Berbahagialah orang yang kaya hati.
Sangat malulah orang yang mampu tapi tidak berkurban.
*** Abu Syauqi ***
----- Original Message -----
From: Sutiyo
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Sent: Thursday, December 21, 2006 10:22 PM
Subject: [ FUPM-EJIP ] Belum Haji Sudah Mabrur
Belum Haji Sudah Mabrur
Oleh : Ahmad Tohari
Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia
salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah
berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima
Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang
sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya
sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan
milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim
sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah
perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah
bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang
terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga.
Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk
buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di
atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin
itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi
bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren
kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya
dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu
Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini
zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan
pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun
terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan
hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren
kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti
yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau
bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa
menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus.
Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang
miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan.
Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250
ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk
orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga
diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya
bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang
kecil.
''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup.
Bagaimana bila Senin?''
''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''
''Mau ambil berapa?'' tanya saya.
''Enam ratus ribu, Pak.''
''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ''Saya
mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang
saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.''
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi
kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan,
mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal
saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli
kambing kurban.
''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu.
Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima
kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah
benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?''
''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini
memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging
kurban.''
''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri,
dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar,
mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan
oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya
keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?
Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak
mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi
malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu
sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak
kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu
belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging
kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu
yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik
haji.
------------------------------------------------------------------------------
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************