|
Tantangan
Liberalisme Pendidikan di Indonesia
Kamis, 14 September 2006 - 11:05:06 WIB Ada perkembangan di mana , ilmu-ilmu agama dianggap ilmu kelas tiga yang hanya layak dipelajari orang-orang bodoh. Semenetara, ilmu-ilmu eksakta dianggap sebagai ilmu yang benar Oleh: Tiar Anwar Bachtiar Belakangan semakin jelas apa yang tengah merusak tatanan umat Islam di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia, yaitu arus sekularisme dan liberalisme yang dimotori oleh Amerika dan negara-negara Eropa Barat. Gerakan ini dalam ekonomi berwujud "kapitalisme", dalam politik menjelma menjadi "demokrasi" dan "hak asasi manusia", dalam budaya berbentuk "kebebasan berekspresi," dalam pergaulan sosial bernama "individualisme," dan dalam lapangan ilmu pengetahuan berupa "saintisme". Di Indonesia, semua lapangan kehidupan masyarakat tidak ada yang tidak terkena virus yang sangat jahat dan mematikan ini. Lihat saja demokrasi dan hak asasi manusia sudah hamper menjadi tuhan baru para politisi. Kebebasan berekspresi selalu menjadi alat legitimasi munculnya kebudayaan-kebudayaan destruktif seperti pornografi. Individualisme semakin mengental dalam pergaulan masyarakat, bahkan sampai ke desa-desa. Hidup guyub-rukun (kekeluargaan) gaya masyarakat komunal sebagai warisan asli kultur masyarakat Indonesia yang telah menciptakan "harmoni" selama berabad-abad dirusak dengan individualisme. Anggota masyarakat merasa bahwa yang ada hanyalah hak-hak individu mereka sendiri. Sudah tidak popular lagi hidup berkorban untuk sesama. Efek destruktif paling parah terjadi pada pengetahuan masyarakat. Saintisme atau pendewaan pada sains sudah menjadi sesuatu yang lumrah terjadi. Pada tingkat kesadaran masyarakat, kita menyaksikan bahwa masyarakat lebih banyak yang memandang ilmu-ilmu eksakta lebih tinggi nilainya disbanding ilmu-ilmu sosial, apalagi ilmu-ilmu agama. Ilmu-ilmu agama dianggap ilmu kelas tiga yang hanya layak dipelajari orang-orang bodoh di perkampungan. Bahkan yang lebih parah, dalam persepsi masyarakat, ilmu-ilmu eksakta atau ilmu-ilmu sosial saja yang dianggap sebagai ilmu yang benar. Sementara ilmu-ilmu agama hanya sebatas kepercayaan, bukan ilmu seperti halnya ilmu-ilmu lain. Ilmu agama selalu dipertentangkan dengan ilmu-ilmu eksakta dan sosial. Seandainya masyarakat kita bukan masyarakat Muslim, hampir bisa dipastikan bahwa tidak akan pernah ada lagi ilmu-ilmu agama yang diajarkan pada anak-anak seperti yang terjadi di Barat. Beruntung, sekalipun dipandang rendah, masih mendapat perhatian, sekalipun secara paradigmatik, banyak kekeliruan pandangan. Kenapa efek ini disebut paling parah? Pengetahuan adalah dasar yang paling menentukan semua perbuatan manusia. Seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu atau tidak akan sangat bergantung pada pengetahuannya. Pengetahuanlah yang membimbing seseorang berbuat sesuatu. Apapun yang dilakukan oleh seseorang adalah cermin dari pengetahuannya. Perbuatan-perbuatan yang mengarah pada liberalisme tentu berakar pada pengetahuan yang sudah tercemari racun liberalisme. Itulah mengapa bagian ini menjadi sangat penting. Pengetahuan yang cenderung sekular-liberal semacam itu disosialisasikan secara efektif melalui lembaga-lembaga pendidikan yang model dan kurikulumnya diadopsi dari pendidikan peninggalan Belanda yang sekular-liberal. Sejak awal, itulah yang diadopsi oleh pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu, tidak heran bila budaya-budaya sekular mudah berkembang di dalam masyarakat kita. Satu-satunya benteng yang melindungi masyarakat dari pengaruh sekularisme adalah "pesantren." Pesantren adalah model pendidikan asli Indonesia yang diselenggarakan berdasarkan pada cara pandang Islam mengenai pendidikan dan ilmu. Memang dalam kesan masyarakat kita sekarang, pesantren hanya mengajarkan "ilmu-ilmu agama" dalam arti yang sangat sempit. Namun, pada masanya sebelum ilmu pengetahuan Barat-Modern berkembang dan diinstitusionalisasi ke dalam lembaga-lembaga pendidikan a la Barat, pesantren sebenarnya tidak hanya mengembangkan apa yang kita sebut sekarang sebagai "ilmu-ilmu agama". "Ilmu-ilmu alam dan sosial" sesuai dengan perkembangannya waktu itu, juga menjadi kajian bahan kajian. Banyak naskah-naskah sebelum abad ke-20 yang memperlihatkan bagaimana kontribusi ilmuwan-ilmuwan dari pesantren mengembangkan ilmu-ilmu kealaman dan sosial sesuai dengan porsi dan kadar perkembangan ilmu saat itu. Contoh paling sederhana adalah tentang astronomi. Ilmu ini dalam khazanah keilmuwan pesantren termasuk ilmu yang berkembang sangat pesat. Ilmu ini digunakan untuk kepentingan penentuan waktu dan tempat ibadah secara tepat. Untuk kasus-kasus tertentu, ilmu ini juga digunakan untuk kepentingan-kepentingan non-ibadah seperti prakiraan musim bercocok tanam dan sebagainya. Ilmu-ilmu lain seperti musik pun mendapat perhatian yang baik. Selain itu, ilmu kesehatan menduduki porsi yang penting juga. Ilmu-ilmu itu dikembangkan oleh pesantren-pesantren tertentu setelah mengajarkan ilmu-ilmu fardhu 'ain yang harus dikuasai oleh setiap pelajar sebelum menjadi ahli di bidang ilmu tertentu. Yang membedakannya dari ilmu-ilmu alam dan sosial Barat adalah dalam paradigma dan cara pandang terhadap pengetahuan. Sains-Barat berdasarkan paradigma sekular-liberal yang tidak mempercayai agama dan Tuhan, sementara sains yang dikembangkan pesantren didasarkan pada keyakinan akan ke-Esa-an Allah dan supremasi agama. Oleh sebab itu, sains-Barat sulit untuk dikompromikan dengan nalar agama. Selalu saja, sains-Barat melihat agama sebagai mitos dan musuh ilmu pengetahuan. Agama dianggap tidak berguna dan pengetahuan yang dihasilkannya adalah ilusi. Sains-Barat hanya percaya bahwa pengetahuan yang benar adalah yang dihasilkan sains, bukan pengetahuan dari doktrin-doktrin agama. Dalam tradisi Barat sampai hari ini, pengetahuan agama selalu di-exclude (dikecualikan) dari pengetahuan pada umumnya. Mereka hanya akan menempatkannya di seminari-seminari dan sekolah-sekolah khusus yang akan mendidik calon pastor atau pendeta. Sekolah semacam itu tidak dianggap sebagai sekolah yang mengembangkan ilmu pengetahuan. Sementara di sekolah-sekolah pada umumnya, agama sama sekali tidak pernah dibicarakan, apalagi diajarkan secara khsusus. Model pendidikan semacam itu beserta paradigmanya ditiru mentah-mentah dalam pendidikan Indonesia. Seandainya tidak ada usulan dari Menag Wahid Hasyim atas usulan M. Natsir tahun 50-an dahulu, barangkali tidak akan pernah ada pelajaran agama di sekolah-sekolah selain di Pesantren. Sekalipun ada pelajaran agama, kelihatannya hanya formalitas. Paradigma yang digunakan tetap mengikuti paradigma pendidikan Barat sekular. Akhirnya, agama dianggap sebagai pelengkap, bukan yang utama. Pengajaran agama selalu saja menempati nomor paling tidak dihormati dibandingkan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Akhirnya, pandangan dikotomis antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama tidak bisa dihindarkan lagi. Padangan sekular semcam itu sudah merasuk sangat dalam pada kesadaran pengetahuan masyarakat kita. Kalaupun ada sekolah-sekolah agama yang diselenggarakan pemerintah, misinya hanya untuk mencetak petugas-petugas di departemen yang ada kaitannya dengan urusan keagamaan. Agama tidak menjadi paradigma keilmuan dan penyelenggaraan lembaga-lembaga yang mengajarkan ilmu kepada masyarakat luas seperti sekolah-sekolah dan universitas-universitas. Pendidikan asli pesantren yang mewarisi paradigma anti-sekular pun kelihatan tengah digiring ke arah sana. Banyak pesantren yang mulai kehilangan identitasnya dan lupa akan misi awalnya. Banyak pesantren yang telah berubah menjadi hamba pasar dan ikut menyuburkan berkembangnya pemikiran-pemikiran sekular-liberal kepada umat Islam. Kita akan memotret masalah ini secara lebih dalam pada pembahsan yang akan datang. *) Penulis adalah staf pengajar ma'had aliy Baiturrahman, Garut |
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
