Tadabbur 30 : Langkah ke depan Alumni
Ramadhan Kamis, 19 Oktober 06 -
oleh : Redaksi
Puasa pada bulan Ramadhan, bila
ditunaikan dengan memenuhi syarat dan rukun serta mengikuti tuntunan Rasulullah
saw., pasti akan menghasilkan orang-orang yang bertaqwa (Al Baqarah 183).
Jikalau puasa kita benar, maka kita menjadi orang bertakwa yang tak mungkin bisa
tergoda oleh syetan.
Inilah barangkali makna hadits yang menyatakan
bahwa pada bulan Ramadhan semua pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka
lebar dan semua setan dibelenggu. sehingga setan tidak mungkin bisa memperdaya
dan menggoda orang yang sedang berpuasa secara benar.
Kendati puasa
telah selesai, namun ketakwaan hasil puasa baru mulai kita buktikan sehabis
puasa. Idul fitri 1 Syawal disebut hari kemenangan, karena umat Islam telah usai
puasa dan pasti meraih ketakwaan yang hasilnya adalah syurga.
Kata
taqwa telah disebutkan dengan kata dasar atau pecahan katanya didalam
Kitabullah. Terkadang anda membaca kata ittaquu, juga al-Muttaqin,
taqiyya, juga yattaqun, ittaqi, wattaquni, yattaqi dan al-atqa.
Kata tersebut telah digunakan dalam Al-Quran lebih dari 187 kali.
Stresingnya lebih pada surat-surat yang berbicara mengenai iman, kitab, Bani
Israil, wasiat, warisan, riba, menyusui serta pembalasan. Di antara contoh
paling gampang dalam hal itu adalah surat Al- Baqarah. Dalam surat ini, terdapat
penyebutan 35 kali derivasi kata taqwa. Begitu kentalnya makna taqwa, karena ia
merupakan inti persoalan dan puncak tujuan disyariatkannya semua ajaran Islam.
Bila kita teliti seluruh ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Quran,
konotasi takwa mencakup banyak indikasi, antara lain:
1. Taqwa itu
mencakup iman dan Islam.
Allah swt. Berfirman, Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai
kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang yang meminta-minta, dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan
orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji dan orang-orang yang sabar
akan kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa (Al-Baqarah:
177).
2. Taqwa dan hubungannya dengan tipu daya musuh
Allah swt. Berfirman, Jika memperoleh kebaikan, niscaya mereka
bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.
Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak
mendatangkan kemudhorotan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa
yang mereka kerjakan (Ali Imran: 120).
3. Taqwa dan hubungannya
dengan menyambung silaturrahim.
Allah swt. Berfirman, Hai
sekalian manusia, bertaqwalah kepada Robb-mu yang telah menciptakan diri yang
satu dan dari padanya Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada
Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan
(peliharalah) hubungan silaturrohim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan
mengawasi kamu. (An Nisa: 2).
4. Taqwa berhubungan dengan kebenaran
(al-hak) dan keadilan.
Allah swt. Berfirman, Hai orang-orang
yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan
(kebenaran) karena Allah,menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al-Maidah: 8 ).
5. Taqwa dan hubungannya dengan larangan memberikan
loyalitas terhadap orang kafir dan ahli alkitab yang senantiasa mengolok-olok
Islam.
Allah swt. Berfirman, Hai orang-orang yang beriman
janganlah kamu mengambil jadi pimpinanmu,orang-orang yang membuat agamamu
menjadi buah ejekan dan permainan,(yaitu) diantara orang-orang yang telah diberi
kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir (orang-orang musrik).Dan bertaqwalah
kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman. (Al Maidah: 5)
6. Taqwa bermakna konsisten terhadap Islam dengan meninggalkan semua
yang tidak Islami
Allah swt. Berfirman, Dan bahwa ( yang kami
perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kamu
mengikuti jalan-jalan (yang lain).Karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu
dari jalan-Nya.Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa
(Al-Anam : 153)
7. Taqwa bermakna tidak mendiamkan kezaliman,
Allah swt. Berfirman, Dan peliharalah dirimu (taqwa) dari
siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan
ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya (Al-Anfal: 25).
8.
Taqwa dan iman tidak akan bertemu dengan hati orang yang meninggalkan jihad
dengan harta dan jiwa.
Allah swt. Berfirman, Orang-orang yang
beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk
(tidak ikut) berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Dan Allah mengetahui
orang-orang yang bertaqwa. (At Taubah : 44).
Ciri-ciri Muttaqin Ahli
Surga
Allah swt. Berfirman, Dan bersegeralah kamu kepada
ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,(yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan.Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji
atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain
daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka
mengetahui. (Ali Imran 133-135)
Dari ayat-ayat di atas, kita dapat
menyimpulkan bahwa cirri-ciri orang bertaqwa yang dijanjikan akan masuk syurga
yang luasnya seluas langit dan bumi adalah sebagai berikut:
-
Senantiasa menginfakkan hartanya
baik dalam keadaan lapang ataupun sempit. (Ali Imran: 134).
-
Senantiasa menahan amarahnya.
(Ali Imran: 134)
-
Senantiasa memaafkan kesalahan
orang lain. (Ali Imran: 134)
-
Senantiasa berbuat ihsan dalam
ibadah dan kehidupannya, karena Allah mencintai orang-orang yang melakukan
ihsan. (Ali Imron :134)
-
Bila terjerumus dosa, ia akan
mengingat Allah lalu meminta ampun dan tidak akan pernah mengulanginya lagi.
(Ali Imron 135)
Kita telah usai berpuasa,
berarti kita harus membuktikan hasil puasa kita tersebut, yaitu dengan ketakwaan
yang harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita
benar-benar taqwa, maka Allah akan melimpahkan kepada kita hal-hal berikut:
-
Rahmat (QS. 98: 8)
-
Furqan (QS. 8: 29)
-
Berkah (QS. 7: 96)
-
Jalan keluar (QS. 65: 2)
-
Rejeki (QS. 65: 3)
-
Kemudahan (QS. 65: 5)
-
Dihapuskan kesalahannya (QS. 65:
5)
-
Ampunan (QS. 65:5), dan
-
Pahala yang besar (QS.
65:5)
Dengan ketakwaan yang
dihasilkan oleh puasa, diharapkan kita akan keluar dari berbagai macam krisis
yang tengah membelenggu kehidupan kita. Pasca Ramadhan, adalah masa memupuk
ketakwaan yang kita peroleh di bulan Ramadhan, agar tidak layu menuju Ramadhan
selanjutnya. Wallahu alamu bis shawab.
Sumber : 30 Tadabur
Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani - IKADI
|