Tadabbur 25 : Menggapai
Malam Seribu Bulan Rabu, 18
Oktober 06 - oleh : Redaksi
Keutamaan Malam Al Qadr
Dalam
ramadhan, terdapat satu malam yang bergelimang berkah, yang populer dengan
sebutan lailatul qadar, malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Malam ini
menambah daftar panjang kemuliaan bulan Ramadhan. Allah berfirman,
“Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan”. (Al-Qadr: 1-5)
Lailatul Qadar juga dapat menghapuskan dosa orang-orang yang
melaksanakan ibadah pada malam tersebut. Rasulullah saw. bersabda,
من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنه
“Barangsiapa yang shalat pada malam lailatil qadr
berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang
telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).
Makna Lailatul Qadr
Al-Qadr dalam bahasa Arab memiliki tiga makna (lihat Fathul Bari),
yaitu:
1. Ta’zhim ( تعظيم ),
artinya pengagungan dan penghormatan. Al Qadr untuk makna
ini terdapat dalam firman Allah,
وما قدروا الله حق قدره
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan
penghormatan yang semestinya”. (Al-An’am :91)
2. Tadhyiq ( تضييق ), artinya
penyempitan. Al-Qadr untuk makna ini termuat dalam firman Allah,
ومن قدر عليه رزقه فلينفق مماآتاه الله
“Dan
orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya”. (Ath-Thalaq: 7).
3. Al-Qadr ( القدر ), artinya
pasangan dari qadha, yaitu ketetapan yang diturunkan oleh Allah kepada tiap-tiap
manusia.
Tiga makna Al-Qadr ini jika dipasangkan dengan kata “Lailah”
yang berarti malam, maka artinya menjadi sebagai berikut :
-
Lailatul Qadr adalah malam yang penuh
keagungan dan kehormatan.
Banyak hal yang membuat malam ini menjadi
penuh keagungan dan kehormatan sebagaimana dicatat oleh Ibnu Hajar, di
antaranya: Pertama, malam tersebut adalah malam diturunkannya
Al-Qur’an. Begitu agungnya Al-Qur’an, menyebabkan semua faktor yang
mengiringinya menjadi agung dan terhormat. Sebutan Al-Qur’an Al-‘Azhim, yang
berarti Al-Qur’an yang penuh keagungan sangat akrab di telinga kita. Menurut
makna ini, malam Al-Qadr menjadi mulia karena faktor turunnya A-Qur’an.
Kedua, malam ini disebut juga sebagai malam penuh keagungan
karena turunnya malaikat dengan seizin Tuhan mereka. Malaikat adalah makhluk
Allah yang mulia dan selalu taat dengan perintah Allah serta tidak pernah
berbuat dosa. Turunnya para malaikat, makhluk Allah yang mulia ini menjadikan
malam tersebut turut menjadi mulia.
Ketiga, Malam ini juga
menjadi agung karena dijadikan oleh Allah sebagai malam yang penuh barakah,
rahmat, dan maghfirah. Keberkahan Allah di malam ini tercurah, sifat
rahmat-Nya ditebar buat seluruh makhluk-Nya, dan pintu ampunan-Nya dibuka
selebar-lebarnya. Keberkahan, rahmat, dan maghfirah adalah ciri-ciri keagungan
dan kehormatan. Keempat, Malam ini juga menjadi agung karena akan membuat
orang yang menghidupkannya dengan ibadah menjadi agung dan terhormat.
-
Lailatul Qadr memiliki makna malam yang
sempit. Sifat ini dialamatkan kepada malam Al-Qadr, karena dua faktor:
Pertama, ilmu tentang penentuan qadar yang turun malam itu tetap menjadi
rahasia Allah, dan manusia tetap sempit pengetahuannya tentang hal ini. Kedua,
bumi pada malam itu menjadi sempit karena dijejali oleh turunnya malaikat yang
begitu banyak.
-
Lailatul Qadr adalah malam penentuan
Qadar. Pada malam itu kejadian-kejadian yang akan terjadi setahun ke depan
ditetapkan. Hal ini sejalan dengan firman Allah,
“Haa Miim, Demi Kitab
(Al-Qur’an) yang menjelaskan, Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam
yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam
itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (yaitu) urusan yang besar dari
sisiKami…” (Ad-Dukhan : 1-5)
Yang dimaksud dengan urusan-urusan di
sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk, seperti:
hidup, mati, rezeki, untung baik, untung buruk, dan sebagainya. Al-Qadr di
sini dimaksudkan sebagai rincian tahunan dari Qadha Allah yang telah
ditetapkan secara umum sejak jaman azali.
Kapan Lailatul Qadr Terjadi ?
Para ulama berbeda pendapat tentang penentuan malam Al Qadr (lihat Fiqih
Sunnah). Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa malam Al-Qadr jatuh pada
malam ke 21, ada yang mengatakan malam ke-23, ada yang mengatakan malam ke-25,
ada yang mengatakan malam ke-27, ada yang mengatakan malam ke-29, dan ada pula
yang mengatakan malam tersebut jatuh secara berpindah-pindah dari tahun yang
satu ke tahun berikutnya.
Pendapat mayoritas mengatakan bahwa malam Al
Qodr jatuh pada malam ke-27. Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut:
-
Hadits Riwayat Imam Ahmad dengan sanad
yang shahih dari Abdullah bin Umar ra.:
قال رسول الله صلى الله
عليه وسلم : من كان متحريها فليتحرها ليلة السابع والعشرين
“Barangsiapa yang ingin berjaga-jaga dan bertemu dengan malam
Al-Qadr, maka berjaga-jagalah pada malam ke dua puluh tujuh”.
-
Hadits Riwayat Imam Muslim, Ahmad, Abu
Dawud, At Tirmidzi, dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata,
والله
الذي لا إله إلا هو , إنها لفي رمضان – يحلف ما يستثني – وو الله إني لأعلم أي
ليلة هي , هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها , هي
ليــلة السـابع والعشرين , وأمارتها أن تطلع الشمس في صيحة يومها , بيضاء ,
لا شعاع لها
“Demi Allah Yang tiada ilah kecuali
Dia! Sesungguhnya ia jatuh di bulan ramadhan. Dan Demi Allah, sesungguhnya aku
mengetahui malam apa itu gerangan? Ia adalah malam yang kami diperintahkan
oleh Rasulullah saw. untuk menghidupkannya. Ia adalah malam ke duapuluh tujuh.
Dan tandanya adalah terbitnya matahari pada subuh harinya, putih, tanpa
sinar“.
Hikmah Tidak Adanya Kepastian
Waktu
Di antara hikmah tidak dipastikannya kapan turunnya lailatul
Qadar adalah:
-
Agar kita terus giat dan sungguh-sungguh
beribadah, tidak hanya beribadah pada hari-hari tertentu dan meninggalkan
ibadah di hari-hari yang lain.
-
Untuk melatih kita istiqamah dalam
amal.
Menggapai Lailatul Qadr
Lailatul Qodr tidak disambut dengan memasang obor, pelita, atau apa saja
yang bernuansa api. Ia juga tidak disambut dengan membuat kue-kue khusus
menyambut hadirnya malaikat, sebagaimana dilakukan oleh sebagian masyarakat
kita. Baik api ataupun makanan yang menyambut lailatul Qadr adalah seremonial
yang bersifat fisik dan tidak ada dasarnya dalam Islam, tidak sejalan dengan
semangat Al-Qadr yang bersifat maknawi.
Lailatul Qodar juga tidak
disambut dengan cara memperindah rumah, membeli sofa baru, memadati keramaian di
mall-mall dan seterusnya. Perbuatan ini sangat jauh panggang dari api, karena
sangat berseberangan dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw.
Kalau
kita melihat keseriusan Rasulullah saw., isteri-isteri beliau dan para sahabat
menyongsong tibanya lailatul Qadr. Kita akan berkesimpulan bahwa Lailatul Qadr
adalah puncak kenikmatan yang dihadirkan oleh Allah di bulan Ramadhan.
Puncak kenikmatan ini sangat kecil kemungkinannya akan dirasakan oleh
orang-orang yang tidak meniti hari demi hari Ramadhannya dengan “iimanan” dan
“ihtisaban”. Karenanya, mereka menyambut malam tersebut dengan penuh
kesungguhan, dengan cara menghidupkan malam-malam mereka dengan beribadah dan
mendekatkan diri kepada Allah lebih daripada hari-hari biasanya.
Di
antara cara menggapai lailatul Qodr adalah:
-
Menghidupkan malamnya dengan “imanan”
dan “ihtisaban”. Rasulullah saw. bersabda,
من قام ليلة
القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنه
“
Barangsiapa yang shalat pada malam lailatil qadr berdasarkan iman dan ihtisab,
maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR.Bukhari dan
Muslim).
Dalam hadits yang lain disebutkan,
أنه كان إذا
دخل العشر الأواخر أحيى الليل وأيقظ أهله وشد المئزر
“Rasulullah saw. apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan
ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan
mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dan tidak
bercampur dengan istrinya)."
Beliau menghidupkan malam-malam terakhir
tersebut di masjid, memperbanyak tadarus Al-Qur’an dan menghidupkan malam
dengan ibadah.
-
Ketika kita bertemu dengan malam ini,
Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk membaca doa berikut:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
“Ya
Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi maaf, senangkan memaafkan, karenanya
ampunilah daku”. Semoga kita dapat menggapai malam yang penuh mulia, penuh
keagungan, dan penuh barakah ini. Amiin.
Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi
Hamba Rabbani - IKADI
|