Subahanalloh,....sesungguhnya alloh swt maha tahu atas segala kejadian dimuka 
bumi ini. 
 
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Sutiyo
Sent: Wednesday, January 10, 2007 9:38 AM
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Subject: [ FUPM-EJIP ] Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat HidayahAllah
 
Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah
Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan 
suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey yang 
selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai "Pelayan Firman Tuhan ", istilah 
lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai "jalan hidup" akhir 
dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping itu, ia yang juga pernah 
menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor, harus mengikhlaskan diri melepas 
jabatan, dan memulai karir dari bawah lagi sebagai kepala keamanan di sebuah 
perusahaan swasta di Jakarta. - Cerita Beliau ini, - mohon maaf - tidak 
bermaksud untuk menjelek-jelekan Institusi tertentu karena apa yang telah 
terjadi Beliau terima dengan ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin 
menceritakan proses bagaimana Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai 
mualaf - red.
Saya terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942. Sedangkan, 
Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang Minahasa, Sulawesi Utara. 
Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang seluruhnya laki-laki. Keluarga kami 
termasuk keluarga terpandang, baik di lingkungan masyarakat maupun gereja. 
Maklum, ayah saya yang biasa kami panggil papi, adalah seorang pejabat 
Direktorat Agraria yang merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi 
kemerdekaan Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu 
yang biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah 
milik gereja Minahasa.
Sejak kecil saya kagum dengan pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard 
Lion Heart yang legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte 
yang gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam 
batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang 
bertempur dengan gagah berani di medan laga.
Singkatnya, saya berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa 
menemui banyak kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi 
mengikuti pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya 
ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu, kecuali 
bahwa disiplin ABRI dengan doktrin "Sapta Marga"-nya telah menempa jiwa saya 
sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan siap melaksanakan tugas 
negara yang dibebankan kepada saya.
Meskipun dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi 
dalam beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi 
pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando yang 
dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).
Setelah situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966, 
oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi) milik 
gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Di STI ini, 
selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami, mengkaji, dan diskusi 
tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai seorang pendeta. Di samping 
belajar sejarah dan filsafat agama Kristen. STT juga memberikan kajian tentang 
sejarah dan filsafat agama-agama di dumia, termasuk studi tentang Islam.
 
Menjadi Pendeta.
Sambil tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan 
menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat, bertetangga 
dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang lebih 12 tahun 
(1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang hampir 80 persen adalah kaum 
intelektual atau masyarakat elit.
Di Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk 
pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama memberikan 
khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat musibah, juga 
menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.
Kendati sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap 
ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya sering 
bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri dalam rangka tugas 
belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf Royal Netherland Armed 
Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun 1969 saya ditugaskan untuk 
mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara Berkembang yang disponsoni oleh 
UNESCO di Paris, Prancis.
 
Dilema Rumah Tangga
Kesibukkan saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya 
sibuk luar biasa. Sebagaipendeta, saya lebih banyak memberikan perhatian kepada 
jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga nyaris tergeser. Istri saya, 
yang putri mantan Duta Besar RI di salah satu negara Eropa, sering mengeluh dan 
menuntut agar saya memberikan perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.
Tetapi yang namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan. 
Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan meminta agar 
saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan alasan supaya lebih 
banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak dapat menerima usulannya 
itu. Sebagai seorang "Pelayan Firman Tuhan" saya telah bersumpah bahwa 
kepentingan umat di atas segalanya.
Problem keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak 
api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis. 
Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak ada lagi 
kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique, putri saya 
satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan terganggu dengan masalah 
yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, saya bertekad harus 
merangkul anak saya itu agar ia mau mengerti dengan posisi ayahnya sebagai 
pendeta yang bertugas melayani umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya 
Angeliquelah satu-satunya orang di rumah yang menyambut hangat setiap 
kepulangan saya.
Dalam kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering 
merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir, buat apa 
saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan 
buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan khutbah pada setiap 
kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat Kristen mampu memberikan kasih 
kepada sesama umat manusia. Lalu, bagaimana dengan saya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin membuat batin saya resah. Saya 
mencoba untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya 
bahkan terang terangan tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya 
benar-benar dilecehkan. Saya sudah sampal pada kesimpulan bahwa antara kami 
berdua sudah tidak sejalan lagi.
Lalu, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak saling sejalan? 
Ketika niat saya untuk "melepas" istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat 
dekat saya sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih 
bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang sering 
menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan istrinya? Bagaimana 
dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka mengingatkan.
Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi, saya sudah tidak mampu lagi 
mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi saya yang terpenting saat itu bukan 
lagi persoalan menjaga citra pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat 
damai. Singkatnya, dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, 
Angelique, putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.
 
Mencari Kedamaian
Setelah kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya 
menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama. Termasuk 
kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya sukai. Juga 
mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak dilansir media massa. 
Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z. Muttaqin (almarhum) terhadap krisis 
perang saudara di Timur Tengah, seperti diYerusalem dan Libanon. Waktu itu 
(tahun 1983), K.H.E.Z. Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, 
mengapa Timur Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat 
itu diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?
Saya begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu. Sehingga, 
dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni K.H. E.Z. Muttaqin 
itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian. Saya merasakan ada kekagetan 
di mata para jemaat. Saya maklum mereka terkejut karena baru pertama kali 
mereka mendengar khutbah dari seorang pendeta dengan menggunakan referensi 
seorang kiai Tetapi, bagi saya itu penting, karena pesan perdamaian yang 
disampaikan beliau amat manusiawi dan universal.
Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak mendapat sorotan. Secara 
selentingan saya pemah mendengar "Pendeta Mandey telah miring." Maksudnya, saya 
dinilai telah memihak kepada salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena 
yang saya sampaikan adalah nilai-nilai kebenaran.
Kekaguman saya pada konsep perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z. 
Muttaqin, semakin menarik saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi 
Islam lainnya. Saya ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah 
masuk, saya ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah 
perumpamaannya. Saya semakin "terseret" untuk mendalami, konsepsi Islam tentang 
ketuhanan dan peribadahan
Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut "tauhid". 
Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi 
Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga, orang 
yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi 
ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga 
diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.
Akan halnya konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya 
begitu teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan yang 
seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau ini akan mampu 
di selamatkan.
Pada tahun 1982 itulah saya benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu 
setengah tahun saya melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga 
aktif di Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan 
tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang perwira 
Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga apa yang akan 
terjadi seandainya saya masuk Islam.
Tetapi, suara batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak 
dapat diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar saya 
segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.
Oh, ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan 
kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad 
(Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen dan 
Strategi) ABRI.
Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan 
filsafat. Kepadanya saya sering berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi 
dan keluarga. Ia sering memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi 
dan keluarga dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan 
sebagai duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.
Akhirnya, saya semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya 
yakin bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang lurus 
dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan melepas 
kebenaran yang telah saya raih ini.
Akhimya, dengan kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 
saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H. Kosim 
Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqial. Allahu Akbar. Hari 
itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Han saat saya menemukan 
diri saya yang sejati.
 
Menghadapi Teror
Berita tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja, 
termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah Kepala 
Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya adalah pentolan.
Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru, yaitu menghadapi tenor dan 
berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman terus berdening. Bahkan, ada 
sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok yang bertekad menghabisi nyawa saya, 
karena dianggapnya telah murtad dan mempermalukan gereja.
Akan halnya saya, di samping menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang 
menyangkut tugas saya di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan menginim 
surat ke Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl 
dan agar saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu di hadapan majelis 
gereja.
Saya tidak penlu menjelaskan secara detail bagaimana proses selanjutnya, karena 
itu menyangkut rahasia Mabes ABRI. Yang jelas setelah itu, saya menerima surat 
ucapan tenima kasih atas tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus 
pembebastugasan dan jabatan saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor. 
Tidak ada yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan ikhlas 
semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.
Saya yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi 
Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat. Alhamdulillah, 
berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di sebuab perusahaan 
swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus menanjak. Setelah itu, beberapa 
kali saya pindah kerja dan menempati posisi yang cukup penting. Saya pennah 
menjadi Manajer Divisi Utama FT Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General 
Affairs Manager Hotel Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai 
sekarang saya bekerja di sebuah bank terama di Jakarta sebagai Safety & 
Security Coordinator.
Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya sudah meraih semua kebahagiaan 
yang selama sekian tahun saya rindukan. Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab 
Dra. Nasikhah M, perwira Kowad itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, 
insya Allah selama hayat masih di kandung badan. Saya menikahinya tahun 1986. 
Dan, dan perikahan itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, 
namariya Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai 
hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai penganut 
Protestan yang taat.
Kebahagiaan saya semakin bertambah lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan 
menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989. 
 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************
 
__________ NOD32 1862 (20061110) Information __________
This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke