Tadabbur 21 : Pembinaan Kualitas Remaja
Di Bulan Puasa Rabu, 18 Oktober
06 - oleh : Redaksi
Remaja: Periode Kekuatan dan
Kelabilan
Ibnu Katsir, tatkala menafsirkan ayat: Allah menciptakan
kamu dari kelemahan, kemudian menjadikan kuat setelah masa lemah, lalu
menjadikan lemah kembali dan beruban, Dia menciptakan sehendak-Nya, Dia Maha
Mengetahui lagi Maha Kuasa (Ar-Ruum: 54), menjelaskan bahwa yang dimaksud masa
kuat dalam ayat itu adalah periode remaja (Adolescence) dan dewasa (Adulthood).
Dari sisi fisiologis dan psikologis, penulis memperkirakan masa kuat
itu berada pada fase remaja akhir (remaja paripurna, usia 14-21 tahun atau 15-22
tahun) dan masa dewasa (21-30 tahun). Perkiraan penulis ini didasarkan pada
realitas remaja salaf yang pada masanya mampu menunjukkan kualitas kemampuannya
dalam berbagai bidang. Sebagai misal, Usamah bin Zaid di usianya yang baru 17
tahun diberi amanah sebagai panglima perang dalam peristiwa Tabuk melawan
Romawi.
Muadz bin Jabal saat diambil sumpah sebagai hakim agung, usianya
masih 18 tahun. Meski diusianya yang masih belasan tahun, Salim Maula Abu
Hudzaifah diakui Umar sebagai seorang kandidat pemimpin handal, sehingga
Khalifah Umar bin Khattab mengatakan: Kalau Salim masih hidup, maka dialah yang
layak menjadi penggantiku. Begitu pula dengan Abu Ubaidah, diusianya yang masih
relatif muda dikenal sebagai ahli manajemen dan ahli strategi perang besar yang
pernah terjadi dalam sejarah keemasan Islam periode awal.
Jauh
sebelumnya, sejarah juga membuktikan bahwa perjuangan Islam tidak luput dari
peran kaum muda. Para Nabi, sebut saja Nabi Daud As, Nabi Yusuf As, Nabi Ibrahim
As, Nabi Ismail As, Nabi Isa As dan Nabi Muhammad sendiri adalah dari kalangan
muda. Selain itu, Al-Quran mengabadikan kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua),
kisah Ashabul Ukhdud, dan kisah Hawariyyun (pengikut Nabi Isa As).
Semuanya adalah orang-orang muda yang telah menunjukkan kekuatannya
seperti yang dituturkan Allah dalam surah Ruum ayat 54 di atas. Kekuatan yang
menurut Sayyid Quthb bukan saja ditunjukkan dari dimensi fisologis, tetapi
psikologis (Fi Zhilal al-Quran 5/2776), yang dalam terminologi psikologi
dirumuskan usia mental (mental age) mereka jauh lebih dewasa dari usia kalender
(calendar age) mereka.
Zakiah Drajat (Kesehatan Mental, 1988/104)
mengqiaskan, bahwa masa remaja merupakan jembatan penghubung yang membentang
antara masa bergantung pada orangtua (masa anak-anak) dan masa mandiri,
bertanggungjawab, memiliki prinsip, dan berfikir matang (masa dewasa).
Jembatan itu ditempuh kurang lebih selama 7 tahun. Perbedaan waktu yang cukup
panjang itu tidaklah dilalui dengan stabil, tetapi mengalami pancaroba
(pubertas).
Masa remaja merupakan ujung dari masa anak-anak. Kemampuan
remaja melalui jembatan pancaroba itu ditentukan oleh rangkaian pendidikan di
masa anak-anak. Bagaimana jadinya di masa dewasa, sangat ditentukan dari
kemampuan ia menempuh masa 7 tahun pancaroba itu.
Oleh karena itulah,
Islam memerintahkan para orangtua menyelenggarakan pendidikan anak sejak dini
sebagai pembentukkan fondasi karakter kepribadian Islami yang kokoh. Sehingga,
saat ia menempuh masa pancaroba, anak tetap pada jati diri keislamannya.
Pertumbuhan fisik, intelektual, dan emosi pada masa remaja berlangsung
sangat cepat. Remaja tumbuh menjadi sosok yang kuat, wawasan keilmuannya
bertambah luas dan dalam, sehingga tumbuh pula sebagi sosok yang kritis.
Sementara, dimensi emosinya masih belum stabil, dimana keinginannya lebih
menggebu ketimbang pertimbangan rasionya. Sehingga, ia berkembang pula menjadi
sosok pemberontak terhadap realitas.
Maka, tidak dimungkinkan lagi
para orangtua menganggap ia sebagai anak-anak yang masih berusia 8 atau 10
tahun. Atau sebaliknya, dengan melihat tubuh fisiknya yang besar, para orang tua
memperlakukannya sebagai orang dewasa yang semuanya mampu dilakukan secara
mandiri dengan kemampuan berfikir matang dan pengalaman banyak dengan emosi yang
stabil.
Keliru dalam mendidik remaja, akan dapat berakibat fatal dalam
perkembangan mental, intelektual, dan spiritualnya. Sebagaimana hal tersebut
terjadi pada para ABG bangsa ini: konsumeris, materialistis, hedonis, dan
mengalami penyimpangan perilaku seperti madat, narkoba, penyimpangan seksual,
tawuran, dan penyimpangan psikis serta sosial lainnya.
Remaja :
Antara Generasi Penerus dan Generasi Terakhir
Masa remaja bisa
berujung pada masa kedewasaan yang berkarakter al-abdu ash-shalih al-mushlih
(hamba yang shalih secara individu dan manjadi penggerak perubahan positif dalam
masyarakatnya) atau pemuda yang salah lagi lemah. Salah aqidah dan
ibadahnya, lemah fisik, mental, dan kemampuannya.
Jangan sampai
generasi muslim bangsa ini seperti generasi terakhir ummat sebelum dimusnahkan
dengan berbagai bencana. Allah swt. berfirman,
Telah pulang yang taat
dan digantikan oleh generasi baru, yang hanya menyia-nyiakan shalatnya, serta
menurutkan kehendak syahwatnya, memperluas masyarakat perzinaan. Mereka akan
menemui bermacam-macam bahaya dan bencana (Maryam : 59).
Hakikat Islam
adalah perbaikan dan penyempurnaan akhlak. Indentitas ummat Islam adalah
akhlaknya. Abul Ala Al-Maududi mengatakan, musnahnya sebuah masyarakat atau
bangsa bila telah lenyap indentitas kebangsaannya atau hancur melebur kedalam
indentitas bangsa yang lain.
Allah swt. menegaskan bahwa musnahnya
bangsa-bangsa yang pernah mentas di panggung sejarah, pangkal musababnya adalah
rusaknya akhlak sebagi akibat mendustakan agama, bukan oleh sebab ekonomi atau
lemah angkatan bersenjatanya, seperti ditegaskan Allah swt.,
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah (Al-Quran
dan Terjemah Departeman Agama, memberi catatan kaki : yang dimaksud
sunnah-sunnah Allah disini ialah hukuman-hukuman Allah yang berupa malapetaka,
bencana, yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan rasul). Karena itu
berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang
yang mendustakan (rasul-rasul) (Ali Imron: 137).
Ahli hikmah
mengatakan, Umat-umat ini akan berdiri tegak dengan akhlak mulia, jika tidak
ada akhlak (tidak bermoral) maka umat itu akan punah.
Puasa: Teknik
Pengembangan Kualitas Remaja
Puasa sesungguhnya merupakan salah satu
teknik pengembangan pribadi muslim, baik dari sisi fisik maupun psikis. Terutama
dari sisi kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Bagi remaja yang
lazimnya berkarakter intelektuaitasnya tengah mengalami perkembangan pesat,
kritis, tetapi dari sisi emosi labil dan dalam proses pencarian diri, maka puasa
merupakan teknik penyeimbang dari gejolak jiwa remajanya itu.
Puasa akan
meredam sisi negatif kecenderungannya dan mengoptimalkan potensi serta kemampuan
positifnya. Puasa mengembangkan sikap ihsan dan sabar yang sesuai dengan
pilar-pilar SQ dan EQ. Bahkan ihsan dan sabar merupakan pintu masuk pada
pengembangan SQ dan EQ.
SQ ditandai dengan kemampuan merasakan kehadiran
Tuhan yang pada gilirannya berimplikasi pada ketenangan jiwa. Kehadiran Allah
swt. hanya akan dapat dirasakan bila hati bersih dari aneka kotoran dan
penyakit. Puasa adalah teknik penyucian jiwa dari kotoran dan penyakit hati.
Penyakit hati, seperti keangkuhan, dengki, berambisi pada posisi tertentu dan
riya merupakan sumber keresahan jiwa (stress).
Penyakit-penyakit hati
itu akan tumbuh subur pada masa remaja yang mengalami fluktuasi gejolak jiwa
akibat rasionya mempertanyakan kembali konsep agama dan Tuhan, ambisinya yang
melampui pertimbangan akal sehatnya, dan kebutuhan pada pengakuan sosial yang
acapkali menampakkan dirinya pada tataran aksesoris ketimbang esensi
kemampuannya mengelola hidup secara mandiri. Melalui puasa, remaja dilatih
ikhlash dan rendah hati, yang tercermin dari ucapan dan perilakunya lebih
berorientasi pada obyektifitas ajaran Allah swt.
EQ ditandai dengan
kemampuan mengelola emosi. Sedangkan sabar adalah kata lain dari kemampuan
mengendalikan emosi. Dalam sikap sabar terkandung 4C, yaitu:
Pertama
: Commitment, yaitu niat atau tekad yang menghunjam dalam kalbu untuk
mencapai cita. Komitmen ini pula yang menentukan maju atau mundurnya usaha
seseorang. Dengan komitmen yang tinggi remaja tidak akan pernah putus asa.
Komitmen ini diperlukan remaja yang seringkali melakukan sesuatu tanpa orientasi
yang jelas.
Kedua : Consistence, yaitu satu padunya isi hati dan
fikiran dengan ucapan dan tindakan. Kecenderungan remaja cepat merubah arah
tujuan hidupnya karena labilnya emosi yang kemudian mempengaruhi keputusannya,
hanya akan berakhir pada kehampaan dan penyesalan. Dengan shibghoh puasa, remaja
dilatih memiliki sikap sabar yang salah satunya berdimensi konsisten dengan
tujuan esensial dan tidak pernah menggeser arah untuk tujuan yang temporer.
Ketiga : Consequence, yaitu siap dan sabar menanggung risiko.
Remaja sangat membutuhkan pengakuan bukan sekedar eksistensinya, tetapi juga
kemampuannya dalam memilih dan melakukan sesuatu dengan bertanggungjawab. Ibadah
puasa akan memperkokoh dorongan alamiahnya, berani, dan sabar menanggung risiko.
Ia terlatih tidak akan berhenti di tengah jalan oleh karena ia gagal, melainkan
segera bangkit meneruskan perjalanan yang belum usai.
Keempat :
Continues, yaitu sikap sabar melalui proses tahap demi tahap secara
berkelanjutan. Sabar dalam ikhtiar merupakan penawar dari sikap remaja yang
segera ingin mendapatkan hasil secara instant.
Kriteria Pengembangan
Program
Rancangan program pembinaan remaja di bulan puasa harus
mempertimbangkan aspek syariah, perkembangan karakter, dan kebutuhan pada tiap
fase dan permasalahan remaja. Ketiganya merupakan fundamen mendasar dan krusial
dalam membahas apa dan bagaimana membina remaja di bulan puasa.
Karena
pertama, setiap fase mengindentifikasikan perkembangan fisik dan mental yang
berbeda-beda, sehingga implikasi tujuan, materi, dan model pembinaan remaja itu
berbeda-beda pula, sesuai dengan tahap perkembangan. Kedua, permasalahan remaja
secara umum perlu diketahui akar-akar pemicunya, sehingga program pembinaan itu
mencakup pula alternatif solusi dari permasalahan kenakalan remaja itu.
Tanpa menimbang faktor syariah, psikologis, dan realitas tantangan itu,
maka program pembinaan remaja di bulan Ramadhan ini akan kurang diminati oleh
remaja itu sendiri, tidak memiliki relevansi yang signifikan terhadap realitas
kebutuhan remaja, dan kurang menimbulkan efek positif bagi perkembangan potensi
dan kemampuannya.
Program Pembinaan Remaja di Bulan Puasa
Secara umum, rancangan program pembinaan remaja di bulan Ramadahan,
dapat disusun sebagai berikut :
KEAGAMAAN
ASPEK
PERKEMBANGAN
Kritis terhadap konsep dan praktik
keagamaan yang tidak sejalan.
Perkembangan wawasan Keilmuan yang
berimplikasi pada pertarungan pemikiran keagamaan dan isme-isme
Pengalaman ruhaniyah menghendaki
penyegaran makna lebih dari sekedar rutinitas ritual atau kewajiban
PROGRAM PEMBINAAN Penyegaran paham keagamaan sesuai dengan
perkembangan wawasan keilmuannya dan penerapan ekspresi aqidah, disiplin ibadah
dan akhlak. Bentuk Program: pesantren kilat, diskusi buku, tadabur Al-Quran,
perbandingan agama/isme, menghidupkan/pembudayaan sunnah Rasulullah di bulan
Ramadhan (zikir, shalat sunnah, improvisasi amal shalih, qiyamul lail, Itikaf
dsb)
KEBUTUHAN
ASPEK PERKEMBANGAN Hubungan sosial
yang lebih bermakna, mencapai peran sosial, pengembangan fisik secara optimal,
kebebasan memilih dan bertanggungjawab, pengembangan potensi dan kemampuan,
serta bimbingan pemikiran dan nilai yang demokratis.
PROGRAM PEMBINAAN
Pengembangan potensi dan Kemampuan:
mental, IQ, jasmani, sosial. Bentuk Program: pelatihan pengembangan potensi dan
kemampuan seperti jadi dai muda, keterampilan, kepemimpinan, akademik, profesi.
Pemberian kepercayaan dan tanggungjawab melalui pelibatan dalam kepanitiaan
ifthar jamai, ZIS, Itikaf dan kepengurusan masjid, pembentukan organisasi
remaja mandiri, klub belajar, tadabur alam, kreatifitas seni dan lomba, usaha
kecil dsb.
Dialog kaum tua dan remaja. Bentuk:
diskusi atau seminar dialogis dengan disiplin adab berbeda pendapat/ukhuwah,
mentoring, jumpa tokoh. Melibatkan dalam rapat-rapat urusan kemasyarakatan.
KEPRIBADIAN
ASPEK PERKEMBANGAN
faktor internal (persepsi, sikap,
motivasi)
faktor eksternal (keluarga, sekolah,
masyarakat)
PROGRAM PEMBINAAN Pengembangan kepribadian produktif.
Bentuk pelatihan manajemen diri (EQ dan SQ), adab muamalah, social project team
work.
PERMASALAHAN
ASPEK PERKEMBANGAN Membolos, putus
sekolah, berbohong, tindakan kekerasan, narkoba, cabul, membuat gank, tawuran,
mencuri, serta melawan orang tua dan guru
PROGRAM PEMBINAAN
Bimbingan konsep diri, pemecahan masalah, manajemen waktu, karier dan seks,
ruqyah dalam Islam dengan tinjauan pskologi dan manajemen.
JASMANI
ASPEK PERKEMBANGAN Pertumbuhan fisik yang sangat cepat tetapi di
lain sisi berakibat terjadinya disharmonisasi antar pertumbuhan fisik,
pertumbuhan alat kelamin, mengalami gangguan kesehatan.
PROGRAM
PEMBINAAN Aktif dalam atau mengorganisir klub olah raga, disiplin dalam
kesadaran pengaturan gizi dan makanan, pakaian yang menutup aurat, gaya hidup
muslim, organisasi aktivitas dan teman bermain dan lain, pemeriksaan kesehatan,
berbekam.
Dengan program pembinaan yang menempatkan remaja sebagai
subyek pembinaan melalui pembelajaran dialogis dan pemberian kepercayaan,
keleluasaan ekspresi, kreatifitas, dan pada pemberian beban tanggungjawab dalam
bingkai kurikulum pembinaan remaja terpadu. Insya Allah program ini akan
diminati oleh remaja itu sendiri dan akan mengembangkan potensi serta kemampuan
remaja sebagai generasi muslim yang berkualitas, dapat terlaksana secara
optimal, di samping meredam gejolak jiwa negatif remaja.
Wallahu Alamu
Bish-Showab.
Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani -
IKADI
|