From:
[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Cucun Wahyudi
Sent: Thursday, September 07, 2006
10:52 AM
To: Forum
Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ]
Mu'awiyah bin Abi Sufyan was RE: Abizar Al Ghifary
Wa'alaykum salam warahmatullah.
Membahas tentang Shahabat Mua'awiyah bin Abu Sofyan ra
silakan membaca Bahasan di Majalah as Sunnah Edisi
05/X/1427H/2006M (bulan Agustus) dan Edisi 06/X/1427H/2006M (bulan September)
dengan artikel berjudul "Sikap Ahlus Sunnah Terhadap
Mu'awiyah ra dan Pertikaiannya dengan Ali ra" Bagian 01 dan Bagian 02
ada pun sikap kita pada para shahabat secara keseluruhan
adalah:
1. Dalam Kitab " Aqidah Salaf Ashhabul
Hadits" oleh Syaikhul Islam Abu Isma'il Ash-Shabuni (373H - 449 H).
Pada bab "SIKAP MEREKA (ASHABUL HADITS) TERHADAP PARA
SAHABAT"
<a> Mereka berpendapat untuk menahan diri [untuk
membicarakan] dalam perselisihan yang terjadi dikalangan sahabat. Memelihara
lisan mereka untuk tidak mengucapkan kata-kata yang berkesan mendiskreditkan
dan merendahkan para sahabat.
<b> Ashabul Hadits berpendapat, seharusnya mencintai mereka
dan berwala kepada mereka secara keseluruhan. Demikian juga mereka menganggap
wajib untuk memuliakan para istri-istri Rasulullah
SAW, radhiallahu'anhunna, mendoakan mereka, mengakui keutamaan mereka dan
mengakui juga mereka (istri-istri Nabi) sebagai ibu-ibu kaum muslimin
2. dan Juga dalam Kitab " Aqidah ath
Thohawiyah" oleh Abu Ja’far At-Thahawi, pada pasal 104 s/d 112 disebutkan
yang artinya:
<104>. Kita mencintai para sahabat Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam, namun tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di
antaranya. Tidak juga kita bersikap meremehkan terhadap seorang pun dari
mereka. Kita membenci siapa-siapa yang membenci mereka dan siapa-siapa yang
menyebutkan mereka dengan kejelekan. Kita pun hanya menyebut mereka dalam
kebaikan. Mencintai mereka adalah pengamalan ad-dien (agama), keimanan, dan
ihsan. Sementara membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan melampaui
batas.
<105>. Kita mengakui kekhalifahan sepeninggal Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang pertama adalah Abu Bakr As-Shiddiq
radliyallahu 'anhu sebagai sikap mengutamakan dan mengunggulkan dirinya atas
semua umat Islam.
<106>. Kemudian ‘Umar bin Al-Khattab radliyallahu 'anhu.
<107>. Setelah itu ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu 'anhu.
<108>. Kemudian ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu 'anhu.
<109>. Merekalah yang disebut dengan Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun dan
para imam yang mendapat petunjuk.
<110>. Sepuluh orang sahabat yang disebut-sebut Nabi dan diberi
kabar gembira sebagai penghuni Jannah, kita akui sebagai penghuni Jannah
berdasarkan persaksian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan perkataan beliau
yang benar. Mereka adalah: Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah [bin
‘Ubaidillah], Az-Zubeir [bin Al-Awwam], Sa’ad [bin Abi Waqqas], Sa’id [bin
Zaid], Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah Al-Jarrah --orang tepercaya umat
ini-- radliyallahu 'anhum.
<111>. Barangsiapa yang membaguskan ucapannya terhadap para
sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, istri-istri beliau yang bersih dari
segala noda, serta anak cucu beliau yang suci dari segala najis, maka orang itu
telah selamat dari kemunafikan.
<112>. Para ‘ulama As-Salaf
terdahulu [para sahabat-pent.] dan yang sesudah mereka dari kalangan Tabi’in
adalah pelaku kebaikan dan ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul. Mereka
semuanya harus disebutkan kebaikannya. Barangsiapa yang menjelek-jelekkan
mereka, maka dia tidak berada di atas jalan mereka (para sahabat).
3. Pendapat Imam Malik Tentang Sahabat Oleh Dr.
Muhammad Abdurrahman Al-Khumais
[1]. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah al-Anbari, katanya:
“Siapa yang merendahkan derajat seorang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam atau ia merasa tidak senang, maka ia tidak punya hak untuk dilindungi
oleh umat Islam.” Kemudian beliau membaca ayat. “Artinya : Orang-orang
yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a “Wahai Tuhan
kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang beriman lebih dahulu dari
kami, dan janganlah Engkau menjadikan kebencian dalam hati kami terhadap
orang-orang yang beriman.” [Al-Hasyar : 10][1]
Imam Malik kemudian berkata: “barangsiapa marah kepada salah seorang sahabat
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam maka ia telah terkena ayat ini.”
[2]. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari salah seorang putra az-Zubair,
katanya: “Kami berada di tempat Malik. Kemudian orang-orang menyebut-nyebut
seseorang yang merendahkan martabat sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
lalu Imam Malik membaca ayat:
“Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia
adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih saying sesame mereka:
kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,
tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah
sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu
seperti tanaman mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu
kuat lalu menjadi besarlah dia dan menjadi tegak lurus di atas pokoknya;
tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnyakarena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min)"
[Al-Fath : 29]
Imam Malik kemudian berkata: “barangsiapa marah kepada salah seorang sahabat
nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ia telah terkena ayat ini.”[2]
[3]. Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dari Asyhab bin ‘Abdul Aziz, katanya:
“Kami berada di tempat Imam Malik, tiba-tiba ada seorang dari golongan Alawiyin
datang kepada beliau, sementara orang-orang yang ada di situ sedang mengikuti
majlis pengajian Imam Malik. Orang tadi, sambil berdiri bertanya kepada beliau,
“wahai Abu Abdillah” panggilan akrab untuk beliau. Imam Malik kemudian
mendekati, padahal beliau itu tidak pernah menyambut lebih dari menganggukkan
kepala, apabila dipanggil orang. Kemudian orang tadi berkata:
“Saya ingin membuat anda menjadi hujjah (bukti kebenaran) antara saya dengan Allah,
sebab apabila saya akan menghadap Allah nanti, saya akan ditanya Allah, dan
saya akan menjawab: “Malik telah mengatakan hal itu.”. Imam Malik lalu berkata:
“Baik, silahkan apa yang hendak anda tanyakan!” Orang tadi brkata: “Siapakah
yang peling mulia sesudah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ?” Beliau
menjawab: “Abu Bakar.” Orang Alawiyin tadi bertanya lagi: “Lalu siapa?”
Dijawab, “Umar”. “Kemudian siapa lagi?”,
Tanya orang tadi. Imam Malik menjawab: “Kemudian Khalifah yang terbunuh secara didzalimi,
yaitu Utsman.” Orang tadi lalu berkata: “Demi Allah, saya tidak akan duduk di
sampingmu selamanya”. “Ya silakan., Anda bebas”. Jawab Imam Malik.[3]
[Disalin dari kitab I'tiqad Al-A'immah Al-Arba'ah edisi Indonesia Aqidah
Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad), Bab Aqidah Imam Malik bin Anas
Hanifah, oleh Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama
Kedutaan Besar Saudi Arabia Di Jakarta]
_________
Foote Note
[1]. Al-Hilyah VI/327
[2]. Al-Hilyah, VI/327
[3]. Tartib Al-Madarik, II/44-45
(taken from http://almanhaj.or.id)