Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 

Mulai dari diri sendiri

Kenapa hak DPR interpelasi cuma untuk urusan luar negeri saja ? 

Kenapa tidak digunakan untuk urusan rakyat yang belum selesai ? seperti :

1.      Kenapa pemerintah menaikkan BBM ?
2.      Kenapa pemerintah tidak menyeleesaikan perkara Lapindo ?
3.      Kenapa pemerintah lama dalam menangani korupsi ?
4.      Dan banyak lainnya yang seharusnya PR buat anggota DPR.

Apakah semua anggota DPR sudah merasa merakyat ? 

Sebenarnya ini PR buat kita wakil rakyat. 

Kita sudah memilih anggota2X DPR melalui pemilu yang lalu. 

Hasilnya …sebagian besar anggota dewan bukannya membela rakyat tapi..

mengurusi diri sendiri dan kepentingan partainya.

Seharusnya dibuat suatu prioritas...

Bisa jadi SBY sudah memutuskan langkah itu dilihat dari kepentingan dan
mudharatnya.

Kalau SBY menolak sanksi PBB ke Iran, apakah rakyat sudah siap menerima
akibat tekanan 

dari Amerika ? sementara rakyat masih dalam taraf konsumtif dan kurang kuat
dalam SDM dan

teknologi belum lagi tekanan utang luar negeri( tentunya ada intrerverensi
dari Amerika-Bank Dunia).

Ditambah lagi negara 2X Arab dan dunia Islam- dalam hal ini Liga Arab atau
OKI masih lemah...

sangat ....sangat lemah...  

 

Mari kita perhatikan dengan hati yang bening dan pikiran yang jernih
bagaimana hasil dari tindakan pemerinah itu.

Jangan terpengaruh oleh anggota2X dewan yang kepercayaannya rendah untuk
sekarang ini. Bisa jadi itu

trik politik. 

Kita bangun dulu rakyat kita dimulai dari diri sendiri. Kita bangun dulu
dengan kekuatan akidah.

Kembali kepada Allah. Hilangkan syirik dan bid’ah di lingkungan kita yang
mengakibatkan penyakit masyarakat 

(kemalasan, kemiskinan, korupsi dan lainnya).

Ada tanggapan ?

 

Wallahu ‘alam 

 

Wassalam,

 

Abu Syauqi

 

 

 

   _____  

From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Rudy Swardani
Sent: Friday, March 30, 2007 9:20 AM
To: Saksi (E-mail); FUPM-EJIP (E-mail)
Subject: [ FUPM-EJIP ] Ulama akan Ajukan Class Action

 

Republika, Kamis, 29 Maret 2007
Ulama akan Ajukan Class Action
'Itu memang hak DPR, tapi apa perlunya interpelasi?' 

JAKARTA -- Tim Pembela Muslim (TPM), mewakili kalangan ulama seluruh
Indonesia, akan mengajukan gugatan class action  terhadap Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) terkait dukungan resolusi DK PBB pada Iran. 

Koordinator TPM, Mahendradatta, menganggap Presiden SBY telah melanggar
prinsip politik bebas aktif yang termaktub dalam UUD 1945 dengan turut
menyetujui resolusi. ''Gugatan ini merupakan penegasan kalangan ulama bahwa
mereka tak menyetujui langkah pemerintah yang mendukung resolusi sanksi bagi
Iran,'' kata Mahendradatta. 

Sebelum mendaftarkan gugatan class action ke PN Jakpus, pihaknya akan
mendatangi pimpinan ormas Islam, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Ketua Presidium ICMI, Nanat Fatah Natsir, menyesalkan sikap RI yang
mendukung penjatuhan sanksi ke Iran tanpa mempertimbangkan aspirasi
msyarakat maupun negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI).
''Akan lebih tepat jika pemerintah memilih sikap abstain,'' kata Nanat.

Sementara Komisi I dan pimpinan DPR dijadwalkan membacakan usulan
interpelasi soal nuklir Iran dalam rapat paripurna hari ini (Kamis, 29/3).
Kemarin, draf interpelasi serta dukungan berupa tanda tangan 132 anggota DPR
disampaikan kepada Ketua DPR, Agung Laksono.

''Besok (hari ini) masih ada rapat paripurna. Saya harap usulan ini bisa
diloloskan dan dibacakan untuk selanjutnya menjadi interpelasi dewan,'' kata
Agung di Jakarta, Rabu (28/3).

Agung berharap pemerintah segera memberi respons atas usulan interpelasi
itu. Interpelasi adalah niat baik, dan bukan bertujuan menjatuhkan Presiden.
''Sehingga, akan lebih baik jika Presiden yang langsung memberi penjelasan
ke rakyat melalui DPR, meski ada ketentuan bisa diwakilkan menteri,'' jelas
dia.

Dukungan pengajuan hak interpelasi itu berasal dari sembilan fraksi, kecuali
Fraksi Partai Demokrat. Salah satu pengusul hak interpelasi, Abdillah Toha
dari Fraksi PAN, mengatakan, interpelasi jangan dianggap sebagai hal
negatif. Hak bertanya itu justru memberi kesempatan bagi Presiden untuk
memaparkan hal yang dinilai belum jelas.

Beberapa hal yang akan ditanyakan, misalnya, apa dasar pertimbangan
pemerintah menyetujui resolusi DK PBB. ''Apakah tidak bertentangan dengan
UUD 1945. Bukankah merupakan tindakan diskriminatif dan berstandar ganda,''
papar dia.

Ketua Fraksi PPP DPR, Endin AJ Soefihara, bertekad mengupayakan pengajuan
hak interpelasi membuahkan hasil. ''Sikap pemerintah itu telah menyakiti
hati rakyat dan memperburuk citra Indonesia di mata dunia Islam,'' kata
Endin.

Interpelasi oleh DPR dalam kasus Iran, menurut Ketua DPP Partai Demokrat,
Anas Urbaningrum, merupakan penggunaan hak yang pertama kalinya digulirkan
anggota dewan untuk kepentingan luar negeri atau internasional.
''Interpelasi itu bagus, memang hak DPR untuk menanyakan persoalan
tersebut,'' ujarnya.

Juru Bicara Presiden, Andi Mallarangeng, meminta DPR tak perlu mengajukan
hak interpelasi. ''Interpelasi adalah hak DPR, tapi pertanyaannya, apa
perlunya,'' kata Andi. 

(yus/eye/ann) 

 


--
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.446 / Virus Database: 268.18.20/736 - Release Date: 3/27/2007
4:38 PM



-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.446 / Virus Database: 268.18.20/736 - Release Date: 3/27/2007
4:38 PM
 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke