Minta info dong tentang LCR dan cara ikutnya ----- Original Message ----- From: "Tuti M Astuti" <[EMAIL PROTECTED]> To: "FUPM-EJIP (E-mail)" <[email protected]> Sent: Friday, October 20, 2006 8:46 AM Subject: [ FUPM-EJIP ] Fw: lebaran cara rosul
> > > > Lebaran Cara Rasul > > Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya > bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir > di wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap > kembali meniti Ramadhan di tahun depan. > Satu persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, > menyeru nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, > di hari itu segenap mata tak kuasa membendung airmata > keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang > kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan. > "Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?" > lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis. > > Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, > matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari > sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. > Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus > untuk merayakan hari kemenangan. > "Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan > bersama Rasulullah," tutur gadis kecil itu menjawab > tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya. > > Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. > "Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, > Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, > dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?" > Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri > di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah SAW, > Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. > Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, > dan beribu seorang Ummul Mukminin? > > Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil > yang bersedih di hari raya kembali tersenyum. > Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari > seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. > Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk > diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata. > Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya. > > *** > > Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian bagus. > Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat bersilaturahim > di hari kemenangan itu. Namun tak dapat dipungkiri, > bagi sebagian besar masyarakat kita, memakai pakaian > baru sudah menjadi budaya. Mungkin budaya ini merujuk > pada kisah di atas, bahwa Rasul pun memakai pakaian yang > bagus di hari raya. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan > untuk menyambut lebaran, bahkan bagi sebagian orang, > tak cukup satu stel pakaian baru disiapkan, mengingat tradisi > silaturahim berlebaran di Indonesia yang lebih dari satu hari. > > Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, > ambil sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari kemenangan > bolehlah diwarnai dengan penampilan yang lebih baik. > Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya kita menggapai > sukses penuh arti selama satu bulan menjalani Ramadhan. > Baju baru bukan cuma fenomena, bahkan sudah menjadi budaya. > Tetapi ada cara berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan, > yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan > pakaian yang lebih pantas di hari istimewa. > > Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang > baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu dan sandal > yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan betapa cerianya > mereka saat berlebaran nanti mengenakan pakaian bagus itu. > Tapi siapakah yang akan membelikan pakaian baru untuk > anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau Ibu yang akan mengajak > mereka menyambangi pertokoan dan memilih pakaian yang mereka suka. > Dapatkah kita bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah > riuh rendah keceriaan anak-anak lain berbaju baru, > sementara baju yang mereka kenakan sudah usang. > > Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran, > tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju > bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan Husain. > Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan hari raya > juga istimewa bagi anak-anak yatim. > Mampukah kita meniru cara Rasul berlebaran? > > Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk > anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari rezeki > yang kita dapat untuk membeli satu saja pakaian bagus > untuk pantas dipakai oleh anak-anak yatim tetangga kita. > Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak hanya milik anak-anak kita, > hari istimewa itu juga milik mereka. > > Maka, ikuti yuks! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul). > Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang melakukannya > di berbagai tempat. Namun jika lebih banyak lagi orang-orang > beruntung seperti kita yang mau membudayakan LCR ini, > akan lebih banyak senyum anak yatim yang tercipta di hari bahagia. > > > (Bayu Gawtama) > > Note: Jika berkenan meneruskan tulisan ini ke berbagai milist dan > komunitas, setidaknya Anda berkesempatan mengukir senyum anak-anak yatim. > Apalagi jika ada yang bekerja di media, atau punya akses ke berbagai media > cetak maupun elektronik, sehingga Gerakan LCR ini menjadi sebuah gerakan > nasional. Akan indahlah dunia dengan berbagi. Maha Suci Allah. > > > ******************************************************** > Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP > ******************************************************** > Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : > http://www.usahamulia.net > > Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : > [EMAIL PROTECTED] > > ******************************************************** > > ******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
