aww.
af1, Itu memang tabiat mereka pak.
tdk ada harokah lain yang benar menurut mereka, semuanya salah.
dan juga karena mereka belum bertabayun dulu denga harokah yang mereka salahkan.
www.
 
Regards
Daryono
 
Process Engineer
Process Engineering B (Machining)
PT. Astra Honda Motor
phone : 021-89981818 
ext : 8572 / 8574

________________________________

From: [EMAIL PROTECTED] on behalf of Irwan
Sent: Fri 3/2/2007 4:38 PM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA MEREKA LEBIH MENDAHULUKAN 
KHILAFAHDARIPADATAUHID ???


MAAF PAK, TADI OLEH PARA MILIST DISEPAKATI JANGANLAH KITA MEMULAI SESUATU YANG 
BAIK DENGAN CARA YANG KURANG BAIK. ARTINYA DIGARISKAN KALAU ANDA MERASA BENAR 
DALAM MENYAMPAIKAN SESUATU, MAKA CARANYA JUGA HARUS BENAR DENGAN TIDAK 
MENYAKITKAN SI PENERIMA. SAYA GA PEDULI SIAPA YANG MULAI BICARA DULU, TAPI SAYA 
PALING TIDAK SUKA ORANG YANG SUKA MENGHUJAT DAN MENGHAKIMI ORANG LAIN DAN 
MERASA PALING BENAR DENGAN CARA YANG KASAR. KITA INI SAUDARA MARI KITA SALING 
MENOLONG DALAM HAL YANG KITA SEPAKATI DAN BERTOLERANSI DAN HAL PERBEDAAN. 
WASSALAAM,
IRWAN

        -----Original Message-----
        From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of FDB2 Subassy
        Sent: Friday, March 02, 2007 4:14 PM
        To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
        Subject: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA MEREKA LEBIH MENDAHULUKAN KHILAFAH 
DARIPADATAUHID ???
        
        

        Dari tetangga sebelah semoga bermanfaat,....

         

        Nuhun

        Mang asep

         

        MENGAPA MEREKA LEBIH MENDAHULUKAN KHILAFAH DARIPADA TAUHID ???
        
        Oleh
        Abu Salma al-Atsary
        
        Segala puji hanya bagi Allah, Rabb pemelihara alam semesta, 
satu-satunya Ilah yang Haq untuk disembah, yang tiada sekutu bagi-Nya baik 
dalam nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum dan ibadah kepada-Nya, yang 
mengutus para nabi untuk menegakkan haq-Nya, yang menurunkan al-Kitab sebagai 
bayyinah atas keesaan-Nya, yang menciptakan manusia dan jin hanya untuk 
beribadah kepada-Nya, dan menjadikan segala maksud dan tujuan hanyalah 
untuk-Nya. Amma Ba'du:
        Sesungguhnya, sejak zaman dahulu hingga sekarang, sejak manusia pertama 
diciptakan hingga manusia terakhir akan binasa, Tauhid merupakan pondasi dasar 
ubudiyah seorang hamba, haq Rabb yang harus dipenuhi hamba-Nya, baik dalam 
keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan suka maupun duka. Bahkan, tiadalah 
diutus para anbiya' dimuka buni ini kecuali mengembalikan fitrah manusia pada 
kesuciannya, dalam mengabdi dan beribadah kepada penciptanya semata.
        
        Namun, sungguh sayang, ketika kelompok-kelompok islam yang 
parsial/juz'iyyat dalam gerakannya bermunculan, mereka membangun bangunan yang 
dimulai dari atapnya, sedangkan pondasinya keropos dan kosong dari pilar-pilar 
aqidah, maka bagaimana mungkin bangunan tersebut akan berdiri, sedangkan 
pondasinya tidak ada, dan mereka mencurahkan segala daya dan upaya mencari cara 
untuk membangun atap bangunan yang tak berpondasi dan berpilar tersebut. Mereka 
berfikir, jika mereka membangun pondasi terlebih dahulu, akan memerlukan waktu 
yang lama, biaya dan tenaga yang besar, sedangkan hujan, badai dan terik telah 
menyiksa, maka atap untuk berlindung lebih diperlukan, karena mereka tak kuat 
lagi tertimpa hujan dan panas terik...
        
        Namun sungguh malang, karena upaya mereka itu adalah mustahil dan 
bodoh, karena biar bagaimanapun, pondasi adalah penting dalam membangun 
infra-struktur suatu bangunan, tanpa pondasi, maka kita seolah-olah hanya 
mengharap sesuatu yang tak mungkin tegak, bak hendak meraih bulan dan bintang 
di tengah malam, padahal tangan tak sampai. Pun seandainya berdiri atap 
tersebut, dan mereka beranggapan telah aman dari hujan dan terik yang mendera, 
namun bangunan itu sangat lemah, hanya dengan tiupan angin sedikit saja, maka 
akan hancur berkeping-keping bangunan dan usaha mereka yang sia-sia tersebut. 
Inilah perumpaan mereka, penyeru-penyeru islam yang senantiasa 
menggembar-gemborkan khilafah islamiyyah, namun mereka jahil dan acuh terhadap 
aqidah dan manhaj yang benar di dalam islam.
        
        Inilah fenomena nyata saat ini, dimana banyak sekali kelompok yang 
mengklaim sebagai kelompok penegak syariat islamiyyah dan pelanggeng 
hukum-hukum islam, berkoar-koar ke sana kemari, meneriakkan dan memekikkan 
tathbiqus syarii'ah (penegakkan syariat), namun sekali lagi sungguh sayang, 
pekikan mereka tampak begitu parsial, seolah-olah syariat islam yang dimaksud 
hanyalah seputar hukum-hukum siyasiyyah saja, hanya penyelenggaraan hukum had, 
qishash, dan lain sebagainya, mereka melalaikan suatu hal yang lebih penting 
dari itu semua, yang merupakan dasar dan pijakan dari hukum-hukum lainnya, dan 
merupakan syariat terbesar di dalam islam, yang seharusnya kita tegakkan dan 
kita prioitaskan, sebagai pengejawantahan penegakkan syariat secara integral 
dan kaafah, yakni penegakkan haqqullah (hak Allah) yang wajib dipenuhi 
hamba-Nya, yaitu mentauhidkan-Nya di dalam uluhiyah/ubudiyyah. Karena inilah 
metode rasululullah ShallaLlahu 'alaihi wa Sallam dalam da'wahnya, manhajnya 
seluruh rasul dan nabi, karena Allah Ta'ala'ala telah menandaskannya secara 
gamblang di dalam firman-Nya surat An-Nahl ayat 36, "Dan sungguh telah kami 
utus pada tiap-tiap ummat seorang rasul, (yang menyeru) sembahlah Allah semata 
dan jauhilah thaghut."
        
        Mereka menyatakan bahwa menegakkan daulah merupakan ghoyah (tujuan) 
da'wah, dan daulah khilafah Islamiyyah adalah suatu hal yang niscaya dan wajib, 
mereka berdalil dengan qoidah ushul fiqh, Maa Laa Yutimmu waajibun illa bihi 
fahuwa waajibun, Suatu hal yang jika tanpanya tidak akan sempurna suatu 
kewajiban, maka hukumnya adalah wajib, karena tidaklah akan tegak syariat Islam 
kecuali jika ada perangkatnya, sedangkan daulah khilafah adalah perangkat 
syar'i untuk meng-implementasikannya. Maka daulah khilafah hukumnya wajib, dan 
tidak menegakannya termasuk dosa.
        
        Mereka juga berdalil dengan hadits baiat, bersabda nabi ShallaLlahu 
'alaihi wa Sallam, "Man maata walaysa fi unuqihi baa'iatan, fa maata miytaatan 
jaahilayatan" (barangsiapa yang mati sedangkan tidak ada baiat di pundaknya, 
maka matinya bagaikan bangkai jahiliah). Anggapan mereka, bahwa baiat wajib 
atas kholifah/imamul a'dham, namun sekarang saat tak ada imamul a'dham, maka 
dengan kembali ke qoidah awal tadi, makai baiat adalah wajib, karena jika tak 
ada baiat maka mati kita adalah mati jahiliah, sehingga wajib atas kita untuk 
membaiat seorang imamul a'dham, padahal ba'iat takkan bisa ditegakkan jika tak 
ada daulah, maka menegakkan daulah hukumnya wajib, sehingga menurut anggapan 
mereka, orang-orang yang menegakkan daulah tidak terkena ancaman hadits 
tersebut, namun orang islam yang tak ada keinginan untuk menegakkan daulah 
terkena ancaman matinya dalam keadaan jahiliah.
        
        Maka, kami katakan pada mereka, wahai para pengklaim penegak hukum 
islam dan perindu daulah khilafah islamiyyah, dengan cara apakah antum memenuhi 
harapan antum tersebut? Dengan metode bagaimanakah antum menegakkannya? 
Na'am!!! Tidak dipungkiri bahwa syariat islam takkan bisa tegak secara sempurna 
jika tidak didukung oleh hukama' atau daulah islamiyyah. Sungguh merupakan 
suatu dambaan bagi kami dan antum akan tegaknya daulah khilafah Islamiyyah 'ala 
manhaj nubuwwah, namun ingatlah, bahwa islam ini adalah agama yang sempurna, 
yang tak butuh pengurangan terlebih lagi penambahan, telah terang metode da'wah 
al-haq di al-Qur'an dan as-Sunnah, bahwa tidaklah para nabi dan rasul (QS 
16:36, 21:25), baik itu nabi Nuh kepada kaumnya (QS 7:59), Hud kepada kaum 'Aad 
(QS. 7:65), Sholih kepada kaum Tsamud (QS. 7:73), Nabi Syuaib kepada Madyan 
(QS. 7:85), dan seluruh nabi hingga nabi terakhir kita Muhammad ShallaLlahu 
'alaihi wa Sallam (39:65-66,dan masih banyak ayat pada tempat lain) melainkan 
adalah mereka semua diutus untuk menegakkan peribadatan hanyalah untuk Allah 
semata, baik dalam ibadah dan ahkam. Lantas, mengapa gaung dan gema pekikan 
tathbiq syariiatil islaamiyyah yang antum tabu kosong dari syariat islamiyyah 
yang paling tinggi ini, yakni da'wah kepada tauhidul uluhiyyah/ibaadah? Kenapa 
antum konsentrasikan, fokuskan dan curahkan segala daya dan upaya antum pada 
bagian yang parsial/juz'iyyah saja, yakni penegakkan daulah khilafah semata, 
penegakan syariat had, qishahsh dan yang semisalnya, sedangkan tidak pernah 
kami lihat antum mengajak manusia kepada Aqidah yang benar secara tafshil 
(teperinci), kepada sunnah nabi yang mulia yang shohihah, kepada dien yang 
murni sebagaimana awalnya.
        
        Maka kami katakan lagi kepada mereka mengenai dalil-dalil parsial 
mereka tentang ghoyah da'wah mereka yang mereka orientasikan kepada daulah, 
maka kami jawab :
        
        1. Likulli maqool maqoom wa likulli maqoom maqool (tiap-tiap ucapan ada 
tempatnya dan tiap tempat juga ada ucapannya), qoidah yang antum 
gembar-gemborkan, Laa yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajib, tentulah ada 
konteksnya, dan memang kami membenarkan bahwa daulah adalah suatu hal yang 
niscaya sebagai perangkat penegakkan syariat islamiyyah, dan ini adalah ideal 
keinginan tiap muslim, jika ada muslim yang tak menghendaki akan adanya daulah 
islamiyyah maka patutlah dipertanyakan keimanannya, namun satu hal yang harus 
diingat, metode apakah yang kita tempuh dalam menuju daulah Islamiyyah, inilah 
yang membedakan antara kami dengan antum, antum lebih fokus kepada upaya 
parsial dengan pengopinian kepada masyarakat pentingnya daulah islamiyyah dan 
penegakkan syariat (walau banyak dari antum jahil terhadap syariat itu sendiri) 
sedangkan kita mengajak ummat secara integral dari metode yang digariskan Allah 
dan Rasul-Nya, yang kita berpijak dan berangkat darinya. Maka wahai antum yang 
berjuang dengan orientasi daulah, kita katakan, maa laa yutimmu waajibun illa 
bihi fahuwa waajib, dengan qoidah ini kita sepakat bahwa menegakkan daulah 
adalah suatu hal yang niscaya, maka mari kita juga bersepakat, dengan qoidah 
itu pula, tidak akan bisa tegak daulah jika kita tidak meniti dengan metodenya 
para anbiya' dan rusul yang telah ma'tsur di dalam kitabain, yakni memulai 
da'wah ini dari tauhid dan aqidah shohihah.
        
        2. Allah Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah 
kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah" (Al-Hujurat : 
1), dari ayat ini maka wajib bagi tiap mu'min untuk mendahulukan al-Qur'an dan 
as-Sunnah dari lainnya, dan wajib berhujjah dengan keduanya, maka apakah layak 
bagi kita mendahulukan qoidah ushul fiqh di atas al-Qur'an dan as-Sunnah. 
Padahal ushul fiqh merupakan istinbath para ulama' yang bersumber dari 
al-Qur'an dan as-Sunnah,.
        
        3. Allah Ta'ala berfirman, "Kemudian jika kamu berselisih mengenai 
sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (as-Sunnah)" 
(An-Nisaa' : 59), dari ayat ini wajib atas mu'min jika berselisih untuk 
mengembalikan kepada al-Qur'an dan al-Hadits. Sekarang kita berselisih terhadap 
orientasi da'wah, antum mengatakan daulah prioritas pertama saat ini sedangkan 
kami menyatakan tauhid dan aqidah islamiyyah yang terpenting, maka merupakan 
kewajiban atas kita untuk mengembalikan perselisihan kita ini kepada kitabain, 
maka wahai antum yang berorientasi kepada daulah dan tathbiqusy syarii'at, 
tunjukkan dalil-dalil antum dari al-Qur'an dan as-Sunnah, di ayat mana para 
anbiya' dan rusul memulai da'wahnya dan memprioritaskan da'wahnya kepada 
kekuasaan, di hadits mana?? Apakah qoth'i ad-Dilalah (pasti penunjukannya)??, 
maka ketahuilah!!! kami dapat menunjukkan berpuluh-puluh ayat dari al-Qur'an 
dan beratus-ratus hadits tentang manhaj kami yang qoth'i ad-Dilalah, bahwa 
metode haq dari kitabain adalah tauhid, prioritas pertama dan utama!!!
        
        4. Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah takkan merubah keadaan 
suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka." 
(ar-Ra'du : 11), kita beristifaadah dengan ayat ini bahwa keadaan ummat ini 
takkan berubah hingga ummat ini yang merubah keadaan mereka, tentunya dengan 
cara/ikhtiyar yang masyru' (disyariatkan), maka kita sama-sama sepakat dan 
sering menggunakan ayat ini, namun kita berbeda dalam pemahamannya, antum 
sering menggunakan ayat ini sebagai hujjah wajibnya menerapkan syariat 
islamiyyah dan dorongan untuk menegakkannya sebagai solusi dari semua krisis 
ummat saat ini, namun antum lupa, bahwa ikhtiyar manusia itu juga tak lepas 
dari Irodah syar'iyyah Allah, yakni Allah takkan menolong hamba-Nya yang tak 
menolong agama-Nya, Intanshurullahu yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum, mafhum 
muwaafaqoh (pemahaman tekstual) dari ayat ini adalah, jika kita menolong agama 
Allah niscaya Allah akan menolong kita, namun mafhum mukhalafah (pemahaman 
berkebalikan) dari ayat ini adalah, jika kita tidak menolong agama Allah dengan 
cara yang digariskan Allah dan rasul-Nya, maka bagaimana mungkin Allah akan 
menolong kita dan memperteguh kedudukan kita, walaupun kita sudah berusaha 
untuk merubah keadaan kita, namun jika Allah tak menghendaki, yang disebabkan 
oleh faktor penghalang turunnya nashrullah, maka keadaan kita akan tetap 
demikian, dan ingatlah bahwa cara perubahan yang paling masyru' adalah 
inqilabiyyah yakni dengan tashfiyah (pensucian/pemurnian) dari syirik, bid'ah, 
maksiat, dan tarbiyah (pembinaan) dengan aqidah yang benar, sunnah yang 
shohihah, dan amal yang sholih. Inilah metode yang haq itu, inilah perubahan 
yang akan membawa kepada kemenangan, yakni at-Tashfiyah wat-Tarbiyah!!!
        
        5. Allah Ta'ala berfirman, "Dan Allah telah bejanji dengan orang-orang 
yang beriman diantara kalian dan beramal sholeh, bahwa ia sungguh-sungguh akan 
menjadikanmu berkuasa di bumi (dengan kekhilafahan), sebagaimana Ia telah 
menjadikan orang-orang sebelummu berkuasa, dan sungguh ia akan meneguhkan bagi 
mereka agama yang diridhai-Nya untuk mereka, dan Ia benar-benar merubah keadaan 
mereka setelah mereka dala keadaan ketakutan menjadi aman sentausa, mereka 
tetap menyembah-Ku dan tiada mempersekutukan-Ku dengan suatu apapun." (an-Nur : 
55), ayat ini bagi orang-orang yang berakal pasti akan menunjukkan banyak 
faidah, dari tekstual ayat telah nyata bahwa merupakan janji Allah untuk 
memberikan kekuasaan bagi ummatnya yang beriman dan beramal sholih, iman kepada 
Allah secara ijmal (global) dan tafshil (terperinci), yang mana keimanan ini 
hanya dimiliki oleh ahlus sunnah wal jama'ah, dan beramal sholih, yang ikhlash 
lillahi Ta'ala dan ittiba' rosul ShallaLlahu 'alaihi wa Sallam, inilah syarat 
kemenangan itu, bahkan pada akhir ayat Allah menjelaskan syarat yang lain, 
yakni mentauhidkan-Nya semata dan tak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. 
Lantas, bagaimana mungkin Allah Ta'ala akan mmberikan kekuasaan jika ummat ini 
masih jahil terhadap aqidah yang benar, mereka tak bisa membedakan mana syirik 
mana tauhid, mana sunnah mana bid'ah, mereka masih menyembah kuburan-kuburan, 
bertawassul dengan wali-wali dan orang sholih yang telah meninggal, menyeru 
mayat-mayat, membangun kubah di kuburan, ghuluw terhadap nenek moyang mereka, 
lantas bagaimana mungkin Allah akan memenuhi janji-Nya. Maka berfikirlah!!! 
Inilah yang ditinggalkan oleh hampir kebanyakan kelompok islam, yakni metode 
da'wah integral/kulliyat yang ittiba' terhadap metode da'wah anbiya' dan rusul, 
yang ma'tsur di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, yang tidaklah jika ummat ini 
berpijak dan berangkat dainya kecuali hanyalah kemenangan yang akan didapatnya. 
Maka berfikirlah sekali lagi wahai antum yang berjuang menatap ke langit namun 
kepalamu tak mampu mendongak ke atas apalagi meraihnya.
        
        6. Al-Ghoyah laa tubirrul washilah, Tujuan tak membenarkan segala cara, 
karena, al-ashlu fil 'ibaadah al-ittiba', asal dari ibadah adalah ittiba' 
rasul, dan islam itu tauqifiyyah, laa yutsbitu illa bid'dalil, tidak ditetapkan 
kecuali dengan dalil, dan da'wah termasuk bagian dari islam, dan ia adalah 
da'wah, sedangkan da'wah itu adalah tauqifiyyah, maka wajib untuk ittiba' 
terhadap metode rasul, maka kami tanyakan kepada mereka, ittiba' terhadap 
siapakah antum dalam metode da'wah antum? Tidakkah antum telah melakukan bid'ah 
fi manhajid da'wah, bid'ah dalam metode da'wah? Maka dimanakah hujjahmu wahai 
orang yang berakal???
        
        Sungguh, kami dapat menunjukkan kepada mereka berpuluh hujjah akan 
lemahnya pemahaman mereka terhadap manhaj da'wah bid'iyyah mereka, banyak kitab 
yang telah ditulis para ulama' mengenainya, namun kami cukupkan hanya sampai di 
sini, semoga dapat mengambil pelajaran orang-orang yang berakal, dan semoga 
impian mereka yang hanya isapan jempol semata itu dapat sirna dan mereka 
akhirnya tersedarkan bahwa kita takkan dapat meraih kekuasaan dengan pemahaman 
parsial, dan bersumber dari pemahaman mu'tazilah, khowarij dan kelompok 
sempalan islam.

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke