Assalaamu 'alaikum,

 

Maaf P' Daryono, saya kurang setuju dengan Alinea I dan II dari Bapak.

Untuk Alinea I, bukankah Nabi Muhammad Saw diutus untuk "Menyempurnakan Akhlaq 
yang Mulia"? Haditsnya sudah sanagt Jelas dan kata terpenting dalam hadits 
tersebut adalah kata MENYEMPURNAKAN apa maknanya, mungkin kita bisa bertanya 
lebih dalam kepada Orang2 yang 'Alim Sholih.

 

***

Saya setuju dengan "menyempurnakan Akhlaq Manusia", karena Akhlak Rosul adalah 
Qur'an dan sunnah (yaitu syari'at Allah). 

sebenarnya saya menitik beratkan pada tulisan Emha, Bahwa orang yang ber akhlak 
baik adalah orang yang suka menolong, dsb...tanpa harus sholat dsb.

saya lebih menitik beratkan bahwa disitu syariah diterapkan sebagai sistem 
kehidupan, maka akan berbuah akhlak yang baik menurut islam, bukan Akhlak baik 
menurut perasaan manusia, karena perasaaan manusia lah yang harus tunduk pada 
aturan Allah, "syariah".

 

 

Kenapa dikatakan : "Di dalam Islam tidak pernah dibahas khusus tentang ahlak"

Bukankah Islam sangat2 memperhatikan masalah Akhlaq ini bahkan sampai hal2 yang 
sekecil-kecilnya, banyak sekali suri tauladan yang telah diberikan oleh 
Junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

Ditulis pula bahwa "para Fuqaha tidak pernah membahas secara khusus tentang BAB 
AHLAK di dalam kitab-kitabnya".

Kitab apa yang P' Daryono maksudkan?

InsyaAllah para Fuqoha dalam menulis kitabnya bahkan ketika akan menulis saja 
sudah sangat memperhatikan Akhlaq dan Isi kitabnyapun segala sesuatunya 
InsyaAllah dan pasti juga membahas tentang Akhlaq2nya.

 

*** 

Menurut kitab yang saya baca("nidzomul Islam" karya syeh taqiyyudin annabani.), 
memang disitu ditulis bahwa tidak pernah ada yang membahas khusus bab tentang 
Ahlak, karena sebenarnya Akhlak itu melekat pada Syariat.,..mungkin nanti akan 
saya tanyakan lagi untuk kejelasannya.

 

 

"Agama bukan Akhlaq" Jangan salah P' Dar, "Addiinun Nidzom" agama itu aturan 
ini bisa bermakna agama adalah Akhlaq.

 

***

Saya menitik beratkan bahwa Agama bukan melulu akhlaq, kalo kita berpegang 
teguh pada agama Allah, maka InsyaAllah akhlak kita akan baik, karena akhlak 
memang bagian dari syariah itu sendiri..

Inti dari pendapat saya adalah janganlah kita menjadikan bahasan akhlak 
terpisah dari syariat islam..karena kesan itu akan mengaburkan pemahaman 
tentang syariat islam itu sendiri..karena akhlak yang baik akan tumbuh dan 
timbul dengan sendirinya jika jika seseorang berpegang teguh pada syari'at 
Allah.

 

 

 

Wassalam,

Mht

 

 

________________________________

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Daryono
Sent: Monday, March 12, 2007 7:49 AM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP; Forum Ukhuwah Pekerja Muslim 
di Kawasan EJIP
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Beragama yang tidak korupsi

 

Ass. wr. wb.

 

Islam adalah Agama yang diturunkan Oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW 
untuk mengatur hubungan manusia dengan khaliqnya, jiwanya dan hubungan dengan 
sesama manusia.

 

Di dalam Islam tidak pernah dibahas khusus tentang ahlak, Ahlak merupakan 
bagian dari syariah ISLAM itu sendiri,  para Fuqaha tidak pernah membahas 
secara khusus tentang BAB AHLAK di dalam kitab-kitabnya. 

Agama bukan Ahlak, tapi ahlak adalah akibat dari pelaksanaan syariat islam.

 

sebagai contoh gampangnya, kata "membunuh" akan berkonotasi pada ahlak yang 
jelek, tapi dalam ISLAM "membunuh" dalam rangka "berjihad" adalah ahlak yang 
paling mulia di hadapan ALLAH.. Jadi Perasaan umum yang dianggap baik oleh 
masyarakat (ahlak), belum tentu baik kalo tidak sesuai dengan syariat Islam, Jd 
disini harus dikembalikan lagi ke syariat Islam.

 

Orang yang sholeh (pribadi& Sosial) adalah orang yang telah melaksanakan 
syariah, yaitu orang yang ber Akhlak Syariat Islam.

 

jadi saya gak setuju, orang gak sholat dan sebagainya (yang tidak melaksanakan 
hukum Allah) lebih baik ahlaknya,walaupun dia sepertinya berbuak baik, karena 
dia sudah berani melanggar aturan ALlah yang wajib.

Logika yang gampang, Bagaimana orang yang gampang melanggar aturan dari 
penciptanya adalah orang yang baik, bukankah sholat itu gampang, gak perlu 
bayar..dst

 

tapi saya setuju, bahwa soleh pribadi tidak cukup untuk dikatakan beragama, 
harus ada sholeh sosial, karena itu adalah ciri bahwa orang itu berakhlak 
islam, dia melaksanakan hukum Allah (syariat ISlam) secara kaffah, tidak 
memilih-milih, yang baik untuk dirinya dilakukan dan yang merugikan di 
tinggalkan.

jadi orang yang berakhlak baik adalah orang yang melaksanakan hukum-hukum Allah 
secara Kaffah, karena ahlak adalah bagian dan merupakan buah dari pelaksanaan 
syariah Allah.

 

 

 

Regards

Daryono

 

Process Engineer

Process Engineering B (Machining)

PT. Astra Honda Motor

phone : 021-89981818 

ext : 8572 / 8574

 

________________________________

From: [EMAIL PROTECTED] on behalf of Ihya
Sent: Sat 3/10/2007 3:40 PM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: [ FUPM-EJIP ] Beragama yang tidak korupsi


Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. 
"Cak Nun", kata sang penanya, "misalnya pada waktu 

bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, 
yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, 
mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin 
ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?". 
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan". 
"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" ,  kejar si penanya.
"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun. 
"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk 
surga tidak ngajak-ngajak" , katanya lagi. "Dan lagi belum tentu 
Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan 
sembahyang sebagai credit point pribadi".

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong,
Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang
kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit,  Akulah yang sakit itu.
Kalau engkau menegur orang yang kesepian,  Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan,  Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka 
yang manadari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, 
membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. 
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, 
menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit,
dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang 
tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal,
tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?" 
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. 
Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, 
bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat,
itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. 
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, 
tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal,
tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang 
sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya.
Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya 
dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan 
hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, 
sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, 
memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu
mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi 
dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap.
Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih,
dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, 
pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum 
layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan 
kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, 
memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah 
orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari 
kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. 
Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama
adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. 
Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, 
meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan
keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). 
Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.
Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan
jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya 
ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, 
orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik Vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika 

Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang  yang 
shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi  menyakiti 
tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab 
singkat, "Ia di neraka". Hadis ini memperlihatkan kepada kita 
bahwa ibadah ritual saja belum cukup.
Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.Pelaksanaan ibadah
ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai 
sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di 
hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi 
keberagamaan dari Gordon W. Allport.
Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: 
ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama
sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan
demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, 
misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih 
keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. 
Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak 
menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang
memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran 
agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. 
Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual
bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki
pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah 
penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang 
intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih 
dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, 
melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas 
kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. 
Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. 
Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.
Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan.
Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya 
dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap 
pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat 
politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang 
memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali
dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid'ah dalam 
shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah dalam
urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang 
melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan 
negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 
mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 
1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, 
dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang 
memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, 
rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, 
Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.
Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa 
banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah
(ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, 
kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita 
saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang 
dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, 
sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit
dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk 

upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut 
negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang 
dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, 
di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari 
sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, 
di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena 
tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik
mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke