Tentang Hadits Tsa’labah, ana
mendengar dari seorang ikhwan bahwa haditsnya lemah jadi nggak perlu
disampaikan. WallohuA’lam
Abu Umar
-----Original Message-----
From:
[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Sulaeman
Sent: Thursday, September 07, 2006
4:19 PM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim
di Kawasan EJIP; Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ]
Mu'awiyah bin Abi Sufyan was RE: Abizar Al Ghifary
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Ini berarti ada hal positifnya juga,dengan tidak diajarkannya sejarah Islam
yang menyangkut permasalahan sahabat Nabi disekolah -sekolah. Sehingga tidak
memancing umat untuk tidak bersikap / berfikiran yang tidak semestinya pada mereka
(sahabat Nabi)
Tapi saya sering mendengar kisah tentang Sa'labah yang berkaitan dengan
keengganannya membayar Zakat apakah kisah ini
menjadi pengecualian ? Mohon penjelasannya ustadz...
Syukron
At 10:51 07/09/2006 +0700, Cucun Wahyudi wrote:
 "urn:schemas-microsoft-com:office:office"
xmlns:w = "urn:schemas-microsoft-com:office:word" xmlns:st1 =
"urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" xmlns:ns0 =
"urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags">
Wa'alaykum salam warahmatullah.
Membahas
tentang Shahabat Mua'awiyah bin Abu Sofyan ra
silakan
membaca Bahasan di Majalah as Sunnah Edisi 05/X/1427H/2006M (bulan Agustus) dan
Edisi 06/X/1427H/2006M (bulan September)
dengan
artikel berjudul "Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Mu'awiyah ra dan Pertikaiannya
dengan Ali ra" Bagian 01 dan Bagian 02
ada
pun sikap kita pada para shahabat secara keseluruhan adalah:
1. Dalam Kitab " Aqidah Salaf Ashhabul Hadits" oleh
Syaikhul Islam Abu Isma'il Ash-Shabuni (373H - 449 H).
Pada
bab "SIKAP MEREKA (ASHABUL HADITS) TERHADAP PARA SAHABAT"
<a> Mereka berpendapat untuk menahan diri [untuk
membicarakan] dalam perselisihan yang terjadi dikalangan sahabat. Memelihara
lisan mereka untuk tidak mengucapkan kata-kata yang berkesan mendiskreditkan
dan merendahkan para sahabat.
<b>
Ashabul Hadits berpendapat, seharusnya mencintai mereka dan berwala kepada
mereka secara keseluruhan. Demikian juga mereka menganggap wajib untuk
memuliakan para istri-istri Rasulullah SAW, radhiallahu'anhunna, mendoakan
mereka, mengakui keutamaan mereka dan mengakui juga mereka (istri-istri Nabi)
sebagai ibu-ibu kaum muslimin
2. dan Juga dalam Kitab " Aqidah ath Thohawiyah"
oleh Abu Ja’far At-Thahawi, pada pasal 104 s/d 112 disebutkan
yang artinya:
<104>.
Kita mencintai para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, namun tidak
berlebihan dalam mencintai salah seorang di antaranya. Tidak juga kita bersikap
meremehkan terhadap seorang pun dari mereka. Kita membenci siapa-siapa yang
membenci mereka dan siapa-siapa yang menyebutkan mereka dengan kejelekan. Kita
pun hanya menyebut mereka dalam kebaikan. Mencintai mereka adalah pengamalan
ad-dien (agama), keimanan, dan ihsan. Sementara membenci mereka adalah
kekufuran, kemunafikan, dan melampaui batas.
<105>.
Kita mengakui kekhalifahan sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam. Yang pertama adalah Abu Bakr As-Shiddiq radliyallahu 'anhu sebagai
sikap mengutamakan dan mengunggulkan dirinya atas semua umat Islam.
<106>.
Kemudian ‘Umar bin Al-Khattab radliyallahu 'anhu.
<107>.
Setelah itu ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu 'anhu.
<108>.
Kemudian ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu 'anhu.
<109>.
Merekalah yang disebut dengan Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun dan para
imam yang mendapat petunjuk.
<110>.
Sepuluh orang sahabat yang disebut-sebut Nabi dan diberi kabar gembira sebagai
penghuni Jannah, kita akui sebagai penghuni Jannah berdasarkan persaksian Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam dan perkataan beliau yang benar. Mereka adalah:
Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah
[bin ‘Ubaidillah], Az-Zubeir [bin Al-Awwam], Sa’ad
[bin Abi Waqqas], Sa’id [bin Zaid], Abdurrahman bin
‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah Al-Jarrah --orang tepercaya
umat ini-- radliyallahu 'anhum.
<111>.
Barangsiapa yang membaguskan ucapannya terhadap para sahabat Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam, istri-istri beliau yang bersih dari segala noda, serta anak
cucu beliau yang suci dari segala najis, maka orang itu telah selamat dari
kemunafikan.
<112>.
Para ‘ulama As-Salaf terdahulu [para sahabat-pent.] dan yang
sesudah mereka dari kalangan Tabi’in adalah pelaku kebaikan dan
ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul. Mereka semuanya harus disebutkan
kebaikannya. Barangsiapa yang menjelek-jelekkan mereka, maka dia tidak berada
di atas jalan mereka (para sahabat).
3. Pendapat Imam Malik Tentang Sahabat Oleh Dr. Muhammad
Abdurrahman Al-Khumais
[1].
Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah al-Anbari, katanya:
“Siapa yang merendahkan derajat seorang sahabat Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam atau ia merasa tidak senang, maka ia tidak punya hak untuk
dilindungi oleh umat Islam.†Kemudian beliau membaca ayat.
“Artinya : Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka
berdo’a “Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan
saudara-saudara kami yang beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau
menjadikan kebencian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.â€
[Al-Hasyar : 10][1]
Imam Malik kemudian berkata: “barangsiapa marah kepada salah
seorang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam maka ia telah terkena ayat
ini.â€
[2].
Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari salah seorang putra az-Zubair,
katanya: “Kami berada di tempat Malik. Kemudian orang-orang
menyebut-nyebut seseorang yang merendahkan martabat sahabat Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, lalu Imam Malik membaca ayat:
“Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia
adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih saying sesame mereka:
kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,
yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu
kuat lalu menjadi besarlah dia dan menjadi tegak lurus di atas pokoknya;
tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnyakarena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mu’min)" [Al-Fath : 29]
Imam Malik kemudian berkata: “barangsiapa marah kepada salah
seorang sahabat nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ia telah terkena ayat
ini.â€[2]
[3].
Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dari Asyhab bin ‘Abdul
Aziz, katanya: “Kami berada di tempat Imam Malik, tiba-tiba ada
seorang dari golongan Alawiyin datang kepada beliau, sementara orang-orang yang
ada di situ sedang mengikuti majlis pengajian Imam Malik. Orang tadi, sambil
berdiri bertanya kepada beliau, “wahai Abu Abdillahâ€
panggilan akrab untuk beliau. Imam Malik kemudian mendekati, padahal beliau itu
tidak pernah menyambut lebih dari menganggukkan kepala, apabila dipanggil
orang. Kemudian orang tadi berkata:
“Saya ingin membuat anda menjadi hujjah (bukti kebenaran) antara
saya dengan Allah, sebab apabila saya akan menghadap Allah nanti, saya akan
ditanya Allah, dan saya akan menjawab: “Malik telah mengatakan hal
itu.â€. Imam Malik lalu berkata: “Baik, silahkan apa yang
hendak anda tanyakan!†Orang tadi brkata: “Siapakah yang
peling mulia sesudah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ?â€
Beliau menjawab: “Abu Bakar.†Orang Alawiyin tadi bertanya
lagi: “Lalu siapa?†Dijawab, “Umarâ€.
“Kemudian siapa lagi?â€,
Tanya orang tadi. Imam Malik menjawab: “Kemudian Khalifah
yang terbunuh secara didzalimi, yaitu Utsman.†Orang tadi lalu berkata:
“Demi Allah, saya tidak akan duduk di sampingmu
selamanyaâ€. “Ya silakan., Anda bebasâ€. Jawab Imam
Malik.[3]
[Disalin
dari kitab I'tiqad Al-A'immah Al-Arba'ah edisi Indonesia Aqidah Imam Empat (Abu
Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad), Bab Aqidah Imam Malik bin Anas Hanifah, oleh
Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan
Besar Saudi Arabia Di Jakarta]
_________
Foote Note
[1]. Al-Hilyah VI/327
[2]. Al-Hilyah, VI/327
[3]. Tartib Al-Madarik, II/44-45
(taken from http://almanhaj.or.id)
----- Original Message -----
From: Mohamad
Shaleh
To: 'Forum
Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Sent: Thursday, September 07, 2006 10:05 AM
Subject:
[ FUPM-EJIP ] Mu'awiyah bin Abi Sufyan was RE: Abizar Al Ghifary
Assalamu’alikum
Rekan-rekan
sekalian, berbicara Mu’awiyah bin Abi Sufyan saya jadi ingat
sejarah kelam islam
setelah
ditinggal Rasullah. Ini adalah sejarah yang tak pernah kita temui dalam
buku-buku diktat
pelajaran
Agama Islam dari SD sampai SMA. Dimulai dari pembunuhan Ustman bin Affan,
pengangkatan
Ali bin Abi Thollib sebagai khalifah, perang jamal yang diikuti oleh Ummul
Mukminin,
sampai
perang shiffin. Dan akibatnya masih kita rasakan sampai sekarang.
Kembali
ke Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dari sumber-sumber yang saya baca
memang ada perbedaan
pendapat
tentangnya. Salah satu pihak mengatakan “x†dan pihak yang
lain mengatakan “yâ€.
Selama
ini saya berusaha untuk mendapatkan referensi-referensi mengenai sejarah islam
( khususnya
sepeninggal
khalifah Ustman bin Affan ke belakang ). Kira-kira adakah rekan-rekan mempunyai
artikel
sejarah ini ? Trus jika ada anak kita atau orang lain bertanya tentang hal ini
kepada kita
bagaimana
kita harus bersikap ?
Wassalam
Mohamad
Shaleh