusahaan-perusahaan AS yang hanya membuat rakyat
miskin serta tokoh-tokoh politik oportunis yang selalu berkiblat pada AS.
Opini untuk menyingkirkan AS makin kuat seiring diketahuinya berbagai
konspirasi AS menguasai Iran. Kita bisa melihat betapa  peristiwa semacam
itu berlangsung cepat selama rakyat sudah tidak percaya lagi pada AS dan
segala jejaring kekuasaannya. Masalahnya, adakah pihak yang mengerakkan
umat?

Harus kita akui bahwa kekuasaan AS juga bersandar pada kekuasaan
pemikiran. Faktanya, juragan rentenir ini selalu membangun opini bahwa
mereka menyelamatkan penduduk. Faktanya pula, masih banyak penduduk di
kampung dunia ini yang percaya pada sang juragan itu. Selama ini yang
terjadi, maka kekuasaan AS masih sulit untuk goyah, karena sang juragan
dibela oleh penduduk kampung. Lain halnya, jika penduduk tidak lagi
percaya. Kepercayaan ini akan luntur jika berbagai kebohongan AS dan
kebobrokan sistemnya menjadi opini umat Islam. AS terbukti melakukan
kebohongan seperti dalam alasan penyerangannya ke Irak. Tatanan hidup
AS-sistem Kapitalisme-sekular-juga terbukti gagal di AS sendiri. Penduduk
negeri itu justru menjadi korban kepentingan para lintah darat kelas paus.
Masalahnya, adakah pembangunan opini yang terorganisasi untuk membina
umat?

Karena itu, upaya membebaskan umat dari kekuasaan politik maupun kekuasaan
pemikiran AS tentu harus dilakukan oleh gerakan yang sangat terorganisasi.
Jika itu dilakukan, adanya opini bersama pada diri umat untuk bersatu
secara politik dan pemikiran dalam bingkai Khilafah Islam tentu bukanlah
khayalan. Umat merasa ada yang memimpin kemana mereka harus melangkah dan
bagaimana yang harus mereka lakukan selama melangkah. Tidak sedikit contoh
keberhasilan gerakan organisasi. Gerakan di Iran bisa solid karena adanya
kepemimpinan Ayatullah Khomeini dengan gerakan Velayatul Faqih-nya. Soviet
bisa membebaskan diri dari Jerman karena dipimpin oleh Lenin dengan Partai
Komunisnya. Irlandia bisa bebas dari Inggris karena digerakkan oleh IRA.
Bahkan AS sendiri bisa merdeka dari Inggris juga karena gerakan
terorganisasi yang dipimpin orang-orang Virginia. Bagaimana mungkin umat
bisa bergerak jika tidak terorganisasi, tidak ada pihak yang memimpin?

Pemikiran yang mengikat umat hendaknya ideologi dan ideologi itu tak ada
lain kecuali Islam itu sendiri. Sejarah membuktikan, tak ada faktor
pemersatu yang lebih kuat kecuali ideologi. Sementara ideologi kapitalis
dan komunis sudah terbukti kerusakannya, lalu mengapa Islam selama ini
selalu ditolak?  Tentang hal ini, George Sarton menggambarkan kekuatan
umat Islam pada masa lalu, "Tidak ada manusia yang pernah menjadikan
agamanya seserius seperti yang dilakukan orang Islam. Ini tidak meragukan
lagi, sebab utama dan kekuatan mereka melawan musuh-musuh mereka yang
telah terpecah belah dan kepercayaannya memang lemah dan dangkal." Michael
Hart juga menyatakan bahwa perubahan dunia terbesar sepanjang sejarang
adalah perubahan yang terjadi setelah lahirnya Muhammad saw. Dengan Islam,
hanya dalam beberapa puluh tahun, umat Islam segera menjadi umat yang
memimpin dunia.

Kesatuan politik dan ideologi juga terbukti merupakan kesatuan yang teruji
walaupun hambatan yang datang luar biasa hebat. AS segera menguasai
teknologi dan tumbuh menjadi negara kuat pada tahun 1900 hanya 35 tahun
setelah Perang Sipil Pemerintahan Federal melawan pemberontak Konfederasi
Amerika. Uni Soviet menjadi adikuasa tahun 1945 hanya 20-an tahun pasca
persengketaan antara Josep Stalin dan Leon Trotsky. Umat Islam kembali
bersatu dan memimpin dunia pada tahun 50 H hanya sekitar 10 tahun setelah
mengalami guncangan hebat, Perang Siffin, antara Khalifah Ali bin Abi
Thalib dan Muawiyah. Adakah kejadian serupa selain pada negara ideologis?

Langkah-langkah Penting

Mengubah kondisi umat menuju kesatuan politis dan ideologi tentu bukan hal
mudah. Berbagai hambatan banyak dirasakan seperti lemahnya pemahaman umat,
sikap tidak suka perubahan, sikap tak siap menghadapi risiko perubahan,
gaya hidup hedonis, pesimisme, dll. Kerena itu, dibutuhkan langkah-langkah
strategi untuk menyikapi umat seperti: (1) Pembinaan umat (menjelaskan
Islam sebagai ideologi, bahaya ide-ide kapitalis, keniscayaan pertarungan
ideologi/pemikiran, mengenal musuh bersama umat Islam dan merumuskan
agenda bersama untuk menghadapinya). (2) Membongkar konspirasi asing
(mengungkap berbagai kejahatan negara-negara kapitalis Barat khususnya AS,
dukungan nyata AS terhadap rezim otoriter dan represif di negeri-negeri
Islam, intervensi AS terhadap berbagai kebijakan negara-negara di Dunia
Islam, serta mengungkap jatidiri agen-agen Barat-AS dan pengkhianatan para
penguasa Muslim). (3) Memperkuat ukhuwah islamiyah (memahami
prinsip-prinsip ukhuwah, bahwa kaum Muslim adalah satu tubuh, menyadari
musuh bersama, menjalin komunikasi yang produktif, merumuskan agenda
perjuangan bersama ketimbang mengedepankan  perbedaan yang tidak
produktif). (4) Menjalin sinergi untuk menegakkan Khilafah. (5) Memperkuat
 opini umum tentang syariah dan Khilafah.

Dari berbagai gambaran tadi, dengan melihat "kecepatan", bukan
"ketinggian", terlihat bahwa AS bukanlah pihak yang masih terus menuju
puncak. Mengutip Ibnu Khaldun tentang  "usia peradaban", AS hanyalah
negara paruh baya yang telah kepayahan. Umat Islam mempunyai potensi untuk
kembali ke puncak, walaupun sekarang berada dalam ketinggian yang jauh
lebih rendah. Dengan berpijak pada kecepatan maka banyak hal yang akan
bisa dilakukan oleh umat. Umat bisa bergerak dengan sistematis dan
terencana. Titik tolak menuju ketinggian juga sudah jelas, yaitu dengan
membentuk Khilafah Islam. Masalahnya hanyalah, bagaimana gerak dari
organisasi yang memperjuangkannya? Tampaknya, inilah awalan dari
mengangkat batu itu.

Penulis adalah Direktur MATLA Institute Semarang

Daftar Bacaan

1    Abdullah, Taufik, et.al., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam-Khilafah,
PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2002.

2    ______________, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam-Pemikiran dan
Peradaban, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2002.

3    Abdurrahman, Hafidz, Islam, Politik, dan Spiritual, Lisan ul-Haq,
Singapore, 1998, hal 212-217.

4    Andreas, Joel, Nafsu Perang, Sejarah Militerisme Amerika di Dunia,
Profetik, Jakarta, 2004.

5    Armando, Ade, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar, PT. Ichtiar Baru van
Hoeve, Jakarta, 2001.

6    Bakri, Umar S., Ekonomi Politik Internasional, LPPM universitas
Jayabaya, jakarta, 1997.

7    Chapra, Dr. M. Umer, The Future of Economics; An Islamic Perspective,
SEBI, Jakarta, 2001 hal 184.

8    Hertz, Noreena, Perampok Negara; Kuasa Kapitalisme Global dan
Kematian Demokrasi (The Silent take Over; Global Capitalism and the Death
of Democrazy), Alenia, Jogjakarta, 2005.

9    Huntington, Samuel T. The Clash of Civilization, 2004.

10   As-Suyuthi, Imam, Tarikh Khulafa, Sejarah Para Penguasa Islam,
Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001.




********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke