Sebelumnya saya sangat berterimakasih dan sangat puas atas paparan pak
ustaz atas beberapa pertanyaan saya tempo dulu. Namun saat ini saya
kembali menemukan hal yang mengganjal dalam hati nurani saya, seakan
telah menyeret jauh dari ilmu yang telah saya pahami; terlebih saya
adalah seorang penuntut ilmu.

Saya ingin menanyakan apa yang menjadi perbincangan hangat muda saat
ini. Khususnya diluar Negeri, tentang suburnya kalangan yang melontarkan
hal-hal yang dinilai sedikit dapat membawa 'Khilafuhu akstar' terhadap
'Wahabi' 
itu sendiri!

Saya sendiri pernah mendengarkan bahwasannya di Saudi sangat rentan
dengan Wahabiyah, atau boleh dikatakan aliran yang dinamakan dengan
Wahabiyah?!

Yang menjadi pertanyaan saya:

     1. Tolong ustaz terangkan secara global apa itu aliran 'Wahabiyah'
        atau siapa Syekh Abdul Wahaab?
     2. Apa perbedaan dan hubungannya antara Wahabi dengan Mazahib
        al-arba'ah?
     3. Apakah benar yang memproklamirkan atau yang membawa ajaran ini,
        Muslim dari Perancis?
     4. Benarkah sifat 'Wahabi' ini tergolong arogan?
     5. Referensi apa saja yang dapat saya baca untuk mengetahui
        perjalanan Syekh Abdul Wahab? (khususnya dalam berbahasa Arab)
        dan tempat percetakannya!

Terakhir, moga kita dilindungi oleh Allah Swt. Dari sifat menuding antar
satu dengan lainnya dengan kalimat 'Kafir'! Nauzu billah! Wajazakallahu
Khairan!
Note: Maafkan pak ustaz, jika dari kata-kata saya terdapat bawaan kasar.
Pak ustaz, tolong pertanyaan saya ini dipublikasikan ke umum, agar
khalayak umum pun mengetahui, dan bagi yang sudah mengetahui dapat
mengambil pelajaran darinya. Syukran

Rusdi ibnu Bukhari, yang sedang menuntut ilmu.

Rusdi Ibnu Bukhari


Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Istilah 'wahabi' sebenarnya bukan istilah baku dalam literatur Islam.
Dan pengindentifikasian wahabi kepada sebagian umat Islam pun kurang
objektif. Dan orang-orang yang dijuluki sebagai 'wahabi' juga menolak
penamaan ini kepada diri mereka. Meski mereka pendukung Syeikh Muhammad
bin Abdul Wahhab, namun mereka bilang bahwa yang ulama adalah Muhammad,
bukan Abdul Wahhab. Abdul Wahhab adalah ayahnya.

Tetapi untuk memudahkan menyebutannya, untuk sementara bolehlah kita
gunakan istilah ini, meski kita letakkan di tengah tanda kutip.

Sebenarnya penyebutan `Wahabi` bila kita runut dari asal katanya mengacu
kepada tokoh ulama besar di tanah Arab yang bernama lengkap Syeikh
Muhamad bin Abdul Wahhab At-Tamimi Al-Najdi (1115-1206 H atau 1703-1791
M).

Beliau lahir di Uyainah, salah satu wilayah di jazirah Arab. Sebenarnya
secara fiqih, beliau lahir dan dibesarkan serta belajar Islam dalam
mazhab Hanbali.

Dakwah beliau banyak disambut ketika beliau datang di Dir`iyah bahkan
beliau dijadikan guru dan dimuliakan oleh penguasa setempat sat yaitu
amir (pangeran) Muhammad bin Su`ud, yang berkuasa 1139-1179 H. Oleh Amir
Muhammad bin Su'ud, dakwah beliau ditegakkan dan akhirnya menjadi
semacam gerakan nasional di seluruh wilayah Saudi Arabia hingga hari
ini.

Hubungan Wahabi dan Mazhab-mazhab Fiqih

Sebenarnya agak sulit juga untuk menjelaskan hubungan antara 'wahabi'
dengan keempat mazhab fiqih. Sebab keduanya tidak saling terkait dan
bukan dua hal yang bisa dibandingkan.

Kalau mazhab fiqih adalah gerakan ilmiyah dalam bidang ilmu fiqih,
sehingga mampu membuat sistem dan metodologi ilmiyah dalam mengistimbath
hukum dari dalil-dalil yang bertaburan baik dalam Al-Quran maupun
As-Sunnah, maka gerakan wahabi lebih merupakan gerakan dakwah
memberantas syirik dan bid'ah, ketimbang aktifitas keilmuan.

Kalau para ahli fiqih empat mazhab adalah pelopor di bidang ijtihad dan
mereka hidup di awal perkembangan Islam, sekitar abad pertama dan kedua
hijriyah, maka sosok Muhammad bin Abdul Wahhab adalah sosok yang hidup
di akhir zaman, muncul menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan
berpikir pemikiran dunia Islam.Sekitar 2 abad yang lampau atau tepatnya
pada abad ke-12 hijriyah. Intinya, apa yang beliau lakukan adalah
menyerukan agar aqidah Islam dikembalikan kepada pemurnian arti tauhid
dari syirik dengan segala manifestasinya.

Fenomena umat yang dihadapi antara para imam mazhab dengan Muhammad bin
Abdul Wahhab sangat berbeda konteksnya. Di zaman para fuqaha mazhab,
umat Islam sedang mengalami masa awal dari kejayaan, peradaban Islam
sedang mengalami perluasan ke berbagai penjuru dunia. Sehingga
dibutuhkan sistem hukum yang sistematis dan bisa menjawab problematika
hukum dan fiqih.

Sementara fenomena sosial umat di zaman Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab
sangat berbeda. Saat itu umat Islam sedang mengalami masa
kemundurannya.Salah satu fenomenanya adalah munculnya banyak
penyimpangan dalam praktek ibadah, bahkan menjurus kepada bentuk syirik
dan bid'ah. Banyak dari umat Islam yang menjadikan kuburan sebagai
tempat pemujaan dan meminta kepada selain Allah. Kemusyrikan merajalela.
Bid`ah, khurafat dan takhayyul menjadi makanan sehari-hari. Dukun,
ramalan, sihir, ilmu ghaib seolah menjadi alternatif untuk menyelesaikan
berbagai persoalan dalam kehidupan umat Islam. Itulah fenomena
kemunduran umat saat di mana Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidu
saatitu. Maka beliaumengajak dunia Islam untuk sadar atas kebobrokan
aqidah ini.

Berbeda dengan para fuqaha fiqih di zaman awal yang mendirikan madrasah
keilmuan sera melahirkan jutaan judul kitab fiqih dan literatur, Syeikh
Muhammad bin Abdul WAhhab tidak pernah melahirkan buku berjilid-jilid,
beliau hanya menulis beberapa risalah (makalah pendek) untuk menyadarkan
masyarakat dari kesalahannya. Salah satunya adalah Kitab At-Tauhid yang
hingga menjadi rujukan banyak ulama aqidah.

Dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dibantu oleh penguasa, kemudian
melahirkan gerakan umat yang aktif menumpas segala bentuk khurafat,
syirik, bid`ah dan beragam hal yang menyeleweng dari ajaran Islam yang
asli. Dalam prakteknya sehari-harinya, para pengikutnya lebih
mengedepankan aspek pelarangan untuk membangun bangunan di atas kuburan,
menyelimutinya atau memasang lampu di dalamnya. Mereka juga melarang
orang meminta kepada kuburan, orang yang sudah mati, dukun, peramal,
tukang sihir dan tukang teluh. Mereka juga melarang ber-tawassul dengan
menyebut nama orang shaleh sepeti kalimat bi jaahi rasul atau keramatnya
syiekh fulan dan fulan.

Dakwah beliau lebih tepat dikatakan sebagai dakwah salafiyah. Dakwah ini
telah membangun umat Islam di bidang aqidah yang telah lama jumud dan
beku akibat kemunduran dunia Islam.

Aliran Fiqih Pendukung Wahabi

Sebenarnya kalau mau dirunut di atas, para pendukung gerakan wahab ini
-suka atau tidak suka- tidak bisa lepas dari sebuah metode penyimpulan
hukum tertentu. Dan secara umum, yang berkembang secara alamiyah di
negeri mereka adalah mazhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Dan nama-nama
tokokh ulama rujukan mereka, semuanya secara alamiyah bermazhab Hanbali.

      * Imam Ahmad ibn Hanbal (164-241 H)
      * Ibnu Taimiyah (661-728 H)
      * Muhammad Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (6691-751H)
      * Muhammad bin Abdul Wahhab

Meski banyak dari pendukung wahabi ini mengaku tidak terikat dengan
mazhab fiqih tertentu, namun tulisan, makalah, buku pelajaran serta
fatwa-fatwa ulama mereka, nyaris tidak bisa dipisahkan dari mazhab
Al-Hanabilah.

Anti Mazhab?

Memang ada sebagian dari pendukung atau sosok yang ditokohkan oleh para
pendukung gerakanini yang secara tegas memisahkan diri dari mazhab mana
pun. Katakanlah salah satunya, Syeikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullah.
Beliau sejak muda telah mengobarkan semangat anti mazhab fiqih. Seolah
mazhab-mazhab fiqih itu lebih merupakan sebuah masalah ketimbang solusi
di mata beliau. Maka muncul perdebatan panjang antara beliau dengan para
ulama fiqih mazhab. Salah satunya perdebatan antara beliau dengan Syeikh
Dr. Said Ramadhan Al-Buthy.

Para ulama fiqih tentu tidak terima kalau dikatakan bahwa mazhab fiqih
itu merupakan bentuk kebodohan, kejumudan, taqlid serta suatu
kemungkaran yang harus diperangi.

Sayangnya, sebagian dari murid-murid beliau ikut-ikutan memerangi para
ahli fiqih dengan berbagai literatur mazhabnya dan hasil-hasil ijtihad
para fuqaha'.. Padahaldi sisi lain, pendapat-pendapat Syeikh Al-Albani
pun tetap merupakan ijtihad dan tidak bisa lepas dari penafsiran dan
pemahaman, meski tidak sampai berbentuk sebuah mazhab.Yang sering
dijadikan bahan kritik adalah beliau melarang orang bertaqlid kepada
suatu mazhab tertentu, namun beliau membiarkan ketika orang-orang
bertaqlid kepadadirinya.

Awalnya, oleh banyak kalangan, gerakan ini dianggap sebagai pelopor
kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah,
Sanusiyah, Pan Islamisme-nya Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh di
Mesir dan gerakan lainnya di benua India.

Namun para penerusnya kelihatan lebih mengkhususkan diri kepada bentuk
penghancuran bid'ah-bid'ah yang ada di tengah umat Islam. Bahkan hal-hal
yang masih dianggap khilaf, termasuk yang dianggap seolah sudah bid'ah
yang harus diperangi.

Arogansi Wahabi?

Mungkin memang sebagian umat Islam ada yang merasakan arogansi dari
kalangan pendukung dakwah wahabiyah ini. Hal itu mungkin disebabkan oleh
beberapa hal berikut:

1. Syeikh Abdul Wahhab dan Penguasa

Sebagaimana kita ketahui, di jazirah Arabia, Syeikh Muhammad bin Abdul
Wahhab berkolaborasi dengan penguasa. Maka lewat tangan penguasa, beliau
melancarkan dakwahnya. Dan ciri khas penguasa, segala sesuatu ditegakkan
dengan kekuasaan. Karena penguasa pegang harta, wewenang dan hukum, maka
wajar bila pendekatannya lebih bersifat vonis dan punnishment.

Inilah barangkali yang unik dari dakwah wahabi dibandingkan dengan
dakwah lainnya yang justru biasanya ditindas oleh penguasa.

2. Fenomena Kultur Masyarakat

Barangkali gaya yang lugas, kalimat yang menukik, vonis dan kecaman
kepada para penyeleweng memang tepat untuk kultur masyarakat tertentu.
Misalnya kultur masyarakat padang pasir di jazirah arab yang memang
keras.

Kalau dakwah hanya menghimbau dan merayu, mungkin dianggap kurang
efektif dan tidak mengalami perubahan yang berarti. Maka ketika
pendekatan yang agak 'keras' dirasakan cukup efektif, jadilah pendekatan
ini yang terbiasa dibawakan.

Sayangnya, ketika masuk ke negeri lain yang kultur masyarakatnya tidak
sejalan, metode pendekatan ini seringkali menimbulkan kesan 'arogan'.
Dan rasanya, memang itulah yang selama ini terjadi.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh, 

Ahmad Sarwat, Lc



********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke