Assalamualaikum wr.wb
" Jika dikatakan bahwa As-Salafus Shalih pasca generasi > sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi maha Tinggi meridhoi mereka > semua- tidak membuat tanzhim, maka saya jawab bahwa dimasa mereka sudah > ada Al-Jama'ah & Al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat kelompok baru > yang berbeda dr Jama'ah kaum muslimin. Adapun sekarang, maka tidak ada > Khilafah, tidak ada Al-Jama'ah & tidak ada Al-Hukumah, maka tiada jalan > lain kecuali membentuk & mendirikannya.." ( potongan dari artikel ) Dari artikel ini di jelaskan bahwa dulu ada jam'ah dan dilarang membuat jama'ah / kelompok baru yang berbeda dari jam'ah kaum muslimin ( sama dengan hadits dibawah ini ) yaitu pada fase Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah sesudah fase Nubuwwah, " Dari Nu'man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu 'anhu, berkata : " Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Adalah masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak ALLAH. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian ( Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah ), adanya atas kehendak ALLAH, kemudian Allah mengangkatnya apabila ia telahmenghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa kerajaan yang menggigit ( Mulkan 'Adlan ), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa kerajaan yang menyombong ( Mulkan Jabariyyah ), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian ( Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah ) " kemudian beliau (Nabi) diam. (hadits riwayat Ahmad dan Al-Baihaqi.Misykatul Mashabih:Bab Al-Indzar wa Tahdzir, Al-Maktabah Ar-Rahimiah, Delhi , India halaman 461) kalau kita melihat hadits ini, kita akan melihat bahwa perjalan umat Islam itu akan melewati fase-fase, dari fase Nubuwwah, sampai terakhir akan kembali ke fase Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah, yang berarti khilafah yang mengikuti jejak kenabian ( baik dari cara maupun metode kepemimpinanya pun seperti masa kenabian ) Lalu salah satu bagian dari tulisan Akhi Daryono menuliskan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hazim yang mengatakan : "Aku telah mengikuti majelis Abu Hurairah selama lima tahun, pernah aku mendengarnya menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW yan bersabda, " Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan ada banyak Khalifah." Para sahabat bertanya," Apakah yang engkau perintahkan kepada kami ?". Beliau menjawab,"Penuhilah bai'at yang pertama itu saja. Berikanlah kepada mereka haknya, karena Allah nanti akan menuntut pertanggungjawaban mereka terhadap rakyat yang dibebankan urusannya kepada mereka". Yang artinya kurang lebih pada suatu saat nanti akan banyak khalifah, dan kita di perintahkan untk menunaikan bai'at kita pada yang pertama. Atau dengan kata tidak boleh ada lebih dari satu khalifah Jadi kesimpulannya kalau (menurut Ana) sesuai dengan ( seperti ) yang tertulis dari potongan artikel Akhi Musyafak " dimasa mereka sudah > ada Al-Jama'ah & Al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat kelompok baru > yang berbeda dr Jama'ah kaum muslimin " sesuai dengan hadits yang diatas ( dari Nu'man bin Basyir ) hanya kalau kita melihat dari hadits tersebut dikatakan bahwa nanti akan ada masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian tetapi menurut artikel dari Akhi Musyafak ( penafsiran Ana ), karena tidak ada khilafah maka kita boleh membuat kelompok-kelompok / golongan-golongan( tidak perlu ada satu kesatuan / jam'ah yang mencakup seluruh umat ) Bagaimana pendapat ( penafsiran ) hadits diatas menurut Akhi Musyafak ) ? Mohon ma'af bila ada kesalahan karena kebenaran hanya milik Allah semata Wassalam Abu Aisyah -----Original Message----- From: Accounting - IND [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, March 26, 2007 3:21 PM To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP' Subject: [ FUPM-EJIP ] FW: Fw: Balasan: Fw: Fw: KEWAJIBAN MENDIRIKAN PARPO L ISLAM > Akhi fillah mungkin artikel dr milling list yg lain ini ada hubungannya > dengan pertanyaan abu aisyah meskipun mungkin tdk menjawab keseluruhan > dari pertanyaan, tetapi substansinya insyaallah sangat relevan > > silakan baca, > > adapun ttg jama'ah, dan bagaimana tahapan menegakan khilafah mungkin buku > menuju jama'atul muslimiin bisa menjadi salah satu referensi > > Musyafak > > KAJIAN ILMIAH TENTANG HIZBIYYAH DAN BAGAIMANAKAH HIZBIYYAH YANG DILARANG > OLEH SYARIAT[1]? > > Oleh : > > Abi AbduLLAAH > > Salah satu sifat yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad ShallaLLAHu 'alaihi > wa Sallam terjadi pada ummatnya adalah sifat ghuluw (ekstrem) dan > tatharruf (menjauh dari kebenaran), yang merupakan sifat yang sangat > dilarang oleh syari'ah, sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad ShallaLLAHu > 'alaihi wa Sallam berikut ini : > > "Takutlah kalian terhadap sikap ekstrem dalam beragama, karena > sesungguhnya yang telah mencelakakan ummat sebelum kalian adalah sikap > ekstrem dalam beragama.[2]" > > Salah satu bentuk dari sikap ghuluw tersebut adalah vonis baru (baca : > bid'ah) yang tidak dikenal dalam referensi utama kaum muslimin, laa fil > Qur'aan wa laa fis Sunnah, yaitu vonis hizbiyyah. Herannya lagi, bahwa > vonis ini dilontarkan oleh sebagian orang yang mengaku2 sebagai pemegang > panji2 Ahlus Sunnah dan pengikut Salafus Shalih, inna liLLAHi wa inna > ilayhi raji'un.. > > Di berbagai forum dan tulisan --sebagian mereka-dengan getolnya > melemparkan vonis tersebut kepada sesama saudara mereka muslim, para > pejuang As-Sunnah dan penegak kalimat Tauhid, hanya karena mereka yang > disebut terakhir ini membuat kelompok, atau partai ataupun jama'ah, yang > tujuannya demi memudahkan kerja dakwah mereka. Kemudian mereka sematkanlah > berbagai label seperti hizbiyyun, ahlul-hawa' (para pengikut hawa nafsu), > ahlul bid'ah, Sufi yang Sesat, dsb. > > Mereka kemudian mencari2 dalil untuk membenarkan klaim mereka tersebut, > dan memvonis berbagai kelompok kaum muslimin sesama Ahlus Sunnah wal > Jama'ah, lalu mereka menemukan ayat yang "kelihatannya" bisa dipakai untuk > mendukung klaim mereka itu dan dengan itu mereka berusaha membodohi orang2 > yang bodoh, membingungkan orang yang bingung dan menakut2i orang yang > penakut. > > Potongan ayat yang mereka dengung2kan dan mereka anggap melarang membuat > kelompok, jama'ah atau partai itu menurut mereka yaitu ayat : Kullu hizbin > bima ladayhim farihun.. (Setiap partai/kelompok/jama'ah merasa bangga/ > bergembira dengan apa yang ada pada kelompok masing2). Kemudian ayat : > Innalladzina farraqu dinahum wa kanu syiya'an lasta minhum fi syai'in.. > (Sesungguhnya orang yang memecah-belah agama mereka sehingga mereka > menjadi berkelompok2 lepas tanggung jawabmu atas mereka wahai Muhammad..) > > Ikhwan wa akhwat fiLLAH, marilah saya ajak antum semua untuk membuka > berbagai rujukan kitab2 tafsir karangan Imam Salafus Shalih secara inshaf > (obyektif) dan wasith (adil), jauh dari sifat ghuluw wa tatharruf dan jauh > dari kepentingan apapun, kecuali ikhlas mencari keridhaan ALLAH SWT > semata. Hanya kepada ALLAH-lah kita bertawakkal dan hanya kepada-NYA lah > kita akan dikembalikan. > > Potongan ayat tersebut terdapat di 3 tempat, potongan yang pertama yaitu > di QS Al-Mu'minun, 23/53 dan di QS Ar-Rum, 30/32; lengkapnya adalah sbb; > > (#þqãè©Üs)tGsù OèdtøBr& öNæhuZ÷t/ #\ç/ã- ( '@ä. ¥>÷"Ïm $yJÎ/ öNÍkö?y?s9 > tbqãmÌsù ÇÎÌÈ > > 53. "Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka > terpecah belah menjadi beberapa pecahan. tiap-tiap golongan merasa bangga > dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)." > > z`ÏB súïÏ%©!$# (#qè%§sù öNßguZfÏS (#qçR%Y2ur $Yèu<Ï© ( '@ä. ¥>÷"Ïm $yJÎ/ > öNÍkö?y?s9 tbqãmÌsù ÇÌËÈ > > 32. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi > beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada > pada golongan mereka. > > Sementara potongan yang kedua pada QS Al-An'am, 6/159. Lengkapnya adalah > sbb; > > ¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qè%§sù öNåks]fÏS (#qçR%x.ur $Yèu<Ï© |Mó¡©9 öNåk÷]ÏB 'Îû > >äóÓx« 4 !$yJ¯RÎ) öNèdáøBr& 'n<Î) «!$# §NèO Nåkã¨Îm6t^ãf $oÿÏ3 (#qçR%x. > tbqè=yèøÿtf ÇÊÎÒÈ > > 159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka > menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. > Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, Kemudian Allah > akan memberitahukan kepada mereka apa yang Telah mereka perbuat. > > Makna ayat dalam QS Al-Mu'minun, 23/53 menurut kitab2 tafsir adalah sbb : > > Berkata Imam At-Thabari[3] dalam tafsirnya[4], bahwa maknanya : "Maka > berpecah-belahlah kaum yang diperintahkan oleh ALLAH SWT dari ummat Nabi > Isa 'alayhis salam untuk bersatu atas agama yang satu... Dan setiap firqah > tersebut beragama dengan kitab yang berbeda satu dengan yang lain, > sebagaimana orang Yahudi memegang kitab Taurat dan mendustakan hukum2 > dalam kitab Injil dan Al-Qur'an, demikian pula orang2 Nasrani yang > berpegang menurut sangkaan mereka pada kitab Injil dan mendustakan kitab > Al-Qur'an." Dan ini diperkuat oleh makna "ummatan-wahidah" pada ayat > sebelumnya, yaitu maknanya menurut Imam At-Thabari : "Innal ummah alladzi > fi hadzal maudhu' : Ad-Din wal Millah" (makna ummat dalam konteks ayat ini > adalah ummat dalam masalah agama)[5]. Jelas bahwa makna "HIZB" dalam ayat > tersebut menurut Imam At-Thabari adalah HIZB dalam Ad-Din wal Millah > (perbedaan & kelompok2 yang berbeda dalam aqidah), lalu dimanakah letak > larangannya jika HIZB tersebut tidak berbeda dalam Ad-Din wal Millah? > > Imam Ibnul Jauzy dalam tafsirnya[6] menyatakan bahwa ada 2 pendapat > tentang tafsir ayat ini, yaitu pendapat pertama : Mereka adalah Ahli Kitab > (Yahudi & Nasrani) dari Mujahid; dan pendapat kedua : Mereka adalah Ahli > Kitab & kaum Musyrikin Arab dari Ibnu Sa'ib. Demikian pula pendapat Imam > Al-Mawardi[7] dalam tafsirnya[8], nampak bagi kita semua bahwa larangan > tersebut amat jelas yaitu larangan berbeda2 dalam aqidah, atau berbeda > dalam kitab suci persis sebagaimana perbedaan Yahudi dan Nasrani atau > musyrikin, sama sekali tidak ada larangan yang berkaitan dengan larangan > membentuk organisasi, atau jama'ah atau partai. > > Berkata Imam Al-Baghawi[9] dalam tafsirnya[10], bahwa makna "kullu hizbin > bima ladayhim farihun = bima 'indahum minad din" (dari apa2 yang ada > disisi mereka dari agama), dalam hal ini beliau mengkaitkan dengan tafsir > ayat sebelumnya bahwa makna "fataqaththa'u amrahum = dinahum", lalu makna > "baynahum = berpecah-belah, maka mereka berpecah-belah menjadi Yahudi, > Nasrani dan Majusi. Demikianlah pendapat para Imam Salafus Shalih mengenai > masalah ini, yaitu bahwa HIZB yang dilarang adalah HIZB yang berbeda dalam > aqidah dan agama (Ad-Din wal Millah) dan SAMA SEKALI BUKAN HIZB DALAM > DAKWAH DAN PERJUANGAN. > > Berkata Imam Asy-Syaukani dalam tafsirnya[11] : Bahwa mereka ada yang > mengikuti firqah Taurat, firqah Zabur, firqah Injil lalu mereka masing2 > mengubah kitab2 tersebut dan menyimpangkan maknanya. Hal ini juga pendapat > Imam Al-Biqa'iy[12] dalam tafsirnya[13], Imam An-Nasafiy[14] dalam > tafsirnya[15], Abu Sa'ud[16] dalam tafsirnya[17], Imam As-Suyuthi[18] > dalam tafsirnya[19], Imam Al-Khazin[20] dalam tafsirnya[21], Imam > Ats-Tsa'alabiy[22] dalam tafsirnya[23], dll. Lalu apakah hizb, jama'ah dan > partai Islam (baca : PKS) yang mereka tuduh tersebut mengubah Al-Qur'an? > Menyimpangkan makna Al-Qur'an? Seperti firqah Taurat, firqah Zabur dan > firqah Injil? Inna liLLAHi wa inna ilayhi ra'jiun.. Ana yakin mereka tidak > akan berani menuduh sejauh itu! Qul haatuu burhanakum in kuntum > shadiqiin.. > > HUJJAH KEDUA : > > Ikhwan wal akhawat rahimakumuLLAH, setelah kita mengetahui tafsir yang > dikemukakan oleh para Imam Salafus Shalih atas QS Al-Mu'minun, 23/53 (yang > juga sama dengan Ar-Rum, 30/32) tersebut pada kajian yang lalu, maka > demikianlah pula tafsir atas QS Al-An'am, 6/159. Lengkapnya ayatnya adalah > sbb ; > > ¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qè%§sù öNåks]fÏS (#qçR%x.ur $Yèu<Ï© |Mó¡©9 öNåk÷]ÏB 'Îû > >äóÓx« 4 !$yJ¯RÎ) öNèdáøBr& 'n<Î) «!$# §NèO Nåkã¨Îm6t^ãf $oÿÏ3 (#qçR%x. > tbqè=yèøÿtf ÇÊÎÒÈ > > "Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi > bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. > Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, Kemudian Allah > akan memberitahukan kepada mereka apa yang Telah mereka perbuat." > > Makna ayat dalam QS Al-An'am, 6/159 menurut kitab2 tafsir adalah sbb : > > Berkata Imam At-Thabari dalam tafsirnya[24] bahwa makna 'farraqu-dinahum' > dalam ayat tersebut adalah bahwa agama ALLAH SWT ini adalah satu yaitu > agama Ibrahim -semoga salam ALLAH baginya-, lalu berpecah-belahlah Yahudi > & Nasrani sehingga mereka menjadi agama yang berbeda2, adapula yang > menjadi Majusi sehingga mereka menjauh dari agama yang haq[25]. > > Demikianlah tafsir yang benar mengenai masalah ini > > HUJJAH KETIGA : > > Demikian pula berbagai ayat yang ada dan bertaburan di dalam Al-Qur'an > seperti PERINTAH UNTUK MEMBENTUK KELOMPOK KECIL (dari sebuah kelompok > besar) sepanjang kelompok kecil tersebut bertujuan untuk berdakwah, > berjihad & melakukan amar ma'ruf nahi munkar, salah satunya adalah ayat di > bawah ini : > > ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô?tf 'n<Î) ÎZösfø:$# tbrããBù'tfur > Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztfur Ç`tã Ìs3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd > scqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ > > "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada > kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; > merekalah orang-orang yang beruntung." (QS Aali Imraan, 3/104) > > Berkata Imam Abu Ja'far At-Thabari ketika mengawali tafsirnya atas ayat > ini[26] : Berkata ALLAH Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji : WALTAKUN > MINKUM wahai orang2 beriman; UMMATUN yaitu Jama'ah[27]; YAD'UNA yaitu pada > manusia; ILAL KHAYRI yaitu pada Islam & syariatnya yang telah > ditetapkan-NYA bagi hamba2-NYA; WA YA'MURUNA BIL MA'RUFI, yaitu > memerintahkan manusia untuk mengikuti Muhammad -semoga shalawat dan salam > ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri > beliau- dan agama yang dibawanya; WA YANHAUNA 'ANIL MUNKARI, yaitu > mencegah mereka dari kekafiran pada ALLAH -Yang Maha Suci lagi Maha > Tinggi- dan penentangan pada Nabi Muhammad -semoga shalawat dan salam > ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri > beliau- dan dari agama yang dibawanya, yaitu melalui Jihad di jalan-NYA > baik dengan tangan maupun anggota badan, sehingga mereka mengikuti dengan > ketaatan... (Perhatikanlah bahwa Imam At-Thabari menyebutkan agar ada & > terbentuknya suatu jama'ah diantara ummat ini).. > > Imam Jalaluddin As-Suyuthi bahkan lebih maju lagi, beliau dalam > tafsirnya[28] setelah menjelaskan berbagai hadits shahih berkaitan ayat > ini, menyebutkan atsar dari Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hayyan : > "Bahwa hendaklah ada suatu kaum, baik 1 atau 2 atau 3 kelompok atau lebih > dari itu dan itulah baru disebut sebagai ummat." Kemudian ia berkata lagi > : "Lalu (hendaklah) ada imamnya yang memimpin untuk amar ma'ruf & nahi > munkar." Lebih jauh beliau menyitir hadits yang diriwayatkan oleh Imam > Ahmad dari Abu Dzarr -semoga ALLAH Yang Maha Gagah lagi maha Tinggi- > meridhoinya- : "Dua org lebih baik dari 1 orang, 3 orang lebih baik dari 2 > orang, dan 4 orang lebih baik dari 3 orang, maka hendaklah kalian bersama > Al-Jama'ah, karena ALLAH tidak akan mengumpulkan ummatku kecuali atas > petunjuk[29]." > > Imam -Muhyis Sunnah- Abu Muhammad Al-Baghawi menyebutkan dalam > tafsirnya[30] bahwa huruf "lam" pada kata "waltakun" bermakna kewajiban.. > sementara "min" dalam kata "minkum ummah" bermakna "shilah" dan bukan > "lit-tab'idh" (menunjukkan sebagian)[31] sebagaimana dalam ayat : > FAJTANIBUR RIJSA MINAL AWTSANI[32].. Yang maknanya : Hendaklah mereka > menjauhi semua berhala & bukan hanya sebagian berhala saja.. Kemudian Imam > Al- Baghawi menyebutkan beberapa hadits, diantaranya dari Umar -semoga > ALLAH Yang Maha Suci laga Maha Tinggi meridhoinya- Nabi Muhammad -semoga > shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa > tercurah pada diri beliau- bersabda : "Barangsiapa yang menginginkan > puncaknya Jannah maka wajib atasnya menetapi Al-Jama'ah, karena > sesungguhnya Syaithan itu bersama orang yang sendirian, dan terhadap 2 > orang ia lebih menjauh[33]." > > Imam Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya[34] bahwa makna "ummah" adalah jama'ah, > kelompok, sebagaimana dalam ayat yang lain disebutkan : KULLAMAA DAKHALAT > UMMATUN LA'ANAT UKHTAHA[35].. Karena asal kata "ummat" dalam bahasa Arab > adalah sekelompok orang yang memiliki 1 tujuan yang sama, bisa berupa > keturunan, atau agama, atau lainnya, dan kejelasannya diketahui melalui > keterkaitannya (idhafah) dengan kata setelahnya, semisal : Ummatul-'Arab > atau Ummatun-Nashara, dll. > > Imam Abi AbduLLAH Syamsuddin Al-Qurthubi Al-Anshari Al-Khazraji dalam > kitabnya[36] berpendapat bahwa "min" dalam kata "minkum ummah" bermakna > "lit-tab'idh" (menunjukkan sebagian)[37], karena orang2 yang memerintahkan > yang ma'ruf itu haruslah berilmu, sementara tdk semua orang berilmu, mk > kewajiban ini bersifat fardhu kifayah, jk sebagian kaum muslimin sudah > melakukannya maka yang lain tidak berdosa[38]. > > Sayyid Quthb -semoga ALLAH Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi menjadikan > beliau Syahid- menyatakan dalam tafsirnya[39] : "Tidak bisa tidak ayat ini > memerintahkan agar terwujudnya sebuah Jama'ah Islamiyyah yang selalu > berdakwah kepada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf & mencegah yang > munkar. Dan hendaklah ada sebuah pemerintahan yang tegak berdiri di atas > bumi ini melakukan hal tersebut, sehingga ayat ini tidak hanya berbunyi > "yad'uuna " (berdakwah saja) melainkan juga "ya'muruuna" (memerintah) dan > "yanhauna" (melarang) yang keduanya itu tdk akan tegak kecuali adanya > sebuah pemerintahan yang Islami.." Sampai kata beliau -semoga ALLAH Yang > Maha Suci lagi Maha Tinggi menjadikan beliau Syahid- pada akhir > penjelasannya atas ayat tersebut : "...Untuk demi tercapainya hal tersebut > di atas, maka tidak dapat tidak haruslah ada sebuah kelompok/jama'ah yang > memiliki 2 kekuatan di atas[40] yaitu "Iimaanu biLLLAAH" (QS Aali-Imraan, > 3/102) dan "Ukhuwwatu-fiLLAAH" (QS Aali-Imraan, 3/103) baru bisa > mewujudkan ayat ini (QS Aali-Imraan, 3/104)... > > Demikianlah maka berdasarkan dalil2 di atas bahwa tegaknya Al-Jama'ah > merupakan dharurah-syar'iyyah, yang kesemuanya tidak akan dapat tegak > dengan kerja infiradiyyah (sendiri2) dan hanya mengharapkan dari tarbiyyah > & tashfiyyah saja, melainkan memerlukan suatu tanzhim yang kuat & rapi > untuk menggapainya.. Jika dikatakan bahwa As-Salafus Shalih pasca generasi > sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi maha Tinggi meridhoi mereka > semua- tidak membuat tanzhim, maka saya jawab bahwa dimasa mereka sudah > ada Al-Jama'ah & Al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat kelompok baru > yang berbeda dr Jama'ah kaum muslimin. Adapun sekarang, maka tidak ada > Khilafah, tidak ada Al-Jama'ah & tidak ada Al-Hukumah, maka tiada jalan > lain kecuali membentuk & mendirikannya.. Dan persoalan ini jauh lebih > mendesak & lebih penting dari mendalami & bertele2 dalam masalah > ibadah-mahdhah, cukuplah sunnah para sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia > lagi maha Tinggi meridhoi mereka semua- yang sampai meninggalkan > pengurusan & pemakaman jenazah Nabi Muhammad -semoga shalawat dan salam > ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri > beliau- untuk memilih Khalifah menjadi dalil atas hal tersebut. > > HUJJAH KEEMPAT : > > Oleh sebab itu maka seorang yang alim hendaklah berhati-hati dalam berucap > dan berfatwa, karena tidak semua orang bisa dibodohi oleh berbagai fatwa > yang kelihatan seolah-olah benar dan memvonis tetapi sesungguhnya rapuh > dan sangat menyesatkan. Sebagai contoh istilah "madzhabiyyah" adalah buruk > & tercela, tapi bermadzhab tidaklah buruk, tidak bid'ah & tdk pula > dilarang. Maka demikian pula "hizbiyyah" adalah tercela & buruk, namun > demikian membuat hizb seperti HIZBUL 'ADALAH WAR-RAFAHIYYAH (PKS), hal > tersebut sama sekali tidak ada larangannya, bahkan jika umat sangat > membutuhkannya maka ia bisa menjadi berkedudukan mustahabbah bahkan wajib > berdasarkan kaidah ushul : Maa laa yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib. > > HUJJAH KELIMA : > > Maka mencap orang yang berpartai & berorganisasi sebagai hizbiyyun > berdasarkan paparan di atas oleh karenanya adalah sesat & menyesatkan, dan > perbuatan ini dalam istilah para Ahli Ilmu dinamakan sebagai tingkat > kejahilan ketiga yaitu Al-Jahlu Al-Murakkab (diantara 6 tingkat kejahilan > seseorang Tholabul 'Ilmi). Dan orang-orang seperti ini perlu membaca & > mempelajari secara mendalam tentang siyasatus-syar'iyyah, karena > serampangan memfatwakan masalah ini akan sangat berbahaya bagi masyarakat, > karena semua hal yang berkaitan dengan realitas di masa sekarang akan > menjadi bid'ah semua, seperti Presiden juga bid'ah, negara Indonesia ini > adalah bid'ah, parlemennya, menterinya, departemennya, dsb semuanya > menjadi bid'ah. Dan semua ini dibuktikan dengan fatwa mereka tentang > haramnya PEMILU, beberapa waktu yang lalu. Dan jika mereka konsisten, maka > kedudukan Raja secara turun-temurun juga adalah bid'ah, krn tdk ditemukan > dalam khairal qurun, diamnya sebagian shahabat tidak bisa dijadikan hujah > untuk masalah ini, karena mereka diam bukan berarti ridha tetapi > berdasarkan fiqh muwazanah pada saat itu. Maka sebagian mereka yang > membrontak dan membuat tanzhimpun tidak dihukumi ahli bid'ah, maka > siapakah yang berani menyatakan para sahabat sekualitas Al-Husein bin Ali, > Muawiyah bin Abi Sufyan, AbduLLAH Ibnu Zubair, dll sebagai ahli bid'ah > karena mereka membuat tanzhim, membuat hizb, membuat pasukan perang & > kemudian memberontak? Qul haatuu burhaanakum in kuntum shaadiqiin! > > KESIMPULAN : > > Oleh sebab itu, kesimpulannya hizbiyyah adalah semangat fanatisme mazhab, > golongan, syaikh, ustaz, ulama, dsb. Dan hizbiyyah bukanlah pada sikap > bermazhab pada 1 mazhab, bergolongan atau meminta fatwa pada seorang > ulama, syaikh, dsb. Seorang yang membatasi hanya mau menerima fatwa dari > Syaikh Fulan dari negara Fulan, misalnya, dan tidak mau menerima fatwa > dari selainnya itu adalah sikap hizbiyyah dan orang-orangnya dinamakan > hizbiyyun. Demikian pula sikap orang yang memfatwakan bahwa ulama-mujtahid > di dunia ini hanya ada 3 orang saja, itu adalah sikap para hizbiyyun. > Sikap mencaci para ulama besar yang diakui dunia, kemudian > menyebar-nyebarkan isu baik dalam ceramah-ceramah maupun tulisan-tulisan & > buku-buku (yang belum dikonfirmasikan dan ditegakkan hujjah kepada sang > ulama yang dicurigai tsb), adalah sikap para hizbiyyun. Semoga ALLAH SWT > melindungi kita dari sikap hizbiyyah yang amat tercela (qabihah) ini, > aaamiin ya RABB... > > ---------------------------------------------------------- > > [1] Sebenarnya tulisan ini sudah pernah ana muat di millist ini beberapa > waktu yang lalu, namun ana melihat tulisan tsb mendapat respon yang > luarbiasa di sebuah website milik saudara-saudara kita fiLLAAH yang ana > kritik tsb, maka ana kemudian mempelajari bantahannya dan kemudian > menjawabnya pada setengah bagian dari tulisan ini, Liyahlika man Halaka > 'an Bayyinah wa Yahya man Hayya 'an Bayyinah, faliLLAAHil hamdu wal minah. > > [2] HR An-Nasa'i, X/83; Ibnu Majah, IX/134; Al-Baihaqi, V/127; Al-Hakim, > IV/256; At-Thabrani, X/301; Ibnu Habban, XVI/243. > > [3] Beliau adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin > Ghalib Al-Amali At-Thabari, digelari Imam Abu Ja'far At-Thabari atau juga > Imam Ibnu Jarir At-Thabari, beliau wafat th 310-H. > > [4] Jami'ul Bayan fi Tafsiril Qur'an, XIX/41. > > [5] Ibid. Imam Thabari menyandarkan tafsirnya ini dari atsar yang shahih > sbb : "Telah menceritakan pada kami Al-Qasim, telah menceritakan pada kami > Al-Husain, telah menceritakan pada saya Hajjaj dari Ibnu Juraij makna ayat > tersebut seperti di atas." > > [6] Zadul Masir, IV/415 > > [7] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib Al-Bashri > Al-Baghdadi yang lebih dikenal dengan Imam Al-Mawardi, beliau wafat th > 450-H. > > [8] An-Naktu wal 'Uyun, III/141 > > [9] Beliau adalah Imam Abu Muhammad Al-Husein bin Mas'ud Al-Baghawi, > digelari oleh para ulama sebagai "Muhyis Sunnah" (Yang Menghidupkan > As-Sunnah), beliau wafat pada th 516-H. > > [10] Ma'alimut Tanzil, V/420 > > [11] Fathul Qadir, V/161. > > [12] Beliau adalah Imam Ibrahim bin Umar bin Hasan Ar-Ribath bin 'Ali bin > Abi Bakr Al-Biqa'iy, beliau wafat th 885-H. > > [13] Nazhmud Durar fi Tanasubil Ayati was Suwar, V/416. > > [14] Beliau adalah AbduLLAH bin Ahmad bin Mahmud Hafizhuddin Abul Barakat > An-Nasafiy, beliau wafat th 710-H. > > [15] Madrak At-Tanzil wa Haqa'iqut Ta'wil, II/385. > > [16] Beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Musthafa Al-'Amadiy, Mufti > dan Mufassir, beliau wafat th 982-H. > > [17] Irsyad Al-'Aqlis Salim Ila Mazaya Al-Kitab Al-Karim, V/5. > > [18] Beliau adalah AbduRRAHMAN bin Abi Bakr, diberi gelar Jalaluddin, > beliau wafat th 911-H. > > [19] Ad-Durr Al-Mantsur, VII/210. > > [20] Beliau adalah Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar > Asy-Syihi, beliau wafat th 741-H. > > [21] Lubab At-Ta'wil fil Ma'ani At-Tanzil, IV/469 > > [22] Beliau adalah Abu Zaid AbduRRAHMAN bin Muhammad bin Makhluf > Ats-Tsa'alabiy, beliau wafat th 876-H. > > [23] Al-Jawahirul Hasan fi Tafsiril Qur'an, III/54. > > [24] Jami'ul Bayan, XX/100 > > [25] Ibid, XII/268 > > [26] Jaami'ul Bayaan fi Ta'wiilil Qur'aan, VII/91 > > [27] Ini juga pendapat Imam Al-Biqa'iy, lih. Tafsirnya Nuzhmud Durar fii > Tanaasubil Aayaati was Suwar, II/94 > > [28] Ad-Durrul Mantsur fit Ta'wili bil Ma'tsur, II/405 > > [29] Saya berusaha men-takhrij hadits ini, dan saya menemukannya bukan > hanya dalam Musnad Ahmad (43/297); melainkan jg oleh Ibnu Asakir (38/206); > berkata Al-Albani dalam Fii Zhilalil Jannah (80-84) bahwa hadits ini > maudhu' namun akhir kalimat dalam hadits ini terdapat syawahid dari hadits > shahih. > > [30] Ma'alimut Tanzil, II/84 > > [31] Ini juga pendapat Imam Ibnul Jauzy, lih. Zaadul Masiir, I/391. Tapi > beliau juga menerima pendapat yang menyatakan kewajiban membentuk jama'ah > ini fardhu kifayah, dan beliau menyamakan kedudukannya seperti jihad fi > sabiliLLAAH. > > [32] Al-Hajj, 22/30 > > [33] HR Tirmidzi, VI/383-386; Ibnu Abi 'Ashim dalam As-Sunnah, I/42 (dan > di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam ta'liq-nya atas kitab tersebut); > Al-Lalika'i dalam Syarah Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah wal Jama'ah, > I/106-107; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, I/114; Ahmad dalam Al-Musnad, > I/18. > > [34] At-Tahriru wat Tanwiru, III/178 > > [35] QS Al-A'raaf, 7/38 > > [36] Al-Jami' li-Ahkamil Qur'an, I/1081 > > [37] Ini juga pendapat Imam An-Nasafiy, lih. Madrak at-Tanzil wa Haqa'iqu > at-Ta'wil, I/174; demikian juga Al-Khazin, lih. Lubab at-Ta'wil fil Ma'ani > at-Tanzil, I/434. > > [38] Ini juga pendapat Imam Asy-Syaukani, lih. Fathul Qadir, II/8. Ada > baiknya bagi yang berminat untuk merujuknya, ada ulasan beliau yang amat > berharga tentang masyru'iyyah-nya ikhtilaf dalam masalah2 furu' dikalangan > para ulama salafus-shalih, dan mereka menamakan ikhtilaf tersebut sebagai > bentuk ijtihad (demikian pula paparan Imam Abu Sa'ud dalam kitabnya > Irsyadul Aqlis Salim ila Mazayal Qur'anil Kariem, I/432). > > [39] Fii Zhilaalil Qur'an, I/413 > > [40] Maksud beliau -rahimahuLLAAH- adalah penjelasan beliau atas tafsir > ayat sebelumnya (QS Aali-Imraan, III/102-103) > > -----Original Message----- > From: Sawing - IND [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: 26 Maret 2007 12:58 > To: 'gunawan'; 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP' > Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Fw: Balasan: Fw: Fw: KEWAJIBAN MENDIRIKAN PARPO > L ISLAM > > > > Assalamu'alaikum wr.wb. > > > > Jazakumullah atas nasehat dan koreksinya, mudah-mudahan nanti ana bisa > lebih baik dari sekarang. > > > > Mungkin pendapat ana dulu kurang disertai dalil sehingga mungkin akhi > Gunawan berpikir ana menggunakan logika. > > > > Hukum mendirikan jama'ah itu sudah jelas wajibnya karena jelas dalilnya > baik di Qur'an maupun di hadits, hanya mungkin ada beberapa penafsiran > yang berbeda ( seperti mungkin pendapat/penafsiran ana berbeda dengan > pendapat Akhi ) > > Karena itu Ana mau tanya sedikit ( sehingga mungkin nanti bisa mencari > kesamaan pendapat ) ? > > > > 1. Kalau menurut pendapat antum arti jam'ah itu apa ? dan apa syarat di > sebut jama'ah ? > 2. Apa arti ' JAMI'AN WALAA TAFARRAQU ' dalam surat Ali-Imran ayat 103 > menurut antum ? > 3. Kalau menurut antum berjama'ah (dalam kehidupan ) itu sama dengan > bepolitik sehingga ada beberapa golongan, lalu ' Imammul muslimin / > khalifah ' untuk umat Islam ini ada berapa setiap masanya ? > 4. Arti politik ( ilmu politik ) itu menurut antum apa ? ( kalau yang > ana tahu , menurut Deliar Noer dalam pengantar ke Pemikiran Politik, > menyebutkan ' Ilmu politik memusatkan perhatian pada masalah kekuasaan > dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat sama seperti pendapat W.A > Robson dalam ' The University Teaching of Social Science menyebutkan > 'ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat...'' ( Meriam > Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Jakarta 1983 hal 10 ) yang > artinya politik itu tidak akan jauh dari kekuasaan ) > > > > Wassalam > > > > Abu Aisyah > > > > - ******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************** ******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
