Kisah-Kisah 'Islami' di Televisi

Fiqih Quran & Hadist Oleh : Redaksi 17 Oct, 06 - 5:00 am

 

Dalam dunia tulisan maupun film fiksi, 'tuhan' dari lakon cerita adalah 
pengarangnya. Dialah yang membuat alur dan nasib masing-masing tokoh dan lakon. 
Pengarang bisa saja menampilkan seorang manusia yang awalnya sangat jahat, 
akhirnya menjadi taat. Atau dahulunya sangat taat, akhirnya bejat. Bisa pula 
menampilkan tokoh super hebat dan lebih sakti dari para Nabi. Dari sisi inilah 
barangkali fiksi banyak diminati, karena alur dan warna cerita bisa sangat 
variatif. Cerita bisa pula dibuat menarik dengan mengambil back ground waktu 
dan tempat yang beragam. Bisa lintas generasi atau bahkan lintas alam. 

 

Mempertemukan antara tokoh wayang Gatutkaca dengan tokoh fiktif Superman pun 
tidak mustahil. Atau para pendekar muslim melawan monster. Hal-hal aneh yang 
tak jauh dari itulah yang ditampilkan di sinetron "islami' fiksi di Televisi.

 

Memang menarik, tetapi isinya adalah kedustaan. Nabi melarang berdusta untuk 
membuat orang-orang tertawa,

 

?????? ???????? ????????? ?????????? ?????????? ???? ????????? ?????? ???? 
?????? ????

"Celakalah orang yang bercerita lalu dia berdusta untuk membuat orang-orang 
tertawa, celakalah ia..celakalah ia." (HR Abu Dawud)

 

Wallahu a'lam, karena 'illat dari larangan tersebut adalah kedustaannya, bukan 
karena lucunya, maka membuat kedustaan supaya orang menangis, takut atau 
gembira juga dilarang. 

Apalagi, beberapa di antaranya jelas-jelas mengandung khurafat atau kesyirikan. 
Seperti seorang ustadz yang memakai biji tasbih sebagai jimat. Dari tasbih 
keluar huruf-huruf hija'iyyah atau bisa meledak. Ini sanga lazim nongl di TV. 
Padahal Nabi bersabda,


 

????? ???????? ?????????????? ????????????? ??????

"Sesungguhnya jampi, jimat dan pelet adalah kesyirikan." (HR Ibnu Majah, Ahmad)

 

 

Kisah Nyata yang Menakut-nakuti

 

Seorang Nasrani pernah berkata kepada seorang ustadz, "Ustadz, saya takut masuk 
Islam!", Sang ustadz bertanya, "Kenapa?", Dia menjawab, "Takut kalau mati nanti 
seperti di sinetron-sinetron itu." Takut, kalau masuk Islam nanti kuburannya 
berasap, jenasah penuh belatung, jenasah bisa terbang, kuburan penuh air dan 
peristiwa mengerikan lain. Ketakutan itu tidak berlebihan, bukankah seluruh 
sinetron itu menceritakan tentang orang Islam? Selalunya bicara tentang jenasah 
terbungkus kain kafan? Bukan berjas, bersalib atau yang sudah jadi abu?

 

Pada sisi lain, meskipun diangkat dari kisah nyata, sebagai kelengkapan cerita 
menuntut adanya tambahan dan rekayasa kejadian, nama maupun tempat. Unsur 
melebih-lebihkan dari kejadian sebenarnya jelas ada. Karena tanpa bumbu ini, 
cerita menjadi hambar, kurang dramatis. 

 

Seringkali tuntutan skenario juga mengharuskan pemeran wanita menampakkan 
auratnya. Pemeran pelacur pun tampak persis dengan pelacur, baik pakaian maupun 
cara merokoknya. Apakah seperti ini mengharapkan penonton bertaubat, sedangkan 
pemainnya saja belum bertaubat? Anda saja mereka sudah bertaubat, tentu tak 
sudi main seperti itu. Karena tuntutan skenario bukanlah udzur yang bisa 
diterima secara syar'i sehingga wanita boleh buka-bukaan. Bukan pula udzur 
sehingga diperbolehkan seorang muslim bermesraan dengan wanita yang bukan 
istrinya, apalagi dilihat banyak orang. Jelas ini menyebarkan kemaksiatan, 
terang-terangan dalam bermaksiat. Padahal Nabi bersabda,

 

????? ???????? ???????? ?????? ???????????????

"Setiap umatku diampuni, kecuali mujahirin (yang terang-terangan melakukan 
dosa)." (HR Bukhari)

 

Di samping kebenaran cerita perlu dipertanyakan, kesimpulan dan pengambilan 
ibrah juga seringkali gegabah. Untuk satu kejadian mengerikan dikaitkan dengan 
dosa tertentu. Misalnya kuburan yang tergenang air, lalu dikaitkan dengan dosa 
si mayit. Ini berbahaya, bisa menimbulkan su'uzhan kepada mayit yang mengalami 
hal serupa. Padahal bisa jadi karena sifat tanah mengandung banyak air. 

 

Atau kuburan keluar asapnya, lalu dikaitkan dengan perselingkuhan yang pernah 
dilakukan si mayit. Dikhawatirkan ketika ada kejadian yang kurang wajar, lalu 
dicari sisi dosa dan dibesar-besarkan sebagai bumbu cerita.

 

 

Sebaik-baik Kisah

 

Memang, kisah adalah sarana penting diterimanya dakwah. Tetapi tak perlu 
mengibuli umat untuk mendakwahi mereka. Untuk itulah Nabi tidak pernah 
bercerita kecuali yang benar. Jika ingin berkisah, maka sebaik-baik kisah 
adalah kisah yang dipaparkan di dalam Al-Qur'an. Datanya akurat, tidak ada 
kedustaan di dalamnya. Pelajaran yang bisa dipetik juga telah tergambar jelas. 
Misalnya tentang siksa bagi kaum Luth, di mana bumi di balik, mereka dihujani 
batu sampai mati, itu karena dosa homoseks yang mereka lakukan. Atau Qarun yang 
ditenggelamkan ke bumi beserta kekayaannya, itu karena kesombongannya.

 

Hadits-hadits juga menyebutkan banyak kisah-kisah menarik dan dijamin asli, 
bukan fiksi. Kisah-kisah yang ditulis para ulama tentang ulama, atau tentang 
generasi salaf juga sangat bagus sebagai sarana untuk memotivasi diri untuk 
senantiasa istiqamah.

 

Walhasil, bagi yang sudi menggali karya para ulama tentang kisah-kisah nyata 
yang bermanfaat, niscaya dia akan merasa cukup, tanpa harus mencari kisah-kisah 
yang mengada-ada. Wallahu a'lam (Abu Umar A/majalah Ar-Risalah)

 

<<attachment: Leaves_Bkgrd.jpg>>

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke