AL-IKHWAN : WAHABI PEMBERONTAK [3]

[tulisan ketiga]


Setelah dalam dua tulisan sebelumnya diuraikan latar belakang berdirinya
Al-Ikhwan dan mesranya hubungan mereka dengan pemimpinnya Abdul Aziz maka
pada tulisan
yang ketiga ini akan diuraikan bagaimana benih-benih perpecahan yang sudah
mulai tumbuh kian membesar. Sampai diperlukan bai´at kembali kepada Abdul
Aziz.

" Mereka adalah anak-anakku "


Ketika kaum Ikhwan di tahun 1925 memasuki Jeddah, mereka langsung memutuskan
kabel-kabel telepon, temasuk saluran yang menuju rumah Abdul Aziz. Menurut
mereka telepon adalah penemuan baru-seperti mobil dan radio-yang tak bisa
dimengerti cara kerjanya. Dalam suatu kesempatan pertemuan dengan Abdul Aziz
mereka memberikan peringatan, "Dengan direbutnya tanah Suci, Muslim yang
baik haruslah menjaga diri jangan sampai terbujuh oleh pengaruh asing," kata
Faisal al-Dawisy. Semua harus waspada, jangan sampai ke luar dari jalur
murni ajaran Islam. Mereka harus siap untuk menghukum siapapun yang
melakukan hal itu. Adik Abdul Aziz, Abdullah bin Abdul Rahman yang telah
ditunjuk sebagai panglima pasukan Saudi di Hijaz merasakan bahwa sikap
Al-Ikhwan ini begitu menantang. Tiap hari ia harus berhadapan dengan sikap
menyakitkan hati dari kaum Ikhwan di bawahnya. Ia harus selalu menghibur
mereka, membujuk mereka agar mau mengikuti perintah. Dan ia merasa bahwa
sikap menantang ini kalau dibiarkan terus akan berbahaya. Mereka harus
ditindak tegas sebelum tak bisa dikendalikan lagi. Tetapi Abdul Aziz hanya
menertawakan kekhawatiran adiknya itu. "Kaum Ikhwan adalah anak-anakku,"
katanya. Maka jika salah satu Ikhwan itu mengatakan bahwa kumisnya terlalu
panjang, Abdul Aziz segera memanggil tukang cukur untuk memotongnya di depan
umum dan menganggapnya sebagai suatu gurauan belaka.


Mahmal


Keangkuhan Al-Ikhwan menjadi-jadi di musim pertama haji di tahun 1926
setelah Jeddah jatuh. Masalahnya dimulai dari kain hitam berhias emas yang
menutupi Ka´bah. Secara tradisional kain ini dijahit oleh ahli-ahli Mesir
dan sebagai hadiah tahunan Mesir kepada Hijaz. Setiap tahun
pemberangkatannya dari Emsir dilakukan dengan upacara besar-besaran,
dinaikkan ke sebuah tandu kehormatan yang diberi Mahmal. 


Setiap tahun mereka membuat barisan panjang, ribuan banyaknya, diatur dan
dilindungi oleh sepasukan kecil pengawal yang bersenjata. Dan ini merupakan
tantangan bagi Al-Ikhwan. Bagi mereka, tandu yang berhias indah,
penghormatan yang begitu berlebihan kepada Mahmal, setara penyembahan
tehadap berhala. Apalagi pasukan
pengawal bersenjatanya yang sepertinya melukai rasa kebanggaan mereka.
Ditambah suara terompet mereka yang mencemari kesucian Mekah. Ini tak
berampun lagi.
Al-Ikhwan melempari mereka dengan batu. Orang Mesir bertahan. Terjadilah
pertempuran sengit. Abdul Aziz muncul dan menyerukan agar Al-Ikhwan mundur.
Sektiar
40 orang jama´ah tewas dan sejak saat itu mahmal tidak lagi diarak megah di
jalan-jalan Mekah. Kaum Ikhwan menganggap ini sebagai kemenangan kecil.
Sebab menurut ukuran mereka, penakhlukan Hijaz ternyata jauh di bawah
harapan mereka. Hanya beberapa jam setelah membantai mereka yang sesat di
Taif, setelah itu Abdul Aziz mengekang harapan mereka melakukan ´penyucian´
terhadap Hijaz, tak boleh merampas, bahkan tak ada kebanggaan jika menang.
Abdul Aziz telah bersekongkol dengan penduduk Madinah untuk mencegah
Al-Ikhwan merusak kuil-kuil mereka, ia bahkan melarang Al-Ikhwan menyerang
Badui-badui Hijaz. Ini mengecewakan mereka.

Insiden Perbatasan


Al-Ikhwan gagal di segala bidang. Abdul Aziz telah berdamai dengan para
pemuka Hijaz serta ingin memberikan gambaran yang baik tentang dirinya pada
para perwakilan negara asing sehingga ia bertindak seolah-olah pasukannya
sendirilah musuhnya. Karenanya setelah luntang lantung di Hijaz selama
setahun, Al-Ikhwan pulang ke Nejd dengan membawa sedikit sekali rampasan,
kemegahan kemenangan, cuma rasa kecewa yang besar dan kekhawatiran tak akan
ada lagi tugas untuk mereka.



Jantung persoalannya adalah dengan Al-Ikhwan Abdul Aziz bisa menguasai Nejd
dan Hijaz. Dan jika Abdul Aziz ingin mengembangkan lagi wilayahnya di luar
dua daerah itu maka ia harus berhadapan dengan Inggris, sama sekali tak
mungkin. Inggris tak mau kehilangan lagi sekutu Hasyimiyahnya jatuh. Karena
kecewa dan haus akan kemegahan menjadi pemenang serta kenikmatan merampas
yang tak mereka peroleh di Hijaz, Al-Ikhwan mengarahkan pandangan ke arah
Timur Laut, daerah yang secara tradisional menjadi sasaran kemarahan Wahabi,
daerah perbatasan kaum Syiah yang mereka anggap menduakan Allah. Maka awal
1927, serangan ke daerah perbatasan Irak semakin menjadi dan hebat. 


Korban mereka, kelompok pengembara biri-biri dan pekerja di Pos Polisi di
Busaiya. Faisal al-Dawisy secara pribadi meimpin beberapa penyerangan untuk
menunjukkan hak kaumnya untuk pergi ke mana pun mereka suka. Pesawat Inggris
membalas dengan mengebom para penyerang dan kemudian mengejar mereka sampai
masuk ke
wilayah Nejd. 


Inggris pun mengajukan protes. Mulanya Abdul Aziz membela rakyatnya karena
pembangunan pos-pos polisi itu memang melanggar adat kebiasaan suku-suku
Badui. Abdul Aziz menghadapi persoalan rumit untuk menjelaskan terhadap
Al-Ikhwan tentang adab-adab dunia Internasional pada saat itu. Mereka tak
mengerti dan tak peduli bagaimana pemimpin mereka harus menyesuaikan diri
dengan batasan-batasan dunia yang lebih luas dari mereka. Mereka bahkan siap
untuk menggulingkan sang pemimpin bila ia tidak mau memimpin mereka
menghancurkan pos-pos kaum kafir itu. 


Abdul Aziz berusaha menerangkan kepada delegasi Inggris di Perundingan
Jeddah Mei 1928 bahwa perbuatan mereka di luar sepengetahuannya. Tapi
Inggris tak mudah percaya karena ia sepertinya menarik keuntungan dari
gerakan Al-Ikhwan itu. Dan tetap saja di tahun tersebut penyerangan dan
pertumpahan darah terjadi.

Pembaharuan Ba´iat


Perundingan Jeddah gagal. Abdul Aziz harus kembali ke Nejd dan menerangkan
kegagalannya kepada Al-Ikhwan tentang tak mampunya ia membongkar pos polisi
di
Busaiya. Mungkin mendengar ini mereka akan melakukan perang suci dengannya
atau tanpanya. 


Ia yang telah menanamkan dan mengembangkan kefanatikan di orang-orang
berpikiran sederhana itu. Ia yang telah membuat mereka menganggap semua yang
bukan Wahabi sebagai penjelmaan Iblis. Ia yang mendapatkan keuntungan dari
kefanatikan mereka itu penakhlukan Rasyid, menjatuhkan Hijaz, mendamaikan
dunia luas dan kini menghadapi kekeraskepalaan Al-Ikhwan. Pun kini ia harus
menerangkan dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka tak mungkin melawan
Inggris, karena sia-sia saja. 



Dengan penuh persoalan pelik dihadapannya ditambah kepergian sang Ayah,
Abdurrahman, di bulan Juni 1928, ia merasa putus asa. Kalau saja ayahnya
tidak meninggal, mungkin kehadirannya bisa membantu untuk menghadapi
pertentangan yang semakin tajam antara Al-Ikhwan dan dirinya. Maka ia
mengambil suatu tindakan drastis yang mungkin akan dapat membantunya
mengatasi semuanya.


Ia mengundang seluruh tokoh dan ulama Nejd di Riyadh di Nopember 1928 untuk
merundingkan sistem perbentengan Irak serta keluhan lain dari Kaum Ikhwan.
Sekitar 800 orang yang hadir kecuali tiga tokoh utama Al-Ikhwan: Faisal
Al-Dawisy, Suktan bin Bijad, dan Dhadhan bin Hithlain. 


Tapi ada satu hal lagi yang perlu diungkap kepada mereka. Abdul Aziz berdiri
tegak di hadapan musyawarah tersebut dan menawarkan secara resmi untuk turun
tahta, dan berkata, "pilihlah salah seorang anggota keluargaku."

 

Semua terpaku dan tercengang. Seketika semua berteriak ramai menolak
usulnya. "Kami hanya menginginmu sebagai pemimpin kami!" para delegasi itu
berteriak. Seluruhnya berdiri di belakangnya. Memperbaharui ba´iatnya. Abdul
Aziz tahu sepeninggal ayahnya tak ada satu tokoh di keluarganya yang bisa
menampung kesetiaan dari seluruh golongan-kecuali dirinya. Dan ia menawarkan
untuk mengundurkan diri karena yakin bahwa hal itu akan ditolak oleh semua
orang. Tapi setidaknya dengan ini memberikan pandangan kepada dunia bahwa
pada dirinya puncak keabsahan kekuasaan Saudi terletak.

 

Setelah menutup persidangan itu, ia minta kepada para ulama memberi pesan
tentang telepon dan radio, dan mereka menyatakan bahwa dalam Al-Qur´an dan
Hadits
tidak ada keterangan bahwa kedua benda itu diharamkan. Para wakil Al-Ikhwan
kecuali tiga orang di atas telah memperbaharui janji setianya pula dan akan
memihak 
kepada Abdul Aziz bila terjadi pertentangan dengan tiga tokoh Al-Ikhwan itu
asal dengan syarat Abdul Aziz dapat menghancurkan pos polisi tersebut dalam
jangka waktu dua bulan. Abdul Aziz menyanggupi sesuatu yang rasanya takkan
mungkin terjadi.


Bersambung.

Maraji´:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;

2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;

3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999


Riza Almanfaluthi

12:54 26 Maret 2007

Kalibata Masih Membiru

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke