Singapura dan Isu Uang
Haram dari Indonesia 

Sabtu, 31 Maret 2007 
Pemerintah Singapura ’tersengat’ dengan isu pencucian uang haram asal
Indonesia. Diperkirakan, 55.000 orang superkaya di Singapura adalah
orang Indonesia
 
"Kami tidak ingin uang kotor (dirty money)," katanya di depan sejumlah
wartawan Indonesia yang melakukan pers tour di Singapura, Rabu (28/03).
 
Menurut dia, tidak ada untungnya bagi Singapura untuk menampung uang
dari hasil kegiatan illegal di Indonesia, karena Singapura, menjadi
salah satu negara yang memiliki kelebihan dalam pelayanan jasa keuangan
antara lain karena dinilai bebas dari praktek-praktek korupsi dan
berbagai bentuk penyimpangan lainnya.
 
"Berapa kami bisa kumpulkan uang dari pelaku kejahatan di Indonesia,
sepuluh juta dolar?" ujarnya balik bertanya seraya meyebutkan bahwa
perputaran uang dari kegiatan pelayanana jasa keuangan (resmi-red) di
negaranya mencapai 750 juta dolar Singapura.
 
Lim Hng Kiang menjamin bahwa praktek-praktek semacam itu tidak mungkin
terjadi di negaranya mengingat bahwa reputasi lembaga keuangan di
Singapura bisa disejajarkan dengan lembaga-lembaga keuangan terkemuka di
dunia seperti Federal Reserve di Amerika Serikat atau lembaga-lembaga
keuangan di Swiss.
 
Ia juga menyambut gembira rencana dilanjutkannya pembahasan perjanjian
ektradisi antara Indonesia dan Singapura. "Setelah ditandatangani,
tentunya kami akan mematuhi kesepakatan itu, " ujarnya.
 
Ia mengemukakan bahwa negaranya tidak bisa begitu saja menangkap atau
menyerahkan para tersangka pelaku kejahatan yang diminta oleh pemerintah
Indonesia sejauh tidak ditemukan bukti-bukti bahwa mereka melanggar
hukum Singapura.
 
Ditempat terpisah, sehari sebelumnya, Menlu Singapura George Yeo juga
menyatakan bahwa walaupun belum bisa mengkonfirmasikan tanggalnya, telah
dicapai kesepakatan dengan pihak Indonesia untuk secepatnya melanjutkan
pembahasan perjanjian ektradisi dan pakta kerjasama pertahanan yang
mandeg sejak tiga tahun lalu.
 
 
Superkaya Indonesia
 
Sebuah laporan yang disampaikan firma investasi, Merrill Lynch dan
Capgemini, baru-baru lalu menyebutkan, bahwa sepertiga orang superkaya
di Singapura adalah orang Indonesia. 
 
Dari 55.000 orang superkaya di Singapura atau biasa disebut high
networth individuals dengan total kekayaan sekitar US$260 milar,
18.000-nya merupakan orang Indonesia. Dana orang Indonesia dari golongan
ini yang mengendap di negara tersebut diperkirakan mencapai sekitar US
$87 miliar atau setara dengan Rp791 triliun. 
 
Pemerintah Singapura tersengat ketika dituding menjadi sarang
persembunyian para ”konglomerat hitam” dari Indonesia. Karena itu, pihak
Singapura mendorong agar perjanjian ekstradisi segera disepakati kedua
negara.
 
Belum adanya perjanjian ekstradisi antara RI dan Singapura menimbulkan
kecurigaan masyarakat Indonesia terhadap niat baik negara kota itu dalam
memberantas korupsi dan kejahatan. Sebab, sejauh ini banyak penjahat,
terutama yang berurusan dengan ekonomi, masih bisa bersembunyi di
Singapura.
 
Menurut catatan, sejumlah buron kasus korupsi yang membawa uang ratusan
juta dolar AS itu antara lain, Sudjiono Timan (terpidana 15 tahun dalam
kasus korupsi dana BPUI), Maria Pauline Lumowa (pembobol BNI), Nader
Taher (terpidana kasus kredit macet Bank Mandiri), serta Bambang
Soetrisno (kasus BLBI Bank Surya)
 
Selain itu, terdapat beberapa bankir yang masih menjadi buron, seperti
Irawan Salim (tersangka kasus Bank Global), Agus Anwar (tersangka BLBI
Bank Pelita), Atang Latief (kasus BLBI Bank Bira), Lydia Mochtar (kasus
BLBI Bank Tamara), dan Sjamsul Nursalim (korupsi BLBI Bank Dagang Negara
Indonesia



********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke