AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [TERAKHIR]

[tulisan keempat]

 

Pada tulisan terdahulu diuraikan tentang benih-benih timbulnya ketidaksukaan
para pemimpin Al-Ikhwan kepada Abdul Aziz maka pada bagian terakhir ini
diterangkan tentang upaya Al-Ikhwan melancarkan bughot melawan amirnya,
Abdul Aziz bin Abdurrahman. 

 

Pertempuran Sabillah

 

Al-Ikhwan tidak bisa sesabar Abdul Aziz menunggu dua bulan. Mereka tidak
bisa berpikiran tenang dan berpertimbangan matang. Justru kefanatikan yang
tidak masuk akallah yang membuat mereka bertentangan dengan Abdul Aziz.
Beberapa minggu setelah pertemuan Riyadh, mereka melancarkan serangan
bertubi-tubi yang membuat perdamaian takkan mungkin dicapai lagi dan
menghilangkan simpati yang selama ini mereka peroleh.

 

Di bulan Desember 1928 mereka menyerang rombongan pedagang unta Nejd di
Jumaymah, dekat perbatasan Irak. Semua dibunuh dan hewan dagangan mereka
dirampas. Sekelompok orang Badui di sebelah utara dibantai pula oleh
sepasukan Al-Ikhwan. Nyata-nyata bahwa Al-Saud dan Nejd tidak lagi
menghadapi suatu perselisihan agama melainkan penghancurkan negara baru
Abdul Aziz. 

 

Mereka menolak kewajiban suatu masyarakat, peraturan yang ada, tak mau
menetap dan membentuk pemukiman Ikhwan yang tetap. Mereka ingin kembali
menjadi bangsa Badui yang bisa mengembara kemana saja. Faisal Al-Dawisy
menulis surat kepada Saud Bin Abdul Aziz, ”...Kau telah menjauhkan kami dari
agama kami, kau telah menjauhkan kami dari kesenangan duniawi kami.”

 

Pasukan kendaraan bermotor dikirim Abdul Aziz di bulan Maret 1929 dipimpin
oleh Abdullah Suleiman al-Hamdan, juru tulis kepercayaan Abdul Aziz yang
berhasil mengorganisir pengadaan bahan bakar, suku cadang, dan mesiu.
Iringan pasukan itu menuju Anayzah dan Buraydah untuk mengumpulkan bantuan.
Abdul Aziz menggunakan uang dan pegnaruhnya pada suku-suku Badui yang ada.
Ia memberi 6 pound emas kepada kepala suku yang berhasil membawa sukunya
untuk bergabung. Tiga pound untuk orang biasa dan kota yang ikut berperang
dan dengan janji tambahan  lainnya bila tugas selesai.

 

Di akhir Maret 1929, pasukan Abdul Aziz berhadapan dengan pasukan Faisal
al-Dawisy dan Ibnu Bijad di padang Sabillah dekat Artawiya. Tiga berbanding
satu. Pasukan pemberontak kalah jauh diukur dari kuantitas pasukan.

 

Al-Dawiys dan Ibnu Bijad pemimpin penyerangan yang paling ulung. Mereka tak
biasa berhadapan dengan lawan yang begitu besar. Tapi mereka mengira bahwa
Abdul Aziz tak bisa bertempur lagi, karena Abdul Aziz secara pribadi
terakhir ikut pertempuran 12 tahun yang lalu. Mereka yakin Abdul Aziz hanya
pandai bicara saja. Dan mereka yakin kemenangan ada di tangan mereka karena
sejak 1919 merekalah yang berperang untuk Abdul Aziz. Ketakberanian Abdul
Aziz menghadapi Inggris secara langsung, menurut mereka, menajdi tanda
kelemahan yang tampak dari Abdul Aziz.

 

Tapi Abdul Aziz masih cukup galak. Berulang kali utusan pencari kedamaian
antara kedua belah pihak saling berunding, mencoba merumuskan gencatan
senjata. Tapi gagal. Abdul Aziz marah besar saat utusan Ibnu Bijad tidak mau
menjawab salam sebagaimana kebiasaan mereka yang tidak mau menjawab salam
kepada mereka yang dianggap ”Bukan Muslim Sejati”. 

 

Bahkan saat Faisal Al-Dawisy datang sendiri ke Abdul Aziz, Abdul Aziz sudah
tak punya selera lagi berdamai dan menyarankan kepada mereka untuk menyerah.
Saat Al-Dawisy pulang kembali ke perkemahannya, ia mengabarkan bahwa
orang-orang Saud itu cuma sekumpulan orang-orang lemah lemas yang hanya bisa
tidur di atas kasur. ”Mereka tak berguna sama sekali, bagaikan pelana unta
tanpa pegangan,” kata Faisal kepada Ibnu Bijad.

 

Keesokan paginya Abdul Aziz berkuda mengepalai pasukannya. Ia turun sesaat
untuk mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah musuh. Segera
pertempuran dimulai. Al-Ikhwan berada diketinggian dan telah membangun suatu
tumpukan batu sebagai tempat perlindungan. Di balik itu mereka bisa menembak
dengan aman. Saat mereka melihat pasukan Saudi mundur—yang sebenarnya hanya
untuk mengambil kesempatan makan pagi yang sudah begitu terlambat—Al-Ikhwan
menganggap ini adalah gerakan mundur besar-besaran.

 

Dengan gembira pasukan Al-Ikhwan menyerbu meninggalkan kubu mereka,
mengejar. Tapi mereka langsung dibabat oleh dua belas senapan mesin yang
sengaja disembunyikan dan tempat kedudukannya sangat dirahasiakan.
Singkatnya ratusan orang roboh, yang selamat cerai berai melarikan diri.
Abdul Aziz menyuruh pasukannya mengejar. Pertempuran Sabillah hanya
berlangsung setengah jam saja. Inilah kekalahan Al-Ikhwan yang pertama. 

 

Para perempuan Al-Dawisy memohon untuk menyerah. Faisal Al-Dawisy tertembak
di punggungnya tapi masih hidup. Abdul Aziz memberikan mereka ampun, tapi
tak membiarkan pemukiman Ibnu Bijad utuh, ia menghancurkannya dan menahan
Ibnu Bijad. Lalu Abdul Aziz memberi hadiah pada pasukannya yang setia,
memberi ganti rugi kepada yang telah berkorban, menyuruh mereka pulang, dan
ia sendiri berangkat hají ke Mekah. Ia pikir, Al-Ikhwan telah tamat.

 

Berontak Kembali

 

Pemuka Al-Ikhwan yang satu lagi, Dhaidhan bin Hithlain, sedang berada di
daerah Timur saat pertempuran Sabillah berlangsung. Kekalahan dua sekutunya
mendorongnya untuk segera berdamai. Maka di bulan Mei 1929, ia merundingkan
perdamaian dengan Fahad bin Abdullah  bin Jaluwi.

 

Ia diundang ke tenda Fahad. Setelah berunding pada malam harinya Ibnu
Hithlain pamit untuk pulang kemahnya. Namun Fahad memintanya untuk menginap.
Ditolak oleh Ibnu Hithlain karena ia harus memenuhi janjinya kepada
sukunya—Ajman—untuk segera kembali setelah perundingan. Bila tidak memenuhi
janji itu maka suku Ajman akan meluruk mereka, ke tempat itu.

 

Fahad merasa bahwa ini merupakan ancaman terselubung, maka ia memerintahkan
pengawalnya untuk menahan Ibnu Hithlain dan kesebelas pengiringnya. Dan
meminta mereka dibunuh jika orang-orang Ajman itu datang. Dan benar ketika
suku Ajman datang, mereka dibunuh. Padahal di saku Ibnu Hithlain ada surat
jaminan keselamatan dirinya yang ditandatangani oleh Abdul Aziz, Abdullah
bin Jaluwi, dan Fahad sendiri. Orang Ajman membunuh Fahad sebagai balasan,
ditembak tepat di antara kedua matanya.

 

Al-Ikhwan marah besar, bahkan suku-suku Nejd lainnya karena mereka
menganggap bahwa undangan Fahad itu tipu daya semata agar ia bisa membunuh
Ibnu Hithlain, dan ini sebuah kepengecutan. Faisal al-Dawisy mengobarkan
gerakan angkat senjata dan kini dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Ini
berbahaya bagi Abdul Aziz karena ia masih berada di Mekah, jauh dari Riyadh
dan jika ia ingin kembali ke sana maka ia harus bertempur di sepanjang
perjalanannya. 

 

Kali ini pergaulannya dengan Inggris—kaum kafir—berbuah besar. Inggris yang
menginginkan kestabilan di semenanjung Arab memaksa merubah politik devide
et-impera-nya. Di musim panas di tahun 1929, dukungan terhadap Abdul Aziz
dari berbagai penjuru wilayah kekuasaan Britania datang bertubi-tubi.
Inggris melarang penguasa di Irak dan Kuwait untuk mengambil keuntungan dari
kekisruhan di Nejd. Senjata mengalir dari India. Dengan dukungan tersebut
Abdul Aziz menyeberangi Arabia dengan iring-iringan kendaraan bermotornya
dan dikawal dengan enam senjata mesin.

 

Abdul Aziz bergerak ke timur laut. Kekuatan Inggris dikerahkan untuk
mencegah Al-Ikhwan tidak lari ke arah yang sama. Agen-agen Inggris
mengirimkan telegram ke Riyadh tentang pergerakan Al-Ikhwan. Abdul Aziz
sendiri mengatur gerak pasukannya dengan jaringan radionya.

 

Azaiyiz anak Faisal ad-Dawisy memimpin 600 prajuritnya diikuti pula oleh
kaum Ajman dan beberapa pejuang tua Mutair melancarkan serangan ke bagian
utara Arabia. Di bulan Agustus 1929 pasukan itu merobek-robek Arabia utara,
mengumpulkan kawan dan menghancurkan kawan. Serangan mereka sampai jauh di
utara Hail dan berhasil merampas ratusan ekor unta dari kaum Syammar dan
Amarat, merampas sebuah kafilah yang berisi uang 10.000 real hasil tarikan
pajak Saudi yang akan diantarkan kepada Gubernur Hail. 

 

Namun bawaan besar itu membuat perjalanan Azaiyiz semakin berat apalagi
mereka sudah kekurangan air. Sumber-sumer air yang berusaha diduduki Faisal
telah dikepung rapat oleh pasukan Gubernur Hail. Semangat mereka semakin
mengendur. Di oase Umm Urdhumah mereka sekarang berhadapan. Di satu sisi
Abdul Aziz bersama pasukannya yang segar-segar karena menguasai sumber air
dengan di sisi lain pihak Al-Ikhwan yang kehausan karena kantung air yang
sudah kosong. Apalagi onta-onta mereka yang sudah empat hari tidak minum.

 

”Allah bersama kita, Al-Ikhwan pilihan-Nya,” teriak Azaiyiz menyemangati.
”Kita harus terus maju dan memenangkan sumber air itu. Allah akan memberkati
pengikut-Nya.”

 

Pertempuran terjadi di siang hari yang panas, tak karuan, dan kejam, tak
berampun, satu lawan satu, di mana tak ada yang memberi dan meminta ampun.
Kaum Al-Ikhwan sia-sia memekikkan teriakan kemenangan karena Abdul Aziz
terus menambah bala bantuannya. Sore harinya walaupun Al-Ikhwan sudah
membabat ratusan lawan, tapi tak sanggup menguasai oase. Azaiyiz tak
bertenaga lagi karena lelah, lapar, dan haus diseret oleh lima orang
budaknya dan bersembunyi di perbukitan pasir. Dua bulan kemudian mayat
mereka ditemukan di tengah padang pasir, kering kerontang, agaknya sedang
berjalan pulang. 

 

Sebanyak 250 prajurit Al-Ikhwan tertawan dan dipenggal semuanya. Dan Ibnu
Musa’id yang memimpin pertempuran tersebut saat mendengar bahwa di balik
bukit masih terdapat 40 orang yang bersembunyi, memerintahkan pasukannya
untuk menembaki orang-orang itu tanpa ampun. Kekalahan yang memilukan.

 

Mati di Penjara

 

Sisa-sisa Al-Ikhwan masih menjarah rayah sampai musim dingin tahun 1929.
Tapi Faisal al-Dawisy yang sudah kehilangan anaknya telah kehilangan pula
semangatnya. Ia mulai menasehati yang lain agar menyerahkan diri saja,
mungkin Abdul Aziz mau mengampuni mereka. Sedangkan Faisal sudah memastikan
bahwa dirinya tak akan mendapat ampun.

 

Pemberantasan terhadap sisa-sisa Al-Ikhwan dilakukan. Faisal—dalam rangka
melindungi wanita, anak-anak, dan ternaknya—meminta perlindungan kepada
Inggris melalui Kapten Dickson untuk bisa masuk Kuwait. Pemerintah Inggris
menolak. Pasukan Abdul Aziz semakin menjepitnya. Di akhir Desember 1929
sekelompok orang Mutair berusaha meloloskan diri dari kepungan tapi ketahuan
dan tak dibiarkan satupun hidup.

 

Beberapa puluh kilometer dari tempat itu Faisal Al-Dawisy ditemukan dengan
kelompok kecilnya oleh pasukan Inggris. Padahal ia baru saja diserang oleh
suku Badui lainnya yang masih setia pada Abdul Aziz.  Kini ia cuma punya
tiga pilihan: menyerah pada Abdul Aziz, pada Inggris di Irak, atau pada
Inggris di Kuwait. 

 

Ia memilih yang terakhir. Ia meminta Inggris berjanji bahwa ia tidak akan
diserahkan kepada Abdul Aziz jika Abdul Aziz tidak berjanji untuk tidak
membunuhnya. 

 

Pada tanggal 28 Januari 1930, Angkatan Udara Inggris membawa Faisal
Al-Dawisy dan dua orang bawahannya ke pangkalan Abdul Aziz dekat perbatasan
Kuwait. Abdul Aziz telah menyiapkan suatu majelis berlebih-lebihan untuk
menyambutnya. Abdul Aziz menangis tersedu-sedu saat memeluk Faisal Al-Dawisy
dan mengajaknya berciuman di hidung sebagai kebiasaan orang Badui. 

 

Abdul Aziz memegang janjinya kepada Inggris. Faisal tak dihukum mati. Ia
memenjarakannya seumur hidup. Lalu 18 bulan kemudian Faisal Al-Dawisy
meninggal di penjara karena daging tumbuh di tenggorokannya yang terus
menerus mengucurkan darah. Al-Ikhwan musnah sudah.

 

Dua tahun kemudian, September 1932, Abdul Aziz menyatakan seluruh daerah
Arabia, Nejd dan Hijaz adalah milik Al-Saud dan menyatakan daulah barunya
sebagai Kerajaan Arab Saudi. Dengan lambang berupa dua pedang yang bersilang
dan menyempurnakan lambangnya dengan gambar pohon kurma di atasnya sebagai
lambang para penghuni daerah oase, para penghuni kota yang telah mapan.
Tidak dengan lambang unta di atas dua pedang tersebut, suatu lambang bagi
kaum Badui yang pasukan sucinya  telah sangat membantu menegakkan kerajaan
dan pula yang hampir saja membuat kerajaannya hancur.

 

***

Demikian sejarah singkat dari keberadaan Al-Ikhwan, yang pada awalnya
bahu-membahu dan seide dalam pemahaman keberagamaan dengan pemimpinnya,
Abdul Aziz, namun pada akhirnya dengan pemahamannya tersebut serta
kesederhanaan alami mereka yang menyebabkan mereka melakukan pemberontakan
terhadap pemimpinnya sendiri.

 

Maka pantas saja—seperti disebutkan di bagian pertama tulisan ini—sang Amir
harus bersikeras dengan panitia masjid untuk mengubah nama masjid dalam
proposal itu dengan nama yang lain asal tidak dengan nama Al-Ikhwan, karena
Al-Ikhwan identik dengan Osama bin Laden. Dua-duanya—menurut mereka—adalah
pemberontak. 

 

Alhaqqu min rabbika.

Allohu’alamu bishshowab.

 

 

Maraji’:

1.                  Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka
Jaya, 1986;

2.                  History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu
Semesta, 2005;

3.                  Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12:54 26 Maret 2007

Kalibata Masih Membiru

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke