Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Ini berarti ada hal positifnya juga,dengan tidak diajarkannya sejarah Islam yang menyangkut permasalahan sahabat Nabi disekolah -sekolah. Sehingga tidak memancing umat untuk tidak bersikap / berfikiran yang tidak semestinya pada mereka (sahabat Nabi)
Tapi saya sering mendengar kisah tentang Sa'labah yang berkaitan dengan keengganannya membayar Zakat apakah kisah ini
menjadi pengecualian ? Mohon penjelasannya ustadz...

Syukron

At 10:51 07/09/2006 +0700, Cucun Wahyudi wrote:
 "urn:schemas-microsoft-com:office:office" xmlns:w = "urn:schemas-microsoft-com:office:word" xmlns:st1 = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" xmlns:ns0 = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags">
Wa'alaykum salam warahmatullah.
 
Membahas tentang Shahabat Mua'awiyah bin Abu Sofyan ra
silakan membaca Bahasan di Majalah as Sunnah Edisi 05/X/1427H/2006M (bulan Agustus) dan Edisi 06/X/1427H/2006M (bulan September)
dengan artikel berjudul "Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Mu'awiyah ra dan Pertikaiannya dengan Ali ra" Bagian 01 dan Bagian 02
 
ada pun sikap kita pada para shahabat secara keseluruhan adalah:
 
1. Dalam Kitab " Aqidah Salaf Ashhabul Hadits" oleh Syaikhul Islam Abu Isma'il Ash-Shabuni (373H - 449 H).
 
Pada bab "SIKAP MEREKA (ASHABUL HADITS) TERHADAP PARA SAHABAT"

<a>  Mereka berpendapat untuk menahan diri [untuk membicarakan] dalam perselisihan yang terjadi dikalangan sahabat. Memelihara lisan mereka untuk tidak mengucapkan kata-kata yang berkesan mendiskreditkan dan merendahkan para sahabat.

<b>  Ashabul Hadits berpendapat, seharusnya mencintai mereka dan berwala kepada mereka secara keseluruhan. Demikian juga mereka menganggap wajib untuk memuliakan para istri-istri Rasulullah SAW, radhiallahu'anhunna, mendoakan mereka, mengakui keutamaan mereka dan mengakui juga mereka (istri-istri Nabi) sebagai ibu-ibu kaum muslimin
 
2. dan Juga dalam Kitab " Aqidah ath Thohawiyah" oleh Abu Ja’far At-Thahawi, pada pasal 104 s/d 112 disebutkan yang artinya:
 
<104>. Kita mencintai para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, namun tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antaranya. Tidak juga kita bersikap meremehkan terhadap seorang pun dari mereka. Kita membenci siapa-siapa yang membenci mereka dan siapa-siapa yang menyebutkan mereka dengan kejelekan. Kita pun hanya menyebut mereka dalam kebaikan. Mencintai mereka adalah pengamalan ad-dien (agama), keimanan, dan ihsan. Sementara membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan melampaui batas.

<105>. Kita mengakui kekhalifahan sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang pertama adalah Abu Bakr As-Shiddiq radliyallahu 'anhu sebagai sikap mengutamakan dan mengunggulkan dirinya atas semua umat Islam.

<106>. Kemudian ‘Umar bin Al-Khattab radliyallahu 'anhu.

<107>. Setelah itu ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu 'anhu.

<108>. Kemudian ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu 'anhu.

<109>. Merekalah yang disebut dengan Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun dan para imam yang mendapat petunjuk.

<110>. Sepuluh orang sahabat yang disebut-sebut Nabi dan diberi kabar gembira sebagai penghuni Jannah, kita akui sebagai penghuni Jannah berdasarkan persaksian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan perkataan beliau yang benar. Mereka adalah: Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah [bin ‘Ubaidillah], Az-Zubeir [bin Al-Awwam], Sa’ad [bin Abi Waqqas], Sa’id [bin Zaid], Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah Al-Jarrah --orang tepercaya umat ini-- radliyallahu 'anhum.

<111>. Barangsiapa yang membaguskan ucapannya terhadap para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, istri-istri beliau yang bersih dari segala noda, serta anak cucu beliau yang suci dari segala najis, maka orang itu telah selamat dari kemunafikan.

<112>. Para ‘ulama As-Salaf terdahulu [para sahabat-pent.] dan yang sesudah mereka dari kalangan Tabi’in adalah pelaku kebaikan dan ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul. Mereka semuanya harus disebutkan kebaikannya. Barangsiapa yang menjelek-jelekkan mereka, maka dia tidak berada di atas jalan mereka (para sahabat).
 
3. Pendapat Imam Malik Tentang Sahabat Oleh Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais

[1]. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah al-Anbari, katanya: “Siapa yang merendahkan derajat seorang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau ia merasa tidak senang, maka ia tidak punya hak untuk dilindungi oleh umat Islam.” Kemudian beliau membaca ayat. “Artinya : Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a “Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau menjadikan kebencian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” [Al-Hasyar : 10][1]
Imam Malik kemudian berkata: “barangsiapa marah kepada salah seorang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam maka ia telah terkena ayat ini.”


[2]. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari salah seorang putra az-Zubair, katanya: “Kami berada di tempat Malik. Kemudian orang-orang menyebut-nyebut seseorang yang merendahkan martabat sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Imam Malik membaca ayat:
“Artinya :
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih saying sesame mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan menjadi tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnyakarena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min)" [Al-Fath : 29]
Imam Malik kemudian berkata: “barangsiapa marah kepada salah seorang sahabat nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ia telah terkena ayat ini.”[2]


[3]. Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dari Asyhab bin ‘Abdul Aziz, katanya: “Kami berada di tempat Imam Malik, tiba-tiba ada seorang dari golongan Alawiyin datang kepada beliau, sementara orang-orang yang ada di situ sedang mengikuti majlis pengajian Imam Malik. Orang tadi, sambil berdiri bertanya kepada beliau, “wahai Abu Abdillah” panggilan akrab untuk beliau. Imam Malik kemudian mendekati, padahal beliau itu tidak pernah menyambut lebih dari menganggukkan kepala, apabila dipanggil orang. Kemudian orang tadi berkata:
“Saya ingin membuat anda menjadi hujjah (bukti kebenaran) antara saya dengan Allah, sebab apabila saya akan menghadap Allah nanti, saya akan ditanya Allah, dan saya akan menjawab: “Malik telah mengatakan hal itu.”. Imam Malik lalu berkata: “Baik, silahkan apa yang hendak anda tanyakan!” Orang tadi brkata: “Siapakah yang peling mulia sesudah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ?” Beliau menjawab: “Abu Bakar.” Orang Alawiyin tadi bertanya lagi: “Lalu siapa?” Dijawab, “Umar”. “Kemudian siapa lagi?”,
Tanya orang tadi. Imam Malik menjawab: “Kemudian Khalifah yang terbunuh secara didzalimi, yaitu Utsman.” Orang tadi lalu berkata: “Demi Allah, saya tidak akan duduk di sampingmu selamanya”. “Ya silakan., Anda bebas”. Jawab Imam Malik.[3]


[Disalin dari kitab I'tiqad Al-A'immah Al-Arba'ah edisi Indonesia Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad), Bab Aqidah Imam Malik bin Anas Hanifah, oleh Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Di Jakarta]
_________
Foote Note
[1]. Al-Hilyah VI/327
[2]. Al-Hilyah, VI/327
[3]. Tartib Al-Madarik, II/44-45
(taken from http://almanhaj.or.id)
----- Original Message -----
From: Mohamad Shaleh
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Sent: Thursday, September 07, 2006 10:05 AM
Subject: [ FUPM-EJIP ] Mu'awiyah bin Abi Sufyan was RE: Abizar Al Ghifary

Assalamu’alikum
 
Rekan-rekan sekalian, berbicara Mu’awiyah bin Abi Sufyan saya jadi ingat sejarah kelam islam
setelah ditinggal Rasullah. Ini adalah sejarah yang tak pernah kita temui dalam buku-buku diktat
pelajaran Agama Islam dari SD sampai SMA. Dimulai dari pembunuhan Ustman bin Affan,
pengangkatan Ali bin Abi Thollib sebagai khalifah, perang jamal yang diikuti oleh Ummul Mukminin,
sampai perang shiffin. Dan akibatnya masih kita rasakan sampai sekarang.
 
Kembali ke Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dari sumber-sumber yang saya baca memang ada perbedaan
pendapat tentangnya. Salah satu pihak mengatakan “x” dan pihak yang lain mengatakan “y”.
Selama ini saya berusaha untuk mendapatkan referensi-referensi mengenai sejarah islam ( khususnya
sepeninggal khalifah Ustman bin Affan ke belakang ). Kira-kira adakah rekan-rekan mempunyai
artikel sejarah ini ? Trus jika ada anak kita atau orang lain bertanya tentang hal ini kepada kita
bagaimana kita harus bersikap ?
 
Wassalam
Mohamad Shaleh
 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************