|
Assalaamu'alaikum,
Diingetin aja...masih banyak yang kagak nyadar apalagi...nggak ada yang
ngingetin....Wallahua'lam....Allahussamii'ulbashiir.
wassalam,
----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 19, 2006 7:15
AM
Subject: [ FUPM-EJIP ] TENTANG NUZULUL
QUR'AN
TENTANG NUZULUL QUR'AN Rabu, 18 Oktober 06
Pada bulan
Ramadhan banyak umat Islam yang menggelar acara peringatan Nuzulul Qur'an.
Untuk itu perlu kiranya kali ini kita menyoroti masalah Nuzulul Qur'an,
hukum memperingatinya, dan fungsi utama diturunkannya Al-Qur'an.
Beberapa Versi Tentang Kapan Nuzul Al-Qur'an
Syaikh Shafiyur
Rahman Al-Mubarakfuriy (penulis kitab sirah nabawiyah "Ar-Rahiq al-Makhtum"
menyatakan bahwa para ahli sejarah banyak berbeda pendapat tentang kapan
waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur'an, pada bulan apa dan tanggal
berapa, paling tidak ada tiga pendapat :
Pertama: Pendapat yang
mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an itu ada pada bulan Rabiul Awwal.
Ke
dua: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an itu pada bulan Rajab.
Ke tiga: Pendapat yang mengata-kan bahwa Nuzulul Qur'an itu pada
bulan Ramadhan.
Yang berpendapat pada bulan Rabiul Awwal pecah
menjadi tiga, ada yang mengatakan awal Rabiul Awwal, ada yang mengatakan
tanggal 8 Rabiul Awwal dan ada pula yang mengatakan tanggal 18 Rabiul Awwal
(yang terakhir ini diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu).
Kemudian yang berpendapat pada bulan Rajab terpecah menjadi dua.
Ada yang mengatakan tanggal 17 dan ada yang mengatakan tanggal 27 Rajab
(hal ini diriwayat-kan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Al
Hafidz Ibnu Hajar Al- Asqalani rahimahullah di dalam Fathul Bari berkata,
“Imam Al-Baihaqi telah mengisahkan bahwa masa wahyu mimpi adalah 6 (enam)
bulan.” Maka berdasarkan kisah ini permulaan kenabian dimulai dengan mimpi
shalihah yang terjadi pada bulan kelahirannya yaitu bulan Rabiul Awwal
ketika usia beliau genap 40 tahun. Kemudian permulaan wahyu yaqzhah (dalam
keadaan terjaga) dimulai pada bulan Ramadhan (6 bulan berikutnya, red).
Sesungguhnya kita menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa
Nuzulul Qur'an ada pada bulan Ramadhan karena Allah subhanahu
wata’ala berfirman, artinya, "Bulan Rama-dhan, bulan yang di dalamnya
diturun-kan (permulaan) Al-Qur'an." (Al-Baqarah: 185)
Dan Allah
subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya Kami telah
menurun-kannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan.” (Al-Qadr : 1)
Seperti yang telah kita maklumi bahwa Lailatul Qadr itu ada pada
bulan Ramadhan yaitu malam yang dimaksudkan dalam firman Allah
subhanahu wata’ala yang artinya, "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada
suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya, Kamilah yang
memberi peringatan." (Ad-Dukhaan: 3)
Dan karena menyepinya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di gua Hira' adalah pada bulan
Ramadhan, dan kejadian turunnya Jibril ’alaihissalam adalah di dalam gua
Hira'.
Jadi Nuzulul Qur'an ada pada bulan Ramadhan, pada hari Senin,
sebab semua ahli sejarah atau sebagian besar mereka sepakat bahwa
diutusnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari Senin. Hal ini sangat kuat
karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya tentang
puasa Senin beliau menjawab, "Di dalamnya aku dilahirkan dan di
dalamnya diturunkan (wahyu) atasku."
Dalam sebuah lafadz dikatakan,
"Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus atau
diturunkan (wahyu) atasku." (HR. Muslim, Ahmad, Baihaqi dan Al-Hakim)
Akan tetapi pendapat ketiga inipun pecah menjadi lima, ada
yang mengatakan tanggal 7 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 14
(hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 17 (hari Kamis), ada yang
mengatakan tanggal 21 (hari Senin) dan ada yang mengatakan tanggal 24 (hari
Kamis). Pendapat "17 Ramadhan" diriwayatkan dari sahabat Bara' bin
Azib radhiyallahu ‘anhu dan dipilih oleh Ibnu Ishaq, kemudian oleh
Ustadz Muhammad Hudariy Beik. Pendapat "21 Ramadhan" dipilih oleh
Syaikh Mubarakfuriy, karena Lailatul Qadr ada pada malam ganjil, sedangkan
hari Senin pada tahun itu adalah tanggal 7, 14, 21 dan 28. Sedangkan
pendapat "24 Ramadhan" diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Jabir
dan Watsilah bin Asqa' , dan dipilih oleh Ibnu Hajar Al-Haitsamiy ,
ia mengatakan, "Ini sangat kuat dari segi riwayat".
Karena itu
memperingati peristiwa turunnya Al-Qur'an pertama kali tidaklah penting,
sebab di samping hal itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, para sahabatnya dan para tabi'in, Al-Qur'an diturunkan
tidaklah untuk diperingati tetapi untuk memperingatkan kita.
Syaikh
Abul Hasan An-Nadwiy dalam kitab Nafahatul Iman mengatakan tentang Isra'
Mi'raj , demikian, "Sesungguhnya peristiwa Isra' -wahai saudara-saudaraku
yang tercinta- bukanlah diharapkan agar dijadikan sebagai hari raya oleh
umat ini, yang dirayakan setiap tahun, sesungguhnya Islam bukanlah agama
perayaan sebagaimana halnya agama-agama lain."
Syaikh Muhammad
Mutawalli Asy-Sya'rawi juga menegaskan bahwa Islam itu tidak memerlukan
polesan, tidak perlu dibungkus dengan perayaan-perayaan yang membuat
orang-orang tertarik kepadanya.
Karena itu pesta hari raya tahunan di
dalam Islam hanya ada dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
Jadi
turunnya Al-Qur'an bukan untuk diperingati setiap tahunnya, melainkan untuk
memperingatkan kita setiap saat. Allah subhanahu wata’ala menegaskan,
artinya, "Alif Lam Mim Shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan
kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya
kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir) dan menjadi
pelajaran bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raaf: 1-2).
Bukan
Cara Salafus Shalih
Memperingati peristiwa turunnya Al-Qur'an bukanlah
cara orang-orang shaleh yang muttaqin. Akan tetapi jejak ulama-ulama salaf
adalah membaca Al-Qur'an, membaca dan membaca lagi. Allah subhanahu
wata’ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang selalu
membaca kitab Allah dan mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari
rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan
terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan
merugi." (Faathir: 29)
Apalagi di bulan Ramadhan, bulan Al-Qur'an ini,
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, "Seandainya kita-kita bersih, tentu akan
merasa kenyang dari kalam Allah l. Sesungguhnya aku amat tidak suka
manakala datang sebuah hari sementara aku tidak membaca Al-Qur'an.” Karena
itu beliau tidak meninggal dunia sehingga mushafnya sobek karena seringnya
dibaca.
Dan ketika menjadi imam pada shalat shubuh beliau sering
membaca surat Yusuf yang terdiri dari 111 ayat tertulis dalam 13 halaman,
yang berarti satu sepertiga juz.
Hal ini tidak mengherankan karena
khalifah kedua Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu ketika memimpin shalat
shubuh juga selalu membaca surat-surat yang bilangan ayatnya lebih dari 100
ayat seperti surat Al- Kahfi (110 ayat), surat Maryam (98 ayat) dan surat
Thaha (135 ayat).
Begitulah generasi Qur'ani sangat mencintai
Al-Qur'an. Mereka tidak pernah merayakan peristiwa Nuzulul Qur'an tetapi
shalatnya membaca ratusan ayat, sementara kita sebaliknya.
Shalat
Tarawih di jaman salaf rata-rata membutuhkan waktu 5 jam, dan kadang-kadang
semalam suntuk, yang berarti setiap satu rakaat tarawih (dari sebelas
rakaat) membutuhkan waktu 40 menit. Bahkan para sahabat banyak yang shalat
sambil bersandar dengan tongkat karena terlalu lamanya berdiri.
Mengkhususkan Membaca Al-Qur'an
Para Tabi'in dan
Tabi'uttabi'in, karena begitu memahami arti dari Ramadhan, bulan Al-Qur'an,
dan begitu kuatnya dalam mencintai Al-Qur'an, maka bila bulan Ramadhan
tiba, mereka meng-khususkan diri untuk membaca Al-Qur'an seperti yang
dilakukan oleh Imam Az-Zuhri dan Sufyan Ats-Tsauri. Sehingga dalam satu
bulan khatam Al-Qur'an berpuluh-puluh kali. Imam Qatadah umpamanya, di luar
Ramadhan khatam setiap tujuh hari, di dalam Ramadhan khatam setiap tiga
hari, dan di sepuluh hari terakhir khatam setiap hari. Sementara Imam
Syafi'i di luar Ramadhan setiap hari khatam sekali, dan di dalam Ramadhan
setiap hari khatam dua kali. Itu semua di luar shalat. Begitulah ulama
Ahlus Sunnah tidak pernah merayakan Nuzulul Qur'an, namun setiap hari
khatam Al-Qur'an, ada yang sekali dan ada yang dua kali. Sementara kita
sebulan Ramadhan jika khatam sekali saja, maka sudah puas dan gembira.
Itupun bisa dihitung dengan jari.
Bahkan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah selama di dalam penjara, dari tanggal 7 Sya'ban 426 H sampai
wafatnya 22 Dzulqa'dah 428 H, selama 2 tahun 4 bulan beliau telah
mengkhatamkan Al-Qur'an bersama saudaranya Syaikh Zainuddin Ibnu Taimiyah
sebanyak 80 kali khatam, yang berarti rata-rata setiap 10 hari khatam satu
kali. Semoga Allah subhanahu wata’ala merahmati kita bersama mereka dan
semoga kita bisa meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para
sahabatnya, dan para ulama salaf dalam mencintai Al-Qur'an dan di dalam
tata cara ibadah lainnya. Amin. (Abu Hamzah Agus Hasan Bashari, LC.
M.Ag.)
www.alsofwah.or.id
******************************************************** Mailing
List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan
EJIP ******************************************************** Ingin
berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk
bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED]
********************************************************
|