Dakwah Tiada Henti
Mungkin kita pernah bertanya kepada diri sendiri: mengapa ada banyak
orang yang mau bersusah payah mengingatkan orang lain? Mengapa ada begitu
banyak orang yang rela kehilangan begitu banyak waktu hanya untuk menyampaikan
kepada orang lain apa yang dipahami dan diyakininya? Mengapa selalu saja ada
orang yang merasa harus peduli dan cinta kepada orang lain, sehingga ia merasa
perlu untuk menegur dan menyadarkan? Apakah kita sudah punya jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Seorang teman pernah menyampaikan bahwa ia merasa hampa dalam hidupnya.
Padahal, ia sudah mendapatkan segala cita-cita dan keinginannya. Ia sudah
bekerja di sebuah perusahaan asing. Perusahaan yang setidaknya memberikan
jaminan hidup yang lebih dari cukup. Ia pun berambisi ingin meraih gelar
sarjana, maka ia kuliah meski dengan susah payah karena harus berbagi waktu
dengan pekerjaannya. Beberapa tahun kemudian berhasil lulus. Keluarga? Ia
bahkan sudah lebih dulu menikah ketimbang saya yang waktu itu masih
luntang-lantung tak karuan. Keluarga? Ia sudah punya anak-anak dan istri yang
siap menemani, mendampingi dan menghidupkan hari-harinya.
Tapi mengapa ia merasa hampa dalam hidup, padahal ia sudah berhasil
meraih segala yang diangankan dan diinginkannya selama ini? Bukankah sebuah
kebahagiaan ketika kita bisa berhasil meraih apa yang selama ini kita harapkan?
"Memang bahagia, tapi rasanya belum lengkap," begitu jawabnya suatu saat.
Ia lantas bercerita bahwa dirinya merasa iri dengan teman-temannya semasa
sekolah dulu dan saat itu masih sering bertemu karena ada sebagian yang bekerja
di kota yang sama dengannya. Ia sampaikan bahwa ia merasa tak berarti apa-apa
di hadapan teman-temannya. Meski jika dibandingkan secara ekonomi, beberapa
temannya tak seberuntung dirinya. Tapi ia tetap memendam rasa iri sekaligus
rasa kagum kepada teman-temannya yang senantiasa istiqomah dalam dakwah.
Sementara ia sendiri merasa bahwa hidup sekadar menikmati untuk diri dan
keluarganya saja. Ia pantas merasa iri dan kagum kepada teman-temannya yang,
meski dengan kondisi jauh lebih sederhana darinya, tapi mampu berbagi dengan
orang lain. Meski kehidupan ekonomi teman-temannya terbilang biasa, tapi
baginya adalah istimewa. Karena teman-temannya bisa berbagi tenaga, berbagi
waktu, dan berbagi ilmu dengan sesamanya.
Kemudian, tak lama setelah 'curhat' kecil-kecilan itu, ia bertekad untuk
membagi kehidupannya untuk orang lain. Ia sudah azzam-kan kuat-kuat dalam
niatnya untuk terjun dan menyiapkan diri dalam barisan pengemban dakwah. Ia
semangat mengkaji Islam dan tak kenal lelah mencari ilmu. Tak lama kemudian,
dakwah telah menjadi pilihan hidupnya. Ia sudah menyiapkan segalanya untuk itu.
Alhamdulillah. Tapi beberapa waktu lalu, terdengar kabar dari teman saya yang
satu daerah dengannya. Kabar yang tak sedap tentang dirinya: ia futur dari
dakwah. Innalillaahi. Mungkin ia belum sepenuhnya siap.
Sebelum bisa menulis seperti ini, sebelum bisa menyampaikan secara lisan
kepada orang lain tentang Islam, saya termasuk orang yang cuek terhadap orang
lain. Saya punya prinsip, "Urus diri sendiri, jangan campuri urusan orang lain.
Dan yang terpenting: Jangan membuat susah orang lain". Itu saja sudah cukup
bagi saya dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Tapi, ternyata prinsip itu runtuh seketika saat seorang teman mengajak
saya untuk merenung tentang hidup. Saya termasuk kagum kepadanya karena di
usianya yang masih remaja (waktu itu SMA kelas 2) sudah berani berbicara
tentang bagaimana memiliki rasa peduli kepada orang lain, ia sudah dengan tegas
menyampaikan bahwa dakwah adalah perjuangan antara hidup dan mati. Entah dari
siapa dan bagaimana caranya ia mendapatkan prinsip tersebut. Yang jelas dan
pasti, pikiran dan perasaannya sudah jauh lebih dewasa dari fisiknya itu
sendiri. Saya salut kepadanya. Karena ia telah begitu serius menyiapkan diri di
jalan dakwah. Subhanallah.
Masih di tahun-tahun yang sama, awal tahun 90-an waktu itu, gairah
mengkaji Islam di kalangan pelajar sangat semarak. Semangat mereka mampu
membakar perasaan dan pikiran saya waktu itu. Saya bahkan merasa yakin, jika
banyak anak muda yang memiliki semangat untuk mengkaji Islam, bukan mustahil
bila Islam akan semakin banyak pendukungnya, pembelanya, dan pejuangnya. Akan
banyak anak muda yang mengemban dakwah Islam dengan semangat berkobar-kobar
laksana api yang membakar. Ia akan mendidihkan pikiran dan jiwa sesamanya untuk
bangkit bersama membela Islam. Tentu, dengan tiada henti.
Kini, belasan tahun sejak saya tercerahkan dengan Islam, kebanggaan saya
kian memuncak, karena ada banyak generasi pembela dan pejuang Islam yang masih
belia, padahal jaman saya seusia mereka, saya masih senang main-main. Kini,
semangat untuk mengemban dakwah mengalir sampai jauh ke generasi yang masih
belia. Saya yakin, ini tidak jadi dengan sendirinya, tapi disiapkan oleh
orang-orang yang punya semangat untuk menggerakkan segenap potensi yang
dimiliki kaum Muslimin. Insya Allah, kemenangan Islam, bukan khayalan.
Kemenangan Islam bukan juga mimpi atau ilusi. Tapi sebuah kenyataan. Insya
Allah.
Mari peduli dengan dakwah
Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang
perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan
Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah
jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek
terhadap dakwah berarti bukan mukmin sejati. Apa iya kita tega jika ada teman
kita yang berbuat maksiat tapi kita diamkan saja?
Bahkan Allah Ta'ala memuji aktivitas mulia ini dalam firmanNya:
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada
Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang muslim" (QS Fushshilat [41]: 33)
Dalam ayat lain Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk
berdakwah. Seperti dalam firmanNya:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS an-Nahl [16]: 125)
Menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan
identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu
mencapai hingga sepertiga planet bumi ini. Itu artinya, hampir seluruh penghuni
daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Betul, ketika kita belajar
ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua
pertiga lautan. Subhanallah, inilah prestasi hebat para pendahulu kita. Itu
karena mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat "tauhid"
di bumi ini dan punya kepedulian untuk menyebarkan dakwah dan jihad. Sesuai
dengan seruan Allah Swt."Dan perangilah mereka itu, hingga tidak ada fitnah
lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah." (QS al-Baqarah
[2]: 193)
Kini, jaman sudah jauh berubah ketimbang ribuan tahun lalu saat Islam
mulai menyebar. Saat ini arus informasi makin sulit dikontrol. Internet,
misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang
disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus
merugikan. Celakanya, ternyata banyak di antara kita yang harus mengurut dada
lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya
nilai-nilai ajaran Islam kita. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah
meracuni pikiran dan perasaan kita. Kita bisa saksikan dengan mata kepala
sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut
peradaban rusak itu; seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Mengerikan.
Sobat, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk
menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka
kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan
kita mampu untuk membangun kembali dan mengokohkannya. Tentu, semua ini
bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.
Coba, apa kita tidak merasa risih dengan maraknya pergaulan bebas di
kalangan remaja (dan juga orangtua)? Apa kita tidak merasa was-was dengan
tingkat kriminalitas pelajar dan tentunya orang dewasa yang makin meroket saja?
Apa kita tidak merasa kesal melihat tingkah sebagian teman remaja yang hidupnya
tak dilandasi dengan ajaran Islam?
Seharusnya masalah-masalah seperti inilah yang menjadi persoalan kita
siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita,
beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang
senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita tidak tenang jika belum berbuat
untuk menyadarkan sesama dengan dakwah ini.
Itu sebabnya, kita sebisa mungkin melakukan aktivitas mulia ini, sebagai
bukti kasih sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah saw. bersabda:
"Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan
hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik
sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di
bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian
bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian
atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: "Seandainya aku melubangi
tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak
mengganggu orang lain di atas." Bila mereka (para penumpang lain)
membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa." (HR Bukhari)
Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara
kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah Superman atau Rambo yang bisa
melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Jika kita ingin
cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan
fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita harus disatukan
dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi,
bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa
Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk
kekufuran. Itulah di antaranya alasan kenapa kita wajib berdakwah, menaruh
peduli, dan tentunya menyiapkannya dengan benar dan baik.
Sobat muda muslim, biar dakwah kita mantap, mulailah menancapkan niat
yang kuat untuk mengkaji Islam. Insya Allah, ketika udah mantap, tanpa harus
dipaksa pun kita akan memulai berdakwah. Terus dan terus tanpa henti. Kata
seorang teman, pokoknya "sejati" alias sekali jajal tak mau henti. Percayalah!
Oya, meski dalam dakwah pasti ada ujian dan fitnah, kita harus tetap
sanggup bertahan. Jangan cengeng kayak Aas Rolani yang nyanyiin Tetes Banyu
Mata 2 dalam irama tarling dangdut: "fitnahan lan hasutan wis ora sanggup
nahan" Halah! Jangan nyerah dong!
Sobat, Allah Swt. udah memotivasi kita:"You are the best!" Yup, "Kuntum
khairu ummah!" (kamu sekalian adalah umat yang terbaik!) Wuih, keren banget
kan? Nah, biar disebut umat terbaik, maka kita kudu beriman kepada Allah Swt.
serta aktif dan giat berdakwah (amar ma'ruf nahi munkar). Tentu, dengan tiada
henti. Allahu Akbar!
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************