"Tuhan Kita: Allah!"
Oleh: Adian Husaini, MA

Senin, 18 September 2006 - 10:23:12 WIB
Salah satu pandangan yang senantiasa dilempar oleh kaum Pluralis Agama dalam 
'mengelirukan' pemikiran kaum Muslim, adalah mengatakan, "semua agama adalah 
jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang satu".

Mereka mengatakan, soal nama "Yang Satu" itu tidaklah penting. Yang Satu itu 
dapat dinamai Allah, God, Lord, Yahweh, The Real, The Eternal One, dan 
sebagainya. Bagi mereka, nama Tuhan tidak penting. Ada yang menulis: "Dengan 
nama Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Penyayang, Tuhan 
Segala agama."

Kita ingat, dulu, ada cendekiawan terkenal yang mengartikan kalimat syahadat 
dengan:  "Tidak ada tuhan (dengan t kecil), kecuali Tuhan (dengan T besar).

Tradisi yang tidak tahu dan tidak mempersoalkan nama Tuhan bisa kita 
telusuri dari tradisi Yahudi. Kaum Yahudi, hingga kini, masih berspekulasi 
tentang nama Tuhan mereka.

Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan 
pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah 
Yahweh. The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan 
'Yahweh' sebagai "The God of Judaism as the 'tetragrammaton YHWH, may have 
been pronounced. By orthodox and many other Jews, God's name is never 
articulated, least of all in the Jewish liturgy."

Karena tidak memiliki tradisi sanad yang sampai kepada Nabi Musa a.s. maka 
kaum Yahudi tidak dapat membaca dengan pasti empat huruf "YHWH". Mereka 
hanya dapat menduga-duga, empat huruf konsonan itu dulunya dibaca Yahweh. 
Karena itu, kaum Yahudi Ortodoks tidak mau membaca empat huruf mati 
tersebut, dan jika ketemu dengan empat konsonan tersebut, mereka membacanya 
dengan Adonai (Tuhan).

Spekulasi Yahudi tentang nama Tuhan ini kemudian berdampak pada konsepsi 
Kristen tentang "nama Tuhan" yang sangat beragam, sesuai dengan tradisi dan 
budaya setempat. Di Mesir dan kawasan Timur Tengah lainnya, kaum Kristen 
menyebut nama Tuhan mereka dengan lafaz "Alloh",  sama dengan orang Islam; 
di Indonesia mereka melafazkan nama Tuhannya menjadi "Allah"; dan di Barat 
kaum Kristen menyebut Tuhan mereka dengan "God" atau "Lord".

Bagi orang Kristen, "Allah" bukanlah nama diri, seperti dalam konsep Islam. 
Tetapi, bagi mereka, "Allah" adalah sebutan untuk "Tuhan itu" (al-ilah). 
Jadi, bagi mereka, tidak ada masalah, apakah Tuhan disebut God, Lord, Allah, 
atau Yahweh. Yang penting, sebutan itu menunjuk kepada "Tuhan itu". Ini 
tentu berbeda dengan konsep Islam.

Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, muncul kelompok-kelompok 
Kristen yang menolak penggunaan nama "Allah" untuk Tuhan mereka dan 
menggantinya dengan kata "Yahwe". Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang 
menamakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM)  yang 
melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. 
Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). 
Kelompok ini mengatakan: "Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi 
bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.''

Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan 
Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000.  Kitab Bibel versi 
BYH ini mengganti kata "Allah" menjadi "Eloim", kata "TUHAN" diganti menjadi 
"YAHWE"; kata "Yesus" diganti dengan "Yesua", dan "Yesus Kristus" diubah 
menjadi "Yesua Hamasiah".

Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya "Jaringan 
Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh" yang menerbitkan Bibel sendiri dengan 
nama "Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini".  Kelompok ini menegaskan, 
"Akhirnya nama "Allah" tidak dapat dipertahankan lagi."  (Tentang 
kontroversi penggunaan nama Allah dalam Kristen, bisa dilihat dalam 
buku-buku I.J. Setyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 
2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005); 
juga Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, 
cetakan ke-3).

Itulah tradisi Yahudi-Kristen dalam soal penyebutan nama Tuhan. Sayangnya, 
oleh sebagian kaum Muslim atau orientalis Barat, tradisi Yahudi dan Kristen 
ini kemudian dibawa ke dalam Islam. Pada berbagai terjemahan Al-Quran dalam 
bahasa Inggris, kita menemukan tindakan yang tidak tepat, yaitu 
menerjemahkan semua lafaz Allah dalam Al-Quran menjadi "God". Dalam konsep 
Islam,  Allah adalah nama diri (ismul 'alam/proper name)dari Dzat Yang Maha 
Kuasa.

Maka, seharusnya, lafaz  "Allah" dalam Al-Quran tidak diterjemahkan ke dalam 
sebutan lain, baik diterjemahkan dengan "Tuhan", "God", atau "Lord".

Beberapa terjemahan Al-Quran bahasa Inggris telah menerjemahkan lafaz Allah 
menjadi God. Misalnya, Abdullah Yusuf Ali - dalam The Holy Qur'an --  
menerjemahkan "Bismillah" dengan "In the name of God".

Begitu juga, "Alhamdulillah" diterjemahkan dengan "Praise be to God", dan 
"Qul Huwallahu ahad" diterjemahkan dengan "Say: He is God, the One and 
Only". Kasus yang sama - penerjemahan nama Allah menjadi God - juga bisa 
dilihat dalam Terjemah al-Quran bahasa Inggris yang dilakukan oleh J.M.

Rodwell (terbitan J.M. Dent Orion Publishing Group, London, 2002. Terbit 
pertama oleh Everyman tahun 1909). Harusnya, kata Allah dalam al-Quran tidak 
diterjemahkan, karena "Allah" adalah nama. Seperti halnya kita tidak boleh 
menerjemahkan kata "President Bush" dengan "Presiden semak", atau nama Menlu 
AS "Rice" dengan "Menteri Nasi".

Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sesuai dengan konsep Pandangan 
Hidup Islam (Islamic worldview) yang bersifat otentik dan final, maka konsep 
Islam tentang Tuhan, juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep 
Tuhan dalam  Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam Al-Quran yang juga 
bersifat otentik dan final.

Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan 
konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam 
tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat 
modern atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur. (Syed Muhammad Naquib 
al-Attas, Prolegomena to the Metaphysic of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 
1995).

Bait pertama dalam Aqidah Thahawiyah yang ditulis oleh Abu Ja'far 
ath-Thahawi (239-321H), dan disandarkan pada Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, 
Imam Syaibani, menyatakan: "Naquulu fii tawqiidillaahi mu'taqidiina - 
bitawfiqillaahi: Innallaaha waahidun laa syariikalahu."  Dalam Kitab 
Aqidatul Awam - yang biasa diajarkan di madrasah-madrasah Ibtidaiyah - 
ditulis bait pertama kitab ini: "Abda'u bismillaahi wa-arrahmaani-wa 
bi-arahiimi daa'imil ihsani." Ayat pertama dalam al-Quran juga  berbunyi 
"Bismillahirrahmaanirrahiimi", dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi 
Maha Penyayang.

Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz  'Allah' dibaca dengan 
bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi 
harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana 
bacaan-bacaan ayat-ayat dalam Al-Quran.

Dengan adanya ilmul qiraat yang berdasarkan pada sanad - yang sampai pada 
Rasulullah saw - maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam 
penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama 
Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah.

Dengan demikian, "nama Tuhan", yakni "Allah" juga bersifat otentik dan 
final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai 
kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan 'spekulasi filosofis' 
untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh 
Allah SWT - melalui Al-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh 
Nabi Muhammad saw.

Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang 
Maha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah 
dan nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, sehingga tidak 
memberikan kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal dalam masalah ini. 
Tuhan orang Islam adalah jelas, yakni Allah, yang SATU, tidak beranak dan 
tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan Dia. (QS 112). Dan syahadat Islam pun begitu jelas: "La ilaha 
illallah, Muhammadur Rasulullah" -- Tidak ada tuhan selain Allah, dan 
Muhammad adalah utusan Allah". Syahadat Islam ini tidak boleh diterjemahkan 
dengan "Tidak ada tuhan kecuali Tuhan dan Yang Terpuji adalah utusan Allah".

Kaum Muslim di seluruh dunia - dengan latar belakang budaya dan bahasa yang 
berbeda - juga menyebut dan mengucapkan nama Allah dengan cara yang sama. 
Karena itu, umat Islam praktis tidak mengalami perbedaan yang mendasar dalam 
masalah konsep 'Tuhan'. Karen Armstrong menulis dalam bukunya:

"Al-Quran sangat mewaspadai spekulasi teologis, mengesampingkannya sebagai 
zhanna, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui atau 
dibuktikan oleh siapa pun. Doktrin Kristen tentang Inkarnasi dan Trinitas 
tampaknya merupakan contoh pertama zhanna dan tidak mengherankan jika umat 
Muslim memandang ajaran-ajaran itu sebagai penghujatan." (Karen Armstrong, 
Sejarah Tuhan (Terj), 2001), hal. 199-200).

Bagi kaum Pluralis Agama, siapa pun nama Tuhan tidak menjadi masalah, karena 
biasanya mereka memandang, agama adalah bagian dari ekspresi budaya manusia 
yang sifatnya relatif. Karena itu, tidak manjadi masalah, apakah Tuhan 
disebut Allah, God, Lord, Yahweh, dan sebagainya. Mereka juga mengatakan, 
bahwa semua ritual dalam agama adalah menuju Tuhan yang satu, siapa pun 
nama-Nya. Nurcholish Madjid, misalnya, menyatakan, bahwa:

"...  setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan 
yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu 
adalah jalan dari berbagai Agama." (Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan, 
(1999), hal. xix).

Seorang Pluralis pendatang baru, juga menulis dalam buku terbarunya, "Semua 
agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha, Nasrani, Yahudi, 
kembalinya kepada Allah."

Pandangan yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, 
yaitu Allah, adalah pandangan yang keliru. Hingga kini, sebagaimana 
dipaparkan sebelumnya, di kalangan Kristen saja, muncul perdebatan sengit 
tentang penggunaan lafal "Allah" sebagai nama Tuhan. Sebagaimana kaum 
Yahudi, kaum Kristen sekarang juga tidak memiliki 'nama Tuhan' secara 
khusus. Kaum Hindu, Budha, dan pemeluk agama-agama lain juga tidak mau 
menggunakan lafaz "Allah" sebagai nama Tuhan mereka.

Kaum musyrik dan Kristen Arab memang menyebut nama Tuhan mereka dengan 
"Allah" sama dengan orang Islam.  Nama itu juga kemudian digunakan oleh 
Al-Quran. (Al-Quran memang menyebutkan, jika kaum musyrik Arab ditanya 
tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka akan menyebut 
"Allah". (Lihat QS 29:61, 43:87).

Tetapi, perlu dicatat, bahwa Al-Quran menggunakan kata  yang sama namun 
dengan konsep yang berbeda. Bagi kaum musyrik Arab, Allah adalah salah satu 
dari Tuhan mereka, disamping tuhan Lata, Uza, Hubal, dan sebagainya. Karen 
Armstrong menyebut, ketika Islam datang,  'Allah' dianggap sebagai 'Tuhan 
Tertinggi dala keyakinan Arab kuno'. (Lihat, Karen Armstrong, op cit, hal. 
190).

Karena itu, dalam pandangan Islam, mereka melakukan tindakan syirik terhadap 
Allah. Sama dengan kaum Kristen,  yang dalam pandangan Islam, juga telah 
melakukan tindakan syirik dengan mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan. Karena 
itulah, Nabi Muhammad saw - sesuai dengan ketentuan QS al-Kafirun - menolak 
ajakan kaum musyrik Quraisy untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan 
masing-masing secara bergantian.

Jadi, tidak bisa dikatakan, bahwa orang Islam menyembah Tuhan yang sama 
dengan kaum kafir Quraisy. Jika menyembah Tuhan yang sama, tentulah Nabi 
Muhammad saw akan memenuhi ajakan kafir Quraisy.

"Katakan, hai orang-orang kafir!  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu 
sembah. Dan kamu bukan  penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak 
pernah menjadi peyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) 
menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah 
agamaku." (QS 109).

QS al-Kafirun ini menjadi dalil bahwa karena konsep Tuhan yang berbeda - 
meskipun namanya sama, yaitu Allah --  dan cara beribadah yang tidak sama 
pula, maka tidak bisa  dikatakan bahwa kaum Muslim dan kaum kafir Quraisy 
menyambah Tuhan yang sama. Itu juga menunjukkan, bahwa konsep Tuhan kaum 
Quraisy  dipandang salah oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga cara (jalan) 
penyembahan kepada Allah. Karena itulah, nabi Muhammad dilarang mengikuti 
ajakan kaum kafir Quraisy untuk secara bergantian menyembah Tuhan 
masing-masing.

Sebagai Muslim, kita meyakini, Islam adalah agama yang benar. Tuhan kita 
Allah, yang nama-Nya  diperkenalkan langsung dalam Al-Quran. Tidaklah patut 
kita membuat teori-teori yang berasal dari spekulasi akal, dengan 
menyama-nyamakan Allah dengan yang lain, atau menserikatkan Allah dengan 
yang lain, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Pluralis 
Agama. Wallahu a'lam. (Bojonegoro, 15 September 2006/www.hidayatullah.com ).

Catatan Akhir Pekan adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan 
www.hidayatullah.com 


********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke