2007: MENYAMBUT
KEHANCURAN KAPITALISME DAN
TEGAKNYA KEMBALI KHILAFAH

Tahun 2006 baru saja berakhir. Sepanjang tahun 2006, umat Islam diliputi dengan 
berbagai persoalan. Satu kalimat yang masih tepat dialamatkan kepada kaum 
Muslim adalah: kita masih dijajah. Negeri-negeri Islam seperti Irak dan 
Afganistan masih diduduki secara militer oleh penjajah Kapitalisme. Korban di 
kalangan umat Islam pun terus berjatuhan dan bertambah. Di Irak, menurut 
laporan John Hopkins University, sudah lebih dari 650 ribu kaum Muslim 
terbunuh. Konflik di Irak pun semakin meluas. Upaya provokasi terus dilakukan 
oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam. Harapannya, konflik internal Sunni-Syiah 
terus berkembang. Di Afganistan, rakyat sipil masih menjadi korban utama 
pasukan NATO dengan alasan memerangi pasukan Taliban. 

Kebiadaban Israel semakin menambah luka mendalam di tubuh kaum Muslim. Secara 
sistematis, negara Zionis Yahudi ini membunuhi kaum Muslim dengan dukungan 
penuh Amerika Serikat.

Kondisi ini diperparah oleh pengkhianatan para penguasa di negeri Islam. 
Alih-alih melawan penjajahan di negerinya, mereka malah memberikan "karpet 
merah' kepada penjajah untuk memuluskan dan mengokohkan penjajahan di negeri 
mereka. Musharaf, sang boneka AS di Pakistan, menjadi ujung tombak negara 
penjajah memerangi kaum Muslim. Atas nama perang melawan terorisme, penguasa 
boneka ini, terus memburu kaum Muslim. Pertengahan Januari 2006, misalnya, 
pasukan AS melancarkan serangan ke Desa Damadola, Pakistan, dekat perbatasan 
dengan Afganistan.  Serangan menyebabkan 18 korban tewas, termasuk perempuan 
dan anak-anak, atas dasar informasi yang diberikan oleh CIA.  Angkatan 
bersenjata Pakistan juga menyerang sebuah madrasah di Pakistan; 70-80 santri 
yang belajar di tempat itu terbunuh. Pembunuhan seperti ini terus berulang dan 
berulang. 

Pengkhianatan lainnya, para penguasa negeri-negeri Islam ini hanya diam 
berpangku tangan ketika umat Islam di Palestina, Irak, Afganistan, Lebanon 
dibunuh. Ketika Israel menyerang Lebanon yang menimbulkan kerusakan bangunan 
yang hebat dan pembunuhan ribuan warga sipil, penguasa Arab hanya berdiam diri. 
Bahkan pemerintah Lebanon sendiri tidak melakukan apa-apa. Husni Mubarak, 
dengan tegas malah menolak mengirim pasukan dengan alasan, tentara Mesir adalah 
untuk Mesir. Alih-alih membantu perjuangan kaum Muslim di Irak, pemerintah Arab 
Saudi dalam waktu dekat, berencana membangun tembok pembatas yang cukup besar 
guna menghalangi masuknya para pejuang Islam ke Irak lewat Saudi, sebagaimana 
yang dituduhkan AS.   Tembok itu rencananya akan dibangun sepanjang 900 km di 
sepanjang perbatasan Saudi-Irak. Sementara itu, pemerintah negeri ini malah 
menyambut Bush sang Pembunuh bagaikan tamu terhormat.  

Umat Islam pun menjadi korban terbesar dalam Perang Melawan Terorisme yang 
dipimpin oleh AS. Penjara-penjara seperti Guantanamo (Kuba), Abu Ghuraib 
(Irak), dan penjara rahasia yang menyebar di berbagai negara menjadi saksi bisu 
 kekejaman yang dilakukan AS terhadap umat Islam yang dituduh teroris. Semua 
kekejaman itu dilegalisasi dengan disahkannya pada Oktober 2006 UU  yang 
mengizinkan Badan Intelijen Amerika (CIA) mengoperasikan penjara rahasia di 
luar negeri. CIA juga diperbolehkan menggunakan taktik interogasi kejam dan 
penahanan tersangka teroris tanpa batas waktu. 

Tidak hanya itu, propaganda anti Islam, stigmatisasi negatif atas syariah 
Islam, dan penghinaan terhadap Rasulullah saw. terus berlanjut. Di Inggris, 
Shabrina Begum dikalahkan oleh pengadilan Inggris, ketika menyoal pengusiran 
dirinya dari sekolah hanya karena menggunakan jilbab. Pembuatan kartun yang 
menghina Rasulullah saw. terjadi di Denmark atas nama kebebasan berekspresi. 
Alih-alih minta maaf, penghinaan itu kemudian kembali berulang ketika di 
Denmark pada Oktober 2006 melalui perlombaan karikatur menghina Rasulullah saw. 
 Penghinaan terhadap Rasul pun dilakukan oleh pemimpin puncak agama Katolik, 
Paus Benedictus XVI, ketika menyebut Rasulullah saw. hanya membawa sifat-sifat 
keiblisan (evil) dan bertentangan dengan kemanusiaan (inhumanity). 

Berbagai persoalan yang menimpa kaum Muslim, semakin menegaskan peperangan yang 
nyata dari negara-negara kapitalis yang dipimpin oleh AS dan sekutunya dengan 
umat Islam. 

Namun demikian, semua ini semakin mempercepat terbentuknya kesadaran politik di 
tengah-tengah umat Islam, bahwa musuh mereka adalah AS dengan ideologi 
Kapitalismenya. Kesungguhan untuk memperjuangkan Khilafah pun semakin menguat 
di seluruh dunia. Semua ini dibangun atas dasar kesadaran wahyu tentang 
kewajiban menegakkan Khilafah dan syariah Islam yang kemudian diperkokoh oleh 
kebutuhan umat Islam untuk memiliki kekuatan politik real yang nyata. Apalagi 
Allah Swt. telah menjamin kemenangan bagi kaum Muslim dan Rasul saw. pun telah 
menjanjikan akan kembalinya Khilafah 'ala Minhaj an-Nubuwwah.

Optimisme kemenangan umat Islam pun semakin membesar. Pertama: Di tengah-tengah 
kaum Muslim kesadaran untuk kembali ke Islam semakin menguat. Di sisi lain, 
krisis kepercayaan kepada penguasa dan sistsem sekular semakin memuncak. Pusat 
Studi Strategi Universitas Yordania, dalam publikasinya berdasarkan  survey 
yang berjudul, "Revisiting the Arab Street", menyimpulkan bahwa ada keinginan 
yang kuat dari masyarakat Timur Tengah untuk hidup diatur oleh syariah Islam di 
bawah naungan Khilafah. Survey juga mendapati bahwa di Yordania, Palestina, dan 
Mesir, 2/3 responden mengatakan syariah Islam harus manjadi satu-satunya sumber 
hukum bagi negara.

Kedua: AS dengan sistem Kapitalismenya sedang di ambang kehancuran. Kegagalan 
kebijakan politik luar negeri AS di Irak juga menjadi indikator penting. Secara 
gamblang, Henry Kissinger menyebut AS tidak akan menang di Irak. Suara senada 
dilontarkan sekjen PBB Kofi Annan. 

Kegagalan pasukan AS justru membangun optimisme di kalangan umat Islam. Mereka 
mulai menyadari bahwa AS tidak bisa dikalahkan hanyalah mitos. Terbukti, 
menghadapi kelompok kecil gerilyawan di Irak saja pasukan AS kewalahan. Di 
Afganistan, perlawanan terhadap AS dilakukan terus tanpa henti. Tidak bisa 
dilupakan, kegigihan Hizbullah untuk bertahan dari serangan Israel yang 
didukung dengan peralatan yang canggih dan bom-bom dahsyat. Jika kelompok 
perlawanan yang kecil ini saja telah membuat AS dan sekutunya kalang-kabut, 
bagaimana kalau pasukan kaum Muslim ini berada di bawah komando Khalifah yang 
menyatukan 1,5 miliar  umat Islam di seluruh penjuru dunia?  Wallâhu a'lam. 
[Farid Wadjdi] 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke