Tidak ada yang meragukan keteladanan
Rasulullah saw. dalam berderma dan bersedekah. Beliau adalah orang yang paling
dermawan dan paling teladan dalam bersedekah. Rasulullah saw. tidak pernah
menyisakan harta benda dan membiarkannya berdiam di rumahnya lebih daripada satu
hari. Beliau selalu memberi sesuatu yang diminta oleh orang lain bila beliau
memilikinya, dan tidak pernah menolak atau menghardik orang yang meminta.
Di samping mencontohkan keteladanan dalam bersedekah dan berinfak,
Rasulullah saw. juga sering sekali menyuruh dan menganjurkan umatnya untuk
berinfak dan bersedekah sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing. Dalam salah
satu hadistnya, Rasulullah saw. bersabda, "Jagalah dirimu dari api neraka walau
hanya dengan setengah biji kurma dan bila tidak menemukannya, maka hendaklah
dengan kalimat yang baik". (HR.Bukhari-Muslim)
Anjuran ini menggugah
setiap mukmin untuk gemar berinfak dan bersedekah. Namun, tidak semua orang yang
mengaku muslim gemar berinfak dan berusaha meneladani Rasulullah saw. Karena
sesungguhnya, manusia diciptakan dengan tabiat cinta harta dan sangat bakhil
dengan harta yang ada di tangannya. Allah swt. menjelaskan hal itu dalam
firman-Nya sebagai berikut,
“dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena
cintanya kepada harta.” (Al-‘Aadiyaat:8).
“Sesungguhnya manusia
diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia
berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir“ (Al-Ma’arij:
19-21)
Kegemaran berinfak adalah bertolak belakang dengan tabiat dan
karakter manusia yang mencintai harta benda dan berlaku kikir. Menghalau sifat
kikir dan mengikisnya dari jiwa memerlukan usaha maksimal dan latihan
terus-menerus. Karena bila tidak, maka selamanya manusia akan difitnah dan
diperbudak oleh harta benda. Harta benda akan menjadi penghalang kebahagiaannya
yang hakiki dan sejati. Ia membelenggunya, sehingga tidak dapat menemukan jalur
menuju kesenangan dan kebahagiaan abadi di akhirat.
Sebaliknya, orang
yang berhasil mengalahkan sifak kikirnya, adalah orang-orang yang berbahagia dan
berhasil melepaskan diri dari perbudakan harta dan dunia. Allah swt. memuji
orang-orang yang mampu mengalahkan sifat kikir dan cintanya yang berlebihan
terhadap harta benda, dan menjanjikan kepada mereka keberuntungan yang tak
terkira. Allah swt. Berfirman,
“Dan orang-orang yang telah menempati
Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin),
mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh
keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang
Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka
sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa
yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (Al-Hasyr: 9).
Terapi, Al-Qur’an terhadap sifat kikir dan
terlalu cinta kepada harta benda, telah menyadarkan manusia bahwa sesungguhnya
harta benda itu hanyalah kenikmatan semu, menipu dan melenakan. Ia hanyalah
ujian dan fitnah bagi manusia. Allah swt. Berfirman,
“Dan ketahuilah,
bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di
sisi Allah-lah pahala yang besar” (Al-Anfaal: 28)
“Perumpamaan (nafkah
yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah
adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap
bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah:
261).
Tuntunan Rasulullah saw. dalam Bersedekah di Bulan Suci
Rasulullah saw. adalah orang paling besar dan paling banyak bersedekah
dengan apa yang dimilikinya. Beliau tidak pernah memandang banyak apa yang
diberikannya, karena Allah juga tidak memandangnya remeh dan sedikit. Tidak
seorang pun meminta sesuatu kepada beliau kecuali beliau selalu memberikannya,
baik sedikit ataupun banyak.
Sedangkan kegembiraan dan kebahagiaan
beliau karena bisa bersedekah dengan pemberian yang diberikannya adalah lebih
besar dari pada kegembiraan orang yang menerima sedekah itu karena mendapatkan
apa yang dimintanya. Bila dihadapkan kepada beliau seseorang yang membutuhkan
bantuan, beliau lebih mengutamakannya dibandingkan dirinya sendiri, kadangkala
dengan makanannya dan kadangkala dengan pakaiannya.
Rasulullah saw.
mengeluarkan sedekah dan pemberiannya dengan bermacam-macam cara. Kadangkala
dengan memberikan hadiah, dengan bersedekah, dengan pemberian dan
penganugerahan, kadangkala juga dengan membeli sesuatu kemudian memberikan
barang tersebut sekaligus dengan harganya kepada penjualnya. Kadangkala dengan
meminjam sesuatu kemudian mengembalikan kepada pemberi pinjaman, sesuatu yang
lebih banyak dan lebih baik daripada sesuatu yang dipinjamnya.
Rasulullah saw. menerima hadiah dan membalasnya dengan yang lebih banyak
dan lebih baik, sebagai kasih sayang dan memvariasikan bentuk-bentuk berbuat
ihsan dengan segala yang memungkinkan. Rasulullah saw. berbuat ihsan dengan apa
yang dimilikinya, dengan keadaannya dan perilakunya, dan dengan perkataannya.
Siapa pun yang berinteraksi dengan Rasulullah saw., tidak akan mampu
menguasai jiwanya dari kedermawanan. Karena kedermawanannya itu, Rasulullah saw.
adalah orang yang paling lapang dadanya dan paling bahagia jiwanya. Karena
sesungguhnya, sedekah dan perbuatan yang makruf itu mempunyai pengaruh luar
biasa dalam melapangkan dada.
Penyebab lain yang melapangkan dada, yang
termasuk penyebab terbesar adalah mengeluarkan hal yang merusak hati, yaitu
sifat-sifat yang tercela seperti bakhil dan kikir dan lain-lain. Walaupun
seseorang sangat kaya dan berlebihan dalam hidup, sifat-sifat itu akan
menghalangi dari berinfak dan bersedekah.
Puasa yang mengharuskan orang
untuk meninggalkan makan dan minum atau mengurangi biaya konsumsinya dalam bulan
puasa, membuat orang memiliki banyak peluang dan kesempatan dalam menafkahkan
kelebihan hartanya. Namun, gaya hidup yang berlebihan dan makna puasa yang belum
banyak diresapi dan disadari oleh umat Islam, membuat banyak dari umat justeru
mengeluarkan biaya dan dana konsumsi yang lebih banyak di bulan Ramadhan
daripada di bulan-bulan lainnya.
Seharusnya kita meneladani Rasulullah
saw. di bulan Ramadhan. Beliau dikenal sebagai orang yang paling banyak berderma
dan bersedekah, dan pada saat bulan Ramadhan, Rasulullah saw. meningkatkan
kualitas dan kuantitas sedekah dan infaknya. Simaklah riwayat berikut,
عن ابن عباس قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس،
وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان
فيدارسه القرآن، فلرسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة.
Dari Ibnu Abbas berkata, "Rasulullah saw. adalah
orang yang paling dermawan. Dan sesungguhnya beliau paling dermawan pada saat
bulan Ramadhan. Ketika Jibril datang menemui beliau pada tiap-tiap malam
Ramadhan untuk mentadarruskan Al-Qur'an. Rasulullah saw. lebih dermawan daripada
angin yang bertiup bebas.” (HR. Bukhari -Muslim)
Sungguh telah datang
kepada kita bulan Ramadhan, dimana Allah membawa berkah rahmat dan maghfirah di
dalamnya. Ramadhan adalah bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya
adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang
paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Inilah
bulan, dimana Allah swt. mengundang kita untuk menjadi tetamu-Nya, untuk
dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini, nafas-nafas kita menjadi tasbih, tidur kita
menjadi ibadah, amal-amal kita diterima dan doa-doa kita diperkenankan dan
diijabah.
Bermohonlah kepada Allah Rabb Anda dengan niat yang tulus dan
hati yang suci, agar Allah membimbing kita untuk melakukan shiyam dan membaca
Kitab-Nya. Mintalah kepada-Nya, agar Dia menuntun Anda kepada hidayah-Nya, dan
membersihkan hati Anda dari sifat kikir dan bakhil, dan sifat-sifat buruk
lainnya.
Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan
di hari kiamat. Hindarilah kelaparan dan kehausan di hari yang dahsyat itu
dengan bersedekah kepada kaum fuqara dan masakin, yang diperintahkan oleh Allah
swt. Tuhan sekalian alam, satu-satunya Pelindung pada hari itu.
Ingatlah
salah satu golongan dari tujuh golongan hamba yang akan dilindungi Allah swt. di
hari kiamat adalah golongan keenam; “...orang yang menafkahkan hartanya dengan
ikhlas karena Allah swt. sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang
diinfakkan oleh tangan kanannya...” (HR.Bukhari dan Muslim)
Kasihilah
anak-anak yatim, niscaya anak-anak yatim Anda akan dikasihi Allah swt. setelah
anda meninggal. Hapuslah air mata anak yatim, niscaya Anda beruntung meraih
ridha Yang Maha Penyayang dan istana surga.
Ingatlah pesan Rasulullah
saw. ketika beliau bersabda, "aku bersama pengasuh anak yatim di surga laksana
dua jari ini, kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari
tengahnya lalu membukanya.” (HR. Bukhari, Turmudzi, dan Abu Dawud).
Betapa mulianya orang-orang yang menyisihkan harta benda, waktu, dan
umurnya untuk mengasihi orang-orang yang bernasib malang dan menderita.
Sambutlah Ramadhan dengan semangat berderma dan bersedekah
sebanyak-banyaknya di jalan Allah swt.
Marhaban Yaa Ramadhan......
Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani -
IKADI