Republika, Jumat, 03 Nopember 2006

Merentang Sayap Al Jazirah



Inilah tipikal jaringan televisi Al Jazirah: penuh dengan kontroversi. Kalimat tersebut menjadi pembuka tulisan panjang tentang pendobrakan besar stasiun TV Al Jazirah yang diturunkan situs majalah Times edisi Eropa. Scott Macleod menulis artikel panjang tersebut untuk memberi sambutan 10 tahun Al Jazirah.

Sebenarnya sebutan yang lebih tepat untuk Al Jazirah itu penuh kejutan dan bukan penuh kontroversi. Saat dunia Arab --juga dunia Islam-- terlelap oleh pengaruh media Barat, Al Jazirah muncul dengan warna yang berbeda dengan Barat.

Saat banyak orang mencari-cari keberadaan Usamah bin Ladin, saluran tersebut beberapa kali secara mengejutkan menayangkan video dan pernyataan Usamah. Masih banyak kejutan yang lain. Jaringan Al Jazirah mulai mengudara pada November 1996. Namanya menjadi semakin populer setelah peristiwa penghancuran menara kembar WTC dan Pentagon. Penjajahan Amerika Serikat (AS) terhadap Irak dan Afghanistan, serta keberadaan Usamah bin Ladin, makin mengibarkan bendera Al Jazirah.

Dalam usia 10 tahun, Al Jazirah membuat sejarah penting bagi dunia media massa. Jaringan televisi berbasis di Doha, Qatar, ini bakal meluncurkan siaran berbahasa Inggris mulai 15 November mendatang. Ini bisa menjadi langkah awal untuk mendobrak hegemoni media Barat yang semakin kuat. "Peluncuran siaran berbahasa Inggris, membuka kesempatan bagi kami untuk menjangkau audiens baru yang selama ini telah mendengar nama Al Jazirah tapi tidak bisa menontonnya, dan tidak mengerti bahasanya, bahasa Arab," ujar Direktur Utama Al Jazirah, Wadah Khanfar. Dia berjanji bahwa siaran berbahasa Inggris ini tetap akan memegang teguh nilai-nilai jurnalistik dengan baik.

Selain dari Doha, siaran berbahasa Inggris ini juga akan disiarkan dari Kuala Lumpur, London, dan Washington DC. Menurut Khanfar, siaran berbahasa Inggris ini akan lebih fokus pada berita-berita yang berasal dari dunia ketiga (negara-negara berkembang). Pancaran siaran berhasa Inggris ini utamanya akan menjangkau 40 juta rumah di Eropa, Afrika, dan Asia Selatan.

"Al Jazirah adalah satu-satunya jaringan internasional yang berbasis di negara berkembang," ungkap Khanfar. Dia merasa, selama ini dunia berkembang tidak pernah terwakili oleh media internasional yang kini ada. Dalam penilaiannya, media-media bertaraf dunia lebih senang memusatkan liputannya pada dunia Barat.

Seperti dikutip dalam tulisan yang dimuat dalam situs Times tersebut, mantan koresponden CBS News di Kairo, Lawrence Pintak, menganggap perkembangan Al Jazirah itu seperti menjadi sumber informasi baru. "Anda kini memiliki saluran yang bisa mengatakan apa yang belum pernah Anda lihat dan saksikan sebelumnya," tutur dia.

Dengan demikian, tak bisa dimungkiri bahwa dampak siaran yang dipancarkan Al Jazirah bakal semakin kuat. Saat ini saja, tanpa siaran berbahasa Inggris, dunia Barat tidak bisa lagi mengabaikan pengaruh siaran Al Jazirah. Maklumlah, setiap hari siarannya disaksikan sekitar 50 juta orang. Pemerintah AS telah mengeluarkan banyak uang untuk membangun televisi berbahasa Arab di kawasan Timur Tengah. Saluran televisi tersebut dinamai Al Hurra. Tidak lain, saluran ini dibangun memang untuk mengimbangi opini yang dibangun Al Jazirah tentang dunia Barat. Secara jelas, Al Jazirah memang menempatkan diri sangat kritis terhadap sepak terjang AS terutama di dunia Arab.

Penjajahan AS terhadap Afghanistan dan Irak, dukungan AS terhadap Israel dalam menjajah Palestina, mendapat serangan kuat dari jaringan televisi tersebut. Selain lewat Al Hurra beberapa kali AS juga secara kasar mencoba membungkam kekuatan Al Jazirah dengan cara mereka sendiri.

Saat penyerangan terhadap Irak berlangsung gencar, pasukan AS menggempur kantor Al Jazirah di Baghdad. Peristiwa ini terjadi pada 8 April 2003. Seorang reporter bernama Tareq Ayyoub pun meninggal, dan seorang lainnya terluka. Penyerangan ini dipercaya terjadi setelah pihak AS mengetahui posisi kantor tersebut. Sejak Agustus 2004, Pemerintah AS pun melarang Al Jazirah menjalankan aktivitas peliputan di Irak. Peristiwa penyerangan juga pernah menimpa kantor Al Jazirah di Kabul, Afghanistan, pada 13 November 2001.

Tak cuma Pemerintahan AS yang berusaha membungkam kemunculan Al Jazirah. Situs BBC menulis sebuah survei soal tanggapan warga AS terhadap rencana peluncuran siaran Al Jazirah berbahasa Inggris itu. Berdasar survei itu --tanpa disebutkan penyelenggara surveinya-- 53 persen masyarakat AS menentang peluncuran siaran Al Jazirah berbahasa Inggris itu. Tak cuma itu, dua pertiga warga negara yang disebut-sebut demokratis itu meminta pemerintahannya melarang siaran Al Jazirah berbahasa Inggris memasuki pasar AS.

Berbagai upaya pembungkaman itu tak membuat Al Jazirah surut. Sebaliknya, jaringan televisi yang dibangun dengan modal senilai 150 juta dolar AS itu malah mendunia. Selain memengaruhi dunia Barat, siaran televisi ini juga menggugah kesadaran dunia Arab akan pentingnya peran media. Mengikuti sukses Al Jazirah, kini muncul jaringan televisi Al Arabiya yang berbasis di Dubai.

Menggeliatnya jaringan media dari kawasan Arab ini membuat jaringan televisi berita CNN yang banyak mewakili suara Barat, bersikap. Belakangan ini siaran di CNN kerap menayangkan iklan situs CNN berbahasa Arab. Sebenarnya, menurut situs Japan Today, situs CNN berbahasa Arab itu telah diluncurkan sejak 19 Januari 2002 dari kantor di Dubai, Uni Emirat Arab. Persaingan CNN sebagai wakil Barat dengan Al Jazirah pun menjadi semakin kuat. irf

( )
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke