Rabu, 20 September 2006  17:27:00
Al-Azhar Tolak Kunjungan Paus Benediktus XVI ke Mesir

Kairo-RoL -- Syeikh Agung Al-Azhar, Prof Dr Mohamed Sayed Tantawi, menolak rencana kunjungan Pemimpin Tahta Suci Vatikan Paus Benediktus XVI ke Mesir.

"Belum saatnya Paus Benediktus XVI melakukan kunjungan ke Mesir di tengah suasana kemarahan umat Islam atas pernyataan Paus yang melecehkan Islam," ujar Syeikh Al-Azhar seperti dikutip media massa setempat, Rabu (20/9).

Pernyataan Syeikh Al-Azhar itu merujuk pada pernyataan penyesalan dari Paus Benediktus yang disampaikannya saat misa hari Ahad (17/9), menyusul kemarahan umat Islam di seluruh dunia.

Paus Benediktus dalam misa di kediaman resmi musim panasnya dekat Roma menyatakan bahwa dirinya menyesalkan kemarahan umat Islam akibat kesalahan penafsiran atas pidatonya di Jerman pekan silam.

Al-Azhar, yang telah menandatangani Nota Persepahaman (MoU/Memorandum of Understanding) dengan Vatikan di masa Paus John Paulus II menyangkut kesinambungan dialog Islam-Katolik, juga menyatakan pembekuan sementara kontak-kontak dengan Tahta Suci Vatikan.

Sebelumnya, pada Selasa (19/9), Duta Besar Vatikan di Kairo dan beberapa pimpinan Gereja Katolik di Mesir melakukan pertemuan dengan Syeikh Agung Al-Azhar untuk menyampaikan rencana kunjungan Paus Benediktus ke Mesir tersebut.

Menurut suratkabar Mesir Al-Ahram, Paus Benediktus sebelumnya merencanakan dalam kunjungan ke Mesir itu ia akan menggunakan mimbar Al-Azhar untuk menyampaikan sikap sejatinya, yakni ingin menjalin persaudaraan lebih erat dengan umat Islam.

Benediktus merencanakan akan melakukan kunjungan ke Mesir setelah lawatannya ke Turki pada November depan.

Di mata Syeikh Tantawi, pernyataan penyesalan dari Paus Benediktus atas kuliahnya di Jerman yang membangkitkan amarah umat Islam di seluruh dunia kerena dinilai melecehkan Nabi Muhammad dan Islam, belum cukup.

"Paus sepatutnya dengan bahasa yang jelas secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada umat Islam atas kesalahan mengutip kalimat kedengkian dari seorang Kaisar di Abad Tengah yang anti-Islam," ujarnya sembari menegaskan, "Jadi, tidak cukup Paus hanya mengutarakan penyesalannya atas reaksi umat Islam, dan tanpa menarik pernyataannya."

Kemarahan umat Islam itu bermula dari kuliah umum Paus Benediktus XVI di Universitas Regensburg, Bavaria, Jerman, Selasa (12/9) pekan lalu. Paus menelaah perbedaan Islam dan Kristen secara historis dan filosofis, dan hubungan antara kekerasan dan agama.

Paus Benediktus XVI kemudian secara implisit menyebutkan keterkaitan Islam dengan kekerasan, khususnya dengan jihad dan perang suci.


Paus juga mengutip pernyataan Kaisar Romawi Timur, Bizantium, Manuel II Palaeologus (1341-1391) saat berdialog dengan seorang Persia terpelajar yang menyatakan bahwa inovasi yang diperkenalkan oleh Nabi Muhammad adalah kejahatan dan tidak berperikemanusian.

"Tunjukkan kepadaku ajaran baru yang dibawa Muhammad, dan Anda bakal menemukan kejahatan dan perbuatan yang tidak berperikemanusiaan, sebagaimana perintahnya menyebarkan ajaran itu dengan pedang," ujar Paus mengutip sang Kaisar.

Kaisar Manuel II menyatakan hal itu di saat ia sedang gusar akibat kekaisarannya mulai melemah di tengah menguatnya gelombang Islam, di mana Usmaniah (Ottoman) telah mengusai sebagian besar wilayah kekuasaan Kristen Romawi Timur, Bizantium (kini Turki).

Di Mesir, unjuk rasa besar-besaran selama beberapa hari dan kemarahan memuncak usai shalat Jumat (15/9) di berbagai mesjid di seantero Mesir yang mendesak agar Mesir menarik duta besarnya dari Vatikan.

Menteri Luar Negeri Mesir, Ahmed Aboul Gheit, kemudian memanggil Dubes Vatikan untuk Mesir guna menyampaikan keprihatinan Pemerintah dan Rakyat Mesir atas pernyataan Paus tersebut.

Senada dengan Syeikh Tantawi, pemuka masyarakat Libya, Muhammad Khadafi, juga menyatakan tidak cukup hanya sekadar pernyataan penyesalan dari Paus. Putra sulung Presiden Muammar Khadafi itu, bahkan meminta Paus untuk memeluk agama Islam.

"Pernyataan penyesalan dari Paus itu tidak ada manfaatnya.
Seharusnya Paus Benediktus itu memeluk agama Islam saja untuk menebus kesalahannya," kata Muhammad Khadafi, seperti dikutip Al-Hayat, Rabu.

Reaksi paling keras ditunjukkan oleh pemuka Islam Somalia, Sheikh Abubakar Hassan Malin, yang menghalalkan darah bagi Paus.

Kendati demikian, Pemerintah Turki menyatakan akan tetap menyambut kunjungan Paus Benediktus ke Istambul pada November mendatang, meski memrihatinkan pernyataan Paus. antara/is

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke