Tadabbur 27 : Gairah Ibadah pada Sepuluh
Hari Terakhir Ramadhan Kamis, 19
Oktober 06 - oleh : Redaksi
Dalam Kitab Shahihain disebutkan, dari
Aisyah ra, ia berkata: "Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan,
Rasulullah saw. mengencangkan kainnya, menjauhkan diri dari menggauli istrinya,
menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." Demikian menurut lafazh
Al-Bukhari.
Adapun lafazh Muslim berbunyi: "Menghidupkan malam(nya),
membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya.
Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra.:
"Rasulullah bersungguh-sungguh dalam sepuluh (hari) akhir (bulan Ramadhan), hal
yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya."
Rasulullah saw.
mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang
tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain, di antaranya:
-
Menghidupkan malam. Ini mengandung
kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula
beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya. Dalam Shahih Muslim dari
Aisyah ra., ia berkata,
"Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah shalat
malam hingga pagi."
Diriwayatkan dalam hadits marfu' dari Abu Ja'far
Muhammad bin Ali:
"Barangsiapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat
dan sebagai orang muslim, lalu puasa pada siang harinya dan melakukan shalat
pada sebagian malamnya, juga menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan,
lisan, dan tangannya, serta menjaga shalatnya secara berjamaah dan bersegera
berangkat untuk shalat Jum'at; sungguh ia telah puasa sebulan (penuh),
menerima pahala yang sempurna, mendapatkan Lailatul Qadar serta beruntung
dengan hadiah dari Tuhan Yang Maha suci dan Maha tinggi. Abu Ja'far berkata:
Hadiah yang tidak serupa dengan hadiah-hadiah para penguasa. (HR. Ibnu
Abid-Dunya).
-
Rasulullah saw. membangunkan keluarganya
untuk shalat pada malam-malam sepuluh hari terakhir, sedang pada malam-malam
yang lain tidak. Dalam hadits Abu Dzar ra. disebutkan:
"Bahwasanya
Rasulullah saw. melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua
puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan
bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam
dua puluh tujuh (27) saja. "
Ini menunjukkan bahwa beliau sangat
menekankan dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun
Lailatul Qadar di dalamnya. At-Thabrani meriwayatkan dari Ali ra.:
"Bahwasanya Rasulullah membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir
dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu
melakukan shalat." Dalam hadits shahih diriwayatkan: "Bahwasanya
Rasulullah saw. mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali radhiallahu 'anhuma pada
suatu malam seraya berkata: Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat?"
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Beliau juga membangunkan Aisyah ra. pada
malam hari, bila telah selesai dari tahajudnya dan ingin melakukan (shalat)
witir.
Diriwayatkan juga mengenai adanya targhib (dorongan) agar salah
seorang suami-isteri membangunkan yang lain untuk melakukan shalat, serta
memercikkan air di wajahnya bila tidak bangun. (Hadits riwayat Abu Daud dan
lainnya, dengan sanad shahih.)
Dalam kitab Al-Muwaththa' disebutkan
dengan sanad shahih, bahwasanya Umar melakukan shalat malam seperti yang
dikehendaki Allah, sehingga apabila sampai pada pertengahan malam, ia
membangunkan keluarganya untuk shalat dan mengatakan kepada mereka: "Shalat!
shalat!" Kemudian membaca ayat berikut: "Dan perintahkanlah kepada
keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya."
(Thaha: 132).
-
Bahwasanya Nabi saw. mengencangkan
kainnya. Maksudnya, beliau menjauhkan diri dari menggauli isteri-isterinya.
Diriwayatkan juga bahwasanya beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sehingga
bulan Ramadhan berlalu. Dalam hadits Anas ra. disebutkan :
"Dan
beliau melipat tempat tidurnya dan menjauhi isteri-isterinya (tidak menggauli
mereka).
Rasulullah saw. beri'tikaf pada malam sepuluh terakhir bulan
Ramadhan.
Orang yang beri'tikaf tidak diperkenankan mendekati
(menggauli) isterinya berdasarkan dalil dari nash serta ijma'. "Mengencangkan
kain" ditafsirkan dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah.
-
Mengakhirkan berbuka hingga waktu sahur.
Diriwayatkan dari Aisyah dan Anas ra, bahwasanya Rasulullah pada
malam-malam sepuluh (akhir bulan Ramadhan) menjadikan makan malam (berbuka)nya
pada waktu sahur. Dalam hadits marfu' dari Abu Sa'id ra, ia berkata:
"Janganlah kalian menyambung (puasa). Jika salah seorang dari kamu
ingin menyambung (puasanya) maka hendaknya ia menyambung hingga waktu sahur
(saja). " Mereka bertanya: "Sesungguhnya engkau menyambungnya wahai
Rasulullah? "Beliau menjawab: "Sesungguhnya aku tidak seperti kalian.
Sesungguhnya pada malam hari ada yang memberiku makan dan minum." (HR.
Al-Bukhari)
Ini menunjukkan apa yang dibukakan Allah atas beliau dalam
puasanya dan kesendiriannya dengan Tuhannya, karena munajat dan dzikirnya yang
lahir dari kelembutan dan kesucian beliau. Karena itulah, sehingga hatinya
dipenuhi al-ma'ariful Ilahiyah (pengetahuan tentang Tuhan) dan al-minnatur
Rabbaniyah (anugerah dari Tuhan) sehingga mengenyangkannya dan tak lagi
memerlukan makan dan minum.
-
Mandi antara Maghrib dan Isya'. Ibnu
Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah ra.:
"Rasulullah jika bulan
Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari
terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli)
isteri-isterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya."
Ibnu Jarir
berkata, mereka menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam sepuluh hari
terakhir. Di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada
malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar.
Karena itu,
dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan di dalamnya turun Lailatul Qadar
untuk membersihkan diri, menggunakan wewangian dan berhias dengan mandi
sebelumnya, lalu berpakaian bagus, sebagaimana hal tersebut dianjurkan juga
pada waktu shalat Jum'at dan hari-hari raya.
Namun, tidaklah sempurna
berhias secara lahir tanpa dibarengi dengan berhias secara batin. Yakni dengan
kembali (kepada Allah), taubat, dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sungguh,
berhias secara lahir sama sekali tidak berguna, jika ternyata batinnya rusak.
Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada
hati dan amalmu. Karena itu, barangsiapa menghadap kepada Allah, hendaknya ia
berhias secara lahiriah dengan pakaian, sedang batinnya dengan taqwa. Allah
Ta'ala berfirman, "Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan
kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan
pakaian taqwa itulah yang paling baik. " (Al-A'raaf: 26).
-
I'tikaf. Dalam Shahihain disebutkan,
dari Aisyah ra. : Bahwasanya Nabi Saw senantiasa beri'tikaf pada sepuluh
hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkannya."
Nabi
melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir yang di dalamnya dicari Lailatul
Qadar untuk menghentikan berbagai kesibukannya, mengosongkan pikirannya, dan
untuk mengasingkan diri demi bermunajat kepada Tuhannya, berdzikir, dan
berdo'a kepada-Nya.
Adapun makna dan hakikat i'tikaf adalah:
Memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada
AI-Khaliq. Mengasingkan diri sesuai dengan yang disyari'atkan kepada umat ini,
yaitu dengan i'tikaf di dalam masjid-masjid, khususnya pada bulan Ramadhan,
dan lebih khusus lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana
yang telah dilakukan Nabi Saw.
Orang yang beri'tikaf telah mengikat
dirinya untuk taat kepada Allah, berdzikir, dan berdo'a kepada-Nya, serta
memutuskan dirinya dari segala hal yang menyibukkan diri dari pada-Nya. Ia
beri'tikaf dengan hatinya kepada Tuhannya, dan dengan sesuatu yang mendekatkan
dirinya kepada-Nya. Ia tidak memiliki keinginanlain kecuali Allah dan
ridha-Nya. Semoga Allah memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita. (Lihat
Lathaa'iful Ma'aarif, oleh Ibnu Rajab, h. 196-203)
Semoga sepuluh malam terakhir Ramadhan
kali ini kita maknai dengan semestinya. Amien.
Sumber : 30 Tadabur
Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani - IKADI
|