Tadabbur 01 : Agar Ramadhan Penuh Rahmat, Berkah dan
Bermakna Rabu, 20 September 06 -
oleh : Redaksi
PKS-Kab.Bekasi OnLine : Hari
ini kita memasuki bulan suci Ramadhan. Banyak hikmah yang bisa kita petik di
bulan suci dan mulia ini, yang semuanya mengarah pada peningkatan makna
kehidupan, peningkatan nilai diri, maqam spiritual, dan pembeningan jiwa dan
nurani.
Kewajiban puasa ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi
keagamaan manusia. Puasa telah Allah wajibkan kepada kaum beragama sebelum
datangnya Nabi Muhammad Saw. Ini jelas terlihat dalam firman Allah berikut,
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa " (Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan tujuan final dari disyariatkannya puasa, yakni
tergapainya takwa. Namun, perlu diingat bahwa ketakwaan yang Allah janjikan itu
bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma diberikan kepada siapa saja yang
berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari rahim Ramadhan adalah
mereka yang lulus dalam ujian-ujian yang berlangsung pada bulan diklat itu.
Tak heran kiranya jika Rasulullah bersabda, Banyak orang yang berpuasa
yang tidak mendapatkn apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus " (HR.
An-Nasai dan Ibnu Majah).
Mereka yang berpuasa, namun tidak melakukan
pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan kesempatan untuk meraih
kandungan hakiki puasa itu. Lalu apa yang mesti kita lakukan?
Beberapa hal berikut ini mungkin akan bisa membantu menjadikan puasa
kita penuh rahmah, berkah, dan bermakna :
Pertama, mempersiapkan
persepsi yang benar tentang Ramadhan.
Bergairah dan tidaknya
seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas, sangat korelatif dengan sejauh mana
persepsi yang dia miliki tentang pekerjaan itu. Hal ini juga bisa menimpa kita,
saat kita tidak memiliki persepsi yang bernar tentang puasa.
Oleh karena
itulah, setiap kali Ramadhan menjelang Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya
untuk memberikan persepsi yang benar tentang Ramadhan itu. Rasulullah bersabda,
Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah
mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan
mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan
membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah
hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yang
tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini " (HR. Ath-Thabrani).
Ini
Rasulullah sampaikan agar para sahabat dan tentu saja kita semua bersiap-siap
menyambut kedatangan bulan suci ini dengan hati berbunga. Maka menurut
Rasulullah, sungguh tidak beruntung manusia yang melewatkan Ramadhan ini dengan
sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna apa-apa.
Persepsi yang
benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam kesia-siaan di bulan
Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan ampunan, maka kita akan meminta
ampunan pada Sang Maha Pengampun. Jika kita tahu bulan ini bertabur rahmat, kita
akan berlomba dengan antusias untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka, kita
akan berlari kencang untuk memasukinya. Jika pintu neraka ditutup kita tidak
akan mau mendekatinya sehingga dia akan menganga.
Kedua, membekali
diri dengan ilmu yang cukup dan memadai.
Untuk memasuki puasa, kita
harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa itu. Tentang rukun yang wajib kita
lakukan, syarat-syaratnya, hal yang boleh dan membatalkan, dan apa saja yang
dianjurkan.
Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa
menjadi panduan pada saat kita puasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan
kita untuk meningkatkan kwalitas ketakwaan kita serta akan mampu melahirkan
puasa yang berbobot dan berisi.
Sebagaimana yang Rasulullah sabdakan,
Barang siapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan
apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi pelebur dosa yang
dilakukan sebelumnya " (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).
Agar puasa kita
bertabur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, sejak awal kita harus siap mengisi
puasa dari dimensi lahir dan batinnya. Puasa merupakan sekolah moralitas dan
etika, tempat berlatih orang-orang mukmin. Latihan bertarung membekap hawa
nafsunya, berlatih memompa kesabarannya, berlatih mengokohkan sikap amanah.
Berlatih meningkatkan semangat baja dan kemauan. Berlatih menjernihkan otak dan
akal pikiran.
Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam. Sebab, perut
yang selalu penuh makanan akan mematikan pikiran, meluberkan hikmah, dan
meloyokan anggota badan. Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan
tepat waktu, melahirkan perasaan kesatuan kaum muslimin, menumbuhkan rasa kasing
sayang, solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.
Tak kalah
pentingnya yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi batinnya. Dimana
kita mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk tidak melakukan hal-hal
yang Allah murkai.
Dimensi ini akan dicapai, kala mata kita puasa untuk
tidak melihat hal-hal yang haram, telinga tidak untuk menguping hal-hal yang
melalaikan kita dari Allah, mulut kita puasa untuk tidak mengatakan perkataan
dusta dan sia-sia. Kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat bertabur maksiat
dan kekejian, tangan kita tidak pernah menyentuh harta haram.
Pikiran
kita bersih dari sesuatu yang menggelapkan hati. Dalam pikiran dan hati tidak
bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada sesama, angkara, rakus dan
tamak serta keangkuhan.
Sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdullah berkata,
Jika kamu berpuasa, maka hendaknya puasa pula pendengar dan lisanmu dari dusta
dan sosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendaknya kamu bersikap
tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu (saat
tidak berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa.
" Barang siapa yang
tidak meninggalkan perkataan dusta dan dia mengamalkannya maka Allah tidak
menghajatkan dari orang itu untuk tidak makan dan tidak minum " (HR. Bukhari dan
Ahmad dan lainnya)
Mari kita jadikan puasa ini sebagai langkah awal
untuk membangun gugusan amal ke depan.
Sumber : 30 Tadabur Ramadhan -
Menjadi Hamba Rabbani - IKADI
|