Yahudi di Belakang Berdirinya Kerajaan Arab Saudi
Rabu, 14 Mar 07 09:24 WIB (www.eramuslim.com)

Menurut logika yang sehat, seharusnyalah Kerajaan Saudi Arabia menjadi pemimpin 
bagi Dunia Islam dalam segala hal yang menyangkut keIslaman. Pemimpin dalam 
menyebarkan dakwah Islam, sekaligus pemimpin Dunia Islam dalam menghadapi 
serangan kaum kuffar yang terus-menerus melakukan serangan terhadap agama Allah 
SWT ini dalam berbagai bentuk, baik dalam hal Al-Ghawz Al-Fikri (Serangan 
Pemikiran dan Kebudayaan) maupun serangan Qital.
Seharusnyalah Saudi Arabia menjadi pelindung bagi Muslim Palestina, Muslim 
Afghanistan, Muslim Irak, Muslim Pattni, Muslim Rohingya, Muslim Bosnia, Muslim 
Azebaijan, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Tapi apa yang dikerjakan para 
syaikh-syaikh itu?

Craig Unger, mantan deputi director New York Observer di dalam karyanya yang 
sangat berani berjudul "Dinasti Bush Dinasti Saud" (2004) memaparkan 
ke-bahlul-an syaikh-syaikh dan para pangeran Saudi tersebut.

"Pangeran Bandar yang dikenal sebagai 'Saudi Gatsby' dengan ciri khas janggut 
dan jas rapih, adalah anggoa kerajaan Dinasti Saudi yang bergaya hidup Barat, 
berada di kalangan jetset, dan belajar di Barat. Bandar selalu mengadakan 
jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh dunia. Kapan pun ia bisa 
pergi dengan aman dari Arab Saudi dan dengan entengnya melabrak batas-batas 
aturan seorang Muslim. Ia biasa minum Brandy dan menghisap cerutu Cohiba, " 
tulis Unger.

Bandar, tambah Unger, merupakan contoh yang baik bagi perilaku dan gaya hidup 
syaikh-syaikh yang berada di lingkungan kerajaan Arab Saudi secara keseluruhan. 
"Dalam hal gaya hidup Baratnya, ia bisa mengalahkan orang Barat paling 
fundamentalis sekali pun. "

Bandar adalah putera dari Pangeran Sultan, Menteri Pertahanan Saudi. Dia juga 
kemenakan dari Raja Fahd dan orang kedua yang berhak mewarisi mahkota kerajaan, 
sekaligus cucu dari (alm) King Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Saudi modern.

Bukan hanya Pangeran Bandar yang bahlul, sikap kerajaan juga demikian. Siapa 
pun tak kan bisa menyangkal bahwa Kerajaan Saudi amat dekat-jika tidak bisa 
dikatakan sekutu terdekat-Amerika Serikat. Di mulut para syaikh-syaikh itu 
mencaci maki Zionis-Israel dan Amerika, tetapi nyaris setiap hari mereka 
berkawan akrab dan bersekutu dengannya.

Kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan 
penjagaan keamanan bagi negerinya-termasuk Makkah dan Madinah-kepada tentara 
Zionis Amerika.

Bahkan Saudi pula yang mengontak Vinnel Corporation di tahun 1970-an untuk 
melatih tentaranya, Saudi Arabian National Guard (SANG) dan mengadakan logistik 
tempur bagi tentaranya. Vinnel merupakan salah satu Privat Military Company 
(PMC) terbesar di Amerika Serikat yang bisa disamakan dengan perusahaan 
penyedia tentara bayaran.

Kerajaan Saudi pula yang mengizinkan tanah sucinya dikotori oleh pasukan 
Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam 
menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu.

Langkah-langkah 'mengejutkan' yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut 
sesungguhnya tidak "mengejutkan' bagi yang tahu latar belakang berdirinya 
Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang 
hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada 
profesor yang sangat pakar.

Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 
1962 berjudul 'Lawrence of Arabia' dan tontonlah. Di dalam film yang banyak 
mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan 
seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, 
anak buah dari Jendera Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem 
menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang 
berkata, "Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah 
berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!").

Film ini diangkat dari kejadian nyata, bertutur dengan jujur tentang siapa yang 
berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia. Kala itu Jazirah Arab 
merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah 
kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh.

Dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, Klan Saud melakukan pemberontakan 
(bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang 
terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu.

Kita tahu semua, Rasulullah dan para sahabat mewariskan kepada umat Islam 
bentuk negara kekhalifahan, bukan kerajaan. Tidak ada sunah Rasulullah yang 
menganjurkan umatnya untuk mendirikan sistem kerajaan (monarki). Ini adalah 
bid'ah kubro. Dan Klan Saud melakukan ini dengan bantuan Lawrence yang oleh 
sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya "Lawrence of Arabia was 
a Zionist" seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, 
menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme.

Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmaniyah ini pada tahun 
1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mamud II menolak 
keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa 
Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dilakukan 
Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap 
Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence f Arabia.

Sebab itulah, hingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah 
al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat 
Amerika Serikat dan Zionisme. Jika ada ucapan atau pernyataan keras terhadap AS 
dan Isral yang dikeluarkan para syekh-syekh Kerajaan Saudi Arabia, maka itu 
hanya dilakukan mereka di mulut saja. Sebab dalam kenyataannya, mereka tetap 
menjadi anak peliharaan yang baik dan sangat manis terhadap tuannnya: AS dan 
Zionis-Israel.

Selain film 'Lawrence of Arabia', ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal 
ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain:

. Wa'du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS 
Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali-mantan Dekan Fakultas Akidah 
Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku 
ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005), 

. Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia 
(Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)

. Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)

. History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)

Sebab itu, jika kita semua sudah maklum bahwa berdirinya Kerajaan Saudi Arabia 
merupakan sebuah pemberontakan terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmaniyah dan 
diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan dari Jenderal Allenby 
yang sangat Islamofobia, maka tidak heran jika Arab Saudi sampai sekarang tidak 
pernah menjadi sekutu bagi Islam, melainkan sekutu bagi Zionisme.

Sepertinya, ketika ada yang menentang Zionisme dan Amerika, maka ada baiknya 
kita tidak hanya memprotes Kedubes AS dan PBB, tetapi juga memprotes Kedubes 
Arab yang sesungguhnya banyak menguntungkan musuh-musuh Islam. (Rz)
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke